Mahkota Gigi (Dental Crown): Definisi, Indikasi, Jenis Bahan, Preparasi, dan Prosedur Klinis untuk Mahasiswa Kedokteran Gigi

Mahkota Gigi (Dental Crown): Definisi, Indikasi, Jenis Bahan, Preparasi, dan Prosedur Klinis untuk Mahasiswa Kedokteran Gigi

Mindy
Published on 28 Juni 2026

Mahkota Gigi (Dental Crown): Definisi, Indikasi, Jenis Bahan, Preparasi, dan Prosedur Klinis untuk Mahasiswa Kedokteran Gigi

Mahkota gigi (dental crown) adalah restorasi prostetik yang menutupi seluruh permukaan mahkota klinis gigi di atas garis servikal, mengembalikan bentuk anatomi, fungsi pengunyahan, dan estetika gigi yang rusak parah. Mahkota gigi menjadi salah satu kompetensi inti dalam stase Prostodonsia dan Konservasi Gigi UKMP2DG serta UKOMNAS PPDG, dan merupakan pilihan definitif ketika restorasi inlay, onlay, atau veneer tidak lagi mampu mempertahankan struktur gigi. Artikel ini membahas definisi, indikasi, kontraindikasi, klasifikasi bahan, prinsip preparasi, tahapan prosedur klinis, hingga komplikasi dan pemilihan semen.

Definisi dan Konsep Dasar Mahkota Gigi

Menurut Glossary of Dental Terms American Dental Association (ADA), mahkota gigi adalah prostesis cetak atau fabrikasi yang menutupi sisa struktur gigi dan dipasang dengan semen kedokteran gigi. Berbeda dengan inlay onlay yang hanya menutupi sebagian permukaan oklusal/proksimal, mahkota menutupi seluruh permukaan klinis gigi dari cusp tip sampai cementoenamel junction (CEJ).

Mahkota gigi diklasifikasikan dalam ICD-10 revisi Indonesia sebagai K02.x–K05.x untuk gigi yang direstorasi karena karies luas, dan kode prosedur ICD-9-CM 23.41–23.49 untuk aplikasi crown. Dalam nomenclature Kedokteran Gigi Indonesia, istilah yang sering digunakan bersamaan antara lain jacket crown, full coverage restoration, dan full veneer crown.

Indikasi Mahkota Gigi

Menurut Sturdevant's Art and Science of Operative Dentistry edisi 8 dan Craig's Restorative Dental Materials, indikasi utama pemasangan mahkota gigi meliputi:

  • Kerusakan struktural luas akibat karies atau trauma yang menyisakan kurang dari 50% struktur korona sehat.
  • Setelah perawatan saluran akar pada gigi posterior dengan kehilangan struktur besar, terutama pada gigi yang menerima pasak dan inti (post and core).
  • Restorasi estetik pada gigi anterior dengan diskolorasi intrinsik berat, malformasi, atau veneer yang tidak lagi memadai.
  • Implan gigi: mahkota merupakan komponen suprastruktur pada implant gigi, dilekatkan pada abutment melalui screw atau semen.
  • Fraktur gigi yang meluas ke dentin dan melibatkan cusp.
  • Bridge/jembatan gigi: gigi penyangga (retainer) menerima mahkota full coverage sebagai retainer, berbeda dengan gigi tiruan lepasan.
  • Pasca atrisi atau erosi yang menyebabkan hilangnya dimensi vertikal oklusi.
  • Cracked tooth syndrome dengan risiko propagasi fraktur.

Kontraindikasi

Mahkota gigi tidak dipasang pada kondisi gigi dengan kerusakan periodontal lanjut (rasio crown-root lebih dari 1:1 tanpa koreksi), karies subgingiva dalam yang tidak dapat direstorasi, gigi dengan pulpitis irreversibel tanpa rencana perawatan saluran akar sebelumnya, dan pasien dengan oral hygiene buruk yang tidak terkontrol.

Jenis Mahkota Gigi Berdasarkan Bahan

Pemilihan bahan mahkota mempertimbangkan lokasi gigi (anterior/posterior), kebutuhan estetik, beban oklusi, dan pertimbangan biaya pasien.

BahanKomposisiKelebihanKekurangan
Full metal crownAu-Pd, Ni-Cr, Co-CrPreparasi konservatif (0,5 mm), kuat, usia pakai panjangWarna logam tidak estetik untuk anterior
Porcelain Fused to Metal (PFM)Metal coping + lapisan porcelainKombinasi kekuatan dan estetik, standar lama prostodonsiaMargin metal dapat tampak, chipping porcelain 2-5%
All-ceramic zirconiaY-TZP (yttria-stabilized tetragonal zirconia polycrystal)Estetik tinggi, biokompatibel, kuat untuk posteriorDapat menyebabkan wear gigi antagonis, biaya lebih tinggi
All-ceramic lithium disilicateIPS e.max (Li2Si2O5)Translusen superior, etsa asam untuk adhesiKurang kuat untuk bridge panjang posterior
All-ceramic aluminaAl2O3 (In-Ceram)Estetik, biokompatibelPopularitas menurun setelah kemunculan zirconia
Provisional/temporary crownAkrilik PMMA, bis-acrylUntuk perlindungan sementara antar kunjunganDaya tahan terbatas (minggu-bulan)

Klasifikasi Berdasarkan Cakupan

Selain klasifikasi bahan, mahkota juga dibedakan berdasarkan luas cakupan struktur gigi yang ditutupi:

  • Full coverage crown: menutupi seluruh permukaan korona (paling umum).
  • Partial crown / three-quarter crown: menutupi 3/4 permukaan, mempertahankan satu fasial untuk estetik.
  • Seven-eighths crown: menutupi 7/8 permukaan untuk kasus retensi terbatas.

Prinsip Preparasi Mahkota Gigi

Preparasi mahkota mengikuti prinsip biomekanik yang dirumuskan oleh Shillingburg dan para ahli prostodonsia:

Reduksi Oklusal dan Aksial

Reduksi oklusal minimal 1,5–2 mm untuk memberikan ruang bagi bahan restorasi dan mencegah overcontouring. Reduksi aksial 1,0–1,5 mm untuk bahan metal, 1,5–2,0 mm untuk PFM dan all-ceramic. Preparasi berlebih merusak jaringan pulpa dan berisiko pulpitis iatrogenik.

Taper Total 6–10 Derajat

Konvergensi dinding aksial 6–10 derajat (3–5 derajat per dinding) menghasilkan retensi optimal. Taper kurang dari 5 derajat sulit dibuat secara klinis, sementara taper lebih dari 10 derajat mengurangi retensi secara signifikan.

Tipe Margin (Finishing Line)

  • Chamfer: pilihan utama untuk PFM dan zirconia, depth 0,5 mm, jelas di oral.
  • Shoulder: untuk all-ceramic e.max atau veneer porcelain, dengan bevel internal.
  • Knife edge: untuk preparasi konservatif pada gigi vital muda, kurang populer saat ini.

Biologic Width

Margin harus ditempatkan minimal 2 mm dari crest tulang alveolar untuk menjaga biologic width (gingival sulkus 1 mm + junctional epithelium 1 mm + connective tissue attachment 1 mm = 3 mm total). Pelanggaran biologic width menyebabkan gingivitis kronis dan resesi gingiva.

Tahapan Prosedur Klinis

  1. Anamnesis dan rencana perawatan: termasuk evaluasi endodontik, periodontal, dan oklusi.
  2. Preparasi gigi: sesuai prinsip reduksi, taper, dan margin di atas.
  3. Retraksi gingiva: cord packing (#000 atau #0) untuk digital atau conventional impression pada margin subgingiva.
  4. Impression: polyvinyl siloxane (PVS) atau digital intraoral scanner (Trios, iTero, Medit).
  5. Provisional crown: fabricated chairside dengan akrilik atau bis-acryl, disementasi dengan temporary cement (Temp-Bond).
  6. Try-in dan ajuste oklusi: cek kontak proksimal dengan dental floss, oklusi dengan articulating paper.
  7. Sementasi definitif: glass ionomer (Fuji Plus), resin cement (RelyX Unicem, Panavia), atau conventional GIC.
  8. Instruksi pemeliharaan: kontrol 1 minggu, 1 bulan, lalu 6 bulan.

Material Sementasi

Pemilihan semen tergantung bahan mahkota dan kebutuhan retensi. Resin-modified glass ionomer cement (RMGIC) seperti RelyX Luting Plus merupakan standar untuk PFM dan zirconia. Untuk all-ceramic e.max dengan etsa asam hidrofluorik (HF 9,6%) dan silan, digunakan dual-cure resin cement adhesif. Semen seng fosfat (ZnPO4) kini jarang dipakai karena kelarutannya tinggi dan tidak adhesif.

Komplikasi dan Perawatan Pascapemasangan

Komplikasi yang sering dijumpai klinisi antara lain:

  • Pulpitis ireversibel: akibat preparasi berlebih atau trauma termal, biasanya memerlukan perawatan saluran akar pasca pemasangan.
  • Debonding/lepas: akibat kontaminasi saliva saat sementasi atau oklusi berlebih.
  • Chipping porcelain: pada PFM atau all-ceramic, akibat kontak oklusal prematur.
  • Karies sekunder: pada margin mahkota akibat adaptasi marginal kurang baik.
  • Perubahan warna gingiva: terutama pada PFM dengan metal collar subgingiva.
  • Fraktur akar vertikal: pada gigi dengan pasak dan rasio crown-root kurang baik.

Pemeliharaan meliputi kontrol oklusi 6 bulan, instruksi flossing dengan floss threader untuk jembatan, dan rontgen panoramik atau periapikal berkala untuk evaluasi adaptasi margin.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

1. Apa perbedaan mahkota gigi dengan veneer?

Veneer hanya menutupi permukaan fasial gigi anterior dengan ketebalan 0,5–1,0 mm, sedangkan mahkota gigi menutupi seluruh permukaan korona dengan ketebalan 1,5–2 mm. Veneer bersifat lebih konservatif tetapi tidak sesuai untuk gigi dengan kerusakan struktural besar.

2. Berapa lama usia pakai mahkota gigi?

Rata-rata usia pakai mahkota PFM adalah 10–15 tahun, all-ceramic zirconia 15–20 tahun, dan full metal crown lebih dari 20 tahun dengan oral hygiene baik. Studi meta-analisis Sailer et al. menunjukkan tingkat keberhasilan 95% pada 5 tahun untuk all-ceramic modern.

3. Apakah mahkota gigi bisa dipasang pada gigi berlubang besar?

Bisa, dengan syarat karies telah diangkat seluruhnya dan sisa struktur gigi cukup untuk retensi. Jika struktur gigi tinggal sedikit, diperlukan build-up dengan composite core atau pasak dan inti terlebih dahulu.

4. Mahkota gigi manakah yang paling kuat?

Full metal crown dengan paduan emas atau Co-Cr memiliki kekuatan tekan tertinggi, namun untuk kombinasi kekuatan dan estetik, yttria-stabilized zirconia adalah pilihan terbaik saat ini.

5. Apakah prosedur pemasangan mahkota gigi sakit?

Tidak. Prosedur dilakukan dengan anestesi lokal infiltrasi atau block. Pasien mungkin merasa ngilu ringan beberapa hari pasca pencetakan atau sementasi, namun umumnya dapat diatasi dengan analgesik oral.

6. Apakah mahkota gigi ditanggung BPJS Kesehatan?

Berdasarkan Permenkes 16/2019 tentang JKN, layanan BPJS Kesehatan gigi mencakup pencabutan dan tambal, namun pemasangan mahkota gigi termasuk layanan estetik/prostetik yang umumnya tidak ditanggung, kecuali pada kasus trauma atau kelainan kongenital tertentu sesuai indikasi medis.

7. Bagaimana cara merawat mahkota gigi agar tahan lama?

Menyikat gigi dua kali sehari dengan pasta berfluoride, flossing sekali sehari, menghindari makanan keras, kontrol gigi rutin 6 bulan, dan menggunakan mouthguard pada pasien bruxism untuk mencegah fraktur.

Kesimpulan

Mahkota gigi adalah restorasi full coverage yang mengembalikan bentuk, fungsi, dan estetika gigi dengan kerusakan struktural luas. Pemilihan jenis bahan, desain preparasi, dan teknik sementasi harus mengikuti prinsip biomekanik dan biologic width yang telah terstandarisasi. Mahasiswa FKG perlu menguasai indikasi, kontraindikasi, klasifikasi bahan, tahapan preparasi, dan penanganan komplikasi sebagai bekal menghadapi UKMP2DG, UKOMNAS PPDG, dan praktik klinis sehari-hari.

📲 Download Aplikasi Umeds

Akses materi lengkap, tryout, dan video belajar di satu aplikasi

Komentar

Silakan login untuk memberikan komentar

Login
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!
Customer Support umeds