Fraktur Gigi: Penyebab, Klasifikasi, Diagnosis, dan Penatalaksanaan Lengkap untuk Mahasiswa Kedokteran Gigi

Fraktur Gigi: Penyebab, Klasifikasi, Diagnosis, dan Penatalaksanaan Lengkap untuk Mahasiswa Kedokteran Gigi

Mindy
Published on 22 April 2026

Fraktur Gigi: Penyebab, Klasifikasi, Diagnosis, dan Penatalaksanaan Lengkap untuk Mahasiswa Kedokteran Gigi

Fraktur gigi merupakan salah satu cedera traumatis yang paling sering terjadi pada rongga mulut, baik pada gigi sulung maupun permanen. Berdasarkan data WHO, trauma orofasial menyumbang sekitar 17-20% dari seluruh cidera tubuh pada anak dan remaja, dengan fraktur gigi sebagai salah satu komponen utamanya. Bagi mahasiswa kedokteran gigi, pemahaman komprehensif tentang fraktur gigi menjadi kompetensi wajib, terutama dalam konteks UKMP2DG dan UKOMNAS PPDG.

Apa Itu Fraktur Gigi?

Fraktur gigi adalah terputusnya kontinuitas struktur gigi secara sebagian atau keseluruhan, yang mencakup email, dentin, sementum, dan dapat meluas hingga ke ruang pulpa. Fraktur dapat terjadi pada mahkota gigi (coronal fracture), akar gigi (root fracture), atau keduanya secara simultan.ICD-10 untuk fraktur gigi adalah kode S02.5 (fraktur gigi) dengan subklasifikasi lebih spesifik seperti S02.50 (fraktur mahkota tanpa melibatkan pulpa), S02.51 (fraktur mahkota dengan melibatkan pulpa), dan S02.52 (fraktur akar gigi).

Penyebab Fraktur Gigi

Etiologi fraktur gigi sangat bervariasi, dapat dikelompokkan menjadi beberapa faktor utama:

  • Trauma langsung: Benturan pada gigi akibat jatuh, kecelakaan lalu lintas, atau kekerasan fisik. Ini merupakan penyebab tersering, terutama pada anak usia 7-12 tahun yang aktif beraktivias.
  • Faktor oklusal: Gigitan强硬 pada benda keras (es batu, tulang), parafunsi seperti bruxism, atau kontak prematur pada restorasi tinggi dapat menimbulkan tekanan berlebihan pada gigi.
  • Karies gigi: Proses demineralisasi yang tidak ditangani menyebabkan jaringan gigi melemah dan rentan patah. Gigi dengan restorasi besar (MOD restoration) juga memiliki risiko fraktur lebih tinggi.
  • Faktor iatrogenik: Preparasi kavitas yang terlalu agresif, penggunaan bur berkecepatan tinggi tanpa pendinginan air yang adekuat, atau tekanan berlebihan saat prosedur endodontik.
  • Penuaan: Gigi semakin rapuh seiring usia akibat perubahan komposisi mineral matriks dan siklus termo-fatik harian.
  • Faktor struktural: Gigi dengan fluorosis, amelogenesis imperfekta, atau dentinogenesis imperfekta memiliki struktur yang lebih getas.

Klasifikasi Fraktur Gigi

Ada dua sistem klasifikasi utama yang perlu dikuasai mahasiswa kedokteran gigi:

Klasifikasi Ellis

Klasifikasi Ellis membagi fraktur gigi berdasarkan lokasi dan kedalaman, yang sangat berguna dalam praktik klinis sehari-hari:

Kelas IFraktur email gigi saja, terbatas pada enamel. Biasanya asimtomatik, tidak melibatkan struktur dalam.
Kelas IIFraktur email dan dentin tanpa melibatkan pulpa. Pasien biasanya mengeluh ngilu saat menghirup udara dingin atau makan makanan manis.
Kelas IIIFraktur email, dentin, dengan involve meniscus pulpa. Terlihat titik merah muda atau perdarahan pada area fraktur. Vitalitas gigi biasanya masih positif.
Kelas IVFraktur yang melibatkan ruang pulpa secara luas. Gigi mengalami necropulpi atau kehilangan vitalitas. Perlu terapi saluran akar atau ekstraksi.
Kelas VFraktur akar gigi, yang sering tidak terdiagnosis tanpa bantuan radiograf. Garis fraktur biasanya terjadi di area servikal hingga apikal.
Kelas VIFraktur root dengan kehilangan alveolar bone support, biasanya akibat trauma sentrik. Prognosis sangat buruk.

Klasifikasi WHO (ICD-10)

Klasifikasi WHO lebih fokus pada lokasi anatomis dan meliputi:

  • S02.50: Fraktur gigi tertutup atau terbuka tanpa komplikasi — terbatas pada struktur keras gigi tanpa melibatkan pulpa
  • S02.51: Fraktur gigi dengan komplikasi — melibatkan pulpa, biasanya露出 dentin dalam dengan gejala pulpitis
  • S02.52: Fraktur alveolar process — cedera pada processus alveolaris, sering disertai fraktur gigi multipel

Gejala Klinis

Manifestasi klinis fraktur gigi sangat bervariasi tergantung pada klasifikasi dan kedalaman fraktur:

  • Fraktur kelas I: Garis fraktur pada enamel, tepi tajam yang dapat dirasakan lidah, biasanya tanpa gejala
  • Fraktur kelas II: NGILU terhadap rangsangan termal (dingin/panas), manis, dan tekanan oklusal. Area fraktur menunjukkan lapisan kuning (dentin)
  • Fraktur kelas III: Nyeri spontan atau evoked, perdarahan dari ruang pulpa terlihat, struktur gigi hilang cukup besar
  • Fraktur kelas IV: Necropulpi — gigi menghitam, tidak ada respons terhadap tes vitalitas, kemungkinan disertai fistula atau abses
  • Fraktur kelas V: Gigi goyang, nyeri tekan pada alveolar, garis fraktur akar hanya terlihat pada radiograf

Diagnosis

Diagnosis fraktur gigi memerlukan pendekatan sistematis:

  • Anamnesis: Tanyakan mekanisme cedera, waktu kejadian, gejala yang dirasakan pasien, dan riwayat dental sebelumnya.
  • Pemeriksaan visual: Inspeksi permukaan gigi dengan baik menggunakan свет reflector, identifikasi lokasi dan extent fraktur.
  • Pemeriksaan tactile: Gunakan ujung sonde untuk mendeteksi tepi fraktur yang mungkin tidak terlihat.
  • Transiluminasi: Cahaya yang ditransmisikan melalui gigi dapat memperlihatkan garis fraktur yang tidak terlihat secara visual.
  • Radiograf: Foto periapikal (IPA), bite-wing, atau panoramik sangat membantu, terutama untuk mendeteksi fraktur akar. CT scan cone-beam dapat digunakan untuk kasus kompleks.
  • Tes vitalitas: Menggunakan cold test (ethyl chloride atau ice stick) dan electric pulp tester untuk menentukan status pulpa.
  • Diagnostik separation: Menggunakan wooden wedge atau会计师 untuk mengisolasi gigi individual dan melihat respons terhadap tekanan.

Penatalaksanaan

Tatalaksana fraktur gigi mengikuti prinsip: menjaga vitalitas pulpa jika memungkinkan, mengembalikan fungsi dan estetika, serta mencegah komplikasi.

Fraktur Kelas I (Enamel saja)

Perawatan bersifat restoratif kosmetik. Jika fragmen gigi tersedia, dapat direkatkan kembali (reattachment) menggunakan bonding agent dan resin komposit. Untuk defek kecil, penghalusan tepi tajam dengan bur finishing sudah memadai.

Fraktur Kelas II (Enamel dan Dentin)

Gigi harus ditutup dengan liner kaca ionomer (GIC) di atas dentin yang露出 untuk melindungi pulpa, kemudian direstorasi dengan resin komposit atau onlay depending pada extent fraktur. Pasien harus menghindari makanan panas/dingin selama 6-8 minggu.

Fraktur Kelas III (Melibatkan Pulpa)

Jika hanya露出 kecil pulpa, dapat dilakukan pulp capping langsung atau tidak langsung. Untuk expose pulpa yang lebih luas pada gigi muda permanen, pulpotomy parsial atau total dapat dipertimbangkan. Gigi dengan pulpa nekrotik memerlukan terapi saluran akar.

Fraktur Kelas IV (Kerusakan Pulpa Luas)

Terapi saluran akar (Root Canal Treatment) diindikasikan untuk gigi dengan pulpa yang sudah nekrotik. Setelah RCT selesai, gigi dapat direstorasi dengan post core crown. Pada kasus dengan prognosis buruk, ekstraksi followed by prosthetic replacement (implant atau bridge) mungkin diperlukan.

Fraktur Akar (Kelas V-VI)

Fraktur koronal-root yang restorabel dapat ditangani dengan orthodontic extrusion atau surgical exposure followed by restoration. Fraktur root yang tidak restorabel memerlukan ekstraksi. Untuk fraktur root horizontal pada middle third, stabilize dengan rigid splint selama 2-3 bulan dan monitor healing. Jika tidak terjadi healing, ekstraksi diperlukan.

Pencegahan

Beberapa langkah preventif yang dapat disarankan kepada pasien:

  • Pen该死的 penggunaan mouthguard: Untuk atlet olahraga kontak (basket, tinju, hockey), penggunaan mouthguard custom-made sangat efektif mencegah fraktur gigi.
  • Hindari menggigit benda keras: Edukasi pasien untuk tidak menggigit es, batu, atau benda keras lainnya.
  • Kontrol parafunsi: Untuk pasien bruxism, penggunaan occlusal splint (night guard) direkomendasikan.
  • Rawat karies sejak dini: Karies yang tidak ditangani adalah faktor predisposisi utama fraktur.
  • Perbaikan restorasi tinggi: Lakukan adjustment oklusal untuk menghilangkan kontak prematur.

Relevansi UKMP2DG dan UKOMNAS PPDG

Fraktur gigi merupakan salah satu topik yang sering muncul dalam station UKMP2DG/OSCE dan soal UKOMNAS PPDG. Mahasiswa diharapkan mampu:

  • Melakukan klasifikasi fraktur gigi secara klinis
  • Menentukan plan penatalaksanaan yang tepat sesuai klasifikasi
  • Melakukan emergency management pada trauma gigi, termasuk splinting dan medication
  • Menginterpretasi foto radiograf untuk mendeteksi fraktur akar
  • Menjelaskan prognosis dan follow-up yang diperlukan

Topik ini biasanya diujikan pada station endodontik, restoratif, atau emergency dental care. Penguasaan klasifikasi Ellis dan tatalaksana berdasarkan kedalaman fraktur adalah kunci untuk menjawab pertanyaan di stasiun praktik maupun teori.

FAQ: Pertanyaan Umum tentang Fraktur Gigi

1. Fraktur gigi harus selalu dicabut?
Tidak selalu. Keputusan ekstraksi bergantung pada klasifikasi, apakah fraktur restorabel, dan kondisi periodontal. Gigi dengan fraktur enamel saja atau bahkan fraktur dentin tanpa involve pulpa umumnya masih restorabel.

2. Berapa lama gigi yang patah bisa ditambal?
Untuk fraktur ringan (kelas I-II), penambalan dapat dilakukan dalam satu kunjungan. Untuk kasus dengan involve pulpa, diperlukan beberapa kunjungan untuk terapi saluran akar terlebih dahulu sebelum restorasi final.

3. Bagaimana cara mengetahui apakah fraktur sudah melibatkan akar?
Fraktur root hanya dapat dideteksi secara definitif melalui radiograf (foto periapikal atau CBCT). Gejala klinis seperti goyangan gigi, nyeri saat menggigit pada sudut tertentu, dan probe pada sulkus yang dalam dapat menjadi indikasi.

4. Apakah gigi patah bisa menyatu kembali sendiri?
Gigi tidak dapat menyatu sendiri. Fragment gigi yang patah perlu direkatkan oleh dokter gigi menggunakan bahan bonding khusus. Jika fragmen tidak tersedia, restorasi dengan resin komposit atau crown diperlukan.

5. ICD-10 untuk fraktur gigi apa?
ICD-10 untuk fraktur gigi adalah S02.5. Subklasifikasi meliputi S02.50 (tanpa komplikasi) dan S02.51 (dengan komplikasi pulpa).


Artikel ini disusun sebagai materi edukasi untuk mahasiswa kedokteran gigi Indonesia. Selalu konsultasikan dengan dosen pembimbing atau dokter gigi supervisor untuk penanganan kasus klinis spesifik.

Baca juga: Penatalaksanaan Gigi Avulse | Pulpitis: Penyebab dan Penatalaksanaan | Karies Gigi: Klasifikasi dan Penanganan

📲 Download Aplikasi Umeds

Akses materi lengkap, tryout, dan video belajar di satu aplikasi

Komentar

Silakan login untuk memberikan komentar

Login
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!
Customer Support umeds