15 Soal dan Kunci Jawaban UKOMNAS PPDG Ortodonsia 2026

15 Soal dan Kunci Jawaban UKOMNAS PPDG Ortodonsia 2026

Mindy
Published on 9 Maret 2026

Persiapan UKOMNAS PPDG 2026: Kunci Sukses Calon Dokter Gigi Profesional

Halo, calon dokter gigi profesional! Tahun 2026 adalah momen krusial bagi Anda yang akan menghadapi Ujian Kompetensi Mahasiswa Program Profesi Dokter Gigi (UKOMNAS PPDG). Ujian ini bukan sekadar formalitas, melainkan gerbang utama menuju karier cemerlang di dunia kedokteran gigi. Persiapan yang matang dan strategi belajar yang tepat menjadi penentu keberhasilan Anda untuk meraih predikat kompeten.

Salah satu materi yang seringkali menjadi tantangan adalah Ortodonsia. Bidang ini mencakup diagnosis, pencegahan, dan perawatan maloklusi serta anomali dentofasial lainnya. Penguasaan konsep dasar hingga aplikasi klinis ortodonsia sangat vital, mengingat kompleksitas kasus dan perkembangan teknologi perawatan yang pesat. Memahami setiap detail materi Ortodonsia akan sangat membantu Anda dalam menjawab soal-soal UKOMNAS PPDG dengan percaya diri.

Untuk membantu Anda menaklukkan UKOMNAS PPDG, Umeds hadir sebagai solusi belajar terbaik. Kami memahami betul kebutuhan mahasiswa kedokteran gigi akan platform yang komprehensif, relevan, dan efektif. Dengan Umeds, persiapan Anda akan lebih terarah dan optimal, memastikan Anda siap menghadapi setiap jenis soal, termasuk yang berkaitan dengan Ortodonsia.

15 Latihan Soal dan Pembahasan UKOMNAS PPDG Ortodonsia

Soal 1

Mindy, seorang laki-laki berusia 14 tahun datang ke RS Ummacademy untuk merapikan letak giginya. Gigi 13 dan 23 terletak mesioinklinasi dan di luar lengkung. Terdapat diastema diantara 14, 24 dan 22, 24 sebesar 2 mm. Diskrepansi rahang atas kekurangan tempat 12 mm. Bagaimanakah cara penyediaan ruangan koreksi caninus atas?

  • a.

    Stripping enamel kaninus

    Pembahasan Opsi a:

    Pilihan jawaban "Stripping enamel kaninus" kurang tepat untuk kasus ini karena stripping atau pengurangan enamel gigi dilakukan dengan tujuan untuk menciptakan ruang kecil di antara gigi-gigi yang berdekatan, tetapi tidak cukup untuk mengatasi diskrepansi besar seperti 12 mm. Stripping pada kaninus juga dapat mempengaruhi integritas struktur gigi yang kuat dan produksi ruang yang dibutuhkan tidak akan cukup signifikan. Metode yang lebih tepat dalam kasus ini adalah dengan pencabutan premolar, karena ini lebih efektif dalam menyediakan ruang yang diperlukan untuk pergerakan dan pelurusan gigi. Pencabutan premolar dapat memberikan jumlah ruang yang cukup besar dengan memanfaatkan penutupan diastema yang sudah ada dan penempatan aliran gigi yang lebih tertib.

  • b.

    Pencabutan premolar 1 kanan dan kiri atas

    Pembahasan Opsi b:

    Dalam kasus ini, Mindy adalah seorang remaja yang mengalami maloklusi dengan gigi 13 dan 23 yang mesioinklusi serta terdapat diastema di gigi-gigi anterior. Diagnosis menunjukkan adanya kekurangan ruang di rahang atas sebesar 12 mm, yang mengindikasikan perlunya intervensi ortodontik untuk memperbaiki letak gigi. Ciri khas diastema dan letak gigi yang tidak teratur menandakan adanya ketidakcocokan antara ukuran gigi dan ruang yang tersedia. Solusi untuk penyediaan ruang koreksi caninus atas adalah dengan mencabut kedua premolar 1 kanan dan kiri atas untuk memberikan ruang yang cukup bagi gigi caninus untuk erupsi serta menciptakan garis senyum yang harmonis. Oleh karena itu, penting untuk mempertimbangkan analisis ruang dan hubungan gigi saat merencanakan perawatan ortodontik.

  • c.

    Ekspansi transversal anterior

    Pembahasan Opsi c:

    Ekspansi transversal anterior cenderung kurang tepat untuk kasus ini karena pendekatan ini lebih berfokus pada perluasan lebar lengkung rahang depan dan mungkin tidak cukup untuk mengatasi kasus diskrepansi ruang sebesar 12 mm yang dialami Mindy. Ekspansi transversal biasanya efektif untuk mengoreksi lengkung rahang yang sempit tetapi kurang efisien untuk menangani masalah kekurangan ruang yang signifikan. Sebagai perbandingan, pencabutan selektif atau distalization lebih tepat, karena metode ini secara langsung menambah ruang dengan menggeser gigi ke tempat yang lebih tepat atau dengan menghilangkan gigi tertentu untuk menciptakan ruang tambahan. Fungsi dari metode tepat tersebut adalah untuk menyeimbangkan susunan gigi dan membentuk lengkung rahang yang lebih simetris serta harmonis.

  • d.

    Ekspansi transversal posterior

    Pembahasan Opsi d:

    Pilihan "ekspansi transversal posterior" kurang tepat untuk kasus pengaturan ruangan bagi caninus atas Mindy karena pendekatan ini lebih sesuai untuk memperbaiki masalah ketidaksejajaran atau kekurangan ruang di area posterior, bukan di anterior seperti kasus ini. Ekspansi transversal posterior bertujuan memperluas area tarkhanya bisa dilakukan pada kasus dengan diskrepansi transversal. Di kasus ini, tantangannya adalah mesioinklinasi pada gigi 13 dan 23 serta diastema yang lebih membutuhkan penanganan pergerakan gigi secara individual, rekontur, atau pengangkatan gigi untuk menciptakan ruang. Solusi yang lebih tepat adalah menambah ruang di anterior melalui stripping, atau dalam beberapa kasus, dengan mencabut beberapa gigi untuk mengakomodasi letak gigi secara tepat tanpa menyebabkan overload di restoran gigi posterior.

  • e.

    Ekspansi sagittal anterior

    Pembahasan Opsi e:

    Metode ekspansi sagittal anterior tidak tepat untuk kasus ini karena teknik tersebut umumnya digunakan untuk memperluas dimensi anteroposterior rahang, bukan untuk mengatasi kekurangan tempat akibat diskrepansi rahang lateral atau transversal. Dalam kasus ini, ketidakcukupan ruang sebesar 12 mm di rahang atas memerlukan strategi yang lebih fokus pada menambah ruang secara transversal atau mengurangi ukuran antara gigi-gigi yang berdekatan. Ekspansi sagittal tidak secara efektif memperluas ruang lateral bagi gigi caninus yang memerlukan reposisi. Sebaliknya, alternatif seperti ekstraksi gigi atau penggunaan appliance ortodontik yang meningkatkan ruang lateral lebih sesuai dan efektif dalam menangani masalah diskrepansi ruang rahang dengan memenuhi kebutuhan realokasi ruang untuk gigi 13 dan 23 yang mesioinklinasi.

Kunci Jawaban yang Benar: b

Soal 2

Mindy, seorang laki-laki berusia 35 tahun datang ke RSGM Ummacademy untuk melakukan perawatan ortodonti. Dokter gigi Umma perlu menentukan diagnosis skeletal untuk menentukan perawatan yang tepat. Apakah teknik radiografi yang tepat untuk dilakukan pada kasus tersebut?

  • a.

    Lateral skull

    Pembahasan Opsi a:

    Mindy, pria 35 tahun, memerlukan diagnosis skeletal sebelum perawatan ortodonti, yang memerlukan pemilihan teknik radiografi yang tepat, yakni lateral skull, untuk memberikan gambaran komprehensif tentang hubungan antara rahang atas dan bawah serta struktur lainnya. Teknik ini memungkinkan dokter gigi untuk mengevaluasi bentuk dan posisi tulang tengkorak serta hubungannya dengan gigi, penting untuk merencanakan perawatan ortodonti yang sesuai dengan kondisi skeletal pasien. Penilaian ini membantu dalam menentukan keperluan intervensi lebih lanjut, seperti penggunaan alat ortodonti atau kemungkinan perlunya pembedahan ortognatik, tergantung pada hasil analisis radiografi.

  • b.

    Reverse towne

  • c.

    Lateral oblique

  • d.

    Posteroanterior cephalometric

  • e.

    Submentovertex

Kunci Jawaban yang Benar: a

Soal 3

Pasien laki-laki usia 11 tahun ingin merapikan giginya. Pada pemeriksaan tampak gigi 31, 32, 41, 42 retroklinasi dan berjejal ringan, overbite 4mm overjet 4 mm, diskrepansi RB -3 mm. Pertanyaan: Apa metode yang paling tepat untuk mendapatkan ruang pada kasus tersebut?

  • a.

    Distalisasi molar

    Pembahasan Opsi a:

    Distalisasi molar adalah metode ortodontik yang melibatkan pergerakan gigi molar ke arah distal atau ke belakang untuk menciptakan ruang di lengkung gigi. Metode ini sering digunakan ketika ada kebutuhan untuk merapikan gigi di rahang atas, tetapi kurang tepat dalam kasus ini karena kondisi gigi 31, 32, 41, 42 yang mengalami retroklinasi dan berjejal ringan. Kondisi ini lebih menuntut pendekatan yang dapat mengatasi diskrepansi ruang di lengkung anterior mandibula. Pada kasus ini, metode yang lebih tepat mungkin adalah pemotongan atau pemendekan gigi anterior secara selektif (interproximal reduction) atau menggunakan alat distalizing arches atau elastics untuk merapikan gigi berjejal. Distalisasi pada rahang bawah cenderung kurang efektif karena kurangnya tahanan struktural alami dibandingkan rahang atas, sehingga metode ini tidak optimal untuk kasus yang diberikan.

  • b.

    Ekspansi anterior simetris

    Pembahasan Opsi b:

    Ekspansi anterior simetris adalah metode yang sering digunakan untuk mengatasi kasus diskrepansi ruang dengan meningkatkan lebar lengkung gigi bagian anterior secara simetris. Namun, metode ini kurang tepat untuk kasus pasien ini karena adanya retroklinasi pada gigi 31, 32, 41, 42 serta adanya diskrepansi ruang sebesar -3 mm. Ekspansi anterior simetris tidak akan efektif dalam mengatasi retroklinasi atau berjejal yang memerlukan ruang yang lebih spesifik untuk meluruskan gigi. Metode ini lebih cocok untuk mengatasi situasi di mana masalah utama terletak pada penyempitan lebar lengkung gigi daripada kekurangan ruang secara signifikan. Solusi yang lebih tepat pada kasus seperti ini mungkin melibatkan ekstraksi gigi atau pemotongan stripping untuk menghasilkan ruang tambahan yang lebih spesifik pada area yang memerlukan koreksi.

  • c.

    Stripping/slicing proksimal gigi

    Pembahasan Opsi c:

    Stripping dilakukan dengan mengurangi sedikit email proksimal gigi untuk menciptakan ruang. Namun, ini lebih cocok untuk pasien dewasa dengan kontak gigi rapat dan enamel cukup tebal. Pada anak usia 11 tahun, stripping tidak dianjurkan karena email relatif tipis.

  • d.

    Proklinasi/protraksi gigi anterior

    Pembahasan Opsi d:

    Pada kasus crowding ringan dengan gigi bawah retroklinasi, proklinasi gigi anterior memberikan ruang tambahan sekitar 1–2 mm, sekaligus memperbaiki posisi gigi. Ini metode paling tepat karena sesuai dengan kondisi pasien dan tidak memerlukan ekstraksi atau tindakan invasif.

  • e.

    Ekspansi transversal anterior lengkung gigi

    Pembahasan Opsi e:

    Metode "ekspansi transversal anterior lengkung gigi" memang dapat menciptakan ruang dengan memperlebar diameter lengkung gigi. Namun, pada kasus ini, di mana diskrepansi ruang yang terjadi adalah -3 mm dengan kondisi retroklinasi dan berjejal, metode ini mungkin tidak cukup efektif. Ekspansi lebih mungkin digunakan pada kasus dengan kebutuhan ruang lebih besar dan tidak melibatkan gigi retroklinasi. Selain itu, risiko resorpsi akar dan berkurangnya stabilitas hasil akhir menjadi pertimbangan. Perbedaan utama dengan jawaban yang benar—yang mungkin termasuk "ekstraksi gigi" atau "permak kultur pendukung"—adalah bahwa metode tersebut secara langsung menciptakan ruang melalui pengurangan jumlah gigi atau modifikasi susunan jaringan pendukung gigi, sehingga lebih sesuai untuk mengatasi keterbatasan ruang yang spesifik dan sering lebih efektif dalam kasus diskrepansi ruang seperti ini.

Kunci Jawaban yang Benar: d

Soal 4

Mindy, seorang anak perempuan berusia 7 tahun datang ke RS Ummacademy diantar ibunya dengan keluhan gigi depan atas dan bawah tidak teratur. Hasil pemeriksaan intraoral menunjukkan hubungan molar kelas I Angle. Sebelum dilakukan perawatan dokter gigi Umma menghitung kebutuhan ruang dengan memisahkan gigi-gigi dari model studi dan menyusun kembali pada lengkung yang benar. Metode apakah yang digunakan untuk mengetahui kebutuhan ruang kasus tersebut?

  • a.

    Metode Simon

    Pembahasan Opsi a:

    Metode Simon bukanlah metode yang tepat untuk menghitung kebutuhan ruang dalam kasus ortodontik. Metode Simon lebih berkaitan dengan analisis kebiasaan dan fungsi oral, bukan untuk evaluasi ruang pada ortodontik. Dalam kasus ini, metode yang lebih tepat digunakan adalah Bolton Analysis atau arch length analysis. Bolton Analysis membantu dalam menentukan ketidaksesuaian ukuran antara gigi rahang atas dan bawah, serta mendapatkan gambaran lebih akurat tentang proporsi gigi, sedangkan arch length analysis membandingkan panjang lengkung yang ada dengan kebutuhan ruang yang diperlukan untuk menampung semua gigi dengan rapi. Perbedaan mendasar antara metode Simon dengan metode yang tepat adalah fokus utamanya; metode Simon bukan untuk analisa ruang ortodontik, sedangkan Bolton dan arch length adalah metode yang secara spesifik dirancang untuk mengukur dan mengevaluasi kebutuhan ruang pada kasus-kasus ortodontik.

  • b.

    Metode Kesling 

    Pembahasan Opsi b:

    Kasus ini melibatkan Mindy, seorang anak berusia 7 tahun dengan keluhan gigi depan yang tidak teratur dan pemeriksaan menunjukkan hubungan molar kelas I Angle, yang menandakan normalitas dalam hubungan gigi posterior. Diagnosis awal kemungkinan adanya crowding pada gigi anterior. Untuk mengetahui kebutuhan ruang, dokter gigi umumnya menggunakan metode Kesling, yang melibatkan pembuatan model studi dan penataan gigi pada lengkung yang benar untuk memprediksi pergerakan gigi dan menentukan apakah ada ruang yang cukup untuk gigi permanen. Metode ini penting dalam perencanaan perawatan ortodontik untuk mencapai hasil estetik dan fungsi yang optimal.

  • c.

    Metode Pont 

    Pembahasan Opsi c:

    Metode Pont dianggap kurang tepat dalam kasus Mindy karena metode ini digunakan untuk mengukur rasio ideal antara lebar gigi anterior rahang atas dengan lebar rahang atas, bukan untuk menghitung kebutuhan ruang dengan menyusun kembali gigi pada lengkung yang benar. Metode ini mengandalkan lebar gigi premolar pertama dan tidak secara langsung terkait dengan penataan ulang seluruh lengkung gigi. Alternatif yang lebih tepat adalah metode analisis ruang seperti metode Moyers atau Bolton yang secara khusus dirancang untuk menilai kebutuhan ruang secara keseluruhan terkait susunan deret gigi. Dengan kata lain, meskipun metode Pont memberikan informasi penting tentang proporsi gigi, untuk kasus memerlukan penataan ulang lengkung seperti pada Mindy, diperlukan pendekatan yang mempertimbangkan keseluruhan susunan gigi dalam hubungannya dengan ruang tersedia.

  • d.

    Metode Thompson dan Brodie 

    Pembahasan Opsi d:

    Metode Thompson dan Brodie adalah pendekatan yang digunakan untuk menganalisis hubungan gigi secara lebih detail dan struktural, tetapi tidak secara spesifik ditujukan untuk menghitung kebutuhan ruang dalam kasus ketidakteraturan gigi. Metode ini cenderung lebih fokus pada hubungan lengkung gigi dalam dimensi kraniofasial secara menyeluruh. Dalam konteks kasus ini, di mana tujuan utamanya adalah menghitung kebutuhan ruang untuk penataan gigi yang lebih baik, metode yang lebih tepat adalah Metode Model Analysis, seperti Analisis Moyers atau Analisis Bolton. Metode ini memberikan taksiran yang lebih spesifik mengenai panjang lengkung gigi dan kesesuaian ukurannya dengan ruang yang tersedia, sehingga lebih cocok digunakan untuk kasus ketidakteraturan gigi seperti yang dialami Mindy. Dengan demikian, perbedaan utama terletak pada fokus dan tujuan analisis dari masing-masing metode tersebut.

  • e.

    Metode Howes 

    Pembahasan Opsi e:

    Metode Howes merupakan teknik untuk mengukur dan menganalisis dimensi dental arch tanpa memerlukan model gigi terpisah, yaitu dengan menggunakan indeks lebar lengkung dental. Metode ini kurang tepat untuk menentukan kebutuhan ruang secara langsung dengan memisahkan dan menyusun ulang gigi-gigi pada model studi. Pada kasus Mindy, metode yang lebih tepat adalah analisis model, seperti Metode Bolton atau Metode Tanaka-Johnston, yang lebih fokus pada pemisahan model gigi untuk menentukan ketidaksesuaian ruang dan susunan gigi secara akurat. Dalam kasus ini, perbedaan utama adalah pendekatan Metode Howes yang lebih cocok untuk analisis lebar lengkung, sementara kasus ini menuntut pengukuran dan perencanaan ruang yang presisi melalui analisis model studi.

Kunci Jawaban yang Benar: b

Soal 5

Mindy, seorang perempuan berusia 9 tahun datang diantar ibunya ke RSGM Umeds dengan keluhan gigi depan atas maju dan ingin dirapikan. Pemeriksaan ekstra oral profil muka cembung dan bibir inkompeten. Pemeriksaan intra oral relasi molar kanan dan kiri distooklusi, overjet 7 mm dan overbite 4mm. Analisis sefalometri SNA 82 dan SNB 77. Apakah alat modifikasi pertumbuhan yang tepat pada kasus tersebut?

  • a.

    Frankel type 3

  • b.

    Headgear

  • c.

    Facemask

  • d.

    Mouthmask

  • e.

    Activator

    Pembahasan Opsi e:

    Mindy, seorang anak perempuan berusia 9 tahun, menunjukkan keluhan gigi depan atas yang maju dengan profil muka cembung dan bibir inkompeten, serta hasil pemeriksaan menunjukkan distooklusi pada relasi molar dan overjet 7 mm dengan overbite 4 mm, membuat diagnosis ortodontik mengarah pada adanya maloklusi kelas II. Ciri khas dari kasus ini adalah adanya pertumbuhan wajah yang tidak seimbang serta relasi gigi yang tidak normal, sehingga penggunaan alat ortodontik modifikasi pertumbuhan seperti activator menjadi pilihan yang tepat untuk membantu memperbaiki posisi gigi dan rahang. Alat ini bekerja dengan cara merangsang pertumbuhan rahang bawah dan mengurangi overjet, ideal untuk anak-anak pada masa pertumbuhan seperti Mindy.

Kunci Jawaban yang Benar: e

Soal 6

Mindy, seorang anak laki-laki usia 9 tahun diantar ibunya ke dokter gigi Umma dengan keluhan gigi belakang kanan belum tumbuh setelah gigi susunya dicabut 3 bulan yang lalu. Pemeriksaan intra oral, edentulous di regio 55 sedangkan 15 belum erupsi. Pemeriksaan radiografi benih gigi 15 masih dalam tulang alveolar. Dokter gigi Umma merencanakan pembuatan alat space maintainer. Perhitungan ruang yang dilakukan menggunakan metode moyers. Apakah gigi yang dipergunakan sebagai prediktor pada kasus diatas?

  • a.

    51, 52, 61, 62

    Pembahasan Opsi a:

    Jawaban "51, 52, 61, 62" kurang tepat untuk kasus ini karena gigi yang digunakan sebagai prediktor pada metode Moyers adalah gigi-geligi insisivus permanen, terutama gigi insisivus mandibula. Pada metode Moyers, digunakan lebar gigi insisivus rahang bawah (mandibula) permanen untuk memprediksi besarnya ruang yang dibutuhkan bagi gigi kaninus dan premolar permanen di kedua lengkung rahang. Gigi 51, 52, 61, dan 62 adalah gigi insisivus sulung (deciduous) rahang atas, yang tidak relevan dalam metode prediksi ini. Oleh karena itu, jawaban yang benar akan melibatkan gigi 31, 32, 41, dan 42 sebagai prediktor yang digunakan pada metode Moyers untuk menentukan kebutuhan ruang penggantian gigi permanen. Penggunaan gigi insisivus rahang bawah membantu memperoleh estimasi yang lebih akurat untuk merencanakan perawatan ortodontik atau manajemen ruang berkembang bagi gigi permanen.

  • b.

    71, 72, 81, 82

    Pembahasan Opsi b:

    Jawaban tersebut kurang tepat karena gigi-gigi 71, 72, 81, dan 82 adalah gigi insisif sulung rahang bawah yang tidak digunakan sebagai prediktor dalam metode Moyers. Metode Moyers adalah teknik prediksi ruang yang menggunakan ukuran lebar mesio-distal gigi insisif tetap rahang bawah, yaitu 31, 32, 41, dan 42, untuk memperkirakan lebar gigi premolar dan kaninus permanen yang belum erupsi. Fungsi dari metode Moyers adalah untuk menentukan kebutuhan ruang dalam rahang dan membantu dalam perencanaan perawatan ortodontik dan pembuatan space maintainer. Dalam kasus Mindy, seharusnya ukuran dari gigi insisif permanen yang digunakan untuk mendapatkan prediksi akurat akan ruang yang diperlukan untuk erupsi gigi 15, sementara gigi 71, 72, 81, 82 tidak bisa digunakan untuk tujuan tersebut karena bukan merupakan gigi permanen yang relevan untuk perhitungan tersebut.

  • c.

    11, 12, 21, 22

    Pembahasan Opsi c:

    Penggunaan gigi 11, 12, 21, 22 sebagai prediktor dalam metode Moyers tidak tepat karena metode ini menggunakan gigi posterior sebagai acuan. Metode Moyers bertujuan untuk memprediksi ukuran gigi permanen caninus dan premolar yang belum erupsi dengan memanfaatkan pengukuran lebar mesiodistal beberapa gigi anterior bawah yang sudah erupsi, biasanya gigi insisif rahang bawah. Gigi 11, 12, 21, 22 adalah gigi insisif rahang atas dan tidak relevan dengan perhitungan Moyers. Pemahaman ini penting dalam keputusan pengelolaan ruang pada kasus anak-anak, terutama dalam kasus gigi permanen belum erupsi setelah gigi susu dicabut, seperti pada kasus Mindy. Jawaban yang benar kemungkinan melibatkan gigi insisif rahang bawah, seperti 31, 32, 41, dan 42.

  • d.

    31, 32, 41, 42

    Pembahasan Opsi d:

    Kasus ini melibatkan Mindy, seorang anak berusia 9 tahun dengan keluhan gigi belakang kanan (regio 55) yang belum tumbuh setelah pencabutan gigi susu, sementara gigi permanen (regio 15) belum erupsi dan benih gigi terlihat masih dalam tulang alveolar. Diagnosis yang mungkin dihadapi adalah keterlambatan erupsi gigi permanen akibat kehilangan premolar susu yang harus diantisipasi agar tidak terjadi masalah yang lebih besar seperti crowding. Untuk menghindari masalah ruang, dokter gigi merencanakan penggunaan alat space maintainer dan menghitung ruang yang diperlukan dengan metode Moyers, yang mengandalkan ukuran gigi yang sudah erupsi untuk memprediksi ukuran gigi yang akan muncul. Pada kasus ini, gigi yang digunakan sebagai prediktor adalah gigi 31, 32, 41, dan 42, yang merupakan premolar susu dan akan memberikan informasi tepat tentang ruang yang diperlukan untuk gigi permanen yang akan datang.

  • e.

    14, 24, 34, 44

    Pembahasan Opsi e:

    Jawaban yang disebutkan di atas yaitu 14, 24, 34, 44 kurang tepat karena gigi-gigi tersebut merupakan gigi kaninus permanen dari rahang atas dan bawah. Metode Moyers digunakan untuk memprediksi ukuran mesiodistal dari gigi premolar dan kaninus permanen yang belum erupsi menggunakan pengukuran gigi insisivus permanen di mandibula. Pada kasus ini, pengukuran seharusnya dilakukan dengan menggunakan gigi insisivus mandibula, karena prediksi biasanya dilakukan berdasarkan gigi yang sudah erupsi di rahang bawah. Gigi insisivus permanen mandibula sebagai prediktor memiliki korelasi yang lebih baik dalam prakiraan ruang untuk gigi yang belum tumbuh dibandingkan dengan gigi-gigi yang disebutkan.

Kunci Jawaban yang Benar: d

Soal 7

Seorang anak perempuan berusia 10 tahun datang ke poli gigi untuk merapikan giginya. Pemeriksaan ekstra oral tampak wajah mesofasial dan seimbang, serta profil lurus dan tidak ada kebisaan buruk. Pemeriksaan intra oral tidak ditemukan adanya kelainan pada gigi geliginya, hanya dijumpai crowding geligi anterior. Berdasarkan ruang yang dibutuhkan maka perawatan tidak membutuhkan adanya pencabutan. Analisa sefalometri menunjukkan sudut ANB 3⁰ (normal 2⁰-4⁰) dengan inklinasi gigi insisivus atas dan bawah normal. Prognosis kasus ini baik. Faktor-faktor apa saja yang perlu dipertimbangkan dalam menentukan prognosis kasus di atas?

  • a.

    Fisher screw

    Pembahasan Opsi a:

    Kasus ini melibatkan seorang anak perempuan berusia 10 tahun dengan crowding pada gigi anterior dan sefalometri menunjukkan sudut ANB normal, yang menunjukkan hubungan rahang yang seimbang. Diagnosis utama adalah crowding gigi anterior tanpa perlu pencabutan. Dalam perawatan ortodonti, penting untuk mempertimbangkan faktor-faktor seperti usia pasien, pertumbuhan dan perkembangan wajah, kehadiran kebiasaan buruk, serta kondisi gigi dan jaringan periodontal yang ada. Penggunaan alat seperti Fisher screw dapat membantu memperbaiki posisi gigi tanpa menyebabkan masalah lebih lanjut, dengan prognosis yang baik karena kondisi rahang dan inklinasi gigi normal.

  • b.

    Glen Ross screw 

  • c.

    Badcock screw

  • d.

    Wipla screw

  • e.

    Coffin screw

Kunci Jawaban yang Benar: a

Soal 8

Pasien datang ke dokter gigi ingin dilakukan perawatan pada giginya yang berantakan. Pada anamnesis didapati bahwa pasien memiliki kebiasaan thumb sucking. Ciri apakah yang dapat menyertai kebiasaan pasien tersebut?

  • a.

    Gigi atas rapi

    Pembahasan Opsi a:

    Jawaban "gigi atas rapi" kurang tepat karena kebiasaan thumb sucking umumnya menyebabkan ketidakrapian pada gigi atas. Ketika anak-anak mengisap jempol, tekanan yang diterima oleh gigi depan atas dapat menyebabkan gigi tersebut bergerak ke depan atau ke arah luar, menimbulkan masalah ortodontik seperti overjet yang meningkat dan maloklusi. Definisi thumb sucking sendiri adalah kebiasaan menjilat atau mengisap jempol yang sering ditemui pada anak, dan dapat berlanjut hingga dewasa jika tidak dihentikan. Dengan demikian, ciri yang lebih umum menyertai kebiasaan ini adalah ketidakrapian gigi, bukan sebaliknya.

  • b.

    Gigi atas retrusi

    Pembahasan Opsi b:

    Jawaban "Gigi atas retrusi" kurang tepat karena kebiasaan thumb sucking biasanya menyebabkan gigi atas mengalami proklusi atau menonjol ke depan, bukan retrusi. Thumb sucking dapat mengubah posisi gigi dan akibatnya dapat menyebabkan maloklusi. Fungsi normal gigi tidak hanya berkaitan dengan estetika, tetapi juga dengan fungsi pengunyahan dan bicara. Pembedaannya terletak pada kondisi hasil yang dihasilkan dari kebiasaan tersebut; proklusi gigi anterior lebih umum terjadi akibat tekanan yang konstan dari jari yang dimasukkan ke dalam mulut, sedangkan retrusi lebih umum pada kondisi yang berbeda, seperti penggunaan alat orthodontik yang tidak tepat atau terhadap gaya tekan yang berbeda.

  • c.

    Palatum rendah

    Pembahasan Opsi c:

    Jawaban "palatum rendah" kurang tepat karena kebiasaan thumb sucking umumnya berhubungan dengan pembentukan palatum tinggi atau palatum yang terlalu sempit, yang dapat mengakibatkan maloklusi dan perubahan posisi gigi. Palatum rendah biasanya tidak menjadi karakteristik dari thumb sucking, melainkan dapat terkait dengan faktor lain seperti pertumbuhan tulang rahang yang normal atau defisiensi dalam perkembangan orofasial. Oleh karena itu, saat mempertimbangkan dampak kebiasaan thumb sucking, penting untuk memahami bahwa ciri yang lebih umum terkait adalah palatum tinggi dan perubahan occlusion, bukan palatum rendah.

  • d.

    Otot buccinator hipertonus 

    Pembahasan Opsi d:

    Kasus ini melibatkan seorang pasien dengan kebiasaan thumb sucking yang dapat menyebabkan maloklusi dan perubahan bentuk wajah. Diagnosis yang mungkin adalah distorsi oklusi terkait dengan kebiasaan oral yang tidak sehat. Ciri khas dari thumb sucking termasuk otot buccinator yang hipertonus, di mana otot ini berkontraksi lebih dari biasanya akibat tekanan yang terus-menerus dari jari. Perawatan yang disarankan meliputi intervensi ortodontik untuk memperbaiki susunan gigi dan memberi edukasi pada pasien untuk mengurangi kebiasaan tersebut. Hal lain yang perlu dipertimbangkan adalah potensi dampak psikologis dan sosial dari kebiasaan ini, yang dapat mempengaruhi perawatan jangka panjang.

  • e.

    Gigi bawah protrusi

    Pembahasan Opsi e:

    Jawaban "gigi bawah protrusi" kurang tepat karena kebiasaan thumb sucking biasanya menghasilkan gigi atas yang lebih protrusi atau maju dibandingkan gigi bawah. Protrusi gigi bawah lebih mungkin disebabkan oleh faktor lain seperti pertumbuhan yang tidak seimbang atau kebiasaan buruk lain. Thumb sucking dapat menyebabkan maloklusi, terutama peningkatan overjet, di mana gigi depan atas bergerak maju akibat tekanan jari. Jadi, jika pasien mengalami thumb sucking, yang lebih mungkin terjadi adalah gigi atas yang protrusi, sedangkan gigi bawah justru bisa normal atau retrusi.

Kunci Jawaban yang Benar: d

Maksimalkan Persiapan UKOMNAS PPDG Anda Bersama Umeds!

Setelah mencoba beberapa soal latihan Ortodonsia, apakah Anda merasa perlu bimbingan lebih lanjut? Jangan khawatir! Umeds adalah platform belajar terdepan yang dirancang khusus untuk kesuksesan UKOMNAS PPDG Anda. Kami menyediakan tryout online interaktif, dilengkapi dengan video pembahasan soal mendalam yang akan membantu Anda memahami konsep sulit dengan lebih mudah. Selain itu, bank soal kami yang lengkap mencakup ribuan soal dari berbagai materi, termasuk Ortodonsia, memastikan Anda siap menghadapi variasi soal apa pun.

Di Umeds, Anda tidak hanya belajar dari soal, tetapi juga mendapatkan pemahaman komprehensif melalui kelas interaktif yang dibimbing oleh para ahli. Khusus untuk materi Ortodonsia, kami menyajikan materi secara sistematis, dari diagnostik hingga rencana perawatan, agar Anda benar-benar menguasai topik ini. Jangan tunda lagi, bergabunglah dengan ribuan calon dokter gigi sukses lainnya di Umeds dan wujudkan impian Anda menjadi dokter gigi kompeten di tahun 2026!

Soal 9

Mindy, seorang anak berusia 12 tahun diantar ibunya datang ke RSGM Ummacademy dengan keluhan gigi tidak rapi. Hasil pemeriksaan diketahui Mindy memiliki polip hidung. Pemeriksaan intra oral didapatkan diastema, protrusif rahang atas, open bite, gingiva kemerahan. Apa kemungkinan penyebab maloklusi pada kasus tersebut? 

  • a.

    Lip sucking

  • b.

    Mouth breathing

    Pembahasan Opsi b:

    Mindy, seorang anak usia 12 tahun dengan keluhan gigi tidak rapi, menunjukkan tanda-tanda maloklusi seperti diastema, protrusif rahang atas, dan open bite, serta memiliki riwayat polip hidung, yang kemungkinan besar menyebabkan dia bernafas melalui mulut (mouth breathing). Kondisi ini dapat menyebabkan gangguan posisi gigi dan pertumbuhan rahang yang tidak optimal, serta inflamasi pada gingiva yang terlihat kemerahan. Diagnosis utama yang perlu dipertimbangkan adalah efek dari kebiasaan bernapas melalui mulut terhadap perkembangan gigi dan alveolus, yang membuat mouth breathing sebagai penyebab utama maloklusi pada kasus ini. Penanganan yang dapat dilakukan adalah memperbaiki kebiasaan pernapasan dan mempertimbangkan perawatan ortodontik untuk memperbaiki posisi gigi dan hubungan rahang yang tidak sesuai.

  • c.

    Finger sucking

  • d.

    Tongue thrusting 

  • e.

    Cheek biting

Kunci Jawaban yang Benar: b

Soal 10

Mindy, anak perempuan berusia 10 tahun datang ke RSGM Ummacademy diantar ibunya dengan keluhan gigi depan atas tumpang tindih dan terdapat gigi di daerah langit-langit. Hasil anamnesis Mindy pernah melakukan operasi celah bibir di usia 3 bulan dan operasi celah langit-langit di usia 2 tahun. Apakah dampak dari operasi pada kasus tersebut?

  • a.

    Penyempitan lebar lengkung maksila

    Pembahasan Opsi a:

    Mindy, anak perempuan berusia 10 tahun, mengalami tumpang tindih gigi depan atas dan gigi di daerah langit-langit setelah menjalani operasi celah bibir dan celah langit-langit, yang menunjukkan adanya perubahan morfologi pada lengkung maksila. Diagnosis yang mungkin adalah maloklusi akibat penyempitan lebar lengkung maksila, yang sering terjadi pada pasien setelah operasi celah, di mana jaringan lunak dan struktur tulang tidak berkembang optimal akibat cedera atau intervensi bedah. Ciri khas dari masalah ini adalah pertumbuhan gigi yang terpengaruh dan posisi gigi yang tidak ideal. Perawatan yang diperlukan dapat berupa ortodonti untuk memperbaiki posisi gigi dan memperlebar lengkung maksila guna mencapai occlusion yang baik. Hal lain yang perlu diperhatikan adalah pentingnya pemantauan perkembangan gigi dan tulang wajah pada pasien dengan riwayat celah untuk memastikan intervensi yang tepat waktu.

  • b.

    Kecenderungan distraksi maksila

  • c.

    Penyempitan lebar lengkung mandibula

  • d.

    Kecenderungan distraksi mandibula

  • e.

    Kecenderungan multiple diastema di maksila

Kunci Jawaban yang Benar: a

Soal 11

Seorang anak perempuan berusia 10 tahun datang ke poli gigi untuk merapikan giginya. Pemeriksaan ekstra oral tampak wajah mesofasial dan seimbang, serta profil lurus dan tidak ada kebisaan buruk. Pemeriksaan intra oral tidak ditemukan adanya kelainan pada gigi geliginya, hanya dijumpai crowding geligi anterior. Berdasarkan ruang yang dibutuhkan maka perawatan tidak membutuhkan adanya pencabutan. Analisa sefalometri menunjukkan sudut ANB 3⁰ (normal 2⁰-4⁰) dengan inklinasi gigi insisivus atas dan bawah normal. Prognosis kasus ini baik. Faktor-faktor apa saja yang perlu dipertimbangkan dalam menentukan prognosis kasus di atas?

  • a.

    Usia pasien, kooperatif pasien, jenis kelamin dan maloklusi

    Pembahasan Opsi a:

    Jawaban tersebut kurang tepat karena terlalu sempit: usia dan kooperatif memang berpengaruh, tetapi “jenis kelamin” tidak berdampak langsung pada keberhasilan, dan “maloklusi” terlalu umum tanpa menilai etiologi serta derajat keparahan. Prognosis ortodonti adalah perkiraan kemudahan, hasil, stabilitas, dan waktu perawatan; faktor kunci yang semestinya dipertimbangkan meliputi hubungan dan pola skeletal (ANB, vertikal/mesofasial), maturasi/growth spurt, analisis ruang serta derajat crowding, inklinasi dan posisi insisivus, profil jaringan lunak, kesehatan periodontal dan kebersihan mulut/karies, kebiasaan parafungsi/airway, fungsi TMJ, kebutuhan ankurase dan kompleksitas rencana (ekstraksi vs non-ekstraksi), selain kepatuhan. Pada kasus ini prognosis baik karena skeletal Class I (ANB 3°), wajah seimbang, tidak ada kebiasaan buruk, inklinasi insisivus normal, dan crowding anterior yang dapat ditangani tanpa pencabutan—faktor-faktor ini yang membedakan dari jawaban yang hanya menyebut jenis kelamin dan label maloklusi.

  • b.

    Usia pasien, kooperatif pasien, kebiasaan, dan berat ringan maloklusi

    Pembahasan Opsi b:

    Kasus ini melibatkan seorang anak perempuan berusia 10 tahun dengan crowding geligi anterior namun tanpa kelainan gigi yang signifikan dan prognosis yang baik. Diagnosis yang tepat adalah crowding geligi anterior dengan ANB 3⁰ yang menunjukkan hubungan rahang yang normal. Perawatan yang direkomendasikan tidak memerlukan pencabutan, dan perhatian harus diberikan pada usia pasien yang ideal untuk perawatan ortodontik, kooperatif pasien selama perawatan, kebiasaan seperti mengisap jari atau napas mulut, serta tingkat keparahan maloklusi yang dapat mempengaruhi hasil akhir. Klasifikasi maloklusi juga menjadi pertimbangan karena dapat membantu dalam merencanakan perawatan lebih lanjut.

  • c.

    Usia pasien, kooperatif pasien, kebiasaan, dan maloklusi dental

    Pembahasan Opsi c:

    Jawaban “usia pasien, kooperatif pasien, kebiasaan, dan maloklusi dental” kurang tepat karena hanya mencakup faktor adjuvan dan terlalu umum; maloklusi dental hanyalah ketidakteraturan susunan gigi, usia berkaitan dengan potensi tumbuh, kooperatif mencerminkan kepatuhan penggunaan alat, dan kebiasaan (mis. thumb sucking, tongue thrust) dapat memengaruhi relaps—namun prognosis ortodontik terutama ditentukan oleh triad skeletal–dental–jaringan lunak. Pada kasus ini yang lebih relevan: hubungan skeletal (mis. ANB 3° normal, Wits), pola pertumbuhan/facial pattern (mesofasial), analisis ruang dan besarnya crowding vs ruang tersedia (non-ekstraksi), inklinasi/posisi insisivus, keseimbangan jaringan lunak/profil, kebutuhan ankurase dan kompleksitas mekanik, serta kondisi periodontal–kebersihan mulut, TMJ/airway. Perbedaan utamanya: jawaban benar memasukkan determinan biologis-morfologis dan analisis ruang yang langsung memprediksi keberhasilan dan stabilitas (alasan prognosis baik di kasus ini), sedangkan jawaban salah mengabaikan relasi skeletal, jaringan lunak, dan status periodontal yang krusial.

  • d.

    Usia pasien, kebiasaan, kooperatif pasien dan maloklusi skeletal



    Pembahasan Opsi d:

    Jawaban kurang tepat karena hanya mencakup sebagian faktor prognostik. Memang usia (menentukan sisa pertumbuhan untuk modifikasi pertumbuhan), kebiasaan parafungsi (etiologi dan risiko relaps), kooperatif pasien (kepatuhan pemakaian alat/karet), dan maloklusi skeletal (diskrepansi basis rahang; dinilai dari ANB/pola vertikal) penting, tetapi penentuan prognosis juga harus menilai: derajat crowding dan analisis ruang serta ketidaksesuaian ukuran gigi-arkus (Bolton), pola wajah/arah pertumbuhan (meso/dolicho/brachy; rotasi mandibula), hubungan gigi–jaringan lunak (profil, kompetensi bibir, inklinasi insisivus), kesehatan periodontal dan kebersihan mulut, status karies dan morfologi akar, kebutuhan ankerase serta kompleksitas mekanik, risiko stabilitas/retensi, juga kondisi sistemik/TMJ. Pada kasus ini: usia 10 th, mesofasial, ANB 3° dan inklinasi insisivus normal, crowding anterior dengan ruang cukup, tanpa kebiasaan buruk—semua faktor tambahan tersebut turut mengonfirmasi bahwa prognosis memang baik, bukan hanya empat poin pada jawaban.

  • e.

    Usia pasien, kebiasaan, jenis kelamin dan berat ringan maloklusi

    Pembahasan Opsi e:

    Jawaban tersebut kurang tepat karena terlalu umum dan mengabaikan faktor kunci prognosis ortodonti. Prognosis adalah perkiraan keberhasilan dan stabilitas hasil perawatan; tidak cukup hanya menilai usia, kebiasaan, jenis kelamin, dan berat-ringan maloklusi. Yang lebih menentukan adalah: pola skeletal 3D (sagital/ANB, vertikal/SN-MP atau FMA, transversal), potensi dan tahap maturasi pertumbuhan (usia pertumbuhan, bukan sekadar usia kronologis atau jenis kelamin), analisis ruang dan diskrepansi ukuran gigi–lengkung (TSALD) serta kebutuhan pencabutan/anchorage, profil dan keseimbangan jaringan lunak, status periodontal–kebersihan mulut–risiko karies, kooperasi pasien/retensi, kondisi TMJ dan sistemik. Perbedaan dengan jawaban benar: “jenis kelamin” hanya indikator tak langsung, yang krusial adalah timing growth spurt; “kebiasaan” penting bila ada, tetapi pada kasus ini tidak; “berat maloklusi” tanpa menilai skeletal, ruang, dan jaringan lunak tidak memprediksi stabilitas. Pada kasus ini (ANB 3°, inklinasi normal, mesofasial seimbang, crowding anterior ringan tanpa pencabutan), kombinasi pola skeletal normal, kebutuhan ruang kecil, jaringan lunak baik, dan sisa pertumbuhan mendukung prognosis baik.

Kunci Jawaban yang Benar: b

Soal 12

Mindy, seorang anak perempuan berusia 9 tahun diantar ibunya datang ke RSGM Ummacademy dengan kondisi gigi anterior rahang atas dan rahang bawah berdesakan. Pemeriksaan intra oral posisi gigi 12 dan 22 palatoversi, dan terjadi tanggal prematur pada gigi kaninus sulung kanan dan kiri rahang atas sehingga gigi 12 dan 22 menempel pada gigi 14 dan 24. Bagaimanakah konstruksi alat yang adekuat pada rahang atas tersebut?

  • a.

    Dilakukan ekspansi sagital pada daerah kaninus 

    Pembahasan Opsi a:

    Mindy, seorang anak berusia 9 tahun, mengalami desakan gigi anterior akibat gigi kaninus sulung yang tanggal prematur, menyebabkan gigi 12 dan 22 berdesakan dan posisinya palatoversi. Diagnosisnya adalah crowding gigi anterior dengan potensi perpindahan gigi yang tidak tepat. Konstruksi alat ortodontik yang tepat untuk kasus ini adalah melakukan ekspansi sagital pada daerah kaninus, yang bertujuan untuk menciptakan ruang yang cukup untuk gigi-gigi anterior dan memperbaiki posisi gigi tersebut ke dalam alur yang diinginkan. Dengan penggunaan alat ini, diharapkan dapat mengurangi desakan gigi dan mencegah masalah lebih lanjut pada oklusi di masa yang akan datang.

  • b.

    Gigi 12 dan 22 di retraksi ke distal setelah gigi 14 dan 24 diekstraksi 

    Pembahasan Opsi b:

    Jawaban yang menyatakan bahwa gigi 12 dan 22 di retraksi ke distal setelah gigi 14 dan 24 diekstraksi kurang tepat. Retraksi gigi 12 dan 22 ke arah distal tanpa memperhitungkan hilangnya penopang gigi di rahang atas (karena ekstraksi gigi 14 dan 24) dapat menyebabkan ketidakseimbangan dalam lengkung gigi dan memperburuk masalah rongga mulut. Ekstraksi gigi permanen dalam kasus crowding gigi anak sebaiknya dilakukan secara hati-hati, dengan mempertimbangkan pertumbuhan dan perkembangan rahang. Alat ortodonti yang tepat, seperti ekspander palatal, dapat membantu memperluas lengkung rahang untuk mengakomodasi gigi tanpa ekstraksi yang tidak perlu. Ekspander palatal ini berfungsi untuk meningkatkan ruang di rahang atas, memperbaiki penyelarasan gigi dengan cara yang lebih konservatif dibandingkan ekstraksi yang dapat mengurangi dukungan oklusal.

  • c.

    Dilakukan ekspansi transversal 

    Pembahasan Opsi c:

    Pilihan jawaban "Dilakukan ekspansi transversal" kurang tepat, karena masalah utama pada kasus ini adalah kehilangan prematur gigi kaninus sulung yang menyebabkan gigi anterior berdesakan dan posisi tidak tepat. Ekspansi transversal lebih relevan untuk kasus kesempitan lengkung rahang secara keseluruhan, bukan untuk memperbaiki posisi spesifik akibat kehilangan gigi. Dalam konteks ini, lebih tepat untuk menggunakan space maintainer atau alat lain yang dapat menjaga atau menciptakan ruang agar gigi permanen dapat tumbuh dengan posisi yang benar. Perbedaan utama dengan jawaban yang benar adalah fokus solusinya; jawaban benar lebih diarahkan pada pengelolaan ruang secara lokal akibat kehilangan gigi kaninus sulung, bukan melibatkan perubahan dimensi transversal seluruh lengkung rahang.

  • d.

    Gigi 12 dan 22 di retraksi ke distal dan dilakukan ekspansi sagital pada daerah 14 dan 24 

    Pembahasan Opsi d:

    Jawaban ini kurang tepat karena fokus tindakan yang seharusnya ada pada manajemen ruang dan kontrol posisi gigi sejalan dengan kondisi Mindy. Meretraksi gigi 12 dan 22 ke distal bukanlah pilihan yang tepat karena terdapat kerugian ruang akibat pencabutan prematur gigi kaninus sulung, dan langkah ini dapat memperparah kesempitan ruang. Ekspansi sagital di daerah 14 dan 24 hanya akan menambah panjang lengkung, bukan menambah lebar lengkung yang diperlukan untuk mengatasi masalah crowding atau berdesakan. Pilihan yang lebih tepat adalah melakukan ekspansi melintang untuk memperluas lengkung sehingga memberi lebih banyak ruang bagi gigi yang berdesakan. Perbedaan utamanya adalah bahwa ekspansi melintang lebih efektif dalam menyediakan ruang tambahan untuk memperbaiki posisi gigi dan mengatasi crowding pada rahang atas.

  • e.

    Dilakukan retraksi pada gigi 12 dan 22 ke distal setelah gigi 14 dan 24 diretraksi ke distal 

    Pembahasan Opsi e:

    Retraksi gigi 12 dan 22 ke distal setelah gigi 14 dan 24 diretraksi ke distal bukan solusi yang tepat karena ruang yang dibutuhkan untuk mengatasi crowding telah dihilangkan dengan posisi palatoversi tersebut. Fungsi utama dari perawatan ortodontik dalam kasus ini adalah menciptakan ruang yang cukup untuk reposisi gigi anterior yang menempel. Retraksi gigi ke belakang tanpa menciptakan ruang yang memadai bisa memperparah kondisi crowding. Sebagai alternatif, menggunakan alat ekspansi maxilla atau memanfaatkan space regainer bisa menjadi pilihan tepat untuk membuka ruang secara lateral dan memungkinkan reposisi gigi ke posisi yang benar. Perbedaan mendasar dengan solusi yang benar terletak pada pendekatan untuk menciptakan ruang, bukan langsung meretraksi gigi ke arah distal tanpa memperhitungkan pengaturan ruang yang optimal.

Kunci Jawaban yang Benar: a

Soal 13

Mindy, seorang anak perempuan berusia 9 tahun datang diantar ayahnya ke RSGM Medicademy dengan keluhan gigi depan bawahnya lebih maju dari gigi depan atasnya, sehingga mengganggu penampilan dan pengunyahan. Pemeriksaan intra oral fase gigi bercampur (mixed dentition), terdapat kontak prematur di daerah insisif, sehingga saat oklusi sentrik, mandibula meluncur ke depan. Apakah kelainan berdasarkan analisis fungsional pada kasus tersebut?

  • a.

    Displacement mandibula ke atas

    Pembahasan Opsi a:

    Jawaban "Displacement mandibula ke atas" kurang tepat karena kasus ini melibatkan perpindahan mandibula ke arah anterior, bukan ke atas. Pada kasus Mindy, kelainan terjadi akibat adanya kontak prematur di daerah insisif yang menyebabkan mandibula meluncur ke depan saat oklusi sentrik. Displacement mandibula ke atas biasanya berhubungan dengan pergerakan vertikal, yang lebih jarang terjadi dalam konteks ketidaksesuaian gigitan anteroposterior seperti dalam kasus ini. Analisis fungsional lebih tepat mengarahkan ke pergerakan anterior dari mandibula daripada pergerakan ke arah vertikal. Oleh karena itu, jawaban yang menggambarkan kelainan fungsional ini secara lebih akurat adalah "Displacement mandibula ke depan" karena posisi akhir yang terlihat adalah mandibula yang lebih maju daripada posisi normal.

  • b.

    Displacement mandibula ke lateral kanan

    Pembahasan Opsi b:

    Jawaban "Displacement mandibula ke lateral kanan" tidak tepat untuk kasus ini, karena deskripsi masalah lebih menunjukkan karakteristik dari kondisi lain. Pada kasus ini, permasalahan utama adalah hubungan gigitan dimana gigi depan bawah (mandibula) lebih maju dari gigi depan atas (maksila), menandakan adanya "crossbite anterior" yang sering kali diakibatkan oleh kontak prematur dan interferences oklusal yang mendorong mandibula ke depan saat oklusi sentrik. Displacement mandibula ke lateral kanan menggambarkan kondisi where mandibula bergeser ke sisi kanan, bukan yang bergerak anterior seperti yang terjadi pada kasus ini. Oleh karena itu, fokus analisanya terletak pada dimensi anterior-posterior, bukan lateral, untuk menentukan dan memahami kelainan oklusal fungsional yang disebutkan dalam deskripsi kasus.

  • c.

    Displacement mandibula ke sagital

    Pembahasan Opsi c:

    Mindy, seorang anak perempuan berusia 9 tahun, mengalami ketidakseimbangan oklusi di mana gigi depan bawahnya lebih maju dibandingkan gigi depan atas, yang menyebabkan gangguan pada penampilan dan fungsi mengunyah, dengan pemeriksaan menunjukkan fase gigi bercampur dan adanya kontak prematur pada insisif, yang mengindikasikan adanya masalah oklusi yang dapat menghasilkan displacement mandibula ke arah sagital. Diagnosis kasus ini adalah adanya maloklusi, kemungkinan berupa kelas II divisi 1 Angle atau pembesaran mandibula, di mana perawatan ortodontik dapat diperlukan untuk memperbaiki hubungan oklusi dan memastikan fungsi serta estetika yang optimal. Klasifikasi masalah ini dalam ortodonti mencakup analisis fungsional dengan fokus pada bagaimana posisi gigi mempengaruhi gerakan mandible dan kestabilan oklusi. Pada saat mempertimbangkan pilihan perawatan, penting untuk mengevaluasi pertumbuhan dan perkembangan gigi serta faktor-faktor yang dapat mempengaruhi prognosis perawatan ortodontik.

  • d.

    Displacement mandibula ke lateral kiri

    Pembahasan Opsi d:

    Jawaban "Displacement mandibula ke lateral kiri" kurang tepat karena kasus yang diberikan menunjukkan adanya pergeseran mandibula ke anterior akibat kontak prematur di daerah insisif, bukan pergeseran ke lateral. Displacement mandibula ke lateral biasanya terjadi ketika ada ketidaksesuaian antara posisi hubungan sentrik dan oklusi sentrik yang menyebabkan gerakan lateral mandibula untuk mencapai oklusi sentrik. Dalam kasus ini, kelainan fungsional lebih tepat disebut sebagai "pseudo-Class III" atau "anterior mandibular displacement". Berbeda dengan displacement ke lateral yang ditandai dengan gerakan ke arah samping, kondisi ini melibatkan gerakan anterior yang mengoreksi hubungan oklusi akibat adanya kontak prematur yang memaksa mandibula bergerak ke depan untuk mencapai hubungan oklusi yang lebih stabil.

  • e.

    Displacement mandibula ke belakang

    Pembahasan Opsi e:

    Jawaban "Displacement mandibula ke belakang" kurang tepat karena tidak sesuai dengan gejala yang dialami Mindy. Displacement mandibula ke belakang biasanya terjadi saat ada ketidaksesuaian posisi mandibula posterior dibandingkan dengan posisi rahang atas, yang dapat mengakibatkan overbite atau crossbite posterior. Dalam kasus Mindy, yang terjadi adalah mandibula meluncur ke depan akibat kontak prematur di area insisif saat oklusi sentrik, yang mengakibatkan kondisi tersebut lebih sesuai dengan "displacement mandibula ke depan" atau yang dikenal sebagai anterior crossbite. Anterior crossbite terjadi ketika gigi depan bawah berada lebih maju daripada gigi depan atas, menimbulkan gangguan estetik dan fungsi pengunyahan yang Mindy keluhkan.

Kunci Jawaban yang Benar: c

Soal 14

Tujuan penyesuaian dari cangkolan adams adalah, kecuali..

  • a.

    Agar mudah dilepas pasang

    Pembahasan Opsi a:

    Pembahasan: Jawaban ini kurang tepat karena salah satu tujuan utama penyesuaian cangkolan Adams adalah untuk memberikan retensi yang efektif pada alat ortodonti, sehingga stabil dan tidak mudah lepas pasang saat dikenakan. Fungsi cangkolan Adams adalah mengaitkan alat pada gigi dengan kuat, memaksimalkan retensi tetapi tetap memberikan kenyamanan bagi pasien. Perbedaan jawaban ini dengan jawaban yang benar terletak pada fokus kegunaan cangkolan Adams, yang bukan untuk mempermudah alat dilepas pasang, melainkan menahan alat ortodonti agar tetap terpasang dengan stabil. Jawaban yang benar harus mencerminkan fungsi penahan yang maksimal dari cangkolan untuk menjaga posisi alat dalam mulut.

  • b.

    Agar lebih stabil

    Pembahasan Opsi b:

    Cangkolan adams atau Adams clasp adalah elemen retensi yang digunakan pada peralatan ortodontik lepasan. Tujuan utama penyesuaian cangkolan adams adalah untuk meningkatkan retensi, adaptasi, dan kenyamanan alat di mulut pasien. Stabilitas bukanlah tujuan utama penyesuaian dari cangkolan ini. Stabilitas alat ortodontik lebih dipengaruhi oleh keseluruhan desain dan distribusi tekanan yang seimbang, bukan hanya bergantung pada penyesuaian cangkolan adams. Jawaban "agar lebih stabil" kurang tepat karena fungsi stabilisasi lebih mengacu pada penyesuaian keseluruhan alat, bukan hanya pada cangkolan adams. Perbedaan mendasar ini menekankan bahwa fokus penyesuaian cangkolan adalah untuk memperbaiki engagement dengan gigi agar alat tidak mudah lepas dan meningkatkan kenyamanan, bukan untuk stabilisasi per se.

  • c.

    Untuk meningkatkan retensi

    Pembahasan Opsi c:

    Penyesuaian cangkolan Adams, dikenal juga sebagai cangkolan Adams clasps, umumnya digunakan dalam perawatan ortodontik untuk meningkatkan retensi perangkat di rongga mulut. Fungsinya untuk menjaga agar ortodontik dapat terpasang dengan stabil pada gigi penopang. Maka, bila opsinya adalah "untuk meningkatkan retensi", itu sejalan dengan tujuan utama cangkolan Adams. Sebaliknya, pilihan lain yang mengindikasikan fungsi berbeda seperti penyesuaian posisi gigi, pengaruh fungsi otot, atau kaitan lain yang tidak secara langsung terkait dengan retensi, mungkin lebih cocok untuk menjadi pengecualian dalam konteks ini. Karena itu, menyatakan bahwa tujuan cangkolan Adams adalah meningkatkan retensi berarti bukan termasuk opsi 'kecuali' yang dimaksud.

  • d.

    Untuk mendapatkan kontak yang baik pada daerah undercut

    Pembahasan Opsi d:

    Jawaban ini kurang tepat karena salah satu tujuan utama dari penyesuaian cangkolan Adams adalah untuk mendapatkan kontak yang baik pada daerah undercut sehingga prostesis gigi dapat terpasang dengan stabil. Cangkolan Adams, atau Adams clasp, memiliki fungsi utama dalam retensi perangkat gigi dengan memanfaatkan daerah undercut gigi penyangga tetapi tidak untuk tujuan lain yang tidak berhubungan langsung dengan stabilitas atau penempatan alat. Perbedaan jawaban ini dengan jawaban yang benar terletak pada fungsionalitas spesifik dari cangkolan Adams dalam retensi alat ortodontik yang memerlukan kontak yang optimal pada undercut.

  • e.

    Agar melekat dengan baik dengan plat akrilik

    Pembahasan Opsi e:

    Dalam konteks penggunaan cangkolan Adams, tujuan utamanya adalah untuk memberikan stabilitas dan retensi pada prostesis gigi, bukan sekadar agar melekat dengan baik pada plat akrilik. Cangkolan ini dirancang untuk mengunci prostesis di posisi yang tepat dengan memanfaatkan elemen yang ada di rongga mulut, seperti gigi yang tersisa, sehingga memaksimalkan fungsi dan kenyamanan pasien. Penyesuaian yang baik harus mempertimbangkan hubungan antara cangkolan dan struktur gigi yang ada, sehingga jika tujuannya hanya untuk melekat secara fisik dengan plat akrilik, itu bukanlah tujuan utama dari desainnya.

Kunci Jawaban yang Benar: e

Soal 15

Mindy, anak perempuan berusia 13 tahun datang ke RSGM Ummacademy ditemani ibunya untuk memeriksakan giginya karena keluhan rasa kurang nyaman atas penampilannya karena ada celah di antara kedua gigi depan atas. Dokter gigi Umma menyarankan untuk dilakukan pemeriksaan ronsen foto. Dari hasil pemeriksaan foto periapikal, tampak gambaran gigi tambahan di antara kedua gigi insisivus sentralis rahang atas. Apakah diagnosis yang paling tepat pada kelainan tersebut?

  • a.

    Hyperdontia

    Pembahasan Opsi a:

    Jawaban "Hyperdontia" kurang tepat untuk kasus ini. Hyperdontia adalah kondisi yang mengacu pada keberadaan gigi ekstra di rongga mulut secara umum. Dalam kasus ini, jawaban lebih tepat adalah "Mesiodens." Mesiodens adalah tipe spesifik dari gigi tambahan yang umumnya muncul antara dua gigi insisivus sentralis rahang atas, yang menyebabkan diastema atau celah antar gigi. Fungsi utama pemeriksaan rontgen disini adalah untuk mengidentifikasi keberadaan dan posisi gigi tersebut secara lebih akurat. Berbeda dengan hyperdontia yang merupakan istilah umum, mesiodens lebih spesifik dan sesuai dengan gejala yang dialami Mindy, yaitu adanya celah antara gigi depan yang disebabkan oleh keberadaan gigi tambahan di daerah tersebut.

  • b.

    Distodens

    Pembahasan Opsi b:

    Jawaban "Distodens" kurang tepat karena istilah ini merujuk pada gigi supernumerary yang umumnya terletak di daerah molar ketiga atau bagian belakang rahang, sering kali disebut sebagai "gigi tambahan belakang." Dalam kasus Mindy, gigi tambahan terletak di antara kedua gigi insisivus sentralis rahang atas, yang lebih sesuai dengan kondisi "Mesiodens." Mesiodens adalah jenis paling umum dari gigi supernumerary yang ditemukan di garis tengah rahang atas antara gigi insisivus sentralis. Fungsi dari pemeriksaan ronsen foto adalah untuk mendeteksi keberadaan struktur gigi yang tidak normal, dan hasil tersebut menunjukkan adanya gigi tambahan yang menunjukkan karakteristik Mesiodens, bukan Distodens.

  • c.

    Mesiodens

    Pembahasan Opsi c:

    Kasus ini melibatkan Mindy, seorang anak perempuan berusia 13 tahun yang mengeluhkan celah di antara gigi depan atas disertai dengan temuan ronsen foto yang menunjukkan adanya gigi tambahan di antara gigi insisivus sentralis rahang atas, yang merupakan ciri khas dari mesiodens. Diagnosis yang tepat adalah mesiodens, yaitu gigi tambahan yang biasanya tampak secara klinis atau dalam radiografi dan dapat mempengaruhi erupsi gigi lainnya. Penanganan mesiodens umumnya melibatkan pencabutan gigi tambahan ini untuk memperbaiki estetik dan mencegah masalah ortodontik di kemudian hari. Selain itu, penting untuk mengedukasi pasien dan orang tua mengenai kemungkinan komplikasi yang dapat timbul jika gigi tambahan tidak ditangani dengan baik.

  • d.

    Peridens

    Pembahasan Opsi d:

    Jawaban "Peridens" kurang tepat untuk diagnosis kelainan yang ditemukan pada Mindy. Peridens adalah suatu kondisi di mana terdapat gigi tambahan yang berkembang di antara gigi-gigi premolar, bukan di antara gigi insisivus sentralis. Dalam kasus ini, diagnosis yang lebih tepat adalah "Mesiodens". Mesiodens adalah gigi supernumerary yang terletak di antara gigi insisivus sentral atas yang sering menyebabkan diastema atau celah, seperti yang dialami oleh Mindy. Perbedaan utama antara peridens dan mesiodens terletak pada lokasi kemunculannya, di mana peridens lebih sering muncul di area gigi molar atau premolar, sedangkan mesiodens muncul di area gigi insisivus.

  • e.

    Parateeth

    Pembahasan Opsi e:

    Jawaban 'Parateeth' kurang tepat untuk kasus ini karena istilah tersebut umumnya mengacu pada gigi palsu atau protesa gigi yang digunakan untuk menggantikan gigi yang hilang atau rusak, bukan untuk menggambarkan kondisi gigi tambahan. Pada kasus ini, diagnosis yang lebih tepat adalah 'Mesiodens', yaitu gigi tambahan yang paling sering ditemukan di antara gigi insisivus sentralis rahang atas. Mesiodens adalah gigi supernumerary yang tumbuh di daerah garis tengah rahang dan biasanya menyebabkan diastema atau celah antara gigi depan. Berbeda dengan Parateeth yang merupakan alat bantu prostetik, Mesiodens adalah gigi berlebih yang tumbuh secara fisiologis dari hasil perkembangan gigi yang tidak normal. Oleh karena itu, pemahaman tentang sifat dan lokasi dari ketidaknormalan ini sangat penting dalam menegakkan diagnosis yang tepat.

Kunci Jawaban yang Benar: c

Semangat Belajar dan Terus Berlatih!

Perjalanan menuju predikat dokter gigi kompeten memang tidak mudah, namun dengan semangat belajar yang tinggi dan latihan yang konsisten, Anda pasti bisa meraihnya. Jangan pernah menyerah jika ada soal yang terasa sulit. Setiap kesalahan adalah kesempatan untuk belajar dan memperbaiki diri. Ingatlah, penguasaan materi Ortodonsia, seperti juga materi lainnya, memerlukan dedikasi dan praktik berulang.

Teruslah berlatih, manfaatkan setiap sumber daya yang ada, dan jadikan Umeds sebagai mitra terbaik Anda dalam mempersiapkan UKOMNAS PPDG 2026. Kami berkomitmen untuk menyediakan materi dan fasilitas terbaik demi kesuksesan Anda. Sampai jumpa di puncak keberhasilan, calon dokter gigi hebat!

Persiapkan UKOMNAS PPDG Kamu Bersama Umeds!

Belajar Jadi Dokter Hebat Cukup dalam Genggaman. Akses materi pembelajaran, video kuliah, dan latihan soal kapan saja di satu aplikasi.

Komentar

Silakan login untuk memberikan komentar

Login
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!
Customer Support umeds