JAKARTA – Komisi IX DPR RI menyoroti tingginya angka ketidaklulusan uji kompetensi dokter dan meminta Kementerian Kesehatan serta Kementerian Pendidikan Tinggi melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem pendidikan kedokteran di Indonesia. Isu ini menjadi perhatian khusus karena berdampak langsung pada ribuan mahasiswa kedokteran dan kedokteran gigi yang sedang mempersiapkan diri menghadapi ujian kompetensi nasional.
Angka Ketidaklulusan yang Mengkhawatirkan
Dalam rapat kerja dengan Menteri Kesehatan dan Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, anggota Komisi IX Achmad Ru'yat menyoroti beban berat yang dihadapi mahasiswa kedokteran. Tingkat ketidaklulusan uji kompetensi yang tinggi dinilai bukan sekadar masalah individu mahasiswa, melainkan cerminan dari sistem pendidikan yang perlu perbaikan.
"Beban mahasiswa kedokteran sangat berat. Biaya pendidikan tinggi, ditambah tekanan lulus uji kompetensi yang belum tentu terjamin. Ini harus ada evaluasi komprehensif," ungkap Ru'yat dalam rapat yang digelar Senin (8/6/2026).
Dampak bagi Mahasiswa Kedokteran Gigi
Bagi mahasiswa kedokteran gigi, isu ini memiliki relevansi langsung. Uji Kompetensi Mahasiswa Program Profesi Dokter Gigi (UKMP2DG) dan UKOMNAS PPDG menjadi gerbang utama menuju praktik profesional. Tingkat ketidaklulusan yang tinggi berarti:
- Penundaan karier – Mahasiswa yang tidak lulus harus menunggu periode ujian berikutnya, menunda masuk ke dunia kerja.
- Beban finansial tambahan – Biaya ujian ulang dan biaya hidup selama masa tunggu memberatkan mahasiswa.
- Kesenjangan kompetensi – Ada indikasi gap antara kurikulum pendidikan dan standar yang diujikan.
- Kekurangan tenaga kesehatan – Kontribusi terhadap defisit dokter gigi nasional yang semakin mengkhawatirkan.
Indonesia Krisis 93.200 Dokter dalam 10 Tahun
Secara terpisah, Kementerian Kesehatan memproyeksikan Indonesia akan kekurangan 93.200 dokter umum dalam kurun waktu 10 tahun ke depan. Angka ini belum termasuk kebutuhan dokter gigi spesialis yang juga mendesak. Dengan rasio dokter terhadap penduduk yang masih di bawah standar WHO, setiap kegagalan lulus uji kompetensi memperparah krisis tenaga kesehatan nasional.
Kemenkes telah menyiapkan beberapa strategi, termasuk peningkatan jumlah fakultas kedokteran dan kedokteran gigi, serta program beasiswa untuk daerah terpencil. Namun, strategi ini perlu diimbangi dengan peningkatan kualitas pendidikan agar lulusan siap menghadapi ujian kompetensi.
PDMI Desak Pemerintah Buka Akses Ujian Kompetensi
Perhimpunan Dokter Muda Indonesia (PDMI) juga menyuarakan aspirasi serupa. Organisasi ini mendesak pemerintah membuka kembali akses ujian kompetensi secara lebih fleksibel. Menurut PDMI, pembatasan akses ujian hanya memperpanjang masa tunggu dan menciptakan bottleneck yang merugikan mahasiswa.
"Nasib dokter muda harus diperjuangkan. Akses ujian kompetensi harus dibuka kembali agar tidak ada lagi mahasiswa yang terombang-ambing," demikian pernyataan PDMI.
Apa yang Perlu Disiapkan Mahasiswa Kedokteran Gigi?
Meski evaluasi sistem masih berlangsung, mahasiswa kedokteran gigi tetap harus mempersiapkan diri secara maksimal untuk UKMP2DG dan UKOMNAS PPDG. Berikut langkah strategis yang bisa diambil:
- Kuasai materi inti UKMP2DG – Fokus pada konservasi gigi, bedah mulut, periodonsia, prostodonsia, dan kedokteran gigi anak.
- Latihan soal secara konsisten – Gunakan bank soal terpercaya dan simulasi ujian untuk membiasakan diri dengan format OSCE dan MCQ.
- Ikuti program bimbingan – Program persiapan dari institusi terpercaya terbukti meningkatkan tingkat kelulusan.
- Pahami standar kompetensi terbaru – Standar UKOMNAS PPDG dapat diperbarui setiap tahun. Pastikan referensi belajar Anda up-to-date.
- Jaga kesehatan mental – Tekanan ujian memang berat, tetapi manajemen stres yang baik akan membantu performa optimal.
Harapan ke Depan
Evaluasi menyeluruh yang diminta Komisi IX diharapkan menghasilkan perbaikan konkret pada sistem pendidikan kedokteran dan kedokteran gigi. Beberapa harapan yang mengemuka antara lain penyelarasan kurikulum dengan standar kompetensi, peningkatan fasilitas praktikum, serta mekanisme ujian yang lebih adil dan transparan.
Bagi mahasiswa kedokteran gigi, pesan utamanya jelas: terus tingkatkan kompetensi, manfaatkan sumber belajar yang ada, dan jangan menyerah. Persiapan matang adalah kunci menghadapi ujian apapun, terlepas dari perubahan kebijakan yang mungkin terjadi.
Akses materi lengkap, tryout, dan video belajar di satu aplikasi


