Atrisi Gigi: Definisi, Penyebab, Klasifikasi, Diagnosis, dan Penatalaksanaan Lengkap untuk Mahasiswa Kedokteran Gigi
Atrisi gigi adalah kehilangan jaringan keras gigi secara fisiologis maupun patologis yang terjadi akibat kontak langsung antara gigi-gigi antagonis (gigi atas dengan gigi bawah) selama proses mastikasi, oklusi, atau bruxism. Lesi ini termasuk dalam kategori Non-Carious Cervical Lesions (NCCL) bersama dengan gigi sensitif, abrasi, erosi, dan abfraksi. Mahasiswa FKG wajib menguasai topik ini karena masuk dalam blueprint UKMP2DG Konservasi Gigi, Periodonsia, dan Prostodonsia.
1. Definisi Atrisi Gigi Menurut Literatur Medis
Menurut Glossary of Dental Terms edisi 9 (ADA), atrisi adalah hilangnya struktur gigi akibat proses mekanis tooth-to-tooth, biasanya berkaitan dengan fungsi pengunyahan dan kontak oklusal. Atrisi berbeda dengan abrasi (kerusakan akibat benda asing seperti sikat gigi keras) dan erosi (pelarutan kimiawi tanpa keterlibatan bakteri). Klasifikasi internasional membedakan keduanya secara tegas agar klinisi dapat menegakkan diagnosis yang akurat dan menyusun rencana perawatan berbasis bukti.
Pada prinsipnya, atrisi derajat ringan bersifat fisiologis—iring dengan pertambahan usia. Namun atrisi derajat sedang hingga berat dianggap patologis karena menurunkan dimensi vertikal oklusi (DVO), mengganggu estetika, dan meningkatkan risiko pulpitis maupun nekrosis pulpa.
2. Kode ICD-10 Atrisi Gigi
Atrisi gigi diklasifikasikan dalam ICD-10 (International Statistical Classification of Diseases and Related Health Problems, 10th Revision) WHO:
- K03.0 – Atrisi gigi (excessive attrition, occlusal wear, bite wear)
- K03.1 – Abrasi gigi
- K03.2 – Erosi gigi
- K03.3 – Resorpsi patologis gigi
Untuk klaim BPJS Kesehatan JKN sesuai Permenkes 16/2019, kode K03.0 digunakan bersama tindakan restoratif. Mahasiswa harus terbiasa menulis diagnosis dengan kode ini di rekam medis, baik saat KOAS, UKMP2DG OSCE, maupun praktik klinis sesungguhnya.
3. Penyebab Atrisi Gigi
Atrisi gigi disebabkan oleh kombinasi tiga faktor utama yang saling berinteraksi:
3.1 Fungsi Mastikasi dan Penuaan
Pengunyahan makanan berserat, keras, atau abrasif menyebabkan kontak oklusal berulang setiap hari. Seiring waktu, email dan dentin aus secara gradual. Pada lansia, tingkat atrisi rata-rata dapat mencapai 30–40 mikrometer per tahun.
2.2 Bruxism (Menggertakkan Gigi)
Bruxism—terutama sleep bruxism—menjadi penyebab atrisi patologis tersering pada dewasa muda. Gaya oklusal saat bruxism dapat mencapai 4–6 kali lipat kekuatan kunyah normal, sehingga faset atrisi terbentuk cepat di permukaan oklusal gigi posterior dantepi insisal gigi anterior.
2.3 Maloklusi dan Kontak Prematur
Gigi yang tidak selaras—seperti pada maloklusi Angle Klas II divisi 1 atau open bite—memiliki titik kontak tidak merata. Area dengan beban berlebihan aus lebih cepat dibanding gigi tetangga, menciptakan pola atrisi asimetris.
3.4 Faktor Lain yang Memperberat
- Refluks gastroesofageal (GERD) yang memicu erosi, memperparah keausan
- Diet tinggi asam (soft drink, jus citrus)
- Xerostomia akibat obat antikolinergik
- Bruxism efek samping SSRI
4. Tanda Klinis dan Lokasi Atrisi
Lokasi dan pola faset atrisi bervariasi sesuai etiologi:
- Atrisi fisiologis – faceting rata pada cusp dantepi insisal, biasanya simetris, melibatkan seluruh oklusi
- Atrisi pada bruxism – faset tajam dan datar di permukaan oklusal gigi posterior sertatepi insisal gigi anterior; email terkikis habis dan dentin terekspos
- Atrisi pada maloklusi – pola asimetris; contoh pada Angle Klas III atrisi dominan ditepi insisal gigi anterior bawah
Tanda tambahan yang menyertai atrisi berat: chip restorasi, fraktur email marginal, pulpitis karena dentin terbuka, dan penurunan tinggi wajah akibat DVO yang hilang.
5. Diagnosis Atrisi Gigi
Diagnosis atrisi meliputi:
- Anamnesis – keluhan pasien, riwayat bruxism, stres, diet, GERD
- Pemeriksaan klinis – identifikasi faset, hitung jumlah permukaan yang terpengaruh, palpasi otot masseter dan temporalis
- Indeks Pengukuran:
- Tooth Wear Index (TWI) Smith & Knight (1984) – skor 0–4 per permukaan
- Basic Erosive Wear Examination (BEWE) untuk membedakan atrisi dari erosi
- Foto intraoral serial untuk monitoring progresivitas
- Pemeriksaan penunjang – radiografi panoramik untuk evaluasi DVO dan sendi temporomandibular, model studi untuk analisis oklusi artikulasi
- Diagnosis banding – atrisi vs abrasi vs erosi vs abfraksi vs fraktur gigi (lihat konsep lesi karies dan non-karies)
6. Klasifikasi Derajat Atrisi (Smith & Knight)
Berikut ringkasan klasifikasi yang umum dipakai di klinik dan soal UKMP2DG:
| Skor | Permukaan Email | Permukaan Dentin |
|---|---|---|
| 0 | Tidak ada kehilangan | Tidak ada kehilangan |
| 1 | Kehilangan email minimal | Tidak terekspos |
| 2 | Kehilangan email jelas, dentin terekspos <1/3 | Ekspos dentin minimal |
| 3 | Kehilangan email luas, dentin terekspos >1/3 | Ekspos dentin luas |
| 4 | Email hilang sempurna, dentin terbuka penuh | Ekspos pulpa atau sekunder dentin |
Skor total ≥2 pada beberapa gigi biasanya merupakan indikasi perawatan aktif.
7. Penatalaksanaan Atrisi Gigi
Penatalaksanaan bertahap berdasarkan derajat dan etiologi:
7.1 Pencegahan dan Modifikasi Kebiasaan
Pada atrisi fisiologis derajat ringan, tindakan utama adalah monitoring berkala. Untuk atrisi terkait bruxism, pasien diinstruksikan memakai occlusal splint (night guard) untuk mencegah kontak gigi langsung selama tidur. Modifikasi diet (mengurangi makanan keras dan asam), manajemen stres, dan fisioterapi otot mastikasi juga membantu.
7.2 Occlusal Adjustment
Bila ditemukan kontak prematur atau oklusi tidak harmonis, dilakukan selective grinding pada tonjolan tajam sesuai prinsip oklusi artikulasi. Prosedur ini sebaiknya didahului mounting model pada artikulator semi-adjustable.
7.3 Restorasi Gigi
Pilihan restoratif disesuaikan dengan luas permukaan gigi yang hilang:
- Tambalan direk – komposit atau GIC untuk lesi kecil-sedang pada tambal gigi konvensional
- Inlay/Onlay – untuk keausan luas pada gigi posterior yang masih vital; lihat panduan inlay onlay
- Veneer – untuk atrisitepi insisal gigi anterior; lihat dental veneer
- Mahkota penuh (crown) – bila kehilangan jaringan >50% atau restorasi direk gagal; pada kasus kehilangan dimensi vertikal perlu dilakukan bite raising
- Restorasi luas – pada gigi posterior pasca perawatan saluran akar
Mahasiswa perlu membedakan indikasi restorasi direk vs indirek serta material yang sesuai, termasuk restorasi gigi berbasis resin komposit nano-hibrid, keramik lithium disilicate, atau zirconia.
7.4 Perawatan Saluran Akar dan Restorasi Endodontik
Bila atrisi berat menyebabkan pulpa terbuka atau pulpitis ireversibel, dilakukan root canal treatment sebelum restorasi mahkota penuh. Pada gigi dengan restorasi pasca, pertimbangkan pasak fibra sesuai panduan konservasi gigi.
7.5 Penggantian Gigi Hilang
Pada kasus kehilangan gigi akibat atrisi berat plus fraktur akar, pilihan prostetik meliputi implant gigi, gigi tiruan jembatan, atau gigi tiruan sebagian lepasan. Pertimbangan DVO dan pola oklusi baru wajib diperhitungkan agar atrisi tidak berulang.
7.6 Penatalaksanaan Faktor Sistemik
Pasien dengan GERD perlu rujukan ke dokter spesialis penyakit dalam untuk terapi PPI. Pasien dengan xerostomia akibat obat memerlukan modifikasi terapi bersama dokter yang merawat. Ini menggarisbawahi pentingnya kolaborasi interdisipliner bagi dokter gigi.
8. Komplikasi Atrisi Gigi Jika Tidak Ditangani
- Pulpitis reversibel dan ireversibel
- Nekrosis pulpa dan abses periapikal
- Fraktur mahkota atau akar gigi (fraktur gigi)
- Gangguan sendi temporomandibular (TMJ) akibat perubahan DVO
- Penurunan estetika wajah dan proporsi wajah bawah
- Gangguan fungsi mastikasi dan fonetik
Komplikasi ini menjadi soal UKMP2DG yang rutin keluar, khususnya dalam bentuk studi kasus klinis dengan foto intraoral dan model studi.
9. Pencegahan Atrisi Gigi
- Hindari menggigit benda keras (kuku, pulpen, es batu)
- Gunakan sikat gigi berbulu soft dengan teknik Bass yang benar
- Kurangi konsumsi minuman asam dan berkarbonasi
- Kelola stres untuk mencegah sleep bruxism
- Pemeriksaan gigi rutin setiap 6 bulan untuk deteksi dini
- Pakai occlusal splint malam hari bila didiagnosis bruxism
- Kontrol penyakit sistemik seperti GERD
Edukasi pasien tentang pencegahan atrisi merupakan bagian dari kompetensi dokter gigi sesuai Standar Kompetensi Dokter Gigi Indonesia (SKDGI) yang harus dikuasai oleh seluruh mahasiswa FKG.
10. FAQ Atrisi Gigi
Apa itu atrisi gigi?
Atrisi gigi adalah hilangnya jaringan keras gigi (email dan dentin) secara mekanis akibat kontak langsung antara gigi-gigi antagonis. Termasuk jenis Non-Carious Tooth Lesion (NCTL) dengan kode ICD-10 K03.0.
Apa bedanya atrisi dan abrasi gigi?
Atrisi terjadi akibat kontak gigi ke gigi (tooth-to-tooth), sementara abrasi terjadi akibat kontak gigi dengan benda asing seperti sikat gigi keras, tusuk gigi, atau kebiasaan menggigit benda. Pada abrasi biasanya lesi berbentuk V di area servikal.
Apakah atrisi gigi berbahaya?
Atrisi ringan bersifat fisiologis. Atrisi berat bisa berbahaya karena menurunkan DVO, membuka pulpa (menyebabkan pulpitis), merusak estetika, dan mengganggu sendi TMJ. Perlu perawatan restoratif segera.
Bagaimana cara mencegah atrisi gigi bertambah parah?
Cara mencegah progresivitas atrisi: pakai night guard saat tidur untuk pasien bruxism, kurangi makanan keras, hindari menggigit benda bukan makanan, dan lakukan kontrol gigi rutin 6 bulan sekali.
Atrisi gigi apakah bisa ditambal?
Ya, atrisi gigi derajat ringan sampai sedang dapat ditambal dengan komposit, GIC, atau inlay/onlay. Derajat berat dengan kehilangan DVO biasanya perlu restorasi mahkota penuh atau bite raising splint terlebih dahulu.
Bagaimana hubungan atrisi gigi dan bruxism?
Bruxism adalah penyebab utama atrisi patologis pada dewasa muda. Gaya oklusal saat bruxism dapat mencapai 6 kali lipat kunyah normal, menciptakan faset tajam pada cusp dantepi insisal. Pasien bruxism kronis wajib memakai occlusal splint untuk mencegah atrisi lanjut.
Penutup
Pemahaman tentang atrisi gigi sangat penting bagi mahasiswa kedokteran gigi untuk membedakan Non-Carious Tooth Lesion, menegakkan diagnosis banding yang tepat, serta menyusun rencana perawatan berbasis bukti. Atrisi bukan sekadar keausan fisiologis—pada derajat patologis ia berkaitan erat dengan bruxism, maloklusi, dan GERD, sehingga memerlukan pendekatan holistik. Pelajari lebih lanjut konsep terkait melalui lesi karies dan non-karies, kelainan non-karies, dan trauma oklusi di Umeds.


