Jakarta — Presiden RI Prabowo Subianto mengungkapkan fakta mengejutkan dalam Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara, Jakarta, Senin (20/7/2026): lebih dari separuh peserta program Cek Kesehatan Gratis (CKG) mengalami masalah kesehatan gigi dan mulut.
"Ternyata rakyat kita banyak sekali yang sakit gigi, giginya rusak. Artinya dokter gigi kurang," ujar Prabowo di hadapan seluruh anggota kabinet.
Pernyataan ini bukan sekadar komentar biasa. Data Kementerian Kesehatan per pertengahan 2026 menunjukkan bahwa program CKG telah diikuti oleh lebih dari 130,8 juta orang Indonesia — angka yang luar biasa besar dan memberikan gambaran nyata tentang kondisi kesehatan gigi bangsa.
Data Mengkhawatirkan: 1 dari 2 Warga Bermasalah Gigi
Berdasarkan data Kemenkes, tiga masalah kesehatan utama yang terdeteksi melalui CKG adalah hipertensi, diabetes melitus, dan gangguan kesehatan gigi. Khusus untuk kesehatan gigi, 1 dari 2 peserta pemeriksaan ditemukan memiliki masalah, mulai dari gigi berlubang, gigi goyang, hingga gusi turun.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menegaskan bahwa masalah kesehatan gigi ternyata sangat tinggi di masyarakat. "Masalah kesehatan gigi ternyata sangat tinggi, termasuk saya sendiri baru sadar," ujar Menkes.
Yang lebih memprihatinkan, penyakit tidak menular ini tidak hanya menyerang kelompok lansia. Satu dari tiga orang berusia di atas 40 tahun mengalami hipertensi, dan satu dari sepuluh mengidap diabetes. Kondisi kesehatan gigi yang buruk juga berkaitan erat dengan penyakit sistemik lainnya.
Kesenjangan Distribusi Dokter Gigi
Pernyataan Prabowo bahwa "dokter gigi kurang" mencerminkan realitas distribusi tenaga kesehatan gigi di Indonesia. Meskipun jumlah fakultas kedokteran gigi terus bertambah, penyebaran dokter gigi masih sangat timpang.
Partisipasi CKG sendiri menunjukkan ketimpangan geografis yang nyata. Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Jawa Barat menyumbang sekitar 60% total peserta, sementara Papua Barat, Papua Tengah, dan Papua Pegunungan mencatat partisipasi terendah. Ketimpangan ini juga berlaku untuk ketersediaan dokter gigi — daerah timur Indonesia masih sangat kekurangan tenaga kesehatan gigi.
Selain itu, terdapat kesenjangan gender dalam pemanfaatan layanan kesehatan. Sebanyak 62,2% peserta CKG adalah perempuan, sementara laki-laki hanya 37,7%. Hal ini mengindikasikan bahwa kesadaran kesehatan gigi di kalangan laki-laki masih perlu ditingkatkan.
Program CKG Sekolah: Jangkauan ke 50 Juta Siswa
Direktur Jenderal Kesehatan Primer dan Komunitas Kemenkes, dr. Endang Sumiwi, mengumumkan bahwa program CKG akan diperluas ke lingkungan sekolah melalui program CKG Sekolah. Program ini ditargetkan menjangkau hingga 50 juta siswa di jenjang pendidikan dasar dan menengah.
Pemeriksaan di sekolah akan difokuskan pada aspek kesehatan anak dan remaja, termasuk gizi, tumbuh kembang, penglihatan, pendengaran, dan kesehatan mental. Untuk kesehatan gigi, ini berarti deteksi dini masalah gigi pada usia sekolah — momen krusial untuk intervensi preventif.
Program ini bekerja sama dengan Kementerian Pendidikan, Dinas Kesehatan, dan sekolah-sekolah di seluruh Indonesia. Dengan laju pemeriksaan mencapai 200.000 orang per hari atau sekitar 4 juta per bulan, target nasional 100 juta pemeriksaan telah terlampaui.
Prinsip 4M: Edukasi Kesehatan Gigi untuk Masyarakat
Kemenkes mengimbau masyarakat untuk menerapkan prinsip 4M dalam menjaga kesehatan gigi dan mulut:
- Menggosok gigi — minimal dua kali sehari dengan teknik yang benar
- Membatasi gula — mengurangi konsumsi makanan dan minuman manis
- Memeriksa gigi secara rutin — ke dokter gigi minimal setiap enam bulan
- Mengonsumsi buah serta sayur — untuk memperkuat struktur gigi dan gusi
Selain itu, Kemenkes juga menekankan pentingnya aktif bergerak minimal 30 menit per hari, rutin cek tekanan dan gula darah, serta mengurangi konsumsi makanan dan minuman manis, asin, dan berlemak.
Peluang dan Tantangan bagi Mahasiswa Kedokteran Gigi
Bagi mahasiswa kedokteran gigi di seluruh Indonesia, data dari program CKG memberikan sinyal yang jelas: kebutuhan akan tenaga dokter gigi masih sangat besar. Pernyataan presiden secara langsung mengakui kekurangan ini, yang berarti peluang karier dan kontribusi sosial yang luas bagi lulusan FKG.
Program pendidikan dokter spesialis berbasis rumah sakit yang telah berjalan di enam rumah sakit juga akan terus diperluas. Menurut Menkes, 56% rumah sakit di Indonesia memiliki spesialis yang tidak lengkap, dan 100% tidak memiliki dokter jantung — gambaran tentang betapa besar kebutuhan tenaga medis spesialis, termasuk dokter gigi spesialis.
Pembangunan 22 rumah sakit baru quick win yang ditargetkan selesai secara bertahap juga akan membutuhkan tambahan tenaga kesehatan gigi. Dua rumah sakit telah siap diresmikan, masing-masing di Terempa, Kabupaten Kepulauan Anambas, Kepulauan Riau, dan di Bengkulu Tengah.
Transformasi Kesehatan Gigi Indonesia
Program CKG bukan sekadar pemeriksaan massal — ini adalah transformasi paradigma dari kuratif menjadi preventif. Deteksi dini masalah gigi memungkinkan intervensi sebelum kondisi memburuk, yang pada akhirnya mengurangi beban sistem kesehatan nasional.
Bagi mahasiswa kedokteran gigi, momen ini adalah panggilan untuk terlibat aktif. Baik melalui program CKG, CKG Sekolah, maupun praktik mandiri di daerah-daerah yang membutuhkan, peran dokter gigi sangat vital dalam mewujudkan visi Indonesia Sehat 2045.
"Sehat itu investasi. Dan ini pesan langsung dari Presiden: jaga kesehatan agar rakyat Indonesia bisa bekerja, produktif, dan membawa negara kita menjadi negara maju di tahun 2045," tutup Menkes Budi Gunadi Sadikin.
Sumber: Kompas.com, Sekretariat Negara, Kementerian Kesehatan RI
Akses materi lengkap, tryout, dan video belajar di satu aplikasi


