Noncarious Cervical Lesions (NCCLs): Apa Bedanya dan Bagaimana Penanganannya?

Noncarious Cervical Lesions (NCCLs): Apa Bedanya dan Bagaimana Penanganannya?

Mindy
Published on

Memahami Noncarious Cervical Lesions (NCCLs): Abrasi, Abfraksi, Erosi, dan Attrisi

Dalam dunia kedokteran gigi, tidak semua kerusakan pada gigi disebabkan oleh karies atau lubang gigi. Ada kalanya, pasien datang dengan keluhan sensitivitas, perubahan bentuk gigi, atau bahkan estetika yang terganggu pada area leher gigi (servikal), namun setelah pemeriksaan, tidak ditemukan adanya infeksi bakteri penyebab karies. Kondisi inilah yang dikenal sebagai Noncarious Cervical Lesions (NCCLs), atau lesi servikal non-karies.

NCCLs merupakan masalah umum yang seringkali menjadi tantangan diagnostik dan terapeutik bagi dokter gigi. Seringkali, istilah-istilah seperti abrasi, abfraksi, erosi, dan attrisi digunakan secara bergantian, padahal keempatnya memiliki penyebab, karakteristik klinis, dan pendekatan penanganan yang berbeda. Memahami perbedaan fundamental antara jenis-jenis NCCLs ini sangat krusial untuk diagnosis yang akurat dan rencana perawatan yang efektif. Artikel ini akan mengupas tuntas masing-masing jenis NCCLs, membantu Anda membedakannya, serta memberikan wawasan mengenai strategi penanganannya.

Mengenal Lebih Dekat Noncarious Cervical Lesions (NCCLs)

NCCLs adalah hilangnya struktur gigi pada daerah servikal (perbatasan mahkota dan akar gigi) yang tidak disebabkan oleh aktivitas bakteri karies. Lesi ini dapat mempengaruhi email, dentin, dan bahkan sementum, dan seringkali bermanifestasi sebagai cekungan, takik, atau area yang terkikis. Penyebab NCCLs bersifat multifaktorial, melibatkan kombinasi faktor mekanis, kimiawi, dan terkadang juga biologis.

Sensitivitas gigi adalah keluhan umum yang sering menyertai NCCLs, karena terbukanya tubulus dentin ke lingkungan mulut. Selain itu, lesi ini juga dapat menyebabkan masalah estetika, retensi plak, dan dalam kasus yang parah, dapat meningkatkan risiko fraktur gigi atau pulpitis. Oleh karena itu, identifikasi dini dan penanganan yang tepat sangat penting untuk menjaga kesehatan mulut dan kualitas hidup pasien.

Abrasi: Keausan Akibat Gesekan Mekanis

Abrasi didefinisikan sebagai hilangnya struktur gigi akibat kontak mekanis berulang antara gigi dan benda asing, selain kontak gigi-ke-gigi. Ini adalah salah satu jenis NCCLs yang paling sering ditemui dan umumnya disebabkan oleh teknik menyikat gigi yang salah atau terlalu agresif.

  • Penyebab Umum:
    • Sikat gigi yang terlalu keras atau teknik menyikat gigi yang salah: Menyikat gigi secara horizontal dengan tekanan berlebih adalah penyebab utama abrasi pada area servikal.
    • Pasta gigi abrasif: Beberapa pasta gigi, terutama yang mengandung partikel pemutih, memiliki tingkat abrasivitas yang tinggi.
    • Kebiasaan buruk: Menggigit pensil, kuku, atau menggunakan tusuk gigi secara berlebihan juga dapat menyebabkan abrasi pada area tertentu.
    • Alat ortodontik: Gesekan kawat atau klem ortodontik pada permukaan gigi.
  • Karakteristik Klinis:
    • Lesi berbentuk U-shaped atau cekungan lebar dan dangkal, dengan batas yang halus dan mengkilap.
    • Sering ditemukan pada gigi premolar dan kaninus, terutama pada sisi bukal (pipi) dan labial (bibir).
    • Kedalaman lesi bervariasi tergantung tingkat keparahan dan durasi pajanan.
  • Pencegahan dan Penanganan:
    • Edukasi pasien mengenai teknik menyikat gigi yang benar (misalnya, teknik Bass modifikasi) dan penggunaan sikat gigi berbulu lembut.
    • Rekomendasi pasta gigi dengan tingkat abrasivitas rendah.
    • Identifikasi dan modifikasi kebiasaan buruk.
    • Restorasi lesi dengan bahan komposit atau semen ionomer kaca (GIC) jika lesi sudah dalam, menyebabkan sensitivitas, atau mengganggu estetika.

Abfraksi: Tekanan Berlebih pada Gigi

Abfraksi adalah hilangnya struktur gigi pada daerah servikal akibat tekanan oklusal (gigitan) yang berlebihan atau tidak seimbang. Tekanan ini menyebabkan fleksi dan tegangan pada leher gigi, yang pada akhirnya mengakibatkan mikrofaktur pada email dan dentin.

  • Penyebab Umum:
    • Oklusi traumatik: Kontak gigi yang tidak harmonis atau berlebihan saat mengunyah atau menggigit.
    • Bruxism: Kebiasaan menggemeretakkan atau menggesekkan gigi secara tidak sadar, terutama saat tidur.
    • Maloklusi: Susunan gigi yang tidak teratur, menyebabkan distribusi tekanan yang tidak merata.
    • Gaya biomekanis: Tekanan tarik dan kompresi pada leher gigi akibat beban oklusal yang berulang.
  • Karakteristik Klinis:
    • Lesi berbentuk V-shaped atau baji yang tajam dan dalam, seringkali dengan batas yang jelas dan sudut internal yang tajam.
    • Dapat terjadi pada satu atau beberapa gigi, seringkali pada gigi yang menerima beban oklusal terberat.
    • Kadang disertai dengan retak pada email atau fraktur cusp.
  • Pencegahan dan Penanganan:
    • Penyesuaian oklusi untuk menyeimbangkan tekanan gigitan.
    • Penggunaan alat pelindung gigi (nightguard atau splint) untuk pasien bruxism.
    • Perawatan ortodontik untuk memperbaiki maloklusi.
    • Restorasi lesi dengan bahan yang memiliki modulus elastisitas rendah (misalnya, komposit atau GIC) untuk menahan fleksi gigi.

Erosi: Kerusakan Akibat Asam

Erosi adalah hilangnya struktur gigi akibat proses kimiawi (paparan asam) tanpa melibatkan aktivitas bakteri. Berbeda dengan karies yang membutuhkan bakteri dan gula, erosi terjadi murni karena pH rendah di lingkungan mulut.

  • Penyebab Umum:
    • Asam Intrinsik:
      • Penyakit refluks gastroesofageal (GERD): Asam lambung naik ke kerongkongan dan mulut.
      • Bulimia nervosa atau muntah kronis: Paparan asam lambung yang sering akibat muntah.
      • Kondisi medis lainnya: Seperti alkoholisme atau kehamilan (morning sickness).
    • Asam Ekstrinsik:
      • Konsumsi minuman dan makanan asam: Minuman bersoda, jus buah sitrus, minuman energi, acar, dan buah-buahan asam.
      • Paparan asam lingkungan kerja: Pekerja di industri yang terpapar uap asam.
      • Obat-obatan: Beberapa obat dapat menyebabkan mulut kering atau bersifat asam.
  • Karakteristik Klinis:
    • Permukaan gigi tampak halus, mengkilap, dan seringkali cekung (cupping) pada area cusp.
    • Hilangnya kilap email dan perubahan warna gigi menjadi lebih kusam atau kekuningan.
    • Sensitivitas umum pada banyak gigi.
    • Lesi seringkali meluas, tidak hanya terbatas pada area servikal.
    • Pada kasus parah, dapat terjadi 'pulpa terbuka' tanpa karies.
  • Pencegahan dan Penanganan:
    • Identifikasi dan eliminasi sumber asam.
    • Edukasi pasien tentang kebiasaan diet sehat dan cara mengurangi paparan asam.
    • Penggunaan sedotan saat minum minuman asam.
    • Berkumur dengan air atau larutan fluoride setelah terpapar asam (jangan langsung menyikat gigi).
    • Penggunaan pasta gigi berfluoride tinggi atau aplikasi fluoride topikal.
    • Penanganan kondisi medis yang mendasari (misalnya, GERD dengan bantuan dokter umum/internis).
    • Restorasi dengan bahan komposit atau mahkota jika kerusakannya luas.

Attrisi: Keausan Akibat Kontak Gigi-ke-Gigi

Attrisi adalah hilangnya struktur gigi akibat kontak gigi-ke-gigi (oklusal atau interproksimal) selama proses fisiologis atau parafungsi. Ini adalah proses keausan alami, namun dapat dipercepat oleh faktor-faktor tertentu.

  • Penyebab Umum:
    • Bruxism: Kebiasaan menggemeretakkan atau menggesekkan gigi yang berlebihan.
    • Kebiasaan mengunyah: Mengunyah makanan yang sangat keras atau memiliki tekstur abrasif.
    • Maloklusi: Susunan gigi yang tidak rata dapat menyebabkan beban berlebih pada gigi tertentu.
    • Fungsi pengunyahan normal: Terjadi secara alami seiring bertambahnya usia, namun dengan laju yang sangat lambat.
  • Karakteristik Klinis:
    • Permukaan oklusal atau insisal gigi menjadi datar, mengkilap, dan seringkali menunjukkan 'facets' (bidang-bidang aus).
    • Terjadi pemendekan tinggi mahkota gigi.
    • Dapat ditemukan pada gigi anterior maupun posterior.
    • Seringkali disertai hipertrofi otot masseter atau temporal pada pasien bruxism.
  • Pencegahan dan Penanganan:
    • Identifikasi dan penanganan bruxism (misalnya, dengan nightguard atau splint).
    • Penyesuaian oklusi.
    • Restorasi dengan bahan yang kuat dan tahan aus jika kerusakan sudah parah dan mengganggu fungsi atau estetika.
    • Edukasi pasien tentang manajemen stres dan kebiasaan parafungsi.

Mengapa Penting Membedakannya?

Membedakan antara abrasi, abfraksi, erosi, dan attrisi adalah langkah fundamental dalam menentukan diagnosis yang tepat dan merancang rencana perawatan yang efektif. Setiap jenis lesi memiliki etiologi yang berbeda, sehingga penanganannya pun harus disesuaikan dengan akar masalahnya. Misalnya, restorasi lesi abrasi tanpa mengoreksi teknik menyikat gigi yang salah hanya akan menyebabkan kegagalan restorasi berulang. Demikian pula, mengatasi erosi tanpa menangani sumber asam akan sia-sia.

Memahami nuansa perbedaan ini membutuhkan pengetahuan mendalam, yang bisa didapatkan melalui studi sistematis dan terarah. Platform digital seperti Umeds menawarkan kesempatan bagi para profesional dan mahasiswa kesehatan untuk terus mengembangkan wawasan mereka melalui berbagai artikel kesehatan dan modul pembelajaran yang komprehensif. Dengan akses ke informasi akurat dan terkini, dokter gigi dapat meningkatkan kemampuan diagnostik dan klinis mereka, demi pelayanan terbaik bagi pasien. Mengikuti kelas reguler atau kelas privat yang difokuskan pada diagnosis diferensial dan manajemen NCCLs juga bisa menjadi investasi berharga dalam pengembangan profesional.

Pendekatan Penanganan NCCLs Secara Umum

Penanganan NCCLs melibatkan beberapa strategi, tergantung pada jenis dan tingkat keparahan lesi:

  1. Identifikasi dan Eliminasi Faktor Etiologi: Ini adalah langkah paling krusial. Tanpa menghilangkan penyebabnya, perawatan lain kemungkinan besar akan gagal. Ini bisa berarti edukasi pasien tentang teknik menyikat gigi, penyesuaian diet, penanganan bruxism, atau intervensi medis untuk kondisi seperti GERD.
  2. Manajemen Sensitivitas: Aplikasi agen desensitisasi (misalnya, varnish fluoride, bonding agent), penggunaan pasta gigi khusus sensitivitas, atau restorasi dapat membantu mengurangi rasa ngilu.
  3. Restorasi: Jika lesi sudah dalam, menyebabkan sensitivitas parah, mengganggu estetika, atau berpotensi menyebabkan fraktur gigi, restorasi dengan bahan seperti komposit atau semen ionomer kaca (GIC) diperlukan. Pemilihan bahan restorasi harus mempertimbangkan sifat lesi dan beban oklusal yang diterima gigi.
  4. Perlindungan Permukaan: Untuk kasus bruxism atau maloklusi, penggunaan nightguard atau splint dapat melindungi gigi dari keausan lebih lanjut.
  5. Pemantauan Berkala: Pemeriksaan rutin penting untuk memantau perkembangan lesi dan efektivitas perawatan.

Kesimpulan

Noncarious Cervical Lesions (NCCLs) adalah masalah kesehatan mulut yang kompleks, namun dapat dikelola secara efektif dengan pemahaman yang tepat. Abrasi, abfraksi, erosi, dan attrisi, meskipun seringkali tampak serupa, memiliki mekanisme dan penyebab yang fundamental. Kemampuan dokter gigi untuk membedakan kondisi-kondisi ini adalah kunci untuk menentukan diagnosis yang akurat dan merancang rencana perawatan yang berhasil, yang tidak hanya mengatasi gejala tetapi juga menghilangkan akar masalahnya.

Sebagai profesional kesehatan, penting untuk terus memperbarui pengetahuan dan keterampilan kita. Dengan pemahaman yang komprehensif tentang NCCLs, didukung oleh ilmu pengetahuan terkini, kita dapat memberikan perawatan terbaik kepada pasien, menjaga kesehatan gigi mereka dalam jangka panjang, dan meningkatkan kualitas hidup mereka. Bagi Anda yang tertarik mendalami lebih jauh tentang diagnosis dan penanganan kasus-kasus kompleks di kedokteran gigi, tersedia paket course khusus yang dirancang untuk meningkatkan kompetensi klinis Anda, bahkan Anda bisa mendapatkan bimbingan dari tutor ahli di bidangnya.

Disclaimer:

Artikel ini bersifat informatif dan edukatif, bukan pengganti diagnosis, saran, atau perawatan medis profesional. Selalu konsultasikan masalah kesehatan mulut Anda dengan dokter gigi atau profesional kesehatan yang berkualitas untuk mendapatkan penanganan yang tepat sesuai kondisi individu Anda.

Referensi:

  • Roberson, T. M., Heymann, H. O., & Ritter, A. V. (2016). Sturdevant's Art and Science of Operative Dentistry (7th ed.). Elsevier.
  • Grippo, J. O., Simring, M., & Coleman, T. A. (2012). Abfraction, Abrasion, Biocorrison, and Erosion: A New Classification. Journal of Esthetic and Restorative Dentistry, 24(1), 10-18.
  • Addy, M., & Shellis, R. P. (2006). An in vitro study of the effect of toothbrushing force on the susceptibility of dentine to erosion. Journal of Dentistry, 34(3), 177-184.
  • Imfeld, T. (1996). Dental erosion. Definition, classification and criteria for diagnosis. European Journal of Oral Sciences, 104(2), 151-155.

👉 Belajar Jadi Dokter Hebat Cukup dalam Genggaman. Akses materi pembelajaran, video kuliah, dan latihan soal kapan saja di satu aplikasi.

Komentar

Silakan login untuk memberikan komentar

Login
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!
Customer Support umeds