Resmi Nahkodai PDGI Aceh 2025-2030, drg. Supriady Siapkan Penguatan Kompetensi dan Layanan Gigi hingga Pelosok

Resmi Nahkodai PDGI Aceh 2025-2030, drg. Supriady Siapkan Penguatan Kompetensi dan Layanan Gigi hingga Pelosok

Mindy
Published on 21 Juni 2026

Resmi Nahkodai PDGI Aceh 2025-2030, drg. Supriady Siapkan Penguatan Kompetensi dan Layanan Gigi hingga Pelosok

Banda Aceh — Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI) wilayah Aceh resmi melantik drg. Supriady sebagai ketua PDGI Aceh untuk periode 2025-2030. Dalam pidato perdananya, Supriady mengumumkan dua agenda utama: penguatan kompetensi dokter gigi anggota dan pemerataan layanan kesehatan gigi hingga pelosok Aceh. Pelantikan ini menjadi momentum bagi dokter gigi muda dan mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) di Aceh untuk melihat arah organisasi profesi lima tahun ke depan.

Latar Belakang Pelantikan

PDGI merupakan organisasi profesi yang menaungi dokter gigi di Indonesia, baik di tingkat pusat maupun daerah. Setiap lima tahun, PDGI wilayah melakukan musyawarah wilayah (Muswil) untuk memilih kepengurusan baru. Pada Muswil PDGI Aceh terbaru, drg. Supriady terpilih secara aklamasi dan dipercaya memimpin organisasi periode 2025-2030.

Supriady bukan nama baru di PDGI Aceh. Ia telah aktif di organisasi ini selama lebih dari satu dekade dan dikenal sebagai sosok yang mendorong peningkatan kapasitas dokter gigi di luar ibu kota provinsi. Kepercayaan anggota membuatnya kembali dipercaya memimpin, kali ini dengan mandat yang lebih besar.

Agenda Penguatan Kompetensi

Dalam pidato pertamanya, Supriady menekankan bahwa penguatan kompetensi menjadi prioritas pertama. Ia menyoroti tiga hal:

  • Pelatihan berkelanjutan (CPD) — peningkatan jumlah seminar, workshop, dan hands-on yang terstruktur untuk dokter gigi anggota, terutama terkait perkembangan ilmu material kedokteran gigi, endodontik, dan implant.
  • Standar praktik klinis — pembaruan panduan praktik berbasis bukti terbaru agar kualitas layanan dokter gigi di Aceh selaras dengan standar nasional PDGI dan ADHPGMI (Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga PDGI).
  • Kolaborasi akademik — kemitraan dengan FKG di Aceh (FKG Unsyiah) untuk menjembatani kurikulum kampus dengan kebutuhan praktik di lapangan.

"Kompetensi adalah fondasi. Tanpa dokter gigi yang terus meng-upgrade ilmunya, sulit bicara pemerataan layanan," tegas Supriady dalam keterangannya.

Pemerataan Layanan hingga Pelosok

Agenda kedua yang tak kalah penting adalah pemerataan layanan. Aceh memiliki tantangan geografis yang unik: banyak kabupaten di pedalaman dan pulau-pulau kecil yang akses ke dokter gigi masih terbatas. Data nasional menunjukkan rasio dokter gigi per 100.000 penduduk di Aceh masih di bawah rata-rata nasional, terutama di luar Banda Aceh, Lhokseumawe, dan Langsa.

Supriady menyebutkan beberapa strategi konkret:

  • Mendorong program dokter gigi mengabdi yang menempatkan dokter gigi muda di daerah terpencil selama periode tertentu, dengan insentif dari pemerintah daerah.
  • Memperkuat jejaring klinik gigi di puskesmas melalui pelatihan operator dan supplying alat dasar yang lebih merata.
  • Memanfaatkan teledentistry untuk konsultasi kasus dari pelosok, sehingga dokter gigi di daerah tidak merasa terisolasi dari kasus-kasus langka.

Implikasi bagi Mahasiswa FKG

Bagi mahasiswa FKG, periode baru PDGI Aceh membawa beberapa peluang konkret:

  • Pelatihan lebih terbuka — workshop dan seminar PDGI yang sebelumnya lebih banyak diikuti dokter gigi senior, akan diperluas untuk mahasiswa dan dokter gigi muda.
  • Peluang internship ke pelosok — program pemerataan layanan membuka ruang bagi koas dan dokter gigi fresh graduate untuk merasakan praktik di daerah 3T (terdepan, terluar, tertinggal).
  • Mentorship — kolaborasi PDGI-FKG diharapkan memperkuat sistem bimbingan dari dokter gigi senior untuk mahasiswa yang akan menghadapi UKMP2DG dan masa internship.

Tantangan ke Depan

Meski agendanya jelas, Supriady mengakui tantangan tidak sedikit. Anggaran organisasi, koordinasi dengan pemprov, dan mobilisasi anggota di kabupaten menjadi pekerjaan rumah awal. Ia juga berharap PDGI pusat dapat memperhatikan daerah dengan kekhususan geografis seperti Aceh.

Untuk mahasiswa kedokteran gigi, periode ini adalah saat yang tepat untuk mulai aktif berjejaring dengan PDGI daerah. Mengikuti kegiatan mereka, menjadi anggota muda, dan terlibat langsung dalam program pengabdian akan memberikan bekal pengalaman yang tidak diperoleh di ruang kelas.

📲 Download Aplikasi Umeds

Akses materi lengkap, tryout, dan video belajar di satu aplikasi

Komentar

Silakan login untuk memberikan komentar

Login
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!
Customer Support umeds