Jakarta — Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI) menyatakan bahwa penyakit periodontal atau penyakit gusi saat ini menempati urutan kedua sebagai masalah kesehatan mulut terbanyak di Indonesia, setelah karies gigi. Pernyataan ini disampaikan Ketua Pengurus Besar PDGI drg. Usman Sumantri, MSc., dalam konferensi pers Pepsodent Gum Expert Lab di Jakarta, Jumat (5/6/2026).
"Data-data menunjukkan periodontal, jaringan periodontal, periodontitis, periodontal disease itu sudah menempati angka nomor dua setelah karies," ujar Usman. Ia menambahkan bahwa perhatian masyarakat selama ini lebih banyak tertuju pada kondisi gigi, sementara kesehatan gusi sering kali terlewatkan.
Mengapa Penyakit Gusi Berbahaya?
Penyakit periodontal merupakan peradangan pada jaringan penyangga gigi yang disebabkan oleh penumpukan bakteri di rongga mulut. Jika tidak ditangani dengan baik, kondisi ini dapat menyebabkan kerusakan jaringan penyangga gigi hingga kehilangan gigi.
Lebih dari itu, Usman memperingatkan bahwa peradangan akibat penyakit gusi dapat menjadi faktor pemicu infeksi dan gangguan kesehatan pada organ tubuh lainnya. "Jadi nanti itu menjadi faktor inflamasi untuk terjadinya infeksi di penyakit-penyakit organ-organ tubuh kita," kata dia.
Peringatan PDGI ini sejalan dengan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 yang menunjukkan bahwa 57,6% penduduk Indonesia mengalami masalah kesehatan gigi dan mulut, namun hanya sekitar 10,2% yang mengakses pelayanan kesehatan gigi. Masalah gusi bengkak dan/atau abses dialami oleh 14% penduduk.
Inovasi FKG UI: Minyak Nilam sebagai Terapi Periodontal
Di tengah tantangan tersebut, muncul kabar menggembirakan dari dunia akademik. Doktor Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia (FKG UI), Dr. drg. Deviyanti Pratiwi, M.Kes., mengembangkan inovasi pemanfaatan minyak nilam (Pogostemon cablin Benth) sebagai terapi tambahan untuk penyakit periodontal.
Promosi doktor terbuka dilaksanakan di FKG UI pada akhir April 2026. Penelitian ini menghadirkan pendekatan baru dalam pemanfaatan bahan alam Indonesia untuk perawatan kesehatan gigi yang lebih efektif.
Dalam penelitiannya, Dr. Deviyanti memanfaatkan minyak atsiri nilam yang diolah menggunakan teknologi berukuran sangat kecil (nanoteknologi) agar dapat bekerja lebih optimal pada area yang mengalami peradangan. Pendekatan ini dilakukan untuk meningkatkan efektivitas bahan alami dalam menghambat pertumbuhan bakteri penyebab penyakit gusi.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa formula yang dikembangkan mampu menghambat pertumbuhan bakteri yang berkaitan dengan penyakit periodontal. Pengujian awal juga menunjukkan hasil yang mendukung pengembangan lebih lanjut sebagai terapi tambahan dalam perawatan penyakit gusi.
Dekan FKG UI Apresiasi Inovasi Berbasis Bahan Alam
Dekan FKG UI, Prof. drg. Lisa Rinanda Amir, menyatakan bahwa penelitian ini menunjukkan kontribusi FKG UI dalam mengembangkan ilmu pengetahuan yang bermanfaat bagi masyarakat. Inovasi berbasis bahan alam seperti ini diharapkan dapat menjadi dasar bagi pengembangan terapi tambahan di bidang kedokteran gigi, khususnya dalam penanganan penyakit periodontal.
Temuan ini sekaligus memperlihatkan bahwa minyak nilam memiliki potensi untuk dimanfaatkan lebih luas di bidang kesehatan gigi. Selain mendukung pengembangan terapi yang lebih inovatif, penelitian ini juga menunjukkan peluang pemanfaatan kekayaan hayati Indonesia sebagai sumber bahan kesehatan yang bernilai tambah tinggi.
Implikasi bagi Mahasiswa Kedokteran Gigi
Bagi mahasiswa kedokteran gigi, perkembangan ini memberikan beberapa pembelajaran penting:
- Diagnosis dini penyakit periodontal — Pemeriksaan jaringan periodontal harus menjadi bagian rutin dari praktik klinis, tidak hanya fokus pada kondisi gigi.
- Pendekatan holistik — Pemahaman bahwa kesehatan mulut terkait erat dengan kesehatan sistemik harus ditanamkan sejak dini dalam pendidikan kedokteran gigi.
- Potensi bahan alam lokal — Indonesia memiliki kekayaan hayati yang bisa dikembangkan menjadi terapi inovatif, membuka peluang penelitian bagi mahasiswa.
- Edukasi pasien — Peran dokter gigi tidak hanya kuratif, tetapi juga preventif melalui edukasi tentang pentingnya menjaga kesehatan gusi.
Upaya PDGI Meningkatkan Kesadaran Masyarakat
Sebagai organisasi profesi, PDGI terus mendorong peningkatan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya menjaga kesehatan gusi melalui berbagai pendekatan:
- Edukasi kesehatan gigi dan mulut yang mudah dipahami masyarakat awam
- Perluasan akses pemeriksaan kesehatan gigi
- Penerapan kebiasaan perawatan gigi dan gusi sejak dini
- Kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk industri dan institusi pendidikan
PDGI juga menyusun pedoman praktik kedokteran gigi, melatih tenaga kesehatan, serta meningkatkan kualitas layanan kesehatan gigi di Puskesmas dan rumah sakit. Di sisi promosi kesehatan, PDGI mendorong masyarakat untuk mengurangi konsumsi makanan tinggi gula penyebab karies dan meningkatkan kebiasaan menyikat gigi minimal dua kali sehari dengan pasta gigi berfluoride.
Usman berharap program edukasi gigi dan mulut dapat memperkuat literasi kesehatan gigi dan mulut di masyarakat sekaligus membantu menekan beban masalah kesehatan gigi dan mulut di Indonesia. "Kami percaya bahwa peningkatan kesadaran masyarakat akan pentingnya gusi sehat, pemeliharaan kesehatan yang berkelanjutan melalui edukasi yang mudah dipahami, akses pemeriksaan yang lebih luas, serta kebiasaan perawatan gigi dan gusi yang tepat sejak dini," ujarnya.
Tantangan ke Depan
Meski inovasi dari FKG UI menjanjikan, masih diperlukan penelitian lanjutan sebelum minyak nilam dapat digunakan secara luas di klinik. Uji klinis pada manusia, standarisasi formula, dan evaluasi keamanan jangka panjang menjadi langkah selanjutnya yang harus dilalui.
Sementara itu, data PDGI menunjukkan bahwa sedikitnya 89% penderita karies adalah anak-anak, dan 60-90% anak sekolah memiliki gigi berlubang menurut WHO. Angka-angka ini menegaskan bahwa beban kesehatan gigi dan mulut di Indonesia masih sangat besar dan memerlukan pendekatan komprehensif dari seluruh pemangku kepentingan.
Bagi mahasiswa kedokteran gigi, ini adalah momentum untuk memperdalam pemahaman tentang penyakit periodontal dan terlibat aktif dalam penelitian bahan alam Indonesia. Kombinasi antara pengetahuan klinis yang kuat dan inovasi berbasis lokal dapat menjadi kunci kemajuan kedokteran gigi Indonesia di masa depan.
Akses materi lengkap, tryout, dan video belajar di satu aplikasi


