Persiapan UKOMNAS PPDG 2026: Kunci Sukses Profesi Dokter Gigi Anda!
Selamat datang, calon dokter gigi profesional! Tahun 2026 menjadi penentu langkah Anda menuju karir impian. Ujian Kompetensi Mahasiswa Program Profesi Dokter Gigi (UKOMNAS PPDG) bukan hanya sekadar ujian, melainkan gerbang utama yang akan membuka jalan bagi Anda untuk berpraktik secara mandiri dan memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat. Persiapan yang matang dan strategi belajar yang tepat adalah kunci untuk menaklukkan setiap tantangan dalam ujian krusial ini.
Menguasai Periodonsia: Fondasi Kesehatan Gigi dan Mulut
Salah satu materi inti yang seringkali menjadi tantangan adalah Periodonsia. Bidang ini mencakup studi tentang jaringan pendukung gigi, mulai dari gusi, ligamen periodontal, sementum, hingga tulang alveolar. Pemahaman mendalam tentang etiologi, patogenesis, diagnosis, dan penanganan penyakit periodontal sangat esensial. Soal-soal UKOMNAS PPDG terkait Periodonsia akan menguji kemampuan Anda dalam menganalisis kasus klinis, menentukan rencana perawatan yang tepat, serta menguasai prosedur-prosedur krusial dalam menjaga kesehatan periodonsium pasien.
Di sinilah Umeds hadir sebagai mitra belajar terbaik Anda. Kami memahami betapa pentingnya materi Periodonsia ini, dan itulah mengapa kami menyediakan sumber daya terlengkap untuk membantu Anda menguasainya. Dengan Umeds, persiapan UKOMNAS PPDG Anda akan lebih terarah, efektif, dan menyenangkan.
15 Latihan Soal dan Pembahasan UKOMNAS PPDG Periodonsia
Soal 1
Metode sikat gigi untuk pasien dengan kasus resesi gingiva adalah
- a.
Bass
Pembahasan Opsi a:Jawaban "Bass" kurang tepat karena meskipun metode sikat gigi Bass dapat efektif untuk membersihkan area gingiva, teknik ini tidak dianjurkan secara khusus untuk pasien dengan resesi gingiva. Metode ini menggunakan gerakan memutar dan pendekatan vertical yang dapat memperburuk kondisi resesi jika dilakukan terlalu keras. Sebagai alternatif yang lebih cocok, metode "Stillman" direkomendasikan, yang menggunakan gerakan lembut dari arah gingiva ke gigi dan dapat membantu melindungi area yang terkena resesi. Perbedaan utama antara metode Bass dan Stillman terletak pada arah dan teknik gerakan, di mana Stillman lebih mempertimbangkan kesehatan jaringan periodontal pada pasien dengan resesi.
- b.
Modified Bass
Pembahasan Opsi b:Jawaban "Modified Bass" kurang tepat untuk pasien dengan kasus resesi gingiva karena metode ini lebih ditujukan untuk individu tanpa masalah jaringan periodontal yang signifikan. Metode ini berfokus pada pembersihan plak di area gingiva dengan mengarahkan bulu sikat ke arah garis gusi, namun bisa menyebabkan trauma lebih pada jaringan yang sudah reses. Sebaliknya, untuk resesi gingiva, metode yang dianjurkan adalah "Stillman" atau "Charters", yang lebih lembut dan membantu membersihkan plak tanpa menambah iritasi pada jaringan periodontal. Metode Stillman khususnya membantu dalam memberikan stimulasi pada jaringan lunak sambil menjaga area sensitif di sekitar resesi. Dengan demikian, pemilihan teknik sikat gigi harus disesuaikan dengan kondisi klinis pasien untuk menghindari komplikasi lebih lanjut.
- c.
Roll
Pembahasan Opsi c:Jawaban "Roll" kurang tepat karena metode sikat gigi ini lebih cocok untuk pembersihan pada area marginal gigi dan dapat meningkatkan trauma pada jaringan gingiva, terutama pada pasien dengan resesi gingiva. Metode yang direkomendasikan untuk pasien dengan resesi gingiva adalah teknik "Modified Bass" atau "Stillman," yang lebih fokus pada pembersihan area gingiva dengan lembut tanpa merusak jaringan. Teknik ini memanfaatkan gerakan melingkar dan vibrasi halus untuk membersihkan plak di area yang berisiko tanpa mengiritasi gusi yang telah mengalami resesi. Oleh karena itu, pemilihan metode sikat gigi yang tepat sangat penting untuk menjaga kesehatan jaringan periodontal.
- d.
Fones
Pembahasan Opsi d:Metode sikat gigi Fones kurang tepat untuk pasien dengan resesi gingiva karena teknik ini melibatkan gerakan melingkar yang berpotensi meningkatkan iritasi jaringan gingiva yang telah mengalami resesi. Fones lebih cocok untuk anak-anak atau pasien yang memerlukan teknik yang sederhana. Sebaliknya, metode yang lebih sesuai untuk pasien dengan resesi gingiva adalah teknik BASS atau Stillman yang lebih fokus pada pembersihan area di sekitar garis gusi tanpa memicu trauma lebih lanjut. Metode ini membantu mengurangi infeksi dan menjaga kesehatan gusi dengan lebih efektif.
- e.
Modified Stillman
Pembahasan Opsi e:Kasus yang dihadapi adalah resesi gingiva, yaitu penurunan jaringan gusi yang dapat mengakibatkan sensitivitas gigi dan ketidaknyamanan. Diagnosis yang tepat menunjukkan bahwa metode sikat gigi yang sesuai untuk mengurangi trauma pada jaringan gingiva dan membersihkan sisa makanan adalah menggunakan teknik Modified Stillman. Teknik ini memiliki ciri khas yakni gerakan sikat dari atas ke bawah dengan sudut 45 derajat, yang membantu membersihkan area di sekitar gusi tanpa menyebabkan iritasi lebih lanjut. Perawatan tambahan seperti penggunaan pasta gigi sensitif dan perawatan periodontal mungkin juga diperlukan untuk mengatasi resesi. Memahami pentingnya teknik sikat gigi yang tepat sangat krusial dalam perawatan pasien dengan masalah periodontal ini.
Soal 2
Mindy, seorang perempuan berusia 45 tahun datang ke RSGM Ummacademy dengan keluhan gusi sering berdarah terutama saat menyikat gigi. Pemeriksaan klinis didapatkan banyak plak dan kalkulus di semua regio dengan skor OH tinggi. Terlihat gusi bengkak dan kemerahan di interdental papilla serta margin gingiva, BOP (+), tidak ada poket. Berapakah skor gingival enlargement dari kasus di atas?
- a.
Grade 0
Pembahasan Opsi a:Jawaban "Grade 0" tidak tepat karena grade ini menunjukkan tidak adanya pembesaran gingiva. Dalam kasus Mindy, terdapat pembengkakan dan kemerahan pada gusi yang menunjukkan adanya pembesaran gingiva. Skor gingival enlargement biasanya dinilai berdasarkan tingkat keparahan pembesaran jaringan gingiva, dengan Grade 0 tidak ada pembesaran, dan Grade 1 hingga 3 untuk level pembesaran yang meningkat secara bertahap. Ketiadaan poket periodontal dan adanya bleeding on probing (BOP) menunjukkan bahwa kondisi ini mungkin lebih sesuai dengan gingivitis yang disebabkan oleh penumpukan plak dan kalkulus, yang sering menyebabkan enlargement dan inflamasi pada jaringan gingiva. Oleh karena itu, Grade 0 menunjukkan tidak adanya karakteristik tersebut dan tidak tepat untuk kasus ini.
- b.
Grade 1
Pembahasan Opsi b:Jawaban "Grade 1" kurang tepat karena skor gingival enlargement yang ditunjukkan oleh gejala pada kasus ini lebih menggambarkan derajat yang lebih serius. Grade 1 pada gingival enlargement umumnya menunjukkan pembesaran gusi yang minimal dan biasanya masih di sekitar margin gingiva, tanpa perluasan yang signifikan ke papilla interdental. Dalam kasus Mindy, bengkak dan kemerahan yang signifikan serta adanya bleeding on probing (BOP) menunjukkan bahwa kondisinya lebih berat dari hanya Grade 1. Pada grade yang lebih tinggi, pembesaran akan lebih menonjol dan sering berhubungan dengan adanya inflamasi yang lebih luas akibat penumpukan plak dan kalkulus. Oleh karena itu, penting untuk mengevaluasi derajat pembesaran gusi secara komprehensif untuk menentukan penilaian yang akurat.
- c.
Grade 2
Pembahasan Opsi c:Mindy, seorang wanita berusia 45 tahun, mengalami gusi berdarah yang disertai dengan plak dan kalkulus yang banyak, serta gusi bengkak dan kemerahan yang menunjukkan tanda-tanda gingivitis, dengan bukti dari skor OH yang tinggi dan BOP positif. Diagnosis kasus ini adalah gingivitis yang disebabkan oleh akumulasi plak dan kalkulus. Ciri khas yang terlihat adalah adanya edema dan kemerahan tanpa adanya poket periodontal, yang menunjukkan bahwa kondisi ini adalah inflamasi gingiva yang belum berkembang menjadi periodontitis. Perawatan yang tepat meliputi pembersihan gigi profesional dan edukasi pasien mengenai higiene mulut. Dalam klasifikasi gingival enlargement, skor untuk kasus ini adalah Grade 2, mengindikasikan ukuran jaringan gingiva yang membesar namun masih dalam batas inflamasi, sebelum mencapai tahap yang lebih parah.
- d.
Grade 3
Pembahasan Opsi d:Jawaban Grade 3 kurang tepat karena skor pembesaran gingiva atau gingival enlargement pada kasus di atas harus didasarkan pada derajat pembengkakan dan sifat dari perdarahan gusi. Grade 3 menunjukkan pembesaran yang meliputi seluruh interdental papilla dan sebagian atau seluruh bagian bebas dari margin gingiva sampai atau melewati mukosa alveolar. Namun, kasus ini lebih mencerminkan Grade 1 atau Grade 2, di mana pembengkakan dan perdarahan lebih terbatas pada papilla interdental dan margin gingiva. Informasi penting dalam kasus ini seperti tidak terdapatnya poket periodontal dan adanya BOP (Bleeding on Probing) menunjukkan tingkat keparahan yang tidak mencapai Grade 3. Pembesaran gingiva diduga akibat adanya penumpukan plak dan kalkulus, yang merupakan tanda dari kondisi inflamasi gingivitis awal, bukan pembesaran ekstrem seperti terlihat pada Grade 3.
- e.
Grade 4
Pembahasan Opsi e:Jawaban "Grade 4" untuk skor gingival enlargement pada kasus ini kurang tepat. Gingival enlargement atau pembesaran gingiva dinilai menggunakan kriteria tertentu, dan biasanya gradien penilaian mengacu pada ukuran serta distribusi pembesaran. Grade 4 biasanya digunakan untuk menggambarkan pembesaran gingiva yang sangat parah atau melibatkan seluruh gingiva di sekitar gigi. Dalam kasus Mindy, tidak ada indikasi adanya pembesaran gingiva yang ekstrem yang memenuhi kriteria Grade 4, tetapi lebih menggambarkan peningkatan volume jaringan gingiva di area interdental dan margin gingiva dengan gejala seperti pembengkakan dan kemerahan. Tanpa adanya poket periodontal menunjukkan bahwa lebih tepat jika pembesarannya dinilai dengan grade yang lebih rendah sesuai dengan kriteria pembesaran untuk gingivitis. Pentingnya menentukan grade yang tepat adalah untuk menentukan rencana perawatan dan prognosis yang sesuai bagi pasien. Perbedaan antara jawaban yang salah ini dengan jawaban yang benar terletak pada derajat pembesaran yang dinilai.
Soal 3
Rahang bawah terasa goyang. Gigi sering berdarah sewaktu menyikat gigi sejak 2 tahun yang lalu, gusi juga sering bengkak tapi kemudian sembuh sendiri. Mindy mengaku memiliki riwayat alergi terhadap cuaca panas dan dingin dan menyikat gigi 3 kali sehari. Pemeriksaan ekstraoral tidak ada kelainan. Pemeriksaan klinis intraoral terlihat gingiva mengalami edema dan hiperemi, 11 dan 21 resesi di bagian palatal. OH baik (OHIS 0,7). Terjadi perdarahan saat probing dengan skor PBI 1,5. Gigi anterior RA dan RB mobilitas derajat 2 dengan poket berkisar 5 mm. TIdak ada gigi yang mengalami karies dan tidak ada gigi yang hilang. Hasil foto rontgen menunjukkan 32,31,42 terjadi kehilangan berbentuk vertikal yang mencapai ⅓ apikal. Apakah diagnosa yang paling tepat untuk kasus tersebut?
- a.
Periodontitis marginalis kronis
Pembahasan Opsi a:Jawaban "Periodontitis marginalis kronis" kurang tepat untuk kasus ini. Periodontitis marginalis kronis biasanya ditandai dengan kehilangan tulang alveolar yang cenderung horizontal dan progresi yang lambat. Dalam soal ini disebutkan bahwa terdapat kehilangan tulang berbentuk vertikal yang mencapai sepertiga apikal, yang lebih khas terjadi pada periodontitis agresif. Selain itu, mobilitas gigi dengan poket dalam dan perdarahan saat probing pada usia muda lebih mungkin mengindikasikan periodontitis agresif, terutama dengan riwayat kesehatan mulut yang baik. Perbedaan utama adalah sifat kerusakan tulang dan kecepatan perkembangan penyakit ini, di mana periodontitis agresif menunjukkan keparahan yang lebih tinggi dan progresi yang lebih cepat dibandingkan periodontitis kronis.
- b.
Periodontitis agresif lokalisata
Pembahasan Opsi b:Kasus ini menggambarkan seorang pasien dengan keluhan rahang bawah goyang, gusi berdarah, dan edema gingiva, menunjukkan tanda-tanda periodontitis. Diagnosis yang paling tepat adalah periodontitis agresif lokalisata karena adanya mobilitas gigi anterior, kedalaman poket yang signifikan (5 mm), dan kehilangan tulang vertikal yang mencapai ⅓ apikal pada rontgen, meskipun pasien memiliki higiene mulut yang baik (OHIS 0,7). Ciri khas dari kondisi ini adalah onset yang relatif cepat pada individu muda dan dan ofte muncul tanpa adanya faktor resiko signifikan. Perawatan yang diperlukan mencakup pengobatan periodontal skala dan root planing serta edukasi tentang perawatan gigi yang tepat untuk mengendalikan kondisi ini, dengan perhatian khusus pada faktor predisposisi seperti riwayat alergi yang dapat mempengaruhi kepatuhan pasien terhadap perawatan.
- c.
Periodontitis agresif generalisata
Pembahasan Opsi c:Jawaban "Periodontitis agresif generalisata" kurang tepat karena ciri utama dari kondisi ini melibatkan kehilangan tulang yang cepat dan destruktif dengan keterlibatan familial yang kuat, yang biasanya dimulai pada masa remaja atau awal dewasa dan lebih sering dihubungkan dengan lokal kerusakan pada gigi tertentu seperti insisivus dan molar pertama. Pada kasus ini, ada kehilangan tulang vertikal dan mobilitas gigi namun kurang menunjukkan pola agresif dan tidak menonjolkan keterlibatan genetik. Resesi gingiva palatal dan perdarahan saat probing lebih sesuai dengan periodontitis kronis yang progresif dari waktu ke waktu. Diagnosis yang lebih tepat adalah periodontitis kronis, karena tanda-tanda seperti perdarahan saat menyikat dan poket periodontal yang terjadi sejalan dengan kondisi kronis ini, berlawanan dengan sifat cepat dari periodontitis agresif generalisata.
- d.
Necrotizing ulcerative
Pembahasan Opsi d:Diagnosa "Necrotizing Ulcerative Gingivitis (NUG)" kurang tepat untuk kasus ini karena kondisi tersebut umumnya ditandai dengan adanya nekrosis pada papila gingiva, nyeri akut, dan sering kali disertai bau mulut. Dalam kasus ini, tidak disebutkan adanya papila nekrosis atau nyeri yang signifikan, dan kondisi gingivanya lebih mengarah pada peradangan persisten dengan mobilitas gigi serta kehilangan tulang vertikal, yang lebih sesuai dengan periodontitis progresif. Meski NUG juga disertai oleh perdarahan dan terkadang pembengkakan gusi, perbedaan utama dengan periodontitis ada pada kerusakan jaringan pendukung gigi dan penyebab mobilitas. Pada periodontitis, mobilitas gigi dan kehilangan tulang alveolar lebih dominan, konsisten dengan radiograf yang menunjukkan kehilangan tulang berbentuk vertikal, sehingga diagnosis yang lebih sesuai adalah periodontitis tingkat lanjut, bukan NUG.
- e.
Periodontitis kronis lokalisata
Pembahasan Opsi e:Periodontitis kronis lokalisata biasanya terjadi pada individu usia dewasa dengan progresi penyakit yang lambat, melibatkan jumlah gigi terbatas, dan ditandai dengan adanya akumulasi plak atau kalkulus yang sesuai dengan tingkat kerusakan jaringan periodontal. Namun, pada kasus ini pasien masih muda (19 tahun), kehilangan tulang alveolar bersifat vertikal terutama di gigi anterior rahang bawah, mobilitas cukup berat, OH baik (plak minimal), tetapi terjadi kerusakan jaringan periodontal yang lebih parah daripada kondisi kebersihan mulutnya. Hal ini lebih sesuai dengan gambaran periodontitis agresif, sehingga pilihan E tidak tepat.
Soal 4
Seorang perempuan berusia 40 tahun datang ke RSGM dengan keluhan gigi bawah depan terasa goyang dan ingin supaya giginya dapat digunakan untuk mengunyah kembali dengan nyaman. Dokter merencanakan untuk merawat gigi tersebut dengan pemasangan splinting. Apa jenis splinting berdasar sifatnya?
- a.
Splinting lepasan dan cekat
Pembahasan Opsi a:Jawaban "Splinting lepasan dan cekat" kurang tepat karena mengacu pada bentuk fisik atau karakteristik aplikasi daripada sifat fungsionalnya. Splinting dalam konteks sifatnya lebih tepat diklasifikasikan berdasarkan fungsinya, seperti splinting sementara dan permanen. Splinting sementara dirancang untuk digunakan dalam jangka waktu pendek hingga masalah patologis terkendali, sedangkan splinting permanen digunakan untuk dukungan jangka panjang. Perbedaan ini penting untuk memahami durasi dan tujuan perawatan yang disesuaikan dengan kondisi pasien. Splinting lepasan memberikan fleksibilitas untuk dilepas dan dipasang kembali oleh pasien, sedangkan splinting cekat dipasang secara permanen oleh dokter gigi di tempatnya dan tidak dapat dilepas dengan mudah. Memahami perbedaannya membantu dalam perencanaan dan pemilihan perawatan yang tepat.
- b.
Splinting sementara dan permanen
Pembahasan Opsi b:Seorang perempuan berusia 40 tahun datang dengan keluhan gigi bawah depan yang goyang, menunjukkan kemungkinan adanya penyakit periodontal atau trauma pada gigi tersebut. Diagnosis awalnya dapat terarah ke periodontitis atau kerusakan jaringan pendukung gigi. Dalam kasus ini, splinting bertujuan untuk stabilisasi gigi agar dapat berfungsi kembali dan mendukung proses penyembuhan. Jenis splinting yang biasanya digunakan dapat dibedakan menjadi splinting sementara (untuk penggunaan jangka pendek) dan permanen (untuk stabilisasi jangka panjang). Dalam pemilihan metode, penting untuk mempertimbangkan kondisi jaringan periodontal pasien serta prognosis gigi yang akan displint. Oleh karena itu, jawaban yang benar adalah 'Splinting sementara dan permanen'.
- c.
Splinting intrakoronal dan interkoronal
Pembahasan Opsi c:Jawaban "Splinting intrakoronal dan interkoronal" kurang tepat untuk kasus ini. Splinting intrakoronal dan interkoronal lebih merujuk kepada teknik pemasangan material splint yang diletakkan di dalam (intra) atau di antara (inter) mahkota gigi. Namun, dalam konteks pertanyaan yang berfokus pada "jenis berdasarkan sifatnya," yang dimaksud adalah karakteristik dan tujuan dari splinting seperti apakah permanen atau sementara. Splinting berdasarkan sifatnya lebih kepada pertimbangan durasi dan tujuan seperti apakah merupakan splinting sementara yang digunakan untuk penyembuhan atau splinting permanen untuk stabilisasi jangka panjang. Oleh karena itu, jawaban yang lebih sesuai berdasar sifat seperti temporer atau permanen lebih relevan daripada berdasarkan lokasi pemasangan seperti intrakoronal dan interkoronal.
- d.
Splinting intrakoronal dan ekstrakoronal
Pembahasan Opsi d:Splinting intrakoronal dan ekstrakoronal bukanlah jenis splinting berdasarkan sifatnya, melainkan berdasarkan posisi dan teknik aplikasi pada gigi. Intrakoronal mengacu pada teknik dimana splint diletakkan di dalam mahkota gigi dengan melibatkan preparasi gigi, sedangkan ekstrakoronal diletakkan di luar mahkota tanpa preparasi. Sementara itu, jenis splinting berdasarkan sifatnya biasanya dibagi menjadi dua, yaitu semi-permanen dan permanen. Splinting semi-permanen digunakan untuk stabilisasi sementara dan dapat dilepas setelah tujuan tercapai, sedangkan splinting permanen dirancang untuk penggunaan jangka panjang tanpa rencana pengangkatan. Dengan demikian, memahami perbedaan terminologi ini penting agar perlakuan yang diberikan sesuai dengan tujuan dan permasalahan klinis pasien.
- e.
Splinting semi permanen dan permanen
Pembahasan Opsi e:Pilihan jawaban "splinting semi permanen dan permanen" kurang tepat dalam konteks splinting berdasarkan sifatnya. Splinting pada gigi berdasarkan sifatnya lebih tepat dibedakan menjadi splinting jangka pendek, jangka menengah, dan jangka panjang. Splinting semi permanen dan permanen lebih merujuk pada durasi dan tujuan penggunaannya, bukan sifatnya secara spesifik. Splinting jangka pendek biasanya digunakan untuk stabilisasi sementara setelah trauma, jangka menengah untuk stabilisasi selama periode pemulihan, sedangkan jangka panjang digunakan untuk stabilisasi jangka panjang, sering kali dalam kasus periodontitis kronis. Penting untuk memperhatikan konteks dan definisi masing-masing jenis splinting agar dapat memilih opsi yang tepat untuk kebutuhan klinis pasien.
Soal 5
Mindy, pasien perempuan berusia 17 tahun datang ke RSGM Ummacademy dengan keluhan gusi mudah berdarah bila menggosok gigi. Keadaan ini bermula sejak 4 tahun lalu saat mulai menstruasi. Pemeriksaan klinis ditemukan regio anterior rahang bawah hiperemi, edema, BOP +, poket sekitar 3 mm tanpa kehilangan perlekatan, PBI sebesar 0,21, plaque index 1.43, CI 0.65. Apakah diagnosis yang tepat untuk kasus Mindy di atas?
- a.
Dental plaque induced gingival disease modified by systemic factor
Pembahasan Opsi a:Kasus Mindy menggambarkan seorang remaja berusia 17 tahun dengan gusi yang mudah berdarah dan gejala yang muncul bersamaan dengan menstruasi, yang menunjukkan kemungkinan adanya pengaruh hormonal. Diagnosis yang tepat adalah "Dental plaque induced gingival disease modified by systemic factor," karena adanya hiperemi, edema, dan bleeding on probing (BOP+) yang terkait dengan akumulasi plak (plaque index 1.43 dan CI 0.65) serta faktor sistemik (hormonal) akibat menstruasi. Perawatan yang dianjurkan meliputi peningkatan kebersihan mulut, scaling, dan edukasi tentang perawatan gigi selama menstruasi untuk mengurangi tanda-tanda peradangan gusi. Perlu juga diperhatikan pentingnya evaluasi periodontal lanjut dan pemantauan berkala untuk memastikan kesehatan gusi pasien.
- b.
Dental plaque induced gingival disease modified by malnutrition
Pembahasan Opsi b:Jawaban ini kurang tepat karena situasi pada kasus Mindy lebih menunjuk ke arah hubungan antara perubahan hormonal dan penyakit gingiva yang diinduksi oleh plak gigi. Diagnosis "dental plaque induced gingival disease modified by malnutrition" mengacu pada kondisi di mana penyakit gingiva yang diinduksi oleh plak diperparah oleh kekurangan nutrisi, seperti kekurangan vitamin C atau vitamin lainnya. Namun, dalam kasus Mindy, tidak ada indikasi dari malnutrisi melainkan perubahan hormonal yang tampaknya berperan, karena keluhan dimulai sejak menstruasi. Hiperemi, edema, BOP positif, dan indeks plak sedang menunjukkan gingivitis yang dimodifikasi hormon. Itu berarti jawaban yang lebih tepat adalah gingivitis yang terinduksi oleh plak dengan modifikasi hormonal, menunjuk ke perubahan selama masa menstruasi yang sering mempengaruhi keadaan gingiva.
- c.
Gingival enlargement
Pembahasan Opsi c:Jawaban "Gingival enlargement" kurang tepat untuk kasus ini karena pembesaran gingiva cenderung disebabkan oleh paparan faktor lokal atau sistemik yang berlebihan yang mengakibatkan penumpukan jaringan, seperti hipertrofi gingiva terkait obat atau kondisi sistemik, dan biasanya menghasilkan pembesaran ukuran gingiva yang lebih apparent secara visual serta palpasi. Dalam kasus Mindy, gejala seperti gusi mudah berdarah, hiperemi, edema, dan nilai indeks plak serta bleeding point menunjukkan lebih kepada peradangan gingiva dengan ukuran poket yang masih dalam tahap ringan sampai sedang tanpa kehilangan perlekatan, lebih kearah diagnosa gingivitis. Gingivitis adalah peradangan pada gingiva di mana tidak ada kerusakan struktur pendukung gigi seperti ligamen periodontal dan tulang alveolar, berlawanan dengan pembesaran gingiva yang lebih condong kepada pertumbuhan jaringan berlebih (enlargement) tanpa inflamasi parah. Oleh karena itu, diagnosis yang lebih sesuai untuk kondisi Mindy adalah gingivitis, khususnya yang mungkin terkait dengan perubahan hormonal yang dapat terjadi selama menstruasi.
- d.
Non dental plaque induced gingival disease modified by systemic factor
Pembahasan Opsi d:Kesalahan dalam memilih diagnosis "Non dental plaque induced gingival disease modified by systemic factor" terletak pada sifat utama penyakit gusi yang ditunjukkan oleh Mindy. Non dental plaque induced gingival disease biasanya tidak berkaitan langsung dengan akumulasi plak, sedangkan pada kasus Mindy terdapat plaque index sebesar 1.43 yang menunjukkan adanya keterlibatan plak. Penyakit gusi yang diinduksi oleh faktor sistemik cenderung menunjukkan perubahan gusi yang tidak proporsional terhadap jumlah plak yang ada. Mindy menunjukkan gejala klasik gingivitis terkait plak dengan didukung adanya bleeding on probing (BOP) dan edema tanpa adanya kehilangan perlekatan, cocok dengan gingivitis yang disebabkan oleh plak gigi. Dalam kasus ini, perubahan hormonal yang terjadi selama menstruasi dapat memperburuk respon jaringan gingiva terhadap plak, menjadikannya lebih sensitif dan mudah berdarah, sehingga diagnosis yang lebih tepat adalah "Dental plaque-induced gingival disease" yang dimodifikasi oleh faktor hormonal.
- e.
Periodontitis kronis
Pembahasan Opsi e:Jawaban "Periodontitis kronis" kurang tepat untuk kasus Mindy. Periodontitis kronis biasanya ditandai dengan kehilangan perlekatan periodontal dan resesi tulang alveolar yang signifikan, sedangkan pada kasus Mindy tidak ditemukan kehilangan perlekatan dan poket hanya 3 mm. Gejala yang lebih sesuai dengan kondisi Mindy adalah gingivitis, yang dicirikan dengan edema, hiperemi, dan perdarahan saat probing tanpa kehilangan perlekatan periodontal. Gingivitis paling umum disebabkan oleh penumpukan plak yang meningkatkan risiko inflamasi gusi dan perdarahan, seringkali diperburuk oleh perubahan hormon seperti yang dialami Mindy sejak menstruasi. Oleh karena itu, diagnosis yang lebih tepat adalah gingivitis dan bukan periodontitis kronis.
Soal 6
Dokter gigi Umma melakukan pemeriksaan kondisi jaringan periodontal pada Mindy dengan mengukur kedalaman poket gigi 16 dan 15. Hasil pemeriksaan didapat diagnosis periodontitis kronis lokalis. Bagaimanakah cara pengukuran kelainan periodontal pada kasus tersebut?
- a.
Jarak dari Cemento Enamel Junction ke muco gingival junction
Pembahasan Opsi a:Pilihan jawaban "Jarak dari Cemento Enamel Junction ke muco gingival junction" kurang tepat karena pengukuran tersebut tidak mencerminkan kedalaman poket periodontal, melainkan menunjukkan jarak antara struktur gigi dan jaringan gingiva. Kedalaman poket periodontal diukur dari Margin Gingiva ke Basis Poket, yang merupakan cara menentukan seberapa dalam poket periodontitis dan dapat membantu dalam diagnosa level kerusakan jaringan periodontal. Mengukur jarak antara Cemento Enamel Junction dan muco gingival junction tidak memberikan informasi langsung tentang kondisi periodontal yang terjadi pada pasien, terutama dalam diagnosis dan penanganan periodontitis kronis.
- b.
Jarak dari crest gingival margin ke cemento enamel junction
Pembahasan Opsi b:Pernyataan "Jarak dari crest gingival margin ke cemento enamel junction" kurang tepat karena metode pengukuran ini tidak secara langsung mengukur kedalaman poket periodontal, melainkan mengukur hubungan antara margin gingiva dan cemento-enamel junction (CEJ). Kedalaman poket periodontal, yang diukur dengan menggunakan probe periodontal, adalah jarak dari tepi gingiva (crest gingival) ke dasar poket. Metode ini memfokuskan pada status jaringan periodontal dan kedalaman inflamasi, yang lebih relevan dalam mendiagnosis periodontitis. Oleh karena itu, membedakan antara pengukuran kedalaman poket dan jarak ke CEJ sangat penting untuk penanganan yang tepat pada kasus periodontal akut seperti periodontitis kronis lokalis.
- c.
Jarak dari crest gingival margin ke mucogingival junction
Pembahasan Opsi c:Jawaban "Jarak dari crest gingival margin ke mucogingival junction" kurang tepat karena pengukuran yang dimaksud dalam diagnosis periodontitis kronis lokalis seharusnya mengacu pada kedalaman poket periodontal, yaitu jarak dari crest gingiva ke dasar poket gigi yang memberikan informasi tentang status penyakit periodontal. Definisi dan fungsi pengukuran kedalaman poket adalah untuk menilai tingkat keparahan infeksi dan kerusakan jaringan periodontal. Perbedaan utama terletak pada fokus pengukuran; sedangkan jarak dari crest gingival ke mucogingival junction lebih berkaitan dengan evaluasi kerentanan jaringan gingiva, pengukuran poket gigi lebih spesifik menunjukkan kondisi kesehatan periodontal pasien.
- d.
Jarak dari cemento enamel junction ke dasar poket
Pembahasan Opsi d:Jawaban "Jarak dari cemento enamel junction ke dasar poket" kurang tepat karena pengukuran yang tepat untuk menentukan kedalaman poket periodontal seharusnya dilakukan dari margin gingiva (tepi gusi) ke dasar poket, bukan dari cemento enamel junction. Kedalaman poket yang mengacu pada ukurannya merupakan indikator penting dalam diagnosis dan manajemen penyakit periodontal, termasuk dalam kasus periodontitis kronis lokalis. Pengukuran yang tepat membantu dalam menentukan tingkat keparahan penyakit dan perencanaan terapi yang sesuai, sehingga perbedaan ini sangat signifikan dalam praktik klinis.
- e.
Jarak dari crest gingival margin ke dasar poket
Pembahasan Opsi e:Dalam kasus ini, Mindy didiagnosis dengan periodontitis kronis lokalis, yang ditandai dengan kedalaman poket gigi yang lebih dari 3 mm serta adanya kerusakan jaringan periodontal yang menetap. Untuk mengukur kelainan periodontal, langkah yang tepat adalah mengukur jarak dari crest gingival margin ke dasar poket. Pengukuran ini penting untuk menentukan tingkat keparahan periodontitis dan merencanakan intervensi perawatan yang diperlukan, seperti scaling, root planing, atau perawatan bedah periodontal jika diperlukan.
Soal 7
Mindy, seorang laki- laki berusia 45 tahun datang ke klinik Dentapedia dengan keluhan gigi belakang atas kiri yang goyah dan sakit saat makan. Pemeriksaan intra oral gigi 26 luksasi derajat 3. Hasil radiografi terlihat area radiolusen di daerah apikal. Apakah sifat bakteri dominan pada kasus tersebut?
- a.
Gram positif dan aerob
Pembahasan Opsi a:Jawaban "Gram positif dan aerob" kurang tepat karena infeksi pada area radiolusen umumnya disebabkan oleh bakteri Gram negatif dan anaerob, terutama dalam kasus seperti abses apikal yang merupakan kondisi di mana ada peningkatan jumlah bakteri patogen. Bakteri Gram positif biasanya terlibat dalam infeksi superfisial dan tidak dominan pada infeksi yang terkait dengan nekrosis pulpa dan abses, di mana kondisi anaerob sering ditemukan. Oleh karena itu, penting untuk memahami bahwa infeksi gigi sering kali melibatkan bakteri dengan karakteristik berbeda tergantung pada lingkungan dan kondisi yang ada di dalam jaringan, dan untuk kasus ini, bakteri Gram negatif anaerob adalah yang lebih mungkin menjadi penyebab utama.
- b.
Gram negatif dan aerob
Pembahasan Opsi b:Jawaban "Gram negatif dan aerob" kurang tepat karena sifat bakteri yang dominan pada infeksi periodontal, terutama dengan adanya radiolusen apikal seperti yang terlihat pada kasus Mindy, umumnya adalah bakteri Gram negatif anaerob. Bakteri Gram negatif anaerob, seperti Porphyromonas gingivalis dan Prevotella intermedia, berperan penting dalam patogenesis penyakit periodontal dan infeksi yang menyertai pencabutan gigi atau penyakit gusi. Sedangkan bakteri Gram negatif aerob biasanya ditemukan pada kondisi yang lebih bersih dan tidak berkaitan langsung dengan infeksi periodontal, sehingga tidak cocok dengan gambaran klinis dan radiografi yang ditunjukkan. Oleh karena itu, penting untuk memahami karakteristik bakteri berdasarkan kondisi klinis yang ada untuk identifikasi dan pengobatan yang tepat.
- c.
Gram negatif dan anaerob
Pembahasan Opsi c:Pada kasus gigi 26 dengan luksasi derajat 3 dan radiolusen apikal, kondisi ini menunjukkan infeksi periodontal lanjut yang menyebabkan destruksi jaringan penyangga gigi hingga terjadi mobilitas berat. Infeksi periodontal dalam, khususnya pada kondisi kronis, didominasi oleh bakteri Gram negatif anaerob, seperti Porphyromonas gingivalis, Tannerella forsythia, dan Treponema denticola. Bakteri-bakteri ini bersifat patogen utama dalam periodontitis yang menyebabkan kerusakan jaringan lunak dan keras.
- d.
Gram positif dan fakultatif anaerob
Pembahasan Opsi d:Bakteri gram positif dan fakultatif anaerob, seperti Streptococcus spp. dan Actinomyces spp., dominan pada tahap awal kolonisasi plak dan gingivitis ringan. Mereka berperan pada fase permulaan pembentukan biofilm di permukaan gigi. Namun, pada kasus periodontitis lanjut seperti gigi 26 dengan luksasi derajat 3 dan lesi radiolusen apikal, infeksi sudah berkembang ke tahap kronis dengan lingkungan anaerob yang dalam, sehingga didominasi oleh bakteri gram negatif anaerob, bukan gram positif. Oleh karena itu, gram positif dan fakultatif anaerob tidak menjadi bakteri utama pada kondisi periodontitis berat seperti pada kasus ini.
- e.
Gram negatif dan fakultatif anaerob
Pembahasan Opsi e:Pilihan jawaban "Gram negatif dan fakultatif anaerob" kurang tepat karena karakteristik infeksi pada kasus ini lebih sesuai dengan bakteri gram positif dan anaerob. Dalam kasus dengan luksasi gigi dan area radiolusen apikal yang mengindikasikan infeksi akar gigi, bakteri gram positif, terutama dari genus Streptococcus dan Staphylococcus, sering ditemukan. Bakteri ini berperan besar dalam infeksi periodontal dan abses periapikal. Sementara bakteri fakultatif anaerob bisa terlibat, mereka biasanya tidak dominan dalam infeksi akar gigi yang bersifat lebih anaerob. Oleh karena itu, pemilihan bakteri dominan pada kasus ini harus lebih menekankan pada bakteri anaerob, terutama yang gram positif seperti Peptostreptococcus, untuk menggambarkan kondisi infeksi yang lebih akurat.
Soal 8
Mindy, seorang laki-laki berusia 47 tahun datang ke klinik Dentigram dengan keluhan gigi kanan bawah belakang goyang dan sering terselip makanan. Dari anamnesa diketahui Mindy memiliki kebiasaan merokok. Pemeriksaan klinis didapatkan gigi 46 terdapat poket absolut 6 mm, resesi pada seluruh bagian gigi 3 mm, kegoyangan derajat 2 dan terdapat kalkulus subgingiva. Pada saat probe dimasukan ke daerah furkasi dari arah bukal, dapat menembus ke bagian lingual. Gambaran radiografis didapatkan radiolusensi pada bagian furkasi gigi. Termasuk kelas berapakah keterlibatan furkasi yang dialami Mindy?
- a.
Kelas 1
Pembahasan Opsi a:Pilihan "Kelas 1" kurang tepat karena keterlibatan furkasi kelas 1 ditandai dengan lesi dini di mana probe hanya bisa masuk ke furkasi sejauh 1-3 mm dan belum melewati furkasi sepenuhnya. Dalam kasus ini, probe dapat menembus dari arah bukal hingga ke bagian lingual, yang menandakan keterlibatan furkasi lebih lanjut. Keterlibatan furkasi yang tepat untuk kasus Mindy adalah Kelas 3, di mana terdapat penetrasi penuh dari furkasi yang memungkinkan probe melewati dari satu sisi ke sisi lainnya, disertai gambaran radiolusensi yang jelas. Perbedaan utama terletak pada tingkat penetrasi probe dan indikasi radiografik yang menunjukkan kerusakan lebih luas pada Kelas 3 dibandingkan dengan Kelas 1.
- b.
Kelas 2
Pembahasan Opsi b:Keterlibatan furkasi kelas 2 ditandai oleh kehilangan tulang yang sebagian menembus ke area furkasi, tetapi tidak seluruhnya, biasanya disertai oleh adanya pocket probe yang masuk sebagian ke area furkasi tanpa menembus seluruhnya dari bukal ke lingual. Namun, pada kasus Mindy, probe dapat menembus dari arah bukal hingga ke lingual, dan radiograf menunjukkan radiolusensi pada furkasi, yang menunjukkan adanya keterlibatan furkasi secara penuh. Hal ini lebih sesuai dengan klasifikasi keterlibatan furkasi kelas 3, di mana terdapat kehilangan tulang yang cukup signifikan hingga alat/probe dapat menembus sepenuhnya. Merokok, seperti kebiasaan yang dimiliki oleh Mindy, dapat berkontribusi terhadap progresivitas penyakit periodontal, yang dapat memperparah kondisi keterlibatan furkasi ini.
- c.
Kelas 3
Pembahasan Opsi c:Jawaban "Kelas 3" untuk keterlibatan furkasi pada kasus Mindy kurang tepat. Kelas 3 menunjukkan keterlibatan furkasi yang lengkap, di mana probe dapat menembus sepenuhnya dari satu sisi ke sisi lainnya tanpa ada jaringan yang menghalangi, serta biasanya ada keterlibatan radiografis lebih jelas pada kedua sisi furkasi. Dalam kasus Mindy, probe memang dapat menembus dari bukal ke lingual yang menunjukkan adanya keterlibatan signifikan, namun temuan radiografis hanya menyebutkan adanya radiolusensi, yang lebih cocok dengan klasifikasi keterlibatan furkasi Klasse 2. Kelas 2 melibatkan kehilangan bagian dalam furkasi namun tidak melintasi sepenuhnya dari sisi ke sisi. Dengan demikian, jawaban tepat seharusnya adalah Kelas 2 karena ada indikasi penembusan probe signifikan tanpa keterlibatan furkasi sepenuhnya tembus.
- d.
Kelas 4
Pembahasan Opsi d:Mindy, laki-laki berusia 47 tahun, mengalami gigi goyang dan terselip makanan pada gigi 46 dengan bukti klinis berupa poket 6 mm, resesi 3 mm, dan kalkulus subgingiva, yang menunjukkan adanya periodontitis berat. Diagnosis awal adalah periodontitis dengan keterlibatan furkasi yang berat. Ciri khas soal ini adalah adanya radiolusensi pada furkasi yang menunjukkan kerusakan yang signifikan pada jaringan periodontal. Mengacu pada klasifikasi keterlibatan furkasi, apabila probe dapat menembus ke bagian lingual dari arah bukal, ini mengindikasikan keterlibatan furkasi kelas 4, di mana semua gigi sudah terlibat secara mendalam dan mengalami kerusakan parah. Perawatan yang seharusnya dilakukan meliputi scaling, root planing, dan mungkin diperlukan tindakan bedah periodontal untuk memperbaiki kondisi jaringan periodontal yang terkena.
Klasifikasi Glickman (keterlibatan furkasi):
Grade 1: poket supraboni, radiografi TAK
Grade 2: cul-de-sac (probe bisa masuk tetapi
tidak menembus furkasi)
Garde 3: through and through, masi tertutup
jaringan lunak
Grade 4: through and through, kehilangan
jaringan lunak (resesi) - e.
Kelas 5
Pembahasan Opsi e:Jawaban kelas 5 untuk keterlibatan furkasi pada kasus Mindy tidak tepat karena sistem kelas keterlibatan furkasi menurut Glickman hanya mencakup Kelas I hingga Kelas IV. Kelas V tidak ada dalam klasifikasi ini. Keterlibatan furkasi Kelas IV, yang seharusnya menjadi jawaban tepat, ditandai dengan furkasi yang sudah terbuka secara klinis, memungkinkan probe menembus dari arah bukal menuju lingual dengan adanya resesi gusi yang cukup parah, sehingga furkasi dapat terlihat dengan mata telanjang. Dalam kasus Mindy, dengan kegoyangan gigi dan resesi yang signifikan serta bukti radiografis dari radiolusensi furkasi, klasifikasi Kelas IV paling sesuai. Perbedaan dengan Kelas III, yang juga menunjukkan penetrasi probe tetapi furkasi belum terlihat secara klinis tanpa membuka jaringan, menguatkan bahwa Kelas IV adalah jawaban yang lebih tepat.
Maksimalkan Persiapan UKOMNAS PPDG Anda dengan Umeds!
Setelah menghadapi beberapa soal Periodonsia yang menantang, mungkin Anda bertanya-tanya, "Bagaimana saya bisa mempersiapkan diri dengan lebih baik?" Jawabannya ada di Umeds! Kami menyediakan platform belajar komprehensif yang dirancang khusus untuk mahasiswa kedokteran gigi. Dengan tryout online yang mensimulasikan kondisi ujian sesungguhnya, Anda bisa mengukur kemampuan dan mengidentifikasi area yang perlu diperkuat. Setiap soal dilengkapi dengan video pembahasan yang detail dan mudah dipahami, memastikan Anda tidak hanya tahu jawaban yang benar, tetapi juga mengerti konsep di baliknya.
Bank soal kami sangat lengkap, mencakup berbagai topik Periodonsia dan bidang kedokteran gigi lainnya, diperbarui secara berkala sesuai standar UKOMNAS PPDG terbaru. Selain itu, kelas interaktif kami memungkinkan Anda berdiskusi langsung dengan pakar dan sesama pejuang UKOMNAS. Jangan lewatkan kesempatan untuk bergabung dengan ribuan mahasiswa lainnya yang telah sukses bersama Umeds. Mari tingkatkan pemahaman Periodonsia Anda dan raih kelulusan UKOMNAS PPDG 2026 bersama kami!
Soal 9
Mindy, seorang laki-laki berusia 46 tahun datang ke praktik dokter gigi Umma dengan keluhan gigi belakang bawah kanan terasa goyang. Berdasarkan pemeriksaan klinis dengan articulating paper diperoleh teraan yang tidak merata pada gigi 15, 16, 17, 46, 47. Pada hasil rontgenologis foto periapikal tampak resorpsi tulang vertikal gigi 46, 47. Apakah etiologi mobilitas gigi Mindy tersebut ?
- a.
Diabetes Mellitus
Pembahasan Opsi a:Jawaban yang salah adalah "Diabetes Mellitus". Meskipun Diabetes Mellitus dapat mempengaruhi kesehatan gigi dan gusi, terutama dengan meningkatkan risiko periodontitis, kondisi tersebut bukanlah etiologi langsung dari mobilitas gigi Mindy. Pada kasus Mindy, hasil pemeriksaan menunjukkan adanya teraan artikulasi yang tidak merata dan resorpsi tulang vertikal pada gigi 46 dan 47. Ini menunjukkan adanya masalah oklusi atau trauma oklusal sebagai penyebab utama mobilitas gigi. Trauma oklusal terjadi ketika terdapat tekanan berlebihan atau distribusi tekanan yang tidak merata saat gigi berkontak, yang dapat menyebabkan kerusakan pada struktur pendukung gigi, termasuk tulang. Perbedaan utama dengan jawaban yang benar adalah bahwa trauma oklusal menunjuk langsung pada penyebab mekanis kerusakan pada struktur pendukung gigi, sedangkan Diabetes Mellitus lebih berperan sebagai faktor risiko umum untuk penyakit periodontal, bukan sebagai etiologi spesifik dalam kasus ini.
- b.
Traumatik oklusi
Pembahasan Opsi b:Mindy, seorang laki-laki berusia 46 tahun, mengalami mobilitas pada gigi belakang bawah kanan yang terkait dengan ketidakmerataan oklusi dan resorpsi tulang vertikal pada gigi 46 dan 47, menunjukkan adanya cedera pada struktur pendukung gigi. Diagnosis kasus ini berkisar pada traumatik oklusi, di mana interaksi antara gigi yang saling bersentuhan menyebabkan tekanan berlebih, mengakibatkan kerusakan pada jaringan periodontal. Ciri khas dari masalah ini meliputi ketidaknyamanan saat mengunyah dan hasil rontgen yang menunjukkan kerusakan tulang. Perawatan yang diperlukan biasanya mencakup penyesuaian oklusi untuk mengurangi stres pada gigi yang terlibat. Saat menghadapi soal ini, penting untuk mengingat bahwa trauma oklusi sering menjadi penyebab mobilitas gigi pada pasien dewasa dengan riwayat gigi yang bermasalah.
- c.
Periodontitis
Pembahasan Opsi c:Jawaban "Periodontitis" kurang tepat sebagai etiologi utama dari mobilitas gigi Mindy. Periodontitis adalah peradangan jaringan penyangga gigi yang dapat menyebabkan kerusakan tulang dan jaringan pendukung gigi, yang pada akhirnya dapat menyebabkan mobilitas gigi. Namun, dalam kasus ini, hasil articulating paper menunjukkan adanya teraan yang tidak merata pada beberapa gigi, serta resorpsi tulang vertikal pada gigi-gigi tertentu. Hal ini lebih mengarah kepada trauma oklusal, yaitu ketidakseimbangan tekanan oklusal yang menimbulkan tekanan berlebihan pada gigi tertentu, sehingga berkontribusi pada resorpsi tulang lokal dan mobilitas gigi. Berbeda dengan periodontitis yang merupakan proses infeksius kronis, trauma oklusal lebih bersifat mekanis.
- d.
Gingivitis
Pembahasan Opsi d:Gingivitis adalah inflamasi pada gusi yang disebabkan oleh penumpukan plak bakteri di sekitar gigi, tetapi tidak menyebabkan kerusakan tulang yang menyokong gigi. Oleh karena itu, gingivitis tidak menyebabkan mobilitas gigi seperti yang dialami Mindy, karena mobilitas ini terjadi akibat resorpsi tulang seperti yang terlihat pada hasil rontgen gigi 46 dan 47. Resorpsi tulang menunjukkan adanya periodontitis, yang merupakan kondisi lanjut dari gingivitis dengan kerusakan jaringan penyangga gigi dan tulang alveolar. Perbedaan utama gingivitis dan periodontitis adalah keterlibatan tulang; gingivitis hanya mempengaruhi jaringan lunak gusi, sedangkan periodontitis merusak struktur tulang sehingga menyebabkan gigi goyang. Dengan demikian, etiologi mobilitas gigi Mindy lebih tepat jika dikategorikan sebagai periodontitis, bukan gingivitis.
- e.
Resorbsi tulang
Pembahasan Opsi e:Jawaban "Resorbsi tulang" sebagai etiologi mobilitas gigi tidak sepenuhnya tepat dalam konteks ini. Resorbsi tulang memang dapat menyebabkan mobilitas gigi karena berkurangnya dukungan dari jaringan periodontal. Namun, dalam kasus Mindy, penyebab utama mobilitas gigi lebih memungkinkan berasal dari trauma oklusal, yang ditunjukkan oleh teraan tidak merata pada beberapa gigi termasuk gigi yang mengalami resorpsi. Definisi trauma oklusal adalah tekanan berlebih pada gigi akibat ketidakserasian kontak antar gigi selama proses menggigit atau mengunyah, dapat menyebabkan kerusakan jaringan pendukung gigi. Berbeda dengan resorbsi tulang yang merupakan proses destruktif pada tulang alveolar, trauma oklusal tidak hanya mempengaruhi struktur tulang tetapi juga mempengaruhi fungsi oklusi secara keseluruhan, sehingga perbaikan harus dimulai dengan menyeimbangkan oklusi untuk mencegah progresivitas kerusakan pada jaringan pendukung gigi.
Soal 10
Mindy, seorang perempuan berusia 36 tahun datang ke RSGM Medicademy dengan keluhan pembengkakan wajah di sekitar cuping hidung sebelah kiri sejak 5 hari lalu. Hasil anamnesis diketahui terdapat riwayat nyeri berdenyut pada gigi taring atas yang dirasakan hilang timbul. Pemeriksaan intra oral tampak pembengkakan di daerah sulkus nasolabialis ukuran 3 cm, fluktuasi +, nyeri tekan +. Gigi 23 karies profunda, perkusi +, tekan +, kegoyangan derajat 1, pembengkakan gingiva +, warna kemerahan. Apakah diagnosis kelainan tersebut?
- a.
Pulpitis ireversibel 23
- b.
Periodontitis apikalis kronis 23
- c.
Selulitis facialis sinistra
- d.
Abses fossa canina sinistra
Pembahasan Opsi d:Kasus Mindy menunjukkan pembengkakan wajah di sekitar cuping hidung sebelah kiri dengan riwayat nyeri berdenyut pada gigi taring atas yang mencurigakan, serta hasil pemeriksaan fisik yang menunjukkan pembengkakan di daerah sulkus nasolabialis, fluktuasi dan nyeri tekan positif. Diagnosis yang tepat adalah abses fossa canina sinistra, yang biasanya disebabkan oleh infeksi gigi, khususnya karies yang dalam seperti pada gigi 23. Ciri khasnya adalah pembengkakan yang dapat bermanifestasi di area wajah dan nyeri yang bersifat berdenyut. Perawatan yang tepat meliputi drainase abses, perawatan saluran akar, dan antibiotik. Pemahaman tentang hubungan antara infeksi gigi dan area wajah dalam konteks anatomis sangat penting dalam diagnosis ini.
- e.
Abses bukalis sinistra
Soal 11
Mindy, seorang perempuan berusia 45 tahun datang ke RS Ummacademy mengeluhkan giginya yang goyang. Pemeriksaan klinis gigi 31 terdapat edema dan kemerahan pada gingiva anterior. Terdapat penurunan tulang horizontal pada beberapa gigi anterior bawah. Diketahui kedalaman poket 5 mm setelah dilakukan scaling sebelumnya. Apakah terapi yang dilakukan setelah fase pertama?
- a.
Bedah flap
Pembahasan Opsi a:Jawaban "Bedah flap" kurang tepat karena tindakan ini biasanya dilakukan pada kasus-kasus penyakit periodontal yang lebih serius, di mana ada kerusakan jaringan dan tulang yang signifikan, dan setelah fase perawatan awal tidak menunjukkan perbaikan yang memadai. Setelah fase pertama terapi (scaling dan root planning), pendekatan yang lebih tepat adalah mempertimbangkan perawatan non-bedah seperti instruksi perawatan diri dan kontrol infeksi untuk mengurangi kedalaman poket. Bedah flap dapat diperlukan jika ada penyakit periodontal lanjut dan jika perawatan awal tidak berhasil, namun dalam kasus ini, kondisinya belum cukup parah untuk langsung memerlukan tindakan bedah. Bedah flap juga biasanya diindikasikan pada kedalaman poket yang lebih dalam dan tidak memadai respons terhadap terapi awal.
- b.
Scaling dan root planing
Pembahasan Opsi b:Jawaban "Scaling dan root planing" kurang tepat karena prosedur ini merupakan langkah intervensi awal yang biasanya dilakukan sebelum penentuan tahap terapi selanjutnya. Setelah fase pertama yang mencakup scaling, jika masih terdapat tanda-tanda penyakit periodontal seperti edema dan penurunan tulang, terapi lanjutan harus dipertimbangkan, seperti penggunaan obat antiseptik atau antibiotik lokal, tergantung pada kondisi pasien. Scaling dan root planing bertujuan untuk menghilangkan plak dan kalkulus dari permukaan akar gigi, tetapi dalam kasus Mindy, perlu diidentifikasi langkah lebih lanjut untuk mengelola infeksi atau radang yang tersisa pada jaringan periodontal. Dengan demikian, terapi yang lebih tepat setelah fase pertama adalah penilaian lebih mendalam dan mungkin pengobatan tambahan untuk inflamasi yang belum terkendali.
- c.
Kuretase
Pembahasan Opsi c:Pada kasus Mindy, seorang perempuan berusia 45 tahun dengan keluhan gigi goyang dan ditemukan edema serta kemerahan pada gingiva gigi 31, diagnosis sementara adalah periodontitis, yang ditandai dengan penurunan tulang horizontal dan kedalaman poket 5 mm. Ciri khas dari kasus ini adalah adanya gejala inflamasi gingiva dan penurunan dukungan tulang, yang menunjukkan infeksi periodontitis. Setelah fase pertama yang mencakup scaling, terapi selanjutnya adalah kuretase untuk menghilangkan jaringan inflamasi dan mendukung penyembuhan tulang serta jaringan periodontal. Klasifikasi periodontitis ini termasuk dalam kategori periodontitis ringan hingga sedang, tergantung pada kedalaman poket dan kehilangan dukungan tulang yang terdeteksi. Pertimbangan lain yang perlu diperhatikan termasuk kebersihan mulut pasien dan faktor predisposisi seperti diabetes atau merokok yang dapat memperburuk kondisi.
- d.
Splinting
Pembahasan Opsi d:Jawaban "Splinting" kurang tepat karena metode ini hanya digunakan untuk stabilisasi gigi yang goyang, terutama apabila penyebab goyangnya adalah trauma atau periodontal yang tidak terlalu parah. Dalam kasus Mindy, terdapat tanda-tanda periodontitis seperti edema pada gingiva dan penurunan tulang horizontal, yang menunjukkan perlunya pendekatan lebih lanjut setelah fase pertama pengobatan (scaling). Terapi lanjutan yang tepat dalam kasus ini adalah melakukan terapi periodontal yang lebih intensif, seperti bedah periodontal atau perawatan lanjutan untuk mengatasi infeksi dan memperbaiki kerusakan jaringan penyangga gigi. Splinting tidak mengatasi penyebab utama masalah periodontal dan hanya memberikan dukungan mekanis sementara, bukan perawatan definitif.
- e.
Oklusal adjustment
Pembahasan Opsi e:Oklusal adjustment tidak tepat sebagai terapi setelah fase pertama dalam kasus Mindy karena prosedur ini lebih difokuskan pada penyesuaian occlusion gigi untuk mengurangi stres pada gigi yang mengalami kelainan posisi atau maloklusi. Oklusal adjustment tidak menangani masalah periodontal yang terlihat pada kasus ini, seperti edema gingiva dan kedalaman poket yang menunjukkan adanya periodontitis. Sebagai alternatif, terapi lanjutan setelah fase pertama seharusnya melibatkan instruksi perawatan diri, pengobatan topikal atau sistemik, serta kemungkinan prosedur periodontal lanjutan, seperti kuretase, untuk mengatasi infeksi dan memperbaiki keadaan gigi dan jaringan pendukungnya. Dengan demikian, perbedaan mendasar antara oklusal adjustment dan terapi yang lebih tepat adalah fokus intervensi, di mana oklusal adjustment tidak menyelesaikan masalah periodontal yang dihadapi pasien.
Soal 12
Pasien datang ke dokter gigi dengan keluhan gusi masih bengkak walaupun telah dilakukan pembersihan karang giginya 10 hari yang lalu. EO tidak ada kelainan, IO dijumpai poket gingival 4mm dengan konsistensi gingival padat dan kenyal, warna gingival coral pink, tidak mudah berdarah saat probing. Apakah terapi paling tepat pada kasus tersebut ?
- a.
ENAP
Pembahasan Opsi a:Jawaban "ENAP" (External New Attachment Procedure) kurang tepat untuk kasus ini karena prosedur tersebut lebih ditujukan untuk perawatan kasus periodontitis berat dengan kehilangan attachment yang signifikan. Pada pasien ini, meskipun ada poket gingival 4mm, konsistensi gingiva padat dan kenyal serta tidak mudah berdarah saat probing menunjukkan bahwa peradangan mungkin belum parah dan bisa jadi disebabkan oleh sisa-sisa kontaminan atau infeksi ringan pascapembersihan. Terapi yang lebih tepat seharusnya fokus pada instruksi kebersihan mulut yang lebih baik dan kontrol infeksi, tanpa memerlukan prosedur bedah yang lebih invasif seperti ENAP. ENAP juga memerlukan indikasi yang jelas mengenai adanya penyebaran penyakit periodontal, yang tidak terlihat dalam kasus ini.
- b.
Kuretase
Pembahasan Opsi b:Kuretase bukan terapi yang paling tepat pada kasus ini karena prosedur ini umumnya digunakan untuk mengangkat jaringan inflamasi atau sisa-sisa jaringan yang terdapat dalam kantong periodontal pada kasus periodontitis yang lebih berat. Dalam situasi ini, pasien memiliki poket gingival 4mm dengan konsistensi yang padat dan kenyal serta tidak ada tanda-tanda perdarahan saat probing, yang menunjukkan tidak adanya infeksi aktif. Terapi yang lebih tepat adalah pengawasan lanjutan dengan instruksi kebersihan mulut yang lebih baik atau tindakan non-bedah seperti scaling dan root planing jika diperlukan. Kuretase tidak hanya invasif tetapi juga tidak sesuai untuk kondisi gingivitis atau poket yang tidak menunjukkan infeksi yang parah.
- c.
Bedah flap
Pembahasan Opsi c:Jawaban "Bedah flap" kurang tepat karena prosedur ini umumnya digunakan untuk kasus penyakit periodontal yang lebih parah, di mana ada kerusakan jaringan dan tulang yang signifikan. Dalam kasus ini, pasien hanya menunjukkan poket gingival 4mm tanpa tanda-tanda infeksi yang jelas atau perdarahan saat probing, yang menunjukkan bahwa kondisi gusi belum cukup parah untuk memerlukan intervensi bedah. Bedah flap bertujuan untuk mengakses area di bawah jaringan gusi untuk pembersihan lebih lanjut atau regenerasi tulang, tetapi pada tahap ini, tindakan konservatif seperti scaling dan root planing, disertai dengan perawatan kebersihan mulut yang baik, seharusnya cukup untuk mengatasi pembengkakan dan mempromosikan penyembuhan. Jadi, treatment kebersihan yang lebih sederhana dan kurang invasif harus menjadi pilihan utama terlebih dahulu.
- d.
Deep scaling
Pembahasan Opsi d:Jawaban "Deep scaling" kurang tepat karena meskipun pembersihan karang gigi telah dilakukan, pembengkakan gusi yang masih ada menunjukkan adanya peradangan yang mungkin tidak sepenuhnya terkait dengan kalkulus atau karang gigi. Deep scaling adalah prosedur yang diindikasikan untuk menghilangkan plak dan kalkulus subgingival, tetapi dalam kasus ini, dengan tidak adanya indikasi infeksi yang lebih lanjut dan karena gingival berwarna coral pink serta tidak mudah berdarah, menunjukkan bahwa terapi lain seperti pengobatan topikal atau perubahan kebiasaan perawatan oral bisa lebih efektif. Oleh karena itu, pemantauan dan perawatan yang lebih konservatif mungkin lebih sesuai untuk mengatasi peradangan jaringan gingiva yang tertinggal.
- e.
Gingivektomi
Pembahasan Opsi e:Kasus ini mengarah pada gingival enlargement (pembesaran gingiva) yang bersifat fibrotik. Dari deskripsi, gingiva tampak padat, kenyal, coral pink, tidak mudah berdarah, dengan kedalaman poket semu 4 mm. Hal ini menunjukkan bukan lagi peradangan aktif, melainkan poket gingiva akibat hiperplasia jaringan fibrosa setelah inflamasi terkendali. Kondisi seperti ini tidak dapat diatasi hanya dengan scaling atau kuretase, karena sudah tidak ada deposit kalkulus maupun inflamasi aktif. Terapi yang tepat adalah gingivektomi, yaitu prosedur pembedahan untuk menghilangkan jaringan gingiva berlebih sehingga kontur gingiva kembali normal, memudahkan kebersihan, dan mengurangi kedalaman poket semu.
Soal 13
Seorang laki laki berusia 40 tahun datang ke RSGM dengan keluhan sakit pada gusi geraham bawah kiri sejak 1 minggu lalu. Pasien stress akibat seleksi polri dan mengalami penurunan BB 2 kg. Pasien memiliki kebiasaan merokok namun sudah berhenti sejak 6 bulan lalu. Pemeriksaan IO ditemukan pada gingiva anterior RB terdapat kemerahan, dan bentukan kawah, nyeri, kemerahan. Bagaimana mekanisme yang paling berperan terjadinya kasus di atas ?
- a.
Paparan zat rokok yang tertinggal di gingiva merangsang respon inflammatory
- b.
Hormone steroid tinggi yang memiliki reseptor di gingva dan merangsang vasodilatasi sehingga terjadi inflamasi
Pembahasan Opsi b:Kasus ini adalah seorang laki-laki berusia 40 tahun dengan keluhan nyeri pada gusi geraham bawah kiri, di mana pemeriksaan menunjukkan kemerahan dan bentuk kawah pada gingiva anterior, kemungkinan berkaitan dengan stres yang dialami pasien. Diagnosis yang tepat adalah gingivitis atau periodontitis yang dipicu oleh stres, yang dapat meningkatkan hormon steroid dalam tubuh, menyebabkan vasodilatasi dan inflamasi pada jaringan gingiva. Dalam situasi stres, peningkatan kadar steroid seperti kortisol dapat memicu respons inflamasi, yang memperparah kondisi gusi. Perawatan yang tepat termasuk pengelolaan kebersihan mulut, dan jika perlu, terapi antiradang untuk mengurangi inflamasi. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya faktor psikologis dalam kesehatan periodontal.
- c.
Kekurangan nutrisi terutama vitamin C dan B merangsang repon inflamasi dan bakteri menjadi semakin aktif
- d.
Kondisi imun yang turun menyebabkan pasien rentan terkena bakteri pathogen yang awalnya merupakan flora normal
- e.
Penurunan sel T terutama CD4 menyebabkan respon imun turun dan pasien rentan terinfeksi bakteri.
Soal 14
Mindy, seorang perempuan berusia 30 tahun datang ke RSGM Ummacademy dengan keluhan gusinya sering berdarah ketika menyikat gigi. Pemeriksaan klinis tampak kalkulus dan gingivitis pada regio anterior rahang atas dan bawah. Dokter gigi Umma melakukan perawatan menggunakan scaler elektronik pada Mindy. Apa prosedur kontrol infeksi yang paling tepat untuk instrumen pada kasus Mindy di atas?
- a.
Chemical sterilization
- b.
Sanitize with detergents
- c.
Rinsing with detergent
- d.
Heat sterilization
Pembahasan Opsi d:Mindy, seorang perempuan berusia 30 tahun, mengalami gingivitis dengan gejala gusi berdarah yang disebabkan oleh penumpukan kalkulus, sehingga memerlukan perawatan pembersihan menggunakan scaler elektronik. Diagnosis gingivitis ditandai dengan perdarahan gusi saat menyikat gigi dan adanya kalkulus. Dalam konteks prosedur kontrol infeksi, penggunaan heat sterilization untuk instrumen scaler elektronik adalah langkah yang tepat karena menghilangkan semua mikroorganisme, termasuk bakteri dan virus, yang berpotensi menular. Prosedur ini penting untuk mencegah infeksi silang dan melindungi kesehatan pasien serta tenaga medis.
- e.
Desinfection
Soal 15
Mindy, seorang pasien berusia 30 tahun datang ke klinik Dentapedia mengeluhkan gigi ngilu dan kelihatan bertambah panjang. Hasil anamnesis diketahui Mindy menggosok gigi 2 kali sehari dengan gerakan dari atas ke bawah. Hasil pemeriksaan intra oral terdapat resesi gingiva hampir seluruh gigi, poket absolut pada regio posterior RB, OHIs sedang. Sebelum perawatan, dokter gigi memberikan KIE tentang cara menyikat gigi yang benar. Apakah metode menyikat gigi yang disarankan pada kasus tersebut?
- a.
Roll
Pembahasan Opsi a:Metode menyikat gigi Roll tidak tepat karena meski gerakan ini mengajarkan menggosok dari gusi ke arah ujung gigi tanpa mengiritasi gusi secara langsung, tetapi tidak menekankan kepada penghapusan plak secara efektif dari area interdental. Dalam kasus Mindy yang mengalami resesi gingiva, penting untuk menggunakan teknik yang lebih lembut dengan penghapusan plak maksimal. Metode modifikasi Bass lebih disarankan karena dapat membersihkan area subgingiva dan interdental secara lebih efektif, serta mengurangi risiko trauma pada jaringan gusi. Metode ini mengajarkan sudut sikat 45 derajat terhadap gusi dengan gerakan getar lembut, sehingga cocok untuk kasus dengan resesi gingiva atau gusi sensitif.
- b.
Bass
Pembahasan Opsi b:Metode Bass direkomendasikan untuk membersihkan plak di sekitar garis gusi dengan memasukkan bulu sikat ke dalam sulkus gingiva pada sudut 45 derajat dan melakukan gerakan getaran kecil, efektif dalam mencegah penyakit periodontal. Namun, dalam kasus ini, Mindy mengalami resesi gingiva dan perlu mencegah kerusakan lebih lanjut pada gusi. Metode Bass bisa memperburuk resesi jika dilakukan dengan tekanan yang tidak tepat. Metode yang lebih sesuai adalah metode Stillman, yang juga melibatkan penempatan bulu sikat pada sudut tertentu tetapi menekankan pada pergerakan sikat gigi dari gingiva ke arah permukaan gigi, membantu mencegah dan meminimalisir trauma pada jaringan periodonsium yang sudah resesi. Perbedaan utama adalah fokus gerakan pada metode Stillman untuk menjaga kesehatan gingiva dengan lebih memperhatikan kondisi Mindy yang sudah mengalami resesi gingiva.
- c.
Stillman
Pembahasan Opsi c:Kasus Mindy menggambarkan seorang pasien berusia 30 tahun dengan keluhan gigi ngilu dan kelihatan bertambah panjang akibat resesi gingiva yang signifikan. Diagnosis awal adalah penyakit periodontal dengan resesi gingiva yang diindikasikan oleh poket absolut di daerah posterior rahang bawah. Ciri khas dari penyakit ini adalah teknik menyikat gigi yang salah, yang mana Mindy melakukan gerakan dari atas ke bawah, berpotensi memperburuk resesi. Perawatan yang tepat meliputi edukasi tentang teknik menyikat gigi yang benar dan direkomendasikan adalah metode Stillman yang membantu mengurangi resiko resesi gingiva lebih lanjut. Metode ini menekankan pada sikat gigi yang ditempatkan pada batas gusi dengan gerakan melingkar yang lembut, sehingga efektif dalam menjaga kesehatan periodontal.
- d.
Sirkular
Pembahasan Opsi d:Metode menyikat gigi secara sirkular, sering kali dikenal dengan gerakan melingkar, kurang tepat disarankan pada kasus resesi gingiva seperti yang dialami Mindy. Meski metode ini dapat membantu membersihkan permukaan gigi, gerakan melingkar mungkin tidak efektif dalam membersihkan plak pada tepi gusi dan bisa memperburuk resesi gingiva jika dilakukan dengan tekanan yang tidak tepat. Dalam kasus ini, metode Bass atau Modifikasi Bass lebih direkomendasikan. Metode ini memfokuskan pada membersihkan plak di sepanjang garis gusi dengan menempatkan bulu sikat pada sudut 45 derajat terhadap garis gusi dan menggunakan gerakan getaran lembut ke depan dan ke belakang, sehingga lebih efektif untuk mencegah resesi gingiva lebih lanjut dan meningkatkan kesehatan periodontal. Perbedaan utama antara metode sirkular dan Bass adalah orientasi dan gerakan bulu sikat terhadap garis gusi, di mana metode Bass lebih berfokus pada pencegahan penyakit periodontal.
- e.
Horizontal
Pembahasan Opsi e:Metode menggosok gigi secara horizontal adalah jawaban yang kurang tepat dalam kasus ini karena teknik ini cenderung menyebabkan abrasi gigi dan trauma pada gusi, yang dapat memperburuk kondisi resesi gingiva seperti yang dialami oleh Mindy. Gerakan horizontal dikenal juga dapat menyebabkan kerusakan pada enamel gigi akibat tekanan yang tidak merata. Dalam kasus ini, teknik Bass yang dimodifikasi adalah jawaban yang lebih tepat. Metode ini melibatkan gerakan goyang kecil dari atas ke bawah di sepanjang garis gusi, sehingga efektif dalam membersihkan plak dan mengurangi iritasi pada gusi yang resesif. Dibandingkan dengan teknik horizontal, metode Bass yang dimodifikasi memberikan pembersihan yang lebih efektif tanpa merusak jaringan gusi yang sensitif.
Terus Berlatih, Raih Impian Anda!
Perjalanan menuju gelar dokter gigi profesional memang penuh tantangan, namun dengan persiapan yang tekun dan strategi yang tepat, Anda pasti bisa meraihnya. Materi Periodonsia, seperti yang telah Anda alami dalam tryout ini, adalah fondasi penting yang harus dikuasai. Jangan pernah berhenti belajar dan mengasah kemampuan Anda. Setiap soal yang Anda kerjakan, setiap konsep yang Anda pahami, adalah satu langkah lebih dekat menuju kesuksesan di UKOMNAS PPDG 2026.
Ingatlah, konsistensi adalah kunci. Teruslah berlatih, manfaatkan semua fitur yang ditawarkan Umeds, dan jangan ragu untuk mengulang materi yang dirasa sulit. Kami percaya pada potensi Anda. Sampai jumpa di puncak kesuksesan, calon dokter gigi hebat!
Persiapkan UKOMNAS PPDG Kamu Bersama Umeds!
Belajar Jadi Dokter Hebat Cukup dalam Genggaman. Akses materi pembelajaran, video kuliah, dan latihan soal kapan saja di satu aplikasi.


