Dokter Gigi di Jateng Dapat Skrining TB Gratis: Apa yang Perlu Mahasiswa FKG Ketahui tentang Risiko Penularan di Klinik Gigi

Dokter Gigi di Jateng Dapat Skrining TB Gratis: Apa yang Perlu Mahasiswa FKG Ketahui tentang Risiko Penularan di Klinik Gigi

Mindy
Published on 12 Juli 2026

Dokter Gigi di Jateng Dapat Skrining TB Gratis: Apa yang Perlu Mahasiswa FKG Ketahui tentang Risiko Penularan di Klinik Gigi

Semarang — Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI) Jawa Tengah bekerja sama dengan Dinas Kesehatan provinsi menggelar program skrining tuberkulosis (TB) gratis bagi dokter gigi praktik di seluruh wilayah Jawa Tengah. Program ini menyusul data bahwa tenaga kesehatan gigi—mulai dari dokter gigi senior hingga koas dan dokter gigi internsip—memiliki risiko tertular Mycobacterium tuberculosis dari pasien yang datang dengan keluhan gigi dan mulut. Inisiatif ini menjadi pengingat penting bagi mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) tentang bagaimana penyakit sistemik seperti TB bisa hadir dan ditularkan di kursi perawatan gigi.

Latar Belakang: Mengapa Dokter Gigi Masuk Kelompok Rawan

Rongga mulut adalah salah satu titik masuk yang belum banyak disadari sebagai jalur penularan TB. Droplet dan aerosol yang dihasilkan selama prosedur gigi—terutama penggunaan high-speed handpiece, ultrasonic scaler, dan air-water syringe—dapat membawa partikel infeksius dari pasien tuberkulosis aktif atau latent TB. Studi dalam Journal of Dental Research menunjukkan bahwa dokter gigi memiliki prevalensi latent TB infection yang lebih tinggi dibanding populasi umum, terutama mereka yang bekerja tanpa high-volume evacuator atau ruangan dengan ventilasi mekanik.

Ketua PDGI Jateng, drg. ... dalam keterangan resminya menyebut, "Dokter gigi melakukan prosedur dalam jarak sangat dekat dengan jalan napas pasien. Itu yang membuat kami rentan. Skrining berkala adalah upaya pencegahan yang seharusnya jadi standar." Program di Jateng berlangsung hingga akhir Juli 2026 dan mencakup pemeriksaanrontgen dada, tes interferon-gamma release assay (IGRA), serta konseling TB.

Apa yang Bisa Dipelajari Mahasiswa FKG dari Kasus Ini

Pertama, anamnesis riwayat batuk kronis, penurunan berat badan, keringat malam, dan kontak erat dengan pasien TB harus menjadi pertanyaan wajib sebelum tindakan invasif. Banyak pasien TB awal datang ke dokter gigi untuk keluhan oral—lesi lidah, ulkus yang tidak sembuh, atau pembengkakan kelenjar limfe leher—sebelum diagnosis paru ditegakkan.

Kedua, manajemen ruang praktik. Idealnya, pasien suspek atau terkonfirmasi TB aktif ditunda tindakan elektifnya hingga minimal dua minggu setelah terapi efektif dimulai dan perbaikan klinis terlihat. Bila harus dilakukan, APD yang dipakai minimal masker N95 (bukan surgical mask), pelindung mata, face shield, dan sarung tangan ganda dengan disinfeksi alat sesuai protokol.

Ketiga, ventilasi dan waktu antar-pasien. Ruangan ideal memiliki ACH (air changes per hour) 6–12. Jika tidak tersedia, dokter gigi bisa membuka jendela antar prosedur atau memberi jeda 15–30 menit antar-pasien risiko tinggi untuk menurunkan konsentrasi aerosol.

Kaitannya dengan UKMP2DG dan OSCE

Topik ini rutin keluar di staseIKM (Ilmu Kesehatan Masyarakat) dan Kedokteran Gigi Komunitas padaujian kompetensi. Kompetensi yang diujikan antara lain: melakukan skrining dan triage pasien TB di pelayanan kesehatan primer, mempromosikan perilaku universal precaution, serta memahami alur rujukan pasien suspek TB ke puskesmas atau rumah sakit. Mahasiswa FKG yang hafal lima pertanyaan skrining standar Kemenkes—batuk ≥2 minggu, dahak bercampur darah, demam, penurunan berat badan, kontak erat pasien TB—akan lebih percaya diri saat OSCE.

Implikasi untuk Praktik Mandiri dan Klinik Gigi

Bagi dokter gigi praktik mandiri, skrining diri sendiri juga penting.Program seperti di Jateng menunjukkan bahwa menunggu gejala sebelum periksadiri sering terlambat: banyak kasus latent TB baru terdeteksi lewat screening rutin. Dokter gigi yang hasil IGRA-nya positif tanpa gejala tetap perlu evaluasi lanjut dan, pada indikasi, terapi latent TB infection denganisoniazid selama 6–9 bulan atau rejimen singkat rifampisin.

Bagi mahasiswa FKG yang akan masuk koas atau internships dalam 1–2 tahun ke depan, pesan utamanya jelas: investasi pada ventilasi klinik, kepatuhan APD, dan anamnesis TB bukan formalitas—itu adalah komponen kompetensi inti seorang dokter gigi.

Kesimpulan

Program skrining TB gratis bagi dokter gigi di Jawa Tengah adalah respons konkret terhadap risiko nyata yang dihadapi tenaga kesehatan gigi setiap hari. Bagi mahasiswa FKG, ini momentum memperkuat kebiasaan anamnesis TB, ventilasi ruang praktik, dan disiplin APD—keterampilan yang akan diuji di UKMP2DG, dipakai dalam koas, dan relevan seumur karier praktik gigi.

📲 Download Aplikasi Umeds

Akses materi lengkap, tryout, dan video belajar di satu aplikasi

Komentar

Silakan login untuk memberikan komentar

Login
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!
Customer Support umeds