ICDENTS FKG UMS 2026 Bahas Revolusi Kedokteran Gigi: Paradigma Regenerative Dentistry untuk Mahasiswa FKG

ICDENTS FKG UMS 2026 Bahas Revolusi Kedokteran Gigi: Paradigma Regenerative Dentistry untuk Mahasiswa FKG

Mindy
Published on 9 Juli 2026

ICDENTS FKG UMS 2026 Bahas Revolusi Kedokteran Gigi: Paradigma Regenerative Dentistry untuk Mahasiswa FKG

Surakarta — Ajang ilmiah tahunan ICDENTS yang digelar Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Muhammadiyah Surakarta (FKG UMS) tahun ini mengangkat paradigma regenerative dentistry sebagai tema sentral. Diskusi yang berlangsung sepanjang Juli 2026 tersebut menyoroti pergeseran fundamental praktik kedokteran gigi dari pendekatan reparatif menuju regeneratif, sebuah perubahan yang dinilai akan mengubah cara mahasiswa FKG mempersiapkan kompetensi klinis mereka.

Apa Itu Regenerative Dentistry

Regenerative dentistry merupakan cabang ilmu yang bertujuan mengembalikan struktur jaringan gigi dan jaringan pendukungnya secara biologis, bukan sekadar menggantinya dengan bahan buatan. Pendekatan ini memanfaatkan sel punca (stem cell) gigi, biomaterial seperti hidrogel dan scaffold, serta faktor pertumbuhan untuk menstimulasi regenerasi email, dentin, pulpa, sementum, dan tulang alveolar.

Berbeda dengan pendekatan konvensional yang bersifat repair (tambalan, crown, bridge, implan titanium), paradigma regeneratif berusaha mengaktifkan potensi penyembuhan alami tubuh. Tujuannya bukan hanya mengembalikan fungsi, tetapi juga meregenerasi jaringan hidup yang mampu beradaptasi kembali dengan lingkungan rongga mulut pasien. Konsep ini juga mencakup prosedur seperti revascularization pada gigi non-vital, regenerasi jaringan periodontal pada kasus periodontitis lanjut, dan rekayasa jaringan pulpa untuk menjaga vitalitas gigi permanen muda.

Tiga Pilar Utama dalam Diskusi ICDENTS

Dalam sesi panel yang menghadirkan pembicara dari berbagai perguruan tinggi, ada tiga pilar utama yang dibahas.

  • Stem Cell Dentistry — Pemanfaatan dental pulp stem cell (DPSC), stem cell dari gigi susu (SHED), dan stem cell periodontal untuk regenerasi jaringan. Sel punca ini mampu berdiferensiasi menjadi odontoblas-like cell, fibroblas periodontal, dan sel osteoblas yang berperan dalam pembentukan jaringan keras gigi.
  • Tissue Engineering — Kombinasi scaffold biodegradabel, biomaterial nanocomposite, dan bioaktif glass untuk membangun matriks jaringan baru. Scaffold berfungsi sebagai perangka sementara yang memberi ruang bagi sel punca untuk tumbuh dan berdiferensiasi sebelum akhirnya terabsorpsi oleh tubuh.
  • 3D Bioprinting — Teknologi cetak tiga dimensi yang memungkinkan konstruksi jaringan gigi kompleks secara presisi, termasuk scaffold untuk tulang alveolar dan membran periodontal. Pendekatan ini membuka peluang cetak graft tulang alveolar khusus pasien berdasarkan data CT scan.

Implikasi Langsung bagi Mahasiswa FKG

Perubahan paradigma ini membawa konsekuensi nyata pada kurikulum dan kompetensi yang harus dikuasai mahasiswa kedokteran gigi.

  • Mata kuliah terkait biologi molekuler, bioteknologi jaringan, dan bio-material akan semakin mendapat bobot lebih besar dalam kurikulum FKG. Pemahaman dasar tentang ekspresi gen, signal transduction, dan extracellular matrix akan menjadi bekal wajib.
  • Mahasiswa perlu membekali diri dengan literasi riset dasar untuk mengikuti perkembangan teknologi regenerative yang bergerak cepat. Kemampuan membaca jurnal internasional dan menilai mutu riset akan menjadi nilai tambah yang signifikan.
  • Peluang riset skripsi dan tugas akhir di bidang regenerative dentistry terbuka luas, baik di tingkat S1 maupun program spesialis (PPDG). Topik seperti kultur DPSC, scaffold nanofiber, dan uji sitotoksisitas biomaterial masih relatif baru di Indonesia.
  • Bagi yang mengambil peminatan bedah mulut, periodonsia, atau endodonsia, pemahaman tentang regenerasi jaringan menjadi kompetensi inti yang tidak bisa dihindari. Klinik masa depan tidak cukup hanya bisa restore, tetapi juga perlu memahami kapan dan bagaimana jaringan bisa diregenerasi.

Konteks Global dan Nasional

Secara global, pasar regenerative dentistry diproyeksikan tumbuh signifikan dalam satu dekade mendatang. Publikasi di jurnal Exploration of BioMat-X awal 2026 bahkan menyebut pergeseran dari reparative dentistry ke regenerative dentistry sebagai salah satu perubahan paradigma paling transformatif di bidang kedokteran gigi modern. Lembaga riset seperti Ostrow School of Dentistry of USC juga sudah menjadikan regenerative dentistry sebagai bagian dari diskusi dental public health.

Di Indonesia, beberapa fakultas kedokteran gigi sudah mulai memasukkan topik ini dalam pelatihan penelitian. FKG UNHAS, misalnya, baru saja menggelar simposium internasional bertema periapical healing dan regenerasi jaringan. FKG UMS melalui ICDENTS 2026 ingin memastikan mahasiswa tidak tertinggal dari arus perkembangan ini. Diskusi semacam ini juga menjadi jembatan antara riset akademik dan kebutuhan klinis di tanah air.

Relevansi untuk UKMP2DG dan UKOMNAS PPDG

Meski regenerative dentistry belum masuk secara mendalam ke dalam soal UKMP2DG, konsep dasar tentang biologi jaringan pulpa, respons jaringan periodontal terhadap cedera, dan prinsip biomaterial sudah tercakup dalam blueprint ujian. Mahasiswa FKG yang memahami konsep regenerasi jaringan umumnya lebih mudah menjawab soal terkait inflamasi pulpa, mekanisme perbaikan tulang, dan seleksi material restoratif.

Sementara itu, bagi peserta UKOMNAS PPDG spesialis Bedah Mulut, Periodonsia, dan Konservasi Gigi, pemahaman regenerative dentistry menjadi bekal penting untuk menjawab soal-soal berbasis kasus dan skenario klinis terkini. Soal UKOMNAS PPDG periode terakhir semakin banyak menyentuh evidence-based decision making, sehingga kemampuan menghubungkan bukti riset terbaru dengan pemilihan terapi menjadi kompetensi yang diuji.

Penutup

ICDENTS FKG UMS 2026 menjadi pengingat bahwa kedokteran gigi tengah memasuki era baru. Mahasiswa FKG yang ingin relevan dengan perkembangan klinis lima hingga sepuluh tahun ke depan perlu mulai memperhatikan regenerative dentistry sejak bangku kuliah — baik lewat penelitian, pelatihan tambahan, maupun membaca literatur internasional secara aktif. Bagi calon dokter gigi Indonesia, paradigma ini bukan sekadar tren, melainkan arah masa depan praktik kedokteran gigi. Memulai dari membaca jurnal, bergabung dengan komunitas riset, hingga mencoba proyek sederhana di laboratorium kampus dapat menjadi langkah awal yang konkret.

📲 Download Aplikasi Umeds

Akses materi lengkap, tryout, dan video belajar di satu aplikasi

Komentar

Silakan login untuk memberikan komentar

Login
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!
Customer Support umeds