Bruxism (Menggertakkan Gigi): Penyebab, Gejala, Diagnosis, dan Penatalaksanaan Lengkap untuk Mahasiswa Kedokteran Gigi
Bruxism adalah kondisi berupa penggertakkan atau pengencangan gigi yang tidak disadari, baik saat terjaga maupun selama tidur. Kondisi ini tergolong cukup umum pada populasi umum dan menjadi salah satu topik penting dalam praktik kedokteran gigi serta ujian UKMP2DG dan UKOMNAS PPDG.
Artikel ini membahas secara komprehensif definisi, etiologi, klasifikasi, gejala klinis, diagnosis, serta penatalaksanaan bruxism dari perspektif mahasiswa kedokteran gigi.
Definisi Bruxism
Bruxism atau bruxisme adalah perilaku berulang berupa pengencangan, penggertakkan, atau penggerusan gigi yang bersifat involunter. Berdasarkan waktu kejadian, bruxism dibedakan menjadi dua:
- Awake Bruxism — terjadi saat seseorang dalam keadaan sadar, umumnya berkaitan dengan stres, kecemasan, atau kebiasaan konsentrasi tinggi.
- Sleep Bruxism — terjadi selama siklus tidur, dianggap sebagai aktivitas motorik rhythmic yang berkaitan dengan kondisi tidur.
Prevalensi sleep bruxism pada dewasa diperkirakan sekitar 8–10%, sementara awake bruxism dapat lebih tinggi karena sering tidak disadari oleh penderitanya.
Etiologi dan Penyebab Bruxism
Etiologi bruxism bersifat multifaktorial. Beberapa faktor utama yang berperan antara lain:
Faktor Psikologis
- Stres dan kecemasan
- Kebiasaan nervus (nervous habits)
- Gaya kepribadian yang kompetitif atau agresif
Faktor Oklusal
- Maloklusi, terutama hubungan molar destra sinistra yang asimetris
- Kontak prematur pada restorasi tinggi
- Hilangnya gigi posterior yang menyebabkan perubahan dimensi vertikal
Faktor Sistemik dan Lainnya
- Genetik dan familial
- Obat-obatan tertentu (antidepresan SSRI, antipsikotik,fluoxetine)
- Kebiasaan consumo alkohol dan kafein berlebihan
- Sleep apnea dan gangguan pernapasan saat tidur
- GERD (gastroesophageal reflux disease)
Gejala Klinis Bruxism
Manifestasi klinis bruxism dapat dilihat dari berbagai sistem. Gejala yang paling sering ditemukan antara lain:
- Attrisi gigi — ausnya permukaan oklusal dan insisal akibat gesekan, mulai dari enamel hingga dentin
- Sensitivitas gigi — nyeri akibat hilangnya email dan terbukanya tubuli dentin
- Hypertrofi otot mastikasi — terutama musculus masseter yang terasa keras dan nyeri saat palpasi
- Temporomandibular disorder (TMD) — nyeri pada sendi temporomandibula, clicking, atau keterbatasan pembukaan mulut
- Tanda mukosa pipi — linea alba pada mukosa pipi akibat gigitan berulang
- Sakit kepala tension-type — terutama di region temporal akibat kontraksi otot berlebihan
- Kerusakan restorasi — fraktur veneer, crown, atau restorasi komposit
Diagnosis Bruxism
Anamnesis
Pertanyaan penting dalam anamnesis meliputi:
- Apakah pasien menyadari adanya penggertakkan gigi?
- Apakah pasangan atau keluarga mendengar suara gigi saat tidur?
- Apakah ada riwayat stres atau kecemasan berat?
- Apakah sedang mengonsumsi obat-obatan tertentu?
- Apakah memiliki kebiasaan mengonsumsi alkohol atau kopi berlebihan?
Pemeriksaan Klinis
- Pemeriksaan磨损 (attrition) pada permukaan gigi — degree menurut Touchstone/Needles: Grade 0 (tanpa aus), Grade 1 (aus enamel saja), Grade 2 (aus dentin exposed), Grade 3 (aus sampai pulp atau restorasi)
- Palpasi otot masseter dan temporalis untuk menilai hypertrofi atau nyeri
- Pemeriksaan sendi temporomandibula (TMJ) — klik, crepitus, keterbatasan gerak
- Pemeriksaan mukosa pipi untuk linea alba atau mukosa bitten
Pemeriksaan Penunjang
- Polysomnography (PSG) — gold standard untuk mendiagnosis sleep bruxism, dapat merekam aktivitas EMG masseter
- Bruxcore atau BiteStrip — alat screening untuk mendeteksi episode sleep bruxism
- Radiografi panoramik — untuk menilai konisi kondilus dan struktur TMJ
Klasifikasi Severity Bruxism (Menurut Polysomnography)
| Derajat | Episode per malam | Durasi per episode |
| Ringan (Mild) | 4–14 episode | 3–6 detik |
| Sedang (Moderate) | 15–49 episode | 6–15 detik |
| Berat (Severe) | >50 episode atau >1 episode per 5 menit tidur | >15 detik |
Penatalaksanaan Bruxism
Penatalaksanaan bruxism bersifat simptomatis dan bergantung pada tingkat keparahan serta faktor etiologi. Berikut pendekatan yang umum diterapkan:
1. Terapi Oklusal
Occlusal splint (night guard) merupakan lini pertama terapi untuk sleep bruxism. Splint dibuat dari akrilik keras yang dipasang pada rahang atas atau bawah, berfungsi:
- Mencegah kontak langsung gigi antagonis
- Mengurangi aktivitas otot mastikasi
- Meminimalkan ausnya gigi dan kerusakan restorasi
- Menyerap dan redistribute forces dari penggertakkan
Jenis splint yang sering digunakan antara lain: Michigan splint, Tanner appliance, dan NTI-tss device.
2. Terapi Perilaku
- Biofeedback — melatih kesadaran pasien untuk mengendurkan otot rahang saat menyadari kebiasaan menggertakkan
- Cognitive Behavioral Therapy (CBT) — untuk mengendalikan stres dan kecemasan yang mendasari bruxism
- Hypnotherapy — beberapa studi menunjukkan manfaat dalam mengurangi awake bruxism
3. Farmakoterapi
Obat-obatan bukan lini pertama dan umumnya diberikan sebagai adjuvan:
- Beta-blocker (propranolol) — mengurangi episode sleep bruxism
- Benzodiazepine dosis rendah (clonazepam) — bersifat miorelaksan, digunakan jangka pendek
- Botulinum toxin (Botox) — injeksi pada otot masseter untuk mengurangi kekuatan kontraksi, efektif untuk kasus berat
- Antidepresan jika terdapat komponen psikologis yang mendominasi
4. Penatalaksanaan Komplikasi
- Restorasi gigi yang aus dengan komposit resin, inlay, atau onlay untuk mengembalikan bentuk dan fungsi
- Pencatatanmodels dan evaluasi oklusi untuk memastikan keseimbangan kontak gigi
- Rujuk ke spesialis TMJ jika terdapat TMD yang persisten
Relevansi Bruxism dalam UKMP2DG dan UKOMNAS PPDG
Bruxism merupakan topik yang relevan dalam station UKMP2DG dan UKOMNAS PPDG, terutama dalam:
- Station anamnesis — kemampuan menggali riwayat penggertakkan gigi, faktor risiko, dan dampaknya
- Station pemeriksaan klinis — mendeteksi tanda-tanda attrisi, palpasi otot mastikasi, dan pemeriksaan TMJ
- Station penatalaksanaan — menyusun rencana terapi yang tepat termasuk pembuatan splint oklusal
- Station komunikasi pasien — edukasi tentang etiologi, dampak, dan pentingnya penggunaan night guard
Mahasiswa perlu menguasai definition, etiology, clinical signs, diagnosis criteria, dan management principles bruxism untuk dapat mengerjakan soal-soal terkait dengan baik.
Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
Apa itu bruxism?
Bruxism adalah kebiasaan menggertakkan atau mengencangkan gigi secara involunter yang dapat terjadi saat terjaga (awake bruxism) atau selama tidur (sleep bruxism). Kondisi ini dapat menyebabkan ausnya gigi, nyeri rahang, dan gangguan sendi temporomandibula.
Apakah bruxism bisa disembuhkan?
Bruxism tidak selalu bisa disembuhkan sepenuhnya, tetapi gejalanya dapat dikelola dengan baik melalui penggunaan splint oklusal, terapi perilaku, dan penanganan faktor pemicu seperti stres. Penatalaksanaan yang konsisten dapat mencegah kerusakan gigi lebih lanjut.
Bagaimana cara berhenti menggertakkan gigi?
Beberapa langkah yang dapat membantu antara lain: menggunakan occlusal splint (night guard) saat tidur, mengelola stres melalui teknik relaksasi atau terapi kognitif-perilaku, menghindari kafein dan alkohol berlebihan, serta berlatih kesadaran untuk mengendurkan otot rahang saat terjaga.
Apakah bruxism berbahaya?
Bruxism yang ringan umumnya tidak berbahaya. Namun, bruxism yang berat dan berkepanjangan dapat menyebabkan ausnya gigi sampai ke pulp, fraktur restorasi, gangguan TMJ, dan sakit kepala kronis. Penilaian dan penatalaksanaan dini sangat dianjurkan.
Siapa yang paling berisiko mengalami bruxism?
Bruxism dapat terjadi pada siapa saja, namun faktor risiko tertinggi ditemukan pada individu dengan tingkat stres tinggi, memiliki kebiasaan konsumsi alkohol dan kafein berlebihan, penggunaan obat-obatan tertentu (SSRI), serta memiliki riwayat keluarga dengan bruxism.
Akses materi lengkap, tryout, dan video belajar di satu aplikasi


