Sebagian besar pengobatan dan terutama pembedahan, dilakukan dengan anestesi. Anestesi memungkinkan pasien saat menjalani prosedur pembedahan tanpa merasakan sakit. Penggunaan anestesi berguna untuk memblokir sensasi dan kesadaran. Memahami tahapan anestesi penting untuk menjaga stabilitas selama prosedur dan mengembalikan kesadaran pasien dengan aman setelah prosedur bedah.
Empat Tahapan Anestesi
Tahapan anestesi pertama kali dicetuskan oleh Dr. Arthur Guedel pada tahun 1937. Klasifikasi Guedel masih tetap digunakan sampai sekarang, meskipun penggunaan anestesi dan tekniknya sudah berkembang dengan onset dan pemulihan yang lebih cepat.
Tahap 1: Induksi (Analgesia atau Disorientasi)
Induksi anestesi kepada pasien dan akan terasa efek anestesi, tetapi belum kehilangan kesadaran. Pasien akan mengalami kantuk dan pengurangan rasa sakit yang signifikan serta pernapasan menjadi lambat dan teratur hingga pasien kehilangan kesadaran.
Ciri-ciri Tahap 1:
- Keadaan sadar tetapi mengantuk dengan respons verbal yang terjaga
- Analgesia yang efektif memungkinkan prosedur kecil tanpa rasa tidak nyaman
- Pola pernapasan normal dan tanda vital stabil
- Refleks pelindung yang utuh termasuk menelan dan batuk
Durasi Tahap 1 bervariasi berdasarkan teknik anestesi dan respons pasien individu. Tahap ini sangat berguna untuk prosedur kecil dan perawatan gigi. Penting untuk Sobat MIndy ketahui! bahwa induksi yang terlalu cepat dapat membahayakan jalan napas dan induksi yang terlalu lama dapat meningkatkan kecemasan.
Tahap 2: Eksitasi (Delirium)
Tahap 2 merupakan periode transisi dimana pasien kehilangan kesadaran, tetapi mengalami respon fisiologi yang tidak teratur. Tahap ini juga ditandai dengan disinhibisi, delirium, gerakan tak terkendali, hilangnya refleks bulu mata, hipertensi dan takikardi. Penanganan yang cermat diperlukan pada tahap ini.
Selama Tahap 2, pasien dapat menunjukkan:
- Kehilangan kesadaran disertai respons yang tidak dapat diprediksi terhadap rangsangan
- Pola pernapasan yang tidak teratur yang dapat mengganggu oksigenasi
- Gerakan involunter dan kekakuan otot
- Refleks yang meningkat dan potensi laringospasme
- Risiko signifikan selama tahap ini termasuk muntah, detak jantung tidak teratur, dan komplikasi pernapasan.
Manajemen jalan nafas merupakan prioritas utama pada tahap ini. Tahap ini dapat berlangsung lama jika menggunakan Eter. Karena potensi komplikasinya tinggi, dokter anestesi berusaha melewati tahap ini secepat mungkin.
Tahap 3: Anestesi Bedah
Tahap 3 merupakan kondisi optimal untuk dilakukan pembedahan. Pasien masih dalam kondisi tidak sadar, pernapasan stabil, dan otot sepenuhnya relaksasi. Tahap ini dibagi menjadi empat tingkatan, mulai dari anestesi bedah ringan hingga dalam:
- Tahap 1, pernapasan spontan yang teratur, pupil yang menyempit, dan pandangan sentral, refleks kelopak mata, konjungtiva, dan menelan menghilang.
- Tahap 2, terjadi penghentian pernapasan yang ter intermittent bersamaan dengan hilangnya refleks kornea dan laring. Gerakan mata yang terhenti dan peningkatan lakrimasi juga dapat terjadi.
- Tahap 3 ditandai dengan relaksasi total otot interkostal dan abdominal serta hilangnya refleks cahaya pupil. Tahap ini disebut "anestesi bedah sejati" karena ideal untuk sebagian besar operasi.
- Tahap 4 ditandai dengan pernapasan tidak teratur, gerakan sangkar rusuk paradoks, dan kelumpuhan diafragma penuh yang mengakibatkan apnea.
Sebagian besar prosedur bedah dilakukan pada tahap ini, dengan pemantauan ketat tanda vital pasien.
Tahap 4: Overdosis
Tahap ini terjadi ketika terlalu banyak agen anestesi diberikan yang mengakibatkan memburuknya depresi otak atau medula yang sudah parah. Istilah “depresi medula” berasal dari penekanan medula oblongata di batang otak, wilayah yang mengontrol fungsi-fungsi penting seperti pernapasan, detak jantung, dan tekanan darah. Ketika mencapai tahap ini, pusat-pusat vital akan melambat atau berhenti berfungsi, yang menyebabkan gagal napas dan kolaps kardiovaskular.
Tanda kritis Tahap 4 meliputi:
- Gagal nafas karena depresi pusat pernapasan
- Kolaps kardiovaskular dengan penurunan tekanan darah yang parah
- Refleks hilang dan kelumpuhan otot total
- Potensi henti jantung
Pemantauan yang cermat dan pemberian obat yang tepat mencegah pasien mencapai Tahap 4. Tahap ini lebih sering terjadi pada awal munculnya anestesi.
Tahap Pemulihan Setelah Anestesi
Setelah operasi selesai dan obat anestesi dihentikan, pasien akan memasuki fase pemulihan, di mana:
- Kesadaran mulai kembali
- Refleks tubuh pulih secara bertahap
- Pasien dipantau di ruang pemulihan (recovery room)
Jangan lupa download aplikasi UMEDS di App Store & Playstore. Sobat Mindy bisa belajar materi yang lebih lengkap dan detail hanya di UMEDS Private Class
Informasi lebih lanjut dapat menghubungi kontak dibawah ini :
Mindy 1 (+628112922274)
Mindy 2 (+628112922275)
Sumber:
- American University of Antigua. 2025. Stages of Anesthesia: From Induction to Recovery. https://www.auamed.org/blog/stages-of-anesthesia/
- Siddiqui, B. A., & Kim, P. Y. 2020. Anesthesia stages. https://europepmc.org/article/NBK/nbk557596

