Trauma Gigi: Klasifikasi, Diagnosis, dan Penatalaksanaan Lengkap untuk Mahasiswa Kedokteran Gigi
Trauma gigi merupakan salah satu kasus emergensi yang paling sering dijumpai dalam praktik kedokteran gigi, terutama pada anak-anak dan remaja. Di Indonesia, data menunjukkan bahwa sekitar 25-30% anak usia sekolah pernah mengalami trauma pada gigi mereka. Sebagai mahasiswa kedokteran gigi, pemahaman komprehensif tentang klasifikasi, diagnosis, dan penatalaksanaan trauma gigi menjadi kompetensi yang wajib dikuasai, khususnya dalam konteks persiapan UKMP2DG dan UKOMNAS PPDG.
Definisi Trauma Gigi
Trauma gigi adalah cedera pada struktur gigi, jaringan periodontal, dan/atau jaringan keras akar yang disebabkan oleh gaya fisik yang mengenai gigi secara langsung maupun tidak langsung. Trauma ini dapat melibatkan gigi sulung (desidui) maupun gigi tetap (permanen), dan bervariasi dari轻微 (ringan) hingga berat (severity) tergantung pada besar dan arah gaya yang diterima.
Menurut Klasifikasi WHO (1994), trauma gigi diklasifikasikan berdasarkan lokasi dan tingkat keparahan cedera. Klasifikasi ini kemudian disempurnakan oleh Andreasen & Andreasen (2007) yang membagi trauma gigi menjadi beberapa kategori utama yang hingga kini menjadi standar dalam dunia kedokteran gigi.
Klasifikasi Trauma Gigi
Klasifikasi WHO untuk Cedera Jaringan Keras Gigi
| Tipe | Deskripsi |
| Injury of enamel only (N5060) | Retak rambut email (enamel crack), abrasi email |
| Injury of enamel and dentin (N5061) | Fraktur email dan dentin tanpa melibatkan pulpa |
| Injury of enamel, dentin and cementum (N5062) | Fraktur yang melibatkan email, dentin, dan sementum tanpa melibatkan pulpa |
Klasifikasi Andreasen (Cedera pada Gigi Tetap Permanen)
| Kelas | Deskripsi |
| Kelas I | Fraktur email saja |
| Kelas II | Fraktur email dan dentin tanpa melibatkan pulpa |
| Klas III | Fraktur email, dentin, dan sementum dengan melibatkan pulpa |
| Kelas IV | Hilangnya seluruh mahkota gigi |
| Kelas V | Fraktur akar gigi |
| Kelas VI | Fraktur akar dengan atau tanpa kehilangan mahkota |
| Kelas VII | Dislokasi sebagian (subluksasi) |
| Kelas VIII | Dislokasi lengkap (luksasi) |
| Kelas IX | Intrusi gigi |
Klasifikasi Cedera Jaringan Periodontal
| Tipe | Deskripsi |
| Concussion | Cedera pada jaringan periodontal tanpa mobility atau perpindahan gigi |
| Subluxation | Cedera periodontal dengan mobility tetapi tanpa perpindahan gigi |
| Extrusive luxation | Perpindahan gigi ke arah axial luar dari soket |
| Intrusive luxation | Perpindahan gigi ke dalam soket |
| Lateral luxation | Perpindahan gigi ke arah lateral |
| Exarticulation (Avulsion) | Gigi terlepas sepenuhnya dari soket |
Etiologi dan Faktor Risiko
Trauma gigi dapat disebabkan oleh berbagai faktor. Pada anak-anak usia 7-12 tahun, penyebab tersering adalah jatuh saat bermain atau aktivitas olahraga. Pada remaja dan dewasa, kecelakaan lalu lintas dan olahraga kontak menjadi penyebab utama.
Faktor Predisposisi:
- Maloklusi kelas II div 1 — overjet yang meningkat (>6mm) meningkatkan risiko trauma anterior
- Insufficient lip closure — bibir tidak dapat melindungi gigi anterior secara adekuat
- Activities with high risk — bersepeda, skateboard, roller skating, martial arts, tinju
- Neurological disorders — epilepsi, cerebral palsy
- Environmental factors — permukaan keras di playgrounds, kurang pengawasan
Diagnosis Trauma Gigi
1. Anamnesis
Dalam anamnesis, tanyakan tentang:
- Waktu dan tempat kejadian
- Mekanisme cedera (arah, besar, jenis gaya)
- Gejala yang dialami (nyeri, mobility, perdarahan)
- Riwayat trauma sebelumnya pada gigi yang sama
- Kehilangan kesadaran atau muntah (tanyakan untuk menyingkirkan cedera kepala)
2. Pemeriksaan Klinis
a. Inspeksi: Periksa adanya luka jaringan keras dan lunak, perdarahan, fraktur mahkota, atau perpindahan gigi.
b. Palpasi: Periksa sensitivitas jaringan sekitar dan mobilitas gigi.
c. Tes vitalitas: Tes pulpa penting untuk menentukan viabilitas pulpa pasca-trauma. Cold test dan electric pulp test dapat digunakan, namun hasil harus interpreted dengan hati-hati karena pulpa dapat mengalami post-traumatic pulp necrosis.
d. Periodontal assessment: Periksa mobilitas gigi dan kedalaman soket dengan probing halus.
3. Pemeriksaan Radiografis
Radiografi sangat penting dalam penilaian trauma gigi. Tampilkan:
- Periapikal — menilai keadaan akar, soket, dan tulang alveolar
- Oklusal — menilai fraktur akar horizontal atau displacement
- PA rahang lateral — menilai posisi gigi intrusi atau avulsi
- OPG — untuk kasus kompleks dengan kemungkinan cedera multiple
Penatalaksanaan Berdasarkan Tipe Cedera
Fraktur Email-Dentin Tanpa Involving Pulpa (Kelas II Andreasen)
- Rawat endodontik tidak diperlukan jika pulpa vital
- Rekonstruksi dengan resin komposit atau laminate veneer
- Jika cukup dentin tersisa, penambalan langsung dengan GIC atau komposit
- Follow-up: cek vitalitas pulpa pada 3 bulan, 6 bulan, dan annually
Fraktur yang Melibatkan Pulpa (Kelas III Andreasen)
- Pulpotomi atau perawatan saluran akar bergantung pada tingkat infeksi
- Jika pulpa nekrotik, lakukan root canal treatment
- Untuk gigi dengan apeks terbuka, apexogenesis atau apexifikasi dapat dilakukan
Luksasi (Dislokasi Gigi)
a. Extrusive luxation:
- Reposisi gigi ke posisi semula secara perlahan
- Fiksasi dengan flexible splint selama 2 minggu
- Root canal treatment jika terjadi necrosis
b. Lateral luxation:
- Reposisi digital dengan tekanan gentle
- Splinting selama 4-8 minggu tergantung pada tingkat perpindahan
c. Intrusive luxation:
- Jika gigi sulung: observasi untuk erupsi ulang, cabut jika terdapat bukti kerusakan germ gigi permanen
- Jika gigi permanen dengan apeks tertutup: surgical repositioning atau orthodontic extrusion
- Jika gigi permanen dengan apeks terbuka: observasi untuk erupsi spontan
Avulsi (Gigi Terlepas Sepenuhnya)
Penatalaksanaan avulsi merupakan emergensi absolut dalam dentistry:
- Handling gigi yang terlepas: Pegang pada mahkota, jangan menyentuh akar
- Membersihkan: Bilas dengan larutan NaCl atau susu, jangan digosok
- Storage: Simpan dalam susu, saline, atau saliva (buk membrane) jika replantasi tidak dapat dilakukan segera
- Replantasi: Lakukan secepat mungkin, idealnya dalam 30 menit
- Splinting: Flexible splinting selama 2 minggu untuk ligamen periodontal
- Antibiotik dan tetanus prophylaxis sesuai indikasi
Komplikasi Trauma Gigi
| Komplikasi | Waktu Terjadi | Penatalaksanaan |
| Pulp necrosis | 1-12 bulan | Root canal treatment |
| Pulp canal obliteration | 3-12 bulan | Monitoring, endodontic treatment jika perlu |
| External root resorption | 3-12 bulan | Variabel, mungkin perlu extraction |
| Ankylosis | 2-12 bulan | Monitoring,Decoronation jika perlu |
| Loss of alveolar bone | Variable | Regenerative procedures |
Pencegahan Trauma Gigi
- Penjaga mulut (mouthguard) — wajib untuk atlet olahraga kontak
- Helmet — untuk bersepeda, motor, dan aktivitas tinggi risiko
- Edukasi orang tua dan anak tentang lingkungan aman
- Orthodontic treatment untuk kasus dengan overjet berlebihan
- Proteksi bibir (lip protector) untuk anak dengan insufisiensi lip
Relevansi UKMP2DG dan UKOMNAS PPDG
Trauma gigi merupakan salah satu topik yang sering muncul dalam stasiun UKMP2DG OSCE dan UKOMNAS PPDG. Kompetensi yang diuji meliputi:
- Kemampuan mengklasifikasikan tipe trauma gigi
- Melakukan anamnesis dan pemeriksaan klinis yang tepat
- Menentukan plan penatalaksanaan yang sesuai
- Menjelaskan prognosis dan follow-up yang diperlukan
- Konseling pasien/orang tua tentang pencegahan
FAQ: Pertanyaan Umum tentang Trauma Gigi
1. Apa yang harus dilakukan saat gigi terlepas karena trauma?
Segera ambil gigi dengan memegang mahkota (bukan akar), bilas dengan susu atau saline, dan replantasi segera ke soket. Jika tidak memungkinkan, simpan dalam susu dan segera ke dokter gigi dalam 30 menit pertama untuk prognosis terbaik.
2. Berapa lama splint harus dipasang setelah trauma gigi?
Lama splinting tergantung pada tipe cedera. Untuk subluksasi, 2 minggu sudah cukup. Untuk avulsi dan luksasi severe, 4-8 minggu diperlukan untuk penyembuhan ligamen periodontal.
3. Kapan gigi trauma memerlukan root canal treatment?
Root canal treatment diperlukan ketika terjadi nekrosis pulpa yang ditandai dengan perubahan warna gigi menjadi keabuan, tes vitalitas negatif, dan/atau adanya lesi periapikal pada radiograf.
4. Apakah tes vitalitas dapat langsung dilakukan setelah trauma?
Tes vitalitas segera setelah trauma sering memberikan hasil false negative karena trauma造成了 neurogenic shock. Disarankan untuk melakukan tes vitalitas 3-4 minggu pasca-trauma untuk hasil yang lebih akurat.
5. Bagaimana cara mencegah trauma gigi pada anak?
Pencegahan meliputi penggunaan mouthguard saat olahraga kontak, helm saat bersepeda, dan edukasi tentang lingkungan bermain yang aman. Bagi anak dengan overjet >6mm, orthodontic intervention dapat dipertimbangkan.
Akses materi lengkap, tryout, dan video belajar di satu aplikasi


