Krisis Kesehatan Mental Usia Muda: Pelajaran Penting bagi Mahasiswa Kedokteran Gigi

Krisis Kesehatan Mental Usia Muda: Pelajaran Penting bagi Mahasiswa Kedokteran Gigi

Mindy
Published on 9 September 2026

Jakarta, 9 September 2026 — Kasus bunuh diri di Indonesia menunjukkan tren peningkatan pada kelompok usia muda, memicu kekhawatiran serius di kalangan tenaga kesehatan dan pendidik. Data dari Kementerian Kesehatan mengungkap bahwa perilaku menyakiti diri sendiri (self-harm) kini ditemukan pada usia yang semakin dini, termasuk anak usia sekolah dasar. Bagi mahasiswa kedokteran gigi yang tengah menempuh pendidikan berat dan penuh tekanan, fenomena ini menjadi pengingat penting tentang urgensi menjaga kesehatan mental sejak awal.

Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kementerian Kesehatan RI, Imran Pambudi, mengungkapkan bahwa data kasus bunuh diri yang dihimpun dari kepolisian masih memerlukan klarifikasi lebih lanjut. Namun, satu hal yang jelas: kasus bunuh diri banyak terjadi pada kelompok usia produktif dan usia muda.

"Loneliness itu juga kills. Dan ini sekarang jadi — kalau saya bilang — wabah, karena banyak sekali orang-orang yang merasa sendirian, terasing," ujar Imran dalam keterangannya, Rabu (9/9/2026).

Faktor kesepian atau loneliness menjadi salah satu pemicu utama yang disorot. Psikolog klinis Annelia Sari Sani menambahkan bahwa layanan konseling kesehatan mental gratis Healing 119.id kini mulai diakses anak-anak sejak usia 8–10 tahun. Keluhan paling dominan adalah rasa kesepian, dengan puncaknya terjadi pada rentang usia 12–14 tahun.

Dalam satu shift tiga jam, tercatat sekitar 500–600 orang mengakses layanan tersebut, sementara hanya lima psikolog yang bertugas. Kondisi ini menunjukkan betapa besarnya kebutuhan akan dukungan kesehatan mental di kalangan generasi muda Indonesia.

Tantangan Kesehatan Mental di Lingkungan Pendidikan Kedokteran Gigi

Bagi mahasiswa kedokteran gigi, tekanan akademik bukanlah hal asing. Beban studi yang padat, tuntutan praktikum, persiapan ujian kompetensi seperti UKMP2DG, serta ekspektasi untuk lulus tepat waktu menjadi sumber stres yang signifikan. Sebuah studi menunjukkan bahwa mahasiswa kedokteran — termasuk kedokteran gigi — memiliki prevalensi depresi dan kecemasan yang lebih tinggi dibandingkan populasi umum.

Dr. Andi Pratama, psikiater yang praktik di Jakarta, menjelaskan bahwa mahasiswa kedokteran gigi kerap mengalami what he calls "silent suffering."

"Mahasiswa kedokteran gigi cenderung perfeksionis dan enggan mengakui bahwa mereka sedang berjuang. Ada budaya 'harus kuat' yang justru berbahaya. Padahal, mengakui butuh bantuan adalah langkah pertama menuju pemulihan," jelasnya.

Data Global dan Kesenjangan Gender

Secara global, tren bunuh diri pada usia muda juga meningkat. Peneliti dari Universitas Kanazawa Jepang, Sandersan Onie, menyoroti bahwa perilaku self-harm semakin banyak terjadi pada remaja perempuan di berbagai negara. Di Indonesia, data menunjukkan bahwa meskipun 70 persen pengakses layanan kesehatan jiwa adalah perempuan, kasus kematian akibat bunuh diri justru lebih banyak terjadi pada laki-laki.

"Laki-laki tidak bercerita. Langsung bertindak," kata Imran.

Fenomena ini relevan dengan lingkungan pendidikan kedokteran gigi, di mana mahasiswa laki-laki mungkin merasa tekanan untuk tidak menunjukkan kelemahan. Padahal, dukungan teman sebaya dan akses ke konselor kampus bisa menjadi penyelamat.

Langkah yang Bisa Dilakukan

Mahasiswa kedokteran gigi dapat mengambil beberapa langkah untuk menjaga kesehatan mental:

  • Manajemen stres aktif — Teknik seperti mindfulness, olahraga teratur, dan hobi di luar akademik membantu menyeimbangkan tekanan.
  • Dukungan teman sebaya — Bergabung dengan kelompok diskusi atau mentoring dengan senior dapat mengurangi rasa terisolasi.
  • Konsultasi profesional — Jangan ragu menghubungi psikolog atau psikiater. Banyak kampus kini menyediakan layanan konseling gratis.
  • Batasi media sosial — Paparan berlebihan terhadap media sosial dapat memperburuk perasaan kesepian dan tidak berharga.

Kementerian Kesehatan bersama Perhimpunan Dokter Spesialis Kesehatan Jiwa Indonesia (PDSKJI) menyediakan layanan skrining mandiri di www.pdskji.org. Selain itu, layanan Healing 119.id dapat diakses secara gratis oleh siapa pun yang membutuhkan dukungan psikologis.

Membangun Budaya Peduli di Kampus Kedokteran Gigi

Fakultas kedokteran gigi di Indonesia diharapkan dapat lebih proaktif dalam menciptakan lingkungan yang mendukung kesehatan mental. Program seperti peer counselor, seminar kesehatan jiwa, dan jam konsultasi rutin dengan psikolog perlu diintegrasikan ke dalam sistem akademik.

Mahasiswa juga perlu diingatkan bahwa meminta bantuan bukanlah tanda kelemahan. Sebaliknya, itu adalah langkah berani dan bijak. Di tengah tuntutan menjadi dokter gigi profesional, menjaga kesehatan mental adalah investasi jangka panjang yang tidak boleh diabaikan.

Krisis kesehatan mental di kalangan usia muda adalah alarm bagi semua pihak. Bagi mahasiswa kedokteran gigi yang kelak akan menjadi tenaga kesehatan, pemahaman tentang pentingnya kesehatan jiwa bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi juga untuk pasien yang akan mereka layani. Seorang dokter gigi yang sehat secara mental akan mampu memberikan pelayanan yang lebih baik, lebih empatik, dan lebih profesional.

📲 Download Aplikasi Umeds

Akses materi lengkap, tryout, dan video belajar di satu aplikasi

Komentar

Silakan login untuk memberikan komentar

Login
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!
Customer Support umeds