Erupsi Gunung Anak Krakatau yang terjadi sejak awal September 2026 telah menyebarkan abu vulkanik ke berbagai wilayah di Indonesia, termasuk Jakarta, Banten, dan Lampung. Di tengah kekhawatiran masyarakat akan dampak pernapasan akut, mahasiswa kedokteran gigi perlu memahami lebih dalam tentang risiko kesehatan jangka panjang dari paparan abu vulkanik, termasuk silikosis dan implikasinya terhadap kesehatan rongga mulut.
Abu vulkanik mengandung partikel silika kristal berukuran sangat kecil — di bawah 2,5 mikron — yang dapat lolos dari saringan alami hidung dan mencapai alveoli paru. Prof Dr dr Agus Dwi Susanto, SpP(K), praktisi kesehatan dari RSUP Persahabatan, menjelaskan bahwa paparan silika dosis tinggi dalam waktu singkat dapat memicu silikosis akut hanya dalam 8 bulan hingga 1 tahun.
"Silikosis akut yang biasanya bisa terjadi dengan konsentrasi tinggi. Setelah satu tahun, antara 8 bulan sampai 1 tahun, bisa terjadi silikosis akut kalau terpajan dosis tinggi abu vulkanik yang mengandung silika ini," ungkapnya dalam siaran detikPagi, Senin (7/9/2026).
Mekanisme Kerusakan Paru yang Relevan untuk Dental
Partikel silika yang terhirup akan memicu respons inflamasi kronis. Jaringan paru yang semula elastis berubah menjadi kaku akibat fibrosis — pembentukan jaringan parut berlebihan. Kondisi ini dikenal sebagai silikosis, yang bersifat ireversibel.
Bagi mahasiswa kedokteran gigi, pemahaman tentang mekanisme ini penting karena pasien dengan silikosis atau fibrosis paru sering mengalami penurunan fungsi pernapasan yang signifikan. Kondisi ini berdampak langsung pada tata laksana dental, terutama dalam pemilihan posisi kursi gigi, teknik anestesi, dan manajemen jalan napas saat prosedur perawatan.
Selain itu, paparan abu vulkanik juga mengiritasi mukosa mulut dan orofaring. Partikel abrasif dapat menyebabkan ulserasi mukosa, xerostomia sementara akibat inflamasi kelenjar saliva, dan meningkatkan risiko infeksi sekunder di rongga mulut. Pasien dengan riwayat terpapar abu vulkanik berat perlu diperiksa lebih teliti terhadap lesi mukosa dan kelainan jaringan lunak oral.
Penggunaan Masker yang Tepat
Kementerian Kesehatan melalui Surat Edaran tentang Kesiapsiagaan dan Perlindungan Kesehatan Masyarakat terhadap Dampak Erupsi dan Sebaran Abu Vulkanik menekankan pentingnya penggunaan masker N95, KN95, KF94, atau FFP2. Masker bedah biasa hanya memiliki efektivitas filtrasi sekitar 50-60% terhadap partikel halus, sementara masker respirator mampu menyaring lebih dari 95% partikel.
Dr Agus juga memperingatkan agar tidak menggunakan masker basah seperti yang sempat viral di media sosial. Masker lembap justru menjadi tempat berkembang biak mikroorganisme dan meningkatkan risiko ISPA. Masker respirator perlu diganti setiap 6-8 jam pemakaian karena uap air dari napas membuatnya lembap dan menurunkan efektivitas filtrasi.
Implikasi untuk Praktik Klinis Dental
Dalam konteks kedokteran gigi, pengetahuan tentang silikosis dan dampak abu vulkanik relevan dalam beberapa aspek:
- Manajemen pasien dengan gangguan pernapasan: Pasien silikosis memerlukan penyesuaian posisi semi-supine atau upright, hindari posisi supine penuh yang dapat memperburuk sesak napas.
- Pemilihan bahan restorasi: Hindari bahan yang menghasilkan partikel aerosol berlebihan pada pasien dengan fungsi paru terganggu.
- Edukasi pasien: Mahasiswa kedokteran gigi dapat berperan dalam memberikan edukasi tentang perlindungan diri dari abu vulkanik, termasuk penggunaan masker yang benar.
- Pencegahan infeksi silang: Paparan abu vulkanik yang melemahkan imunitas mukosa mulut meningkatkan kewaspadaan terhadap infeksi oportunistik pasca tindakan invasif.
Langkah Pencegahan
Kerusakan akibat silikosis bersifat permanen. Oleh karena itu, pencegahan adalah langkah paling penting. Masyarakat di daerah terdampak abu vulkanik disarankan untuk membatasi aktivitas di luar ruangan, menggunakan masker respirator yang tepat, dan menjaga kebersihan lingkungan. Bagi mahasiswa kedokteran gigi yang sedang menjalani klinik atau koas di daerah terdampak, perlindungan diri menjadi prioritas agar tidak hanya pasien yang terlindungi, tetapi juga tenaga kesehatan itu sendiri.
Memahami dampak abu vulkanik terhadap sistem pernapasan dan rongga mulut adalah bekal penting bagi calon dokter gigi dalam memberikan pelayanan yang komprehensif dan aman di tengah kondisi bencana.
Akses materi lengkap, tryout, dan video belajar di satu aplikasi


