Siap Hadapi UKOMNAS PPDG 2026? Kuasai Materi Material Kedokteran Gigi Bersama Umeds!
Selamat datang, calon dokter gigi profesional! Tahun 2026 menjadi penentu langkah Anda menuju karir impian. Ujian Kompetensi Mahasiswa Program Profesi Dokter Gigi (UKOMNAS PPDG) adalah gerbang utama yang harus Anda lalui dengan persiapan matang. Menguasai setiap materi adalah kunci, dan kami di Umeds memahami betul tantangan ini.
Salah satu pilar penting dalam UKOMNAS PPDG adalah materi Material Kedokteran Gigi. Bidang ini mencakup pemahaman mendalam tentang sifat, komposisi, manipulasi, serta aplikasi klinis berbagai bahan yang digunakan sehari-hari dalam praktik kedokteran gigi, mulai dari restorasi, cetak, hingga ortodontik. Pemahaman yang kuat akan materi ini tidak hanya krusial untuk ujian, tetapi juga fondasi kokoh untuk praktik klinis Anda kelak.
Untuk membantu Anda menaklukkan UKOMNAS PPDG, khususnya materi Material Kedokteran Gigi, Umeds hadir sebagai platform belajar terbaik. Kami menyediakan sumber daya terlengkap agar Anda bisa belajar secara efektif, efisien, dan menyenangkan. Mari kita mulai perjalanan persiapan Anda dengan latihan soal tryout ini!
15 Latihan Soal dan Pembahasan UKOMNAS PPDG Material Kedokteran Gigi
Soal 1
Seorang laki-laki berusia 30 tahun datang ke RSGM dengan keluhan gigi depan atas patah. Pemeriksaan intraoral didapatkan gigi 11 fraktur Ellis kelas 2. Dokter gigi merencanakan restorasi mahkota jaket metal berlapis porselen yang diidahului dengan pembuatan model malam. Apakah jenis wax yang digunakan pada kasus tersebut?
- a.
Utility wax
Pembahasan Opsi a:Jawaban "Utility wax" kurang tepat untuk digunakan dalam pembuatan model malam dalam restorasi mahkota jaket metal berlapis porselen. Utility wax umumnya digunakan untuk tujuan selain pembuatan model, seperti menghubungkan tray cetakan ke tray handle atau untuk menutupi ujung-ujung tajam dalam aplikasi ortodontik. Pada kasus ini, yang lebih tepat adalah "Casting wax" karena casting wax digunakan dalam pembuatan model malam untuk menciptakan pola restorasi yang akurat sebelum pengecoran logam. Casting wax lebih kaku dan tahan panas dibandingkan utility wax, memungkinkan untuk membuat detail yang lebih presisi pada model yang akan dilapisi dengan logam dan porselen.
- b.
Sticky wax
Pembahasan Opsi b:Sticky wax kurang tepat digunakan untuk pembuatan model malam pada kasus restorasi mahkota jaket metal berlapis porselen. Sticky wax adalah sejenis lilin yang digunakan untuk menyambung atau merekatkan sementara bagian-bagian prostesis dalam kondisi kering. Jenis wax yang tepat untuk pembuatan model malam adalah modeling wax, yang memiliki sifat lebih mudah dibentuk dan disesuaikan dalam kondisi suhu tubuh untuk mengambil bentuk yang detail dari rongga mulut. Modeling wax digunakan dalam pembuatan cetakan karena mudah dibentuk tanpa memerlukan panas berlebih, tidak seperti sticky wax yang keras dan kaku. Perbedaan utama antara keduanya adalah fungsionalitas dan fleksibilitas dalam aplikasi penggunaan klinis. Modeling wax lebih fleksibel dan ideal untuk pembuatan cetakan dibandingkan sticky wax yang digunakan sebagai perekat sementara.
- c.
Inlay wax
Pembahasan Opsi c:Seorang laki-laki berusia 30 tahun mengalami fraktur Ellis kelas 2 pada gigi 11, yang memerlukan restorasi mahkota jaket metal berlapis porselen. Fraktur Ellis kelas 2 ditandai dengan kehilangan sebagian dentin dan email tanpa terpapar pulpa, sehingga memerlukan perawatan restoratif untuk mengembalikan fungsi dan estetikanya. Dalam proses pembuatan restorasi, model malam dibuat menggunakan inlay wax, yang memiliki konsistensi yang tepat untuk membentuk model restorasi dengan akurasi tinggi. Pemilihan inlay wax penting dalam memastikan detail restorasi yang baik, sehingga hasil akhir dapat memenuhi standar klinis.
- d.
Boxing wax
Pembahasan Opsi d:Boxing wax adalah jenis lilin yang digunakan dalam bidang kedokteran gigi terutama untuk membentuk dinding atau pembatas saat menuangkan model gips dari cetakan. Ini bukan pilihan yang tepat untuk pembuatan model malam karena fungsi utamanya adalah untuk mengelola batasan gips dan bukan untuk pembentukan model gigi yang detail. Dalam kasus pembuatan restorasi mahkota jaket metal berlapis porselen, yang diperlukan adalah lilin dengan presisi yang lebih tinggi, seperti inlay wax atau casting wax, yang digunakan untuk kontur dan detail lebih halus pada model malam sebelum proses pengecoran dilakukan. Inlay wax dirancang untuk memberikan detil dan keakuratan yang diperlukan dalam proses ini, berlawanan dengan boxing wax yang sifatnya lebih kasar dan tidak cocok untuk pengecoran detail. Perbedaan utama adalah fungsi dan aplikasi; boxing wax digunakan untuk struktur makro sementara inlay wax untuk detail mikro.
- e.
Casting wax
Pembahasan Opsi e:Jenis wax yang digunakan pada kasus pembuatan model awal untuk restorasi mahkota jaket metal berlapis porselen adalah tooth-colored wax, bukan casting wax. Casting wax umumnya digunakan dalam proses pencetakan logam untuk membantu membentuk kerangka dalam pembuatan prostesis gigi, seperti framework pada gigi tiruan sebagian lepasan. Casting wax lebih cocok digunakan saat membentuk struktur logam dalam pencetakan, karena memiliki titik leleh yang sesuai untuk teknik pengecoran. Sebaliknya, tooth-colored wax dipilih dalam kasus ini karena menyerupai warna gigi asli dan memberikan tampilan yang lebih estetis pada model malam sebelum restorasi akhir dilakukan. Dengan demikian, perbedaan utama antara casting wax dan tooth-colored wax adalah penggunaannya, di mana casting wax untuk kerangka logam dan tooth-colored wax lebih fokus pada tampilan estetis awal restorasi gigi.
Soal 2
Mindy, seorang perempuan berusia 30 tahun datang ke klinik Dentigram dengan keluhan gigi depan patah dan ngilu saat minum dingin. Pemeriksaan intra oral tampak gigi 12 fraktur 1/3 insisal, vitalitas (+), perkusi (-). Dokter gigi Umma merencanakan restorasi menggunakan resin komposit dengan aktivasi light curing. Dibawah ini yang termasuk inisiator dari bahan tersebut adalah?
- a.
Bis-GMA
Pembahasan Opsi a:Jawaban "Bis-GMA" kurang tepat karena Bis-GMA (Bisphenol A Glycidyl Methacrylate) adalah suatu monomer yang digunakan dalam formulasi resin komposit sebagai bahan pengikat, namun bukan merupakan inisiator yang diperlukan untuk proses polimerisasi. Inisiator dalam resin komposit biasanya adalah senyawa yang dapat memulai reaksi polimerisasi saat terpapar oleh cahaya, seperti camphorquinone. Sebagai perbandingan, fungsi Bis-GMA adalah untuk memberikan kekuatan dan kestabilan mekanik pada material, sedangkan inisiator seperti camphorquinone memiliki peran kunci dalam aktivasi polimerisasi resin yang dipicu oleh sinar UV atau LED. Oleh karena itu, kejelasan fungsi dan peran masing-masing komponen dalam resin komposit sangat penting untuk memahami proses restorasi yang efektif.
- b.
UDMA
Pembahasan Opsi b:Jawaban "UDMA" kurang tepat karena Urethane Dimethacrylate (UDMA) adalah monomer yang digunakan dalam formulasi resin komposit, tetapi bukan inisiator. Inisiator adalah zat yang memulai reaksi polimerisasi, sedangkan UDMA berfungsi sebagai resin dasar yang memberikan kekuatan dan kestabilan pada material restoratif. Inisiator yang umum digunakan dalam resin komposit adalah bahan seperti camphorquinone, yang mengaktifkan proses curing saat terkena sinar blue light. Oleh karena itu, meskipun UDMA penting dalam komposisi resin komposit, pilihan yang lebih tepat untuk inisiator dalam konteks ini adalah camphorquinone.
- c.
Benzoyl peroxide
Pembahasan Opsi c:Benzoyl peroxide adalah senyawa yang umum digunakan sebagai agen pengikat dalam sistem polimerisasi bebas radikal, tetapi lebih sering digunakan dalam aplikasi dermatologis untuk mengobati jerawat, bukan dalam resin komposit yang digunakan di kedokteran gigi. Dalam resin komposit yang diaktivasi dengan light curing, inisiator yang tepat adalah bahan seperti camphorquinone, yang bekerja dengan cara menyerap cahaya dan memicu reaksi polimerisasi. Oleh karena itu, menjawab 'Benzoyl peroxide' sebagai inisiator resin komposit pada kasus ini adalah kurang tepat karena tidak relevan dengan fungsi dan aplikasi dalam kedokteran gigi, di mana inisiator harus sesuai dengan mekanisme aktivasi yang ditentukan.
- d.
Chomporoquinon
Pembahasan Opsi d:Pada kasus Mindy yang berusia 30 tahun dengan gigi 12 mengalami fraktur 1/3 insisal dan keluhan ngilu saat minum dingin, diagnosis yang mungkin adalah fraktur enamel atau dentin tanpa pulpa terlibat, ditandai dengan vitalitas gigi yang positif dan tidak ada rasa nyeri saat perkusi, yang menunjukkan kondisi gigi masih vital. Perawatan yang direncanakan adalah restorasi menggunakan resin komposit yang memerlukan inisiator untuk aktivasi saat curing. Chomporoquinon berfungsi sebagai inisiator dalam resin komposit yang diaktifkan dengan cahaya (light curing), yang memungkinkan polimerisasi resin dan hasil restorasi yang kuat dan estetik. Oleh karena itu, pemilihan Chomporoquinon sebagai inisiator adalah tepat dalam proses restorasi gigi ini.
- e.
HEMA
Pembahasan Opsi e:Jawaban HEMA (2-Hydroxyethyl Methacrylate) kurang tepat karena HEMA adalah monomer yang digunakan dalam formulasi resin komposit sebagai agen pengikat, bukan sebagai inisiator polimerisasi. Inisiator pada resin komposit adalah zat yang memulai reaksi polimerisasi saat terkena cahaya, seperti benzoin metil ether (BME) atau camphorquinone (CQ), yang berfungsi untuk mengaktifkan reaksi dan membentuk jaringan polimer saat resin disinari dengan cahaya UV atau LED. Dengan demikian, HEMA berkontribusi pada kekuatan adhesi, tetapi tidak menginisiasi proses curing resin komposit seperti yang diharapkan dalam pertanyaan ini.
Soal 3
Mindy, seorang perempuan berusia 30 tahun datang ke klinik Dentigram dengan keluhan gigi depan patah dan ngilu saat minum dingin. Pemeriksaan intra oral tampak gigi 12 fraktur 1/3 insisal, vitalitas (+), perkusi (-). Dokter gigi Umma merencanakan restorasi menggunakan resin komposit dengan aktivasi light curing.
Dibawah ini yang termasuk inisiator dari bahan tersebut adalah?
- a.
Bis-GMA
Pembahasan Opsi a:Bis-GMA adalah senyawa yang berperan sebagai monomer dalam bahan resin komposit, bukan sebagai inisiator. Bis-GMA (bisphenol A-glycidyl methacrylate) memberikan sifat mekanis yang baik pada resin komposit, seperti ketahanan dan kekerasan. Inisiator dalam proses polimerisasi resin komposit adalah senyawa yang dapat memulai reaksi pembentukan rantai polimer ketika terpapar cahaya, seperti camphorquinone. Camphorquinone bekerja dengan mengaktivasi radical polymerization saat terkena sinar lampu blue light curing. Oleh karena itu, jawaban yang benar untuk pertanyaan ini adalah camphorquinone, bukan Bis-GMA.
- b.
UDMA
Pembahasan Opsi b:UDMA (Urethane Dimethacrylate) adalah salah satu monomer yang sering digunakan dalam resin komposit karena sifatnya yang memberikan kekuatan dan ketahanan terhadap lelah mekanik. Namun, UDMA bukanlah inisiator dalam proses polimerisasi resin komposit. Inisiator yang umum digunakan adalah camphoroquinone, yang diaktifkan oleh sinar biru dari alat light curing. Camphoroquinone akan menghasilkan radikal bebas yang memulai reaksi polimerisasi, sedangkan UDMA berfungsi sebagai bagian dari matriks resin yang mengisi struktur komposit. Oleh karena itu, pilihan yang tepat untuk pertanyaan ini adalah camphoroquinone, bukan UDMA.
- c.
Benzoyl peroxide
Pembahasan Opsi c:Benzoyl peroxide adalah inisiator yang biasa digunakan dalam sistem polimerisasi kimia, bukan sistem light curing. Pada resin komposit dengan aktivasi light curing, inisiator yang digunakan umumnya adalah camphorquinone. Camphorquinone berfungsi untuk merespons cahaya biru dari lampu curing dan memulai proses polimerisasi. Polimerisasi adalah proses mengubah bahan campuran menjadi struktur padat yang mengeraskan resin komposit. Perbedaan utama antara benzoyl peroxide dan camphorquinone adalah mekanisme aktivasi—benzoyl peroxide diaktifkan secara kimia dengan katalis yang berbeda, sedangkan camphorquinone memerlukan eksposur cahaya dari sumber photopolymerization.
- d.
Chomporoquinon
Pembahasan Opsi d:Mindy, seorang perempuan berusia 30 tahun, mengalami gigi depan yang patah dengan keluhan sensasi ngilu saat mengonsumsi minuman dingin, menunjukkan bahwa gigi 12 mengalami fraktur 1/3 insisal dan tetap vital (vitalitas positif) dengan hasil perkusi negatif. Diagnosis awal adalah fraktur email atau dentin yang tidak melibatkan pulpa, yang dapat diatasi dengan restorasi resin komposit yang memerlukan lampu curing untuk mengaktivasi polimer. Inisiator dalam resin komposit yang digunakan adalah senyawa seperti Chomporoquinon, yang berfungsi untuk memulai proses polimerisasi ketika terpapar cahaya. Penting untuk memeriksa kehandalan metode restorasi serta judul terkait pemilihan bahan dan teknik untuk mengoptimalkan hasil akhir serta menjaga fungsi dan estetika gigi tersebut.
- e.
HEMA
Pembahasan Opsi e:HEMA (Hydroxyethyl Methacrylate) bukanlah inisiator dalam resin komposit dengan aktivasi light curing. HEMA adalah bahan yang sering digunakan sebagai bahan ikat (bonding agent) karena sifatnya yang hidrofilik, yang membantu dalam penetrasi ke dalam dentin dan enamel. Fungsi utama HEMA adalah untuk meningkatkan adhesi antara resin dan jaringan gigi. Sebaliknya, inisiator pada resin komposit dengan aktivasi light curing biasanya adalah camphorquinone. Camphorquinone berfungsi sebagai inisiator fotopolimerisasi yang aktif saat terpapar cahaya dengan panjang gelombang tertentu (sekitar 468 nm), yang memungkinkannya untuk memulai proses pengawetan komposit. Oleh karena itu, meskipun HEMA penting dalam prosedur restoratif, perannya berbeda dengan camphorquinone dalam konteks inisiator polimerisasi resin komposit.
Soal 4
Matriks tulang mengandung bahan organik dan anorganik, berikut yang merupakan bahan anorganik adalah…
- a.
Kristal kalsium hidroksiapatit
Pembahasan Opsi a:Matriks tulang terdiri dari komponen organik (seperti kolagen) dan anorganik; bahan anorganik utama dalam matriks tulang adalah kristal kalsium hidroksiapatit yang memberikan kekuatan dan mineralisasi pada tulang. Dalam konteks ujian, penting untuk mengingat bahwa hidroksiapatit berperan dalam proses biokimia tulang, termasuk pembentukan dan pemeliharaan struktur tulang. Pilihan yang mempertimbangkan elemen-elemen lain seperti lemak atau air tidak tepat, karena tidak termasuk dalam kategori bahan anorganik yang spesifik. Dengan demikian, jawaban yang tepat adalah kristal kalsium hidroksiapatit.
- b.
Kolagen tipe I
Pembahasan Opsi b:Pilihan jawaban "Kolagen tipe I" kurang tepat karena kolagen merupakan komponen organik dari matriks tulang. Kolagen tipe I adalah protein utama dalam matriks tulang yang berfungsi memberikan kekuatan tarik dan struktur kepada tulang. Sebaliknya, komponen anorganik dari matriks tulang terdiri dari mineral seperti hidroksiapatit, yang memberikan kekuatan tekan dan kekerasan pada tulang. Perbedaan utama antara kolagen tipe I dan hidroksiapatit adalah bahwa kolagen memberikan fleksibilitas dan kemampuan tulang untuk menahan tekanan tarik, sementara hidroksiapatit memberikan stabilitas dan daya tahan terhadap kompresi.
- c.
Kolagen tipe II
Pembahasan Opsi c:Kolagen tipe II adalah jawaban yang kurang tepat karena kolagen merupakan komponen organik dari matriks tulang, bukan anorganik. Kolagen, terutama tipe I, merupakan protein yang memberikan kekuatan tarik dan elastisitas pada tulang. Fungsi utama kolagen dalam matriks tulang adalah untuk membentuk serat-serat yang memberikan struktur dan fleksibilitas. Sementara itu, bahan anorganik dalam matriks tulang terutama terdiri dari mineral seperti hidroksiapatit yang mengandung kalsium dan fosfat, memberikan kekerasan dan kekuatan tekan. Perbedaan utama antara kolagen dan bahan anorganik dalam konteks matriks tulang adalah bahwa kolagen adalah protein organik, sementara zat anorganik adalah mineral yang menguatkan tulang.
- d.
Osteokalsin
Pembahasan Opsi d:Osteokalsin adalah protein non-kolagen yang ditemukan dalam matriks tulang dan dianggap sebagai bagian dari komponen organik, bukan anorganik. Osteokalsin berfungsi terutama dalam proses mineralisasi tulang dan pengaturan metabolisme mineral. Sebaliknya, bahan anorganik dalam matriks tulang terutama terdiri dari hidroksiapatit, suatu bentuk kalsium fosfat yang memberikan kekuatan dan kekakuan pada tulang. Perbedaan utama adalah bahwa komponen organik seperti osteokalsin berfungsi dalam pengaturan dan proses biologis, sementara bahan anorganik seperti hidroksiapatit berfungsi dalam memberikan struktur mekanik pada tulang.
- e.
Osteopontin
Pembahasan Opsi e:Osteopontin adalah protein non-kolagen yang merupakan bagian dari komponen organik matriks tulang. Bagian organik dari matriks tulang disusun oleh kolagen tipe I dan berbagai protein seperti osteopontin, yang berfungsi dalam proses mineralisasi tulang dan sebagai mediator dalam komunikasi selular. Jawaban ini kurang tepat karena osteopontin bukan merupakan bahan anorganik. Sebaliknya, bahan anorganik dari matriks tulang terutama disusun oleh hidroksiapatit, yang berupa kristal kalsium fosfat, memberikan kekuatan dan kekakuan pada tulang. Perbedaan utama dengan jawaban benar adalah bahwa bahan anorganik tidak mengandung komponen protein seperti osteopontin dan lebih berfokus pada mineral.
Soal 5
Mindy, seorang perempuan berusia 30 tahun datang ke RSGM Medicademy untuk merawat gigi belakang yang berlubang. Pemeriksaan intraoral terlihat karies yang luas pada oklusal gigi 16. Dokter gigi Umma akan membuatkan restorasi mahkota berbahan dasar logam mulia (emas). Apakah alloy metal yang sesuai untuk pembuatan restorasi tersebut?
- a.
Au-Pt
Pembahasan Opsi a:Mindy, seorang perempuan berusia 30 tahun, mengalami karies luas pada oklusal gigi 16, sehingga memerlukan restorasi mahkota yang tepat. Diagnosis yang tepat adalah karies oklusal yang perlu ditangani dengan restorasi, dan dalam kasus ini, penggunaan logam mulia seperti emas sangat dianjurkan. Alloy metal yang paling sesuai untuk restorasi mahkota ini adalah Au-Pt (emas dan platinum), sebab kedua material ini memberikan kekuatan, daya tahan, dan biokompatibilitas yang baik. Bahan ini juga memiliki karakteristik estetika yang lebih baik dibandingkan dengan logam non-mulia, sehingga cocok untuk restorasi gigi belakang yang tidak terlalu terlihat. Pastikan untuk mempertimbangkan sifat mekanik dan biaya dalam memilih material untuk restorasi gigi.
- b.
Ni-Cr
Pembahasan Opsi b:Jawaban Ni-Cr kurang tepat untuk restorasi mahkota pada gigi belakang karena alloy nikel-krom yang umumnya digunakan sebagai bahan dasar untuk pembuatan crown terbuat dari bahan yang lebih cocok untuk prostesis yang tidak terlihat, seperti jembatan atau mahkota anterior, dan tidak memberikan hasil estetika yang baik. Ni-Cr juga memiliki potensi alergi bagi pasien tertentu, serta tidak sekuat atau seoptimal logam mulia seperti emas dalam hal biokompatibilitas dan daya tahan. Emas, sebagai logam mulia, memiliki keunggulan dalam kekuatan, keawetan, serta sifat antikorosif, sehingga lebih ideal untuk restorasi mahkota gigi belakang yang memerlukan kekuatan dan daya tahan saat mengunyah.
- c.
Co-Cr
Pembahasan Opsi c:Jawaban Co-Cr kurang tepat karena alloy ini biasanya digunakan untuk pembuatan inlay, framework gigi tiruan, atau prostesis, namun bukan pilihan yang ideal untuk restorasi mahkota pada gigi posterior akibat sifat estetik dan biokompatibilitasnya yang tidak setara dengan logam mulia seperti emas. Co-Cr (Kobalt-Krom) memiliki ketahanan yang baik namun kurang cocok untuk restorasi yang memerlukan daya tarik estetis dan kerja mekanis yang lebih sesuai seperti pada mahkota gigi depan. Sebaliknya, emas sebagai logam mulia memiliki sifat fisik yang superior dalam hal ketahanan terhadap keausan, keindahan, dan sifat bioinert yang membuatnya menjadi pilihan utama dalam restorasi mahkota gigi belakang yang membutuhkan kombinasi ketahanan dan estetik.
- d.
Ni-Ti
Pembahasan Opsi d:Jawaban "Ni-Ti" (nikel-titanium) kurang tepat karena alloy ini lebih sering digunakan dalam aplikasi ortodontik dan alat medis lainnya, bukan untuk restorasi mahkota gigi. Nikel-titanium dikenal karena fleksibilitas dan ketahanan korosinya, namun sifat mekaniknya tidak optimal untuk restorasi gigi yang memerlukan kekuatan dan ketahanan terhadap keausan serta tekanan occlusal. Sebaliknya, logam mulia seperti emas atau paduan emas lainnya digunakan untuk restorasi mahkota karena memiliki sifat estetik yang baik, daya tahan yang tinggi, serta biokompatibilitas yang optimal. Restorasi mahkota dengan logam mulia juga memberikan hasil yang lebih baik dalam hal ketahanan jangka panjang pada gigi yang lebih besar seperti gigi 16.
- e.
Ag-Sn
Pembahasan Opsi e:Jawaban Ag-Sn (perak-timah) kurang tepat untuk pembuatan restorasi mahkota pada gigi belakang karena alloy ini lebih umum digunakan untuk restorasi langsung, seperti tambalan, dan memiliki sifat mekanik serta estetik yang tidak sekuat logam mulia seperti emas. Ag-Sn lebih rentan terhadap korosi dan tidak memberikan kekuatan yang cukup untuk restorasi yang memerlukan daya tahan tinggi. Sebaliknya, logam mulia seperti emas memiliki kekuatan mekanik yang baik, tahan terhadap korosi, dan memiliki kompatibilitas biologis yang lebih baik dengan jaringan oral, membuatnya lebih sesuai untuk restorasi mahkota permanen pada gigi posterior yang mengalami stres occlusal tinggi.
Soal 6
Dokter gigi Umma memerlukan pencetakan rahang pasien menggunakan bahan cetak alginat untuk pembuatan protesa. Pengendalian penyebaran infeksi cetakan dilakukan dengan cara dibersihkan dari saliva dan darah dalam air mengalir. Tindakan desinfeksi dilakukan sebelum cetakan dikirim ke laboratorium. Bagaimanakah cara desinfeksi yang paling dianjurkan pada kasus Mindy di atas?
- a.
Perendaman dalam asam glutaraldehid
Pembahasan Opsi a:Dalam kasus ini, dokter gigi Umma harus melakukan desinfeksi cetakan alginat setelah membersihkannya dari saliva dan darah untuk mencegah penyebaran infeksi sebelum dikirim ke laboratorium. Diagnosis yang tepat adalah perlunya desinfeksi yang efektif dan aman, mengingat sifat bahan yang digunakan. Ciri khas dari prosedur ini adalah penggunaan bahan desinfeksi yang dapat menembus struktur cetakan tanpa merusak material alginat. Perendaman dalam asam glutaraldehid merupakan metode yang dianjurkan karena efektif membunuh mikroorganisme dan memiliki waktu kontak yang sesuai untuk memastikan desinfeksi yang optimal. Selain itu, penting juga untuk mempertimbangkan keamanan bagi pasien dan teknisi lab, serta mematuhi protokol infeksi yang berlaku di praktik kedokteran gigi.
- b.
Perendaman dalam klorin dioksida
- c.
Perendaman dalam natrium hipoklorit
- d.
Penyemprotan dengan alkohol
- e.
Penyemprotan dengan iodoform
Soal 7
Mindy, anak laki-laki berusia 9 tahun datang bersama ibunya ke RSGM Ummacademy untuk melakukan pemeriksaan rutin. Diketahui bahwa Mindy tidak memiliki keluhan pada gigi dan mulutnya. Pemeriksaan intra oral menunjukkan gigi bebas karies, gigi molar pertama permanen telah erupsi sempurna namun memiliki pit dan fissure yang dalam, serta kondisi gigi Mindy dalam fase gigi pergantian. Ibu Mindy ingin mempertahankan gigi Mindy yang bebas karies tersebut. Apakah karakteristik bahan yang sesuai untuk perawatan kasus di atas?
- a.
High strength
Pembahasan Opsi a:Pilihan "high strength" sebagai karakteristik bahan untuk perawatan kasus di atas kurang tepat. Sifat "high strength" biasanya dibutuhkan untuk material yang memerlukan kekuatan tinggi seperti bahan tumpatan pada area gigi yang menerima beban kunyah yang besar. Dalam kasus Mindy, di mana tujuan utamanya adalah pencegahan karies di pit dan fissure dalam, bahan yang ideal adalah "sealant" dengan karakteristik utama yang lebih menekankan pada "penetrasi" dan "adhesi" yang baik untuk mengisi pit dan fissure guna memberikan perlindungan terhadap karies. Fungsi dari sealant adalah mencegah masuknya bakteri dan makanan ke dalam area yang sulit dibersihkan, bukan untuk memberikan kekuatan mekanis seperti tumpatan dalam kasus gigi yang sudah mengalami kehilangan struktur. Perbedaan utama adalah bahwa high strength material memberikan kekuatan fisik yang lebih tinggi sementara sealant efektif dalam pencegahan karies secara preventif tanpa perlu menahan beban kunyah yang besar.
- b.
Low rigidity
Pembahasan Opsi b:Jawaban "low rigidity" kurang tepat untuk kasus ini, karena bahan dengan kekakuan rendah tidak akan memberikan perlindungan yang optimal terhadap pit dan fissure yang dalam pada gigi molar pertama permanen Mindy. Dalam konteks pencegahan karies pada gigi dengan pit dan fissure yang dalam, bahan sealant yang ideal adalah yang memiliki kekakuan yang lebih tinggi dan dapat menahan abrasi serta menghalangi akumulasi plak. Bahan dengan kekakuan rendah cenderung lebih cepat aus dan tidak mampu memberikan perlindungan jangka panjang. Pilihan yang lebih sesuai adalah bahan sealant yang memiliki kekuatan mekanis yang tinggi, seperti resin-based sealant, yang secara efektif dapat menutup pit dan fissure, memberikan lapisan proteksi yang lebih tahan lama. Perbedaan utama antara "low rigidity" dan bahan yang ideal adalah durabilitas dan efektifitas dalam mencegah karies pada gigi dengan relief morfologi yang dalam.
- c.
High hardness
Pembahasan Opsi c:Jawaban "high hardness" kurang tepat untuk kasus Mindy karena bahan dengan kekerasan tinggi lebih cocok untuk restorasi permukaan yang menerima tekanan kunyah besar dan bukan untuk menutup pit dan fissure. Pada kasus ini, yang diperlukan adalah bahan dengan kemampuan penetrasi yang baik seperti "sealant" yang memiliki viskositas rendah untuk menutup pit dan fissure yang dalam sehingga mencegah karies. Sealant bekerja dengan cara mengisi dan melekat pada celah-celah tersebut, berbeda dengan bahan berkarakter "high hardness" yang lebih bersifat untuk memperkuat dan menahan beban mekanis. Oleh karena itu, penggunaan sealant yang benar adalah solusi yang tepat untuk mempertahankan gigi Mindy bebas karies dalam jangka panjang.
- d.
Low viscosity
Pembahasan Opsi d:Mindy, seorang anak laki-laki berusia 9 tahun dengan gigi bebas karies dan erupsi gigi molar pertama permanen yang memiliki pit dan fissure dalam, memerlukan perawatan untuk melindungi gigi tersebut. Dalam kasus ini, diagnosis terkait adalah risiko karies pada gigi dengan pit dan fissure yang dalam, sehingga perlu dilakukan pencegahan melalui sealing. Bahan yang ideal untuk sealing adalah bahan komposisi resin yang memiliki viskositas rendah (low viscosity), karena dapat mengisi celah dengan efektif dan memberikan perlindungan lebih baik terhadap penetrasi bakteri. Penanganan ini penting untuk mempertahankan kesehatan gigi dan mencegah kerusakan lebih lanjut sehingga gigi tetap sehat selama fase gigi pergantian.
- e.
High surface tension
Pembahasan Opsi e:Jawaban "High surface tension" kurang tepat karena dalam konteks perlindungan gigi dengan pit dan fissure yang dalam, karakteristik bahan cekat yang sesuai adalah memiliki tegangan permukaan rendah (low surface tension). Hal ini penting agar bahan sealant dapat meresap dengan baik ke dalam pit dan fissure serta membentuk ikatan yang kuat dengan email gigi, sehingga memberikan perlindungan yang efektif terhadap karies. Bahan dengan tegangan permukaan tinggi cenderung sulit menyebar dan mengisi area sempit seperti pit dan fissure. Oleh karena itu, karakteristik yang dicari seharusnya yang memungkinkan bahan untuk menghasilkan sealant yang baik dengan penetrasi optimal.
Soal 8
Peralatan yang tidak masuk ke dalam rongga mulut disebut….
- a.
Non-Kritis
Pembahasan Opsi a:Pertanyaan ini berkaitan dengan klasifikasi peralatan medis berdasarkan tingkat risiko infeksinya; peralatan yang tidak masuk ke dalam rongga mulut dan aman untuk digunakan disebut non-kritis. Alat non-kritis biasanya digunakan pada bagian tubuh yang tidak berisiko tinggi terpapar darah atau cairan tubuh, seperti alat yang hanya bersentuhan dengan kulit. Contoh dari peralatan non-kritis termasuk spatula, kursi pasien, atau alat pemegang X-ray. Pahami bahwa klasifikasi ini penting dalam praktik kedokteran gigi untuk menentukan proses dekontaminasi dan sterilisasi yang diperlukan.
- b.
Semi Kritis
- c.
Kritis
- d.
Rotary instrument
- e.
Hand instrument
Tingkatkan Persiapan UKOMNAS PPDG Anda dengan Umeds!
Bagaimana, sudah mulai terbayang tantangan soal Material Kedokteran Gigi? Jangan khawatir! Setelah ini, Anda akan menemukan lebih banyak soal menarik untuk menguji pemahaman Anda. Namun, sebelum itu, izinkan kami mengingatkan bahwa Umeds bukan hanya sekadar platform tryout biasa.
Umeds menawarkan pengalaman belajar komprehensif dengan tryout online yang mirip ujian asli, video pembahasan yang detail untuk setiap soal, bank soal lengkap yang terus diperbarui, serta kelas interaktif bersama para pakar. Fitur-fitur ini dirancang khusus untuk membantu Anda memahami konsep-konsep Material Kedokteran Gigi secara mendalam, bukan hanya menghafal. Jangan lewatkan kesempatan untuk memaksimalkan persiapan Anda! Kunjungi Umeds dan rasakan sendiri perbedaannya.
Soal 9
Mindy, seorang perempuan berusia 22 tahun datang ke klinik gigi Ummadent dengan keluhan giginya yang sering ngilu ketika minum air dingin. Dokter gigi Umma memeriksa keadaan mulutnya dan tidak ditemukan lubang sama sekali. Kandungan apakah dalam pasta gigi yang seharusnya direkomendasikan oleh dokter gigi Umma?
- a.
Zinc fosfat
Pembahasan Opsi a:Pembahasan: Jawaban "Zinc fosfat" kurang tepat untuk keluhan gigi ngilu pada pasien Mindy. Zinc fosfat umumnya digunakan sebagai bahan semen untuk pemasangan mahkota, jembatan, atau restorasi di bidang kedokteran gigi, dan bukan sebagai bahan aktif dalam pasta gigi untuk mengatasi sensitivas gigi. Untuk keluhan sensitif, pasta gigi yang umumnya direkomendasikan mengandung kalium nitrat, yang bekerja dengan menembus lapisan dentin untuk menenangkan saraf di dalam gigi. Fungsi utamanya adalah menurunkan sensasi nyeri yang muncul akibat rangsangan dingin atau panas. Perbedaan utama dari jawaban yang benar adalah kalium nitrat memiliki mekanisme aksi yang spesifik untuk mengatasi sensitifitas, sementara zinc fosfat tidak memiliki fungsi tersebut pada konteks keluhan ini.
- b.
Sodium klorida
Pembahasan Opsi b:Sodium klorida adalah garam biasa yang sering digunakan sebagai agen abrasif ringan dalam pasta gigi, tetapi tidak efektif untuk mengatasi sensitifitas gigi. Sensitivitas gigi disebabkan oleh terbukanya dentin yang memicu respons ngilu saat terkena rangsangan eksternal seperti dingin atau asam. Bahan yang lebih tepat untuk kondisi ini adalah potassium nitrate atau stannous fluoride. Potassium nitrate bekerja dengan menenangkan saraf di dalam gigi, sementara stannous fluoride membentuk lapisan pelindung di atas dentin yang terbuka. Berbeda dengan sodium klorida yang tidak punya efek langsung pada kanal dentin atau saraf, potassium nitrate dan stannous fluoride diformulasikan khusus untuk mengobati gejala hipersensitivitas dentin tersebut.
- c.
Potasium nitrat
Pembahasan Opsi c:Mindy, seorang perempuan berusia 22 tahun mengalami ngilu pada giginya saat mengonsumsi air dingin tanpa adanya lubang gigi, yang mengindikasikan kemungkinan mengalami hipersensitivitas gigi. Diagnosis ini berkaitan dengan kondisi di mana dentin gigi terbuka dan terpapar, sehingga menyebabkan rasa sakit saat terpapar suhu ekstrem. Dokter gigi Umma seharusnya merekomendasikan pasta gigi yang mengandung potasium nitrat, yang bekerja dengan cara mengurangi excitabilitas serat saraf di dalam dentin, membantu meredakan rasa nyeri akibat sensitivitas. Klasifikasi potasium nitrat sebagai agen desensitisasi menjadikannya pilihan tepat dalam perawatan ini, serta merupakan komponen umum dalam pasta gigi untuk hipersensitivitas.
- d.
Amonium klorida
Pembahasan Opsi d:Pilihan jawaban "Amonium klorida" kurang tepat karena bahan ini lebih dikenal sebagai senyawa yang digunakan dalam produk pembersih dan bukan sebagai bahan aktif dalam pasta gigi untuk mengatasi gigi sensitif. Amonium klorida tidak memiliki fungsi dalam menutup tubulus dentin pada gigi yang sensitif. Pasta gigi untuk mengatasi gigi sensitif biasanya mengandung bahan seperti kalium nitrat, stronsium klorida, atau arginine. Bahan tersebut membantu mengurangi rasa ngilu dengan cara menghambat transmisi sinyal nyeri melalui tubulus dentin. Perbedaan utama dengan jawaban yang benar adalah efektivitas bahan baku dalam mengatasi gigi sensitif. Misalnya, kalium nitrat bekerja dengan cara menenangkan saraf di dalam gigi, sehingga lebih cocok direkomendasikan untuk masalah gigi sensitif yang dialami pasien.
- e.
Amonium nitrat
Pembahasan Opsi e:Jawaban "Amonium nitrat" kurang tepat untuk mengatasi kasus hipersensitivitas dentin yang dialami oleh Mindy. Amonium nitrat bukanlah bahan aktif yang biasa digunakan dalam pasta gigi untuk mengatasi keluhan gigi ngilu. Hipersensitivitas dentin terjadi ketika lapisan dentin terbuka dan terangsang oleh suhu dingin atau panas, serta makanan atau minuman tertentu. Dalam konteks pasta gigi, bahan aktif seperti potassium nitrate atau stannous fluoride lebih umum direkomendasikan karena membantu menutup tubulus dentin atau memblokir transmisi sinyal nyeri ke saraf. Amonium nitrat, di sisi lain, tidak memiliki fungsi spesifik untuk meminimalkan respon nyeri pada kasus hipersensitivitas dentin sehingga tidak digunakan dalam pasta gigi untuk tujuan ini.
Soal 10
Mindy, pasien laki-laki berusia 50 tahun datang ke praktik dokter gigi Umma dengan keluhan ingin membuat gigi tiruan. Pemeriksaan intra oral didapatkan gigi hilang pada gigi 45. Dokter gigi Umma merencanakan pembuatan gigi tiruan cekat pada gigi 45. Dokter gigi Umma merencanakan prosedur cetak double impression menggunakan bahan elastomer silikon. Tahap awal menggunakan material dengan viskositas tinggi, lalu setelah dilakukan preparasi pada gigi 44 dan 46 maka dilanjutkan pencetakan dengan material viskositas rendah untuk mendapatkan model kerja. Material cetak elastomer tipe apa yang memiliki viskositas tertinggi?
- a.
Light bodied
- b.
Putty material
Pembahasan Opsi b:Mindy adalah pasien berusia 50 tahun yang memerlukan gigi tiruan cekat setelah kehilangan gigi 45, dan dokter merencanakan cetak gigi dengan metode double impression menggunakan bahan elastomer silikon. Diagnosis yang tepat adalah edentulous pada wilayah gigi 45, dengan ciri khas kebutuhan pembuatan gigi tiruan cekat dari material elastomer. Proses pembuatan gigi tiruan mencakup penggunaan material cetak dengan viskositas berbeda, di mana tahap awal menggunakan material dengan viskositas tinggi untuk menangkap detail anatomi yang baik. Dalam hal ini, material elastomer tipe putty adalah yang memiliki viskositas tertinggi, sehingga sangat tepat digunakan sebagai langkah awal untuk memastikan akurasi cetak sebelum melanjutkan dengan material viskositas rendah pada tahap berikutnya.
- c.
High material
- d.
Regular bodied
- e.
Heavy bodied
Soal 11
Dokter gigi Umma merencanakan pembuatan piranti ortodonti cekat pada pasiennya karena gigi depan yang tidak rapi. Dokter gigi Umma memilih bahan yang terbaik dengan segala pertimbangan, yaitu bahan kawat yang terbaik yang tidak mudah korosif untuk piranti ortodonti tersebut. Terbuat dari bahan apakah kawat tersebut?
- a.
Ni-Cr
Pembahasan Opsi a:Pemilihan bahan Ni-Cr untuk kawat ortodonti tidak tepat karena meskipun bahan ini memiliki ketahanan terhadap korosi, sifat mekanisnya seperti elastisitas dan kekuatan tidak sebaik bahan lainnya seperti stainless steel atau nickel-titanium (Ni-Ti) yang lebih umum digunakan. Stainless steel umumnya digunakan karena sifatnya yang tahan karat dan kekuatan mekanis yang baik, sementara Ni-Ti dikenal memiliki sifat elastisitas yang sangat baik dan kemampuan menjadi lebih fleksibel serta adaptif dalam aplikasi ortodonti. Bahan Ni-Cr sering digunakan dalam aplikasi prostodontik seperti pembuatan rangka gigi tiruan karena daya tahannya terhadap susut dan korosi, bukan sebagai pilihan utama dalam ortodonti cekat.
- b.
Ni-Ti
Pembahasan Opsi b:Jawaban ini kurang tepat. Meskipun kawat Ni-Ti memiliki sifat superelastic dan shape memory yang sangat baik untuk memberikan gaya ortodontik ringan dan kontinu, bahan ini tidak seoptimal stainless steel dalam hal ketahanan korosi untuk komponen utama piranti ortodonti cekat. Ni-Ti lebih sering digunakan pada tahap awal perawatan untuk meratakan gigi karena fleksibilitasnya, namun tidak sekuat dan setahan karat stainless steel yang lebih stabil secara kimiawi dan lebih cocok untuk penggunaan jangka panjang dalam rongga mulut yang bersifat korosif.
- c.
Stainless steel
Pembahasan Opsi c:Kawat dari stainless steel sifatnya kuat (high tensile strength), tidak mudah korosi karena mengandung kromium (membentuk lapisan pasif), mudah dimodifikasi. Sifat elastisitasnya cukup baik, walau tidak sefleksibel Ni-Ti, namun lebih stabil dan mudah dikontrol.
- d.
Ag-Au
Pembahasan Opsi d:Penggunaan bahan Ag-Au (perak-emas) untuk kawat ortodonti cekat kurang tepat karena meskipun memiliki kekuatan yang lumayan baik, bahan ini cenderung tidak digunakan karena biayanya yang tinggi dan potensi korosinya yang lebih tinggi dibandingkan dengan bahan lain seperti stainless steel dan titanium. Stainless steel adalah pilihan bahan yang lebih umum digunakan untuk kawat ortodonti karena keunggulannya dalam hal kekuatan, elastisitas, ketahanan korosi, dan biaya yang lebih terjangkau. Selain itu, titanium juga sering dipilih karena ringan, kuat, dan sangat tahan terhadap korosi, menjadikannya material yang sangat cocok untuk aplikasi medis termasuk ortodonti. Kedua bahan ini memastikan performa optimal dan kenyamanan lebih bagi pasien dibandingkan Ag-Au, yang lebih rentan terhadap perubahan dalam lingkungan mulut yang dinamis dan potensi alergi logam.
- e.
Ag
Pembahasan Opsi e:Memilih bahan kawat untuk piranti ortodonti cekat adalah keputusan penting karena mempertimbangkan sifat bahan seperti ketahanan terhadap korosi, biokompatibilitas, dan kekuatan. Jawaban 'Ag' atau perak kurang tepat karena meskipun perak memiliki ketahanan korosi yang baik, material ini kurang ideal untuk ortodonti disebut dengan harga yang mahal dan kelembutan relatif yang menyebabkan deformasi di bawah tekanan penggunaan. Bahan yang lebih tepat digunakan adalah stainless steel atau nikel titanium (Niti) yang lebih umum digunakan karena kombinasi mutu kekuatan yang baik serta resistan terhadap korosi dan biokompatibilitas yang tinggi. Stainless steel, misalnya, merupakan pilihan yang lebih ekonomis dan menyediakan pengendalian pencetakan gigi yang lebih konsisten. Berbeda dengan Ag, bahan ini mampu mentoleransi tekanan mekanis lebih baik dalam jangka panjang.
Soal 12
Dokter gigi Umma memerlukan pencetakan rahang pasien menggunakan bahan cetak alginat untuk pembuatan protesa. Pengendalian penyebaran infeksi cetakan dilakukan dengan cara dibersihkan dari saliva dan darah dalam air mengalir. Tindakan desinfeksi dilakukan sebelum cetakan dikirim ke laboratorium. Bagaimanakah cara desinfeksi yang paling dianjurkan pada kasus Mindy di atas?
- a.
Perendaman dalam asam glutaraldehid
Pembahasan Opsi a:Pada kasus ini, Dokter gigi Umma perlu melakukan desinfeksi cetakan alginat setelah pencetakan rahang untuk menghindari penyebaran infeksi. Alginat adalah bahan cetak yang bersifat hidrofilik dan rentan terhadap distorsi jika terkena cairan dalam waktu yang lama. Oleh karena itu, pilihan yang paling dianjurkan adalah menggunakan perendaman dalam asam glutaraldehid. Asam glutaraldehid dikenal efektif sebagai bahan desinfektan yang dapat membunuh bakteri, virus, dan jamur, serta memiliki penetrasi yang baik tanpa menyebabkan kerusakan atau distorsi yang signifikan pada cetakan alginat selama proses desinfeksi yang relatif singkat. Ditambah, asam glutaraldehid umumnya tersedia dan sering digunakan dalam praktek klinis untuk mendesinfeksi alat-alat kedokteran gigi yang sensitif terhadap panas. Selain itu, waktu perendaman harus diperhatikan untuk menghindari distorsi material cetak.
- b.
Perendaman dalam klorin dioksida
- c.
Perendaman dalam natrium hipoklorit
- d.
Penyemprotan dengan alkohol
- e.
Penyemprotan dengan iodoform
Soal 13
Fungsi instrument dibawah ini adalah…..

- a.
Memasukkan bahan tumpatan ke dalam kavitas
- b.
Mengambil sisa jaringan karies
- c.
Mengambil sisa dentin lunak
- d.
Mendeteksi adanya sangkutan pada gigi
- e.
Menekan jaringan gusi untuk evaluasi
Soal 14
Dokter gigi Umma merencanakan pembuatan piranti ortodonti cekat pada pasiennya karena gigi depan yang tidak rapi. Dokter gigi Umma memilih bahan yang terbaik dengan segala pertimbangan, yaitu bahan kawat yang terbaik yang tidak mudah korosif untuk piranti ortodonti tersebut. Terbuat dari bahan apakah kawat tersebut?
- a.
Ni-Cr
Pembahasan Opsi a:Sering digunakan sebagai bahan kerangka gigi tiruan logam (misalnya pada gigi tiruan cekat), bukan untuk kawat ortodonti. Meskipun kuat dan tahan korosi, sifat elastisitas dan fleksibilitasnya tidak sebaik stainless steel untuk aplikasi ortodonti.
- b.
Ni-Ti
Pembahasan Opsi b:Memiliki sifat superelastis dan shape memory, sangat ideal untuk pergerakan awal gigi karena bisa memberikan gaya ringan terus-menerus. Namun, kurang kuat dibanding stainless steel, dan lebih rentan korosi, terutama jika kadar nikel tinggi dan tidak dilapisi. Bukan pilihan utama untuk ketahanan jangka panjang.
- c.
Stainless steel
Pembahasan Opsi c:Stainless steel adalah bahan kawat ortodonti yang paling banyak digunakan karena memiliki kombinasi terbaik antara kekuatan, ketahanan terhadap korosi, elastisitas yang cukup, dan biaya yang ekonomis. Bahan ini juga biokompatibel dan mudah dibentuk, serta tahan terhadap lingkungan rongga mulut yang bersifat asam-basa dan penuh enzim. Selain itu, stainless steel tidak mudah mengalami korosi atau oksidasi, menjadikannya pilihan terbaik untuk kawat busur (archwire) ortodonti cekat.
- d.
Ag-Au
Pembahasan Opsi d:Merupakan logam mulia yang sangat mahal, jarang digunakan untuk kawat ortodonti. Emas memang tahan korosi, tapi terlalu lunak untuk digunakan sebagai kawat ortodonti yang membutuhkan kekuatan tinggi. Tidak praktis secara ekonomi maupun teknis.
- e.
Ag
Pembahasan Opsi e:Meskipun perak adalah logam mulia dan memiliki konduktivitas tinggi, ia mudah teroksidasi dan ternoda, serta kurang kuat secara mekanis untuk dijadikan kawat ortodonti. Tidak digunakan dalam praktik ortodonti modern.
Soal 15
Pasien 28 tahun datang dengan keluhan gigi depan hilang akibat kecelakaan. Pasien minta giginya diganti sesuai dengan gigi alami. Intraoral 21 edentulus, 11 patah 1/3 insisal, OVERBITE normal, artikulasi ke anterior ringan. Dokter gigi akan merawat dengan bridge fixed-fixed. Apakah bahan yang sesuai ?
- a.
Metal akrilik
- b.
Akrilik
- c.
Porselen
Pembahasan Opsi c:Kasus ini melibatkan pasien 28 tahun dengan gigi depan (21) yang hilang dan 11 yang patah, di mana perawatan yang dipilih adalah jembatan tetap (fixed bridge). Diagnosis utama adalah kehilangan gigi anterior dan fraktur gigi, di mana bridge akan membantu memulihkan estetika dan fungsi. Ciri khas dari kasus ini adalah kebutuhan untuk penggantian gigi yang menyerupai gigi alami, dan dalam hal ini, bahan porselen adalah pilihan yang tepat karena memberikan estetika yang baik dan menyerupai gigi asli. Selain itu, porselen memiliki ketahanan yang baik dan mampu menahan beban cukup tinggi sesuai dengan lokasi gigi yang terkena. Pertimbangan lain yang penting termasuk kelayakan dan prognosis jembatan tersebut, serta kesehatan gigi penyangga yang harus diperiksa untuk memastikan keberhasilan jembatan.
- d.
Komposit
- e.
Metal porselen
Terus Melangkah Maju: Kunci Sukses UKOMNAS PPDG 2026
Selamat! Anda telah menyelesaikan sesi latihan soal Material Kedokteran Gigi ini. Setiap soal yang Anda kerjakan, setiap jawaban yang Anda analisis, adalah langkah kecil namun pasti menuju keberhasilan Anda di UKOMNAS PPDG 2026. Ingatlah, konsistensi adalah kunci utama. Jangan berhenti berlatih dan terus gali pemahaman Anda.
Kami di Umeds percaya pada potensi setiap calon dokter gigi. Teruslah bersemangat, manfaatkan setiap sumber daya yang ada, dan jangan ragu untuk kembali berlatih bersama kami. Dengan persiapan yang matang dan mental yang kuat, Anda pasti bisa meraih hasil terbaik. Sampai jumpa di tryout berikutnya, dan semoga sukses selalu!
Persiapkan UKOMNAS PPDG Kamu Bersama Umeds!
Belajar Jadi Dokter Hebat Cukup dalam Genggaman. Akses materi pembelajaran, video kuliah, dan latihan soal kapan saja di satu aplikasi.


