Periodontitis merupakan penyakit inflamasi kronis pada jaringan penyangga gigi yang dapat menyebabkan kerusakan tulang alveolar, kegoyangan gigi, hingga kehilangan gigi. Penyakit ini menjadi masalah kesehatan global yang signifikan dan diperkirakan akan menyerang lebih dari 1,5 miliar orang di dunia pada tahun 2050. Indonesia termasuk salah satu negara dengan prevalensi periodontitis yang tinggi, sehingga diagnosis yang akurat menjadi sangat penting untuk menentukan perawatan yang tepat.
Pada tahun 2018, para ahli periodonsia dunia mempublikasikan sistem klasifikasi baru untuk periodontitis. Sistem ini menilai penyakit berdasarkan tiga aspek utama, yaitu staging (tingkat keparahan kerusakan yang telah terjadi), grading (kecepatan progresivitas penyakit), dan extent (luas penyebaran penyakit di dalam rongga mulut). Klasifikasi ini diharapkan dapat meningkatkan ketepatan diagnosis dan membantu dokter gigi memberikan terapi yang lebih sesuai dengan kondisi pasien.
Namun, penerapan sistem klasifikasi baru ini tidak selalu mudah, terutama bagi dokter gigi yang masih dalam tahap pendidikan. Sebuah penelitian terbaru yang dipublikasikan dalam jurnal Medicine pada Juni 2026 mengevaluasi konsistensi diagnosis periodontitis pada mahasiswa Program Pendidikan Dokter Gigi Spesialis (PPDGS) Periodonsia di Indonesia, dengan fokus utama di Universitas Airlangga.
Penelitian yang dilakukan oleh I Ketut Erfandi Wijaksana dan tim ini melibatkan 41 mahasiswa spesialis periodonsia. Para peserta diminta menganalisis lima kasus periodontitis berdasarkan data klinis lengkap, termasuk radiografi, chart periodontal, dan riwayat kesehatan pasien. Hasil diagnosis peserta kemudian dibandingkan dengan diagnosis standar yang telah ditentukan oleh panel ahli periodonsia.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat kesesuaian diagnosis untuk staging mencapai 56,1%, sedangkan untuk grading sebesar 76,1%, dan extent sebesar 74,2%. Temuan ini mengindikasikan bahwa mahasiswa spesialis relatif lebih konsisten dalam menentukan grade dan extent dibandingkan stadium penyakit.
Peneliti juga menemukan bahwa sekitar 35% penilaian stadium cenderung melebihkan tingkat keparahan penyakit (overstaging), sementara sekitar 21% penilaian grade justru meremehkan kecepatan progresivitas penyakit (undergrading). Perbedaan diagnosis paling sering ditemukan pada kasus-kasus yang berada di batas antara dua kategori, misalnya antara Stadium II dan Stadium III atau antara Grade B dan Grade C.
Temuan ini memiliki implikasi penting bagi pendidikan kedokteran gigi di Indonesia. Konsistensi diagnosis merupakan dasar dalam penyusunan rencana perawatan yang tepat. Jika terjadi perbedaan interpretasi, maka pilihan terapi yang diberikan kepada pasien juga dapat berbeda. Oleh karena itu, para peneliti merekomendasikan peningkatan kegiatan kalibrasi, diskusi kasus, dan pelatihan berbasis kasus klinis untuk membantu mahasiswa memahami penerapan klasifikasi periodontitis secara lebih seragam.
Bagi mahasiswa kedokteran gigi, penelitian ini menjadi pengingat bahwa penguasaan sistem klasifikasi penyakit periodontal bukan sekadar materi ujian, melainkan keterampilan klinis yang berdampak langsung pada kualitas pelayanan pasien. Memahami staging, grading, dan extent periodontitis secara akurat akan membantu calon dokter gigi memberikan terapi yang lebih tepat sasaran.
Secara keseluruhan, studi ini menunjukkan bahwa mahasiswa spesialis periodonsia di Indonesia telah mampu menerapkan sistem klasifikasi periodontitis 2018 dengan cukup baik, terutama dalam penentuan grade dan extent. Namun, masih diperlukan upaya peningkatan kompetensi dalam menentukan stadium penyakit agar diagnosis periodontitis menjadi lebih konsisten dan akurat.
Referensi: Wijaksana IKE, Hepitaria NA, Savitri IJ, Abullais SS, AlQahtani S, Bahamdan GK. Consistency in staging, grading, and extent of periodontitis diagnosis: A cross-sectional online-based assessment among Indonesian periodontics specialist students. Medicine (Baltimore). 2026 Jun 5;105(23):e49178.
Akses materi lengkap, tryout, dan video belajar di satu aplikasi


