Persiapan UKOMNAS PPDG 2026: Kunci Sukses Calon Dokter Gigi
Menghadapi Ujian Kompetensi Mahasiswa Program Profesi Dokter Gigi (UKOMNAS PPDG) di tahun 2026 adalah langkah krusial bagi setiap calon dokter gigi. Ujian ini bukan sekadar formalitas, melainkan gerbang utama menuju praktik profesional yang kompeten dan terpercaya. Persiapan yang matang sejak dini menjadi kunci sukses untuk meraih hasil terbaik dan memastikan Anda siap menghadapi tantangan dunia kedokteran gigi.
Menguasai Ilmu Penyakit Mulut: Fondasi Penting dalam UKOMNAS PPDG
Salah satu materi fundamental yang sering menjadi momok sekaligus penentu adalah Ilmu Penyakit Mulut. Bidang ini mencakup diagnosis, penanganan, dan pencegahan berbagai kondisi patologis yang memengaruhi rongga mulut, rahang, dan struktur terkait lainnya. Pemahaman mendalam tentang etiologi, manifestasi klinis, hingga pilihan terapi penyakit mulut sangat vital, tidak hanya untuk UKOMNAS PPDG, tetapi juga untuk praktik klinis sehari-hari.
Untuk membantu Anda menaklukkan UKOMNAS PPDG, khususnya pada materi Ilmu Penyakit Mulut, Umeds hadir sebagai platform belajar terbaik. Kami menyediakan sumber daya komprehensif yang dirancang khusus untuk mahasiswa kedokteran gigi, memastikan Anda mendapatkan persiapan terbaik dan percaya diri menghadapi setiap jenis soal. Mari kita mulai perjalanan belajar yang efektif bersama Umeds!
15 Latihan Soal dan Pembahasan UKOMNAS PPDG Ilmu Penyakit Mulut
Soal 1
Seorang pasien perempuan usia 50 tahun datang dengan keluhan rasa sakit sariawan pada lidah seperti pada gambar berikut sudah sejak 1 tahun yang lalu. Dari hasil anamnesis diketahui bahwa pasien menderita batuk yang tidak membaik sejak lama. Pemeriksaan ekstraoral tampak limfonodi submandibular teraba nyeri dan leher sebelah kanan setinggi servikal terdapat benjolan diameter 2cm. Pemeriksaan intraoral tampak ulcer dengan dasar pucat dan tepi undermined. Pasien dikonsultasikan ke spesialis paru dan di diagnosis TB. Apakah temuan klinis spesifik yang merupakan alas an untuk melakukan konsultasi medis?
- a.
Ulkus
- b.
Ranula
- c.
Scrofula
Pembahasan Opsi c:Pasien perempuan berusia 50 tahun dengan keluhan sariawan pada lidah dan benjolan di leher yang nyeri menunjukkan kemungkinan infeksi tuberkulosis (TB) pada daerah servikal, khususnya manifestasi scrofula yang terkait dengan TB kelenjar getah bening. Ciri khas dari scrofula adalah adanya limfadenopati servikal yang nyeri dan benjolan yang dapat berulserasi, seperti pada kasus ini, serta adanya riwayat batuk kronis, yang merupakan petunjuk untuk diagnosis TB. Dalam perawatan, intervensi medis untuk mengatasi TB diperlukan, mengingat pasien mengalami sariawan dan ulserasi yang mungkin terkait dengan supresi imun akibat infeksi TB. Oleh karena itu, temuan klinis spesifik limfadenopati servikal dan ulkus di mulut adalah alasan yang kuat untuk merujuk pasien ini ke spesialis medis.
- d.
Mucocele
- e.
Granuloma
Soal 2
Mindy, seorang perempuan berusia 25 tahun datang ke RSGM Ummacademy dengan keluhan seluruh rongga mulut terasa terbakar sejak 2 minggu. Dari anamnesa diketahui Mindy hanya memakan sayur-sayuran sejak 6 bulan terakhir. Pemeriksaan intra oral terdapat atrofi pada beberapa daerah mukosa bukal kanan dan kiri, papila lidah serta lidah berwarna merah seperti daging (beefy tongue). Apa defisiensi vitamin yang menyebabkan kasus di atas?
- a.
B1
Pembahasan Opsi a:Defisiensi vitamin B1, yang dikenal sebagai tiamin, umumnya terkait dengan kondisi seperti beri-beri dan tidak menyebabkan gejala pada rongga mulut seperti yang dialami Mindy. Tiamin memiliki peran penting dalam metabolisme karbohidrat dan fungsi saraf, tetapi tidak memengaruhi kesehatan mukosa oral secara langsung. Oleh karena itu, defisiensi B1 bukanlah jawabannya. Gejala yang ditunjukkan oleh Mindy, terutama lidah merah seperti daging (beefy tongue) dan atrofi papila lidah, lebih serupa dengan manifestasi defisiensi vitamin B12 atau asam folat. Vitamin B12 dan asam folat berperan penting dalam pematangan sel darah merah dan pemeliharaan kesehatan sel mukosa, sehingga kekurangan salah satu dari vitamin ini lebih mungkin menyebabkan gejala yang digambarkan. Dengan demikian, analisis menyeluruh dari gejala menunjukkan bahwa defisiensi vitamin B12 atau asam folat lebih sesuai dengan kondisi Mindy.
- b.
B2
Pembahasan Opsi b:Jawaban B2 kurang tepat karena vitamin B2 (riboflavin) biasanya terkait dengan gejala seperti cheilosis, stomatitis angular, dan dermatitis seborrheic, bukan sensasi terbakar di rongga mulut atau kondisi "beefy tongue". Vitamin B2 berperan dalam metabolisme energi dan kesehatan kulit, mata, serta sistem saraf. Defisiensi yang relevan pada kasus Mindy adalah defisiensi vitamin B12, yang dapat menyebabkan anemia pernisiosa dengan gejala-gejala seperti sensasi terbakar di mulut dan lidah beefy. Perbedaan antara B2 dan B12 sangat relevan karena B12 secara khusus berhubungan dengan fungsi neurologis dan produksi sel darah merah, yang mana defisiensinya dapat mempengaruhi mukosa mulut dan lidah. Penting untuk memahami bahwa vitamin B12 sering ditemukan dalam produk hewani, yang berpotensi kekurangan dalam diet berbasis sayuran yang Mindy lakukan.
- c.
B6
Pembahasan Opsi c:Defisiensi vitamin B6 tidak menyebabkan gejala seperti pada kasus Mindy. Vitamin B6 berperan dalam metabolisme asam amino, produksi neurotransmiter, dan pembentukan hemoglobin, dan defisiensinya lebih sering dikaitkan dengan gejala seperti anemia ringan, gangguan sistem saraf, atau cheilitis anguler. Gejala yang Mindy alami lebih sesuai dengan defisiensi vitamin B12, yang dapat menyebabkan glositis atrofi atau "beefy tongue" dan rasa terbakar di mulut, serta anemia megaloblastik. Vitamin B12 esensial dalam produksi sel darah merah dan fungsi neurologis, dan umumnya didapatkan dari produk hewani yang tidak dikonsumsi Mindy selama 6 bulan terakhir. Perbedaan utama dari kedua vitamin ini terletak pada sumber makanan dan kondisi klinis dari defisiensinya.
- d.
B12
Pembahasan Opsi d:Mindy, seorang perempuan 25 tahun, mengalami gejala terbakar di seluruh rongga mulut dan ditemukan adanya atrofi pada mukosa bukal serta lidah 'beefy' yang menunjukkan kemungkinan defisiensi vitamin B12. Defisiensi ini biasanya terjadi akibat kurangnya asupan vitamin dari makanan, yang dalam kasus Mindy disebabkan oleh diet vegetarian ketatnya selama 6 bulan. Ciri khas dari defisiensi B12 adalah gejala oral seperti glossitis dan stomatitis, yang sejalan dengan temuan di rongga mulut. Penanganan kasus ini meliputi suplementasi vitamin B12 dan perubahan diet untuk memastikan asupan gizi yang adekuat. Klasifikasi defisiensi ini termasuk dalam defisiensi vitamin yang dapat menyebabkan komplikasi sistemik jika tidak ditangani dengan baik.
- e.
B kompleks
Pembahasan Opsi e:Jawaban "B kompleks" kurang tepat karena defisiensi vitamin B kompleks biasanya menimbulkan gejala seperti dermatitis, glositis, kelelahan, dan neuropati, tetapi tidak secara spesifik menyebabkan atrofi mukosa atau lidah berwarna merah cerah. Vitamin B kompleks terdiri dari beberapa vitamin yang larut dalam air, termasuk B1 (tiamin), B2 (riboflavin), B3 (niacin), B5 (asam pantotenat), B6 (piridoksin), B7 (biotin), B9 (asam folat), dan B12 (kobalamin), yang masing-masing memiliki peran penting dalam metabolisme tubuh. Perbedaan dengan jawaban benar, seperti defisiensi vitamin B12, adalah kondisi ini terutama mempengaruhi mukosa mulut dan lidah menjadi merah serta atrofi papila lidah, karena perannya dalam sintesis DNA dan kesehatan neurologis. Defisiensi vitamin B12 biasanya dikaitkan dengan diet vegetarian yang ketat, mengingat vitamin ini terutama ditemukan dalam produk hewani. Oleh karena itu, keluhan Mindy lebih cocok dengan defisiensi vitamin B12.
Soal 3
Seorang pasien perempuan usia 38 tahun datang dengan keluhan rasa sakit sariawan pada lidah seperti pada gambar berikut sudah sejak 3 bulan yang lalu. Dari hasil anamnesis diketahui bahwa pasien menderita batuk yang tidak membaik sejak 3 bulan yang lalu. Hasil tes Mantoux positif dan pemeriksaan intraoral tampak ulcer dengan dasar pucat dan tepi undermined. Apakah diagnosis dari kondisi tersebut?

- a.
Ulkus tuberculosis
- b.
Squamous cell carcinoma
- c.
Ulkus sifilis primer
- d.
Ulkus sifilis tersier
- e.
RAS Mayor
Soal 4
Mindy, seorang perempuan berusia 58 tahun datang ke RSGM Ummacademy dengan keluhan nyeri dan rasa terbakar terutama pada mukosa pipi kanan. Dari anamnesis diketahui setahun lalu mendapat perawatan pada sendi rahang dan masih dalam pengobatan hingga sekarang. Pemeriksaan intra oral lesi tampak striae dengan keratosis pada mukosa bukal kanan dan kiri, disertai dengan daerah yang mengalami erosi. Apakah tatalaksana untuk kasus di atas?
- a.
Acyclovir
Pembahasan Opsi a:Jawaban Acyclovir kurang tepat karena obat ini adalah antiviral yang digunakan untuk mengobati infeksi virus herpes dan tidak efektif untuk kondisi yang terkait dengan lesi mukosa seperti yang dialami Mindy. Dalam kasus ini, gambaran lesi yang terdapat striae dengan keratosis dan erosi pada mukosa bukal menunjukkan kemungkinan adanya lichen planus, yang merupakan keadaan inflamasi autoimun dan lebih tepat ditangani dengan penggunaan kortikosteroid topikal atau terapi sistemik untuk mengurangi peradangan, bukan dengan antiviral. Oleh karena itu, penanganan yang lebih sesuai akan lebih fokus pada pengelolaan kondisi mukosalnya.
- b.
Isoprinosine
Pembahasan Opsi b:Jawaban ini kurang tepat karena Isoprinosine adalah obat antiviral yang umumnya digunakan untuk mengobati infeksi virus tertentu, seperti infeksi herpes. Dalam konteks kasus Mindy, keluhan nyeri dan lesi pada mukosa pipi kanan menunjukkan kemungkinan adanya keratosis atau leukoplakia yang lebih berkaitan dengan faktor iritasi atau kondisi non-infeksi, bukan infeksi virus. Tatalaksana yang lebih tepat untuk kondisi ini biasanya melibatkan pengobatan simptomatik, penghindaran iritasi, atau bahkan biopsi jika lesi mencurigakan, daripada penggunaan antiviral. Pemberian Isoprinosine tidak akan efektif karena tidak menargetkan penyebab dasar dari kondisi mukosa yang dialami pasien.
- c.
Triamcinolone
Pembahasan Opsi c:Kasus ini melibatkan Mindy, perempuan berusia 58 tahun dengan nyeri dan rasa terbakar pada mukosa pipi kanan, serta lesi striae dan keratosis di mukosa bukal, yang dapat mengindikasikan diagnosis lichen planus oral. Penyakit ini biasanya ditandai oleh tampilan lesi yang khas dan dapat disertai oleh erosi yang menyakitkan. Pengobatan utama untuk lichen planus oral yang mengalami gejala adalah penggunaan kortikosteroid topikal seperti Triamcinolone, yang berfungsi untuk mengurangi peradangan dan nyeri. Klasifikasi lichen planus sendiri termasuk dalam gangguan imunologis yang melibatkan jaringan oral dan dapat berhubungan dengan kondisi sistemik, sehingga penting untuk mempertimbangkan perawatan yang tepat dan pemantauan lanjutan.
- d.
Muramil dipeptide
Pembahasan Opsi d:Muramil dipeptide bukanlah tatalaksana yang tepat untuk kondisi Mindy, karena obat ini biasanya digunakan dalam kasus infeksi dan tidak memiliki indikasi untuk mengatasi keluhan nyeri serta keratosis pada mukosa yang dijelaskan. Lesi striae dan erosi yang dialami Mindy menunjukkan kemungkinan adanya kondisi seperti lichen planus, yang lebih cocok ditangani dengan obat topikal kortikosteroid sebagai pengurangan peradangan dan perbaikan sel. Berbeda dengan muramil dipeptide yang fokus pada respon imun, pendekatan yang tepat dalam kasus ini adalah penanganan yang langsung mengatasi gejala lokal dan mempercepat penyembuhan mukosa.
- e.
Chlorhexidine
Pembahasan Opsi e:Jawaban "Chlorhexidine" tidak tepat sebagai tatalaksana utama untuk kasus ini karena meskipun chlorhexidine adalah antiseptik yang efektif untuk mengurangi bakteri dan membantu penyembuhan lesi oral, ia tidak mengatasi akar masalah yang mendasari keluhan Mindy, yaitu kemungkinan adanya lichen planus atau kondisi inflamasi lainnya yang menyebabkan keratosis dan erosi. Untuk kondisi seperti ini, sangat penting untuk melakukan pendekatan yang lebih komprehensif, termasuk pengobatan yang dapat mengurangi peradangan dan rasa sakit, seperti kortikosteroid topikal. Penggunaan chlorhexidine sebaiknya dipertimbangkan sebagai terapi tambahan, bukan sebagai terapi utama.
Soal 5
Otot manakah dibawah ini yang bukan termasuk dalam otot ekstrisik dan intrinsik penggerak lidah?
- a.
M. genioglossus dan M. longitudinalis superior
- b.
M. genioglossus dan M. longitudinalis inferior
- c.
M. styloglossus dan M. transversus linguae
- d.
M. masseter dan M. transversus lingue
Pembahasan Opsi d:Dalam soal ini, ditanyakan otot yang bukan termasuk dalam kategori otot ekstrisik dan intrinsik penggerak lidah; otot ekstrisik menggerakkan lidah ke arah luar dan posisi, sedangkan otot intrinsik mengubah bentuk lidah. M. masseter adalah otot pengunyah yang terletak di area rahang dan tidak berperan dalam gerakan lidah, sementara M. transversus lingue adalah salah satu otot intrinsik lidah yang mengubah bentuknya, sehingga pilihan yang benar adalah M. masseter sebagai otot yang bukan penggerak lidah.
- e.
M. palatoglossus dan M. verticalis linguae
Soal 6
Dokter gigi Umma praktik dengan fasilitas kursi gigi dan peralatan yang sangat mahal. Suatu hari kedatangan Mindy dengan pakaian lusuh dan meminta untuk diobati. Dokter gigi Umma seketika menolak dengan asumsi Mindy tidak mampu membayar. Apakah prinsip dasar bioetik yang dilanggar oleh dokter gigi Umma?
- a.
Respect for person
Pembahasan Opsi a:Jawaban "Respect for person" kurang tepat karena prinsip ini menekankan penghormatan terhadap otonomi individu dan hak untuk membuat keputusan sendiri. Dalam kasus ini, prinsip yang lebih relevan adalah "Justice" karena ini berkaitan dengan keadilan dalam memberikan pelayanan kesehatan tanpa diskriminasi berdasarkan latar belakang ekonomi, sosial, atau kultural. Dokter gigi Umma melanggar prinsip keadilan dengan menolak merawat pasien hanya berdasarkan penilaian awal terhadap penampilan ekonomi Mindy, yang tidak adil dan diskriminatif. Perbedaan ini penting karena "Justice" menyoroti kesetaraan dalam akses terhadap perawatan kesehatan, sementara "Respect for person" lebih berfokus pada penghormatan terhadap hak individu untuk diberi informasi yang cukup dan membuat keputusan atas perawatan yang akan diterima.
- b.
Non-maleficence
Pembahasan Opsi b:Jawaban 'Non-maleficence' kurang tepat karena prinsip non-maleficence menekankan pada kewajiban untuk tidak menimbulkan dampak buruk atau mencederai pasien. Prinsip ini lebih berfokus pada tindakan medis yang bisa menyebabkan bahaya fisik atau psikologis pada pasien. Dalam kasus ini, dokter gigi Umma seharusnya menerapkan prinsip 'Justice', yang berhubungan dengan keadilan dan pemerataan akses terhadap pelayanan kesehatan. Menolak pasien berdasarkan asumsi kemampuan finansial melanggar prinsip 'Justice', bukan 'Non-maleficence'. Berbeda dengan non-maleficence, yang lebih menyoroti tindakan medis yang aman dan tidak merugikan, justice menitikberatkan pada distribusi sumber daya kesehatan secara adil dan tanpa diskriminasi.
- c.
Beneficence
Pembahasan Opsi c:Jawaban "Beneficence" kurang tepat dalam konteks ini. Beneficence adalah prinsip bioetik yang menekankan bahwa tindakan seorang profesional kesehatan harus bertujuan untuk memberikan manfaat terbesar bagi pasien, termasuk mengurangi bahaya dan mempromosikan kebaikan pasien. Meskipun penolakan oleh dokter gigi Umma bisa dianggap mengabaikan prinsip ini, prinsip yang lebih relevan yang dilanggar adalah "Justice". Justice dalam konteks bioetik merujuk pada perlakuan yang adil dan distribusi sumber daya medis yang merata, tanpa diskriminasi berdasarkan latar belakang ekonomi atau sosial. Dengan menolak memberikan perawatan kepada Mindy karena tampilan fisiknya, dokter Umma melanggar prinsip keadilan ini, karena hak setiap individu untuk mendapat pelayanan kesehatan yang adil dan setara harus dijunjung tinggi.
- d.
Autonomy
Pembahasan Opsi d:Jawaban "Autonomy" kurang tepat dalam konteks pertanyaan ini. Autonomy atau otonomi merupakan prinsip bioetik yang mengacu pada hak pasien untuk membuat keputusan yang informatif dan bebas tentang perawatan kesehatan mereka. Dalam kasus ini, isu utama tidak berhubungan dengan kemampuan Mindy untuk mengambil keputusan sendiri, melainkan tindakan diskriminasi dokter gigi berdasarkan kemampuan finansial yang diasumsikan. Prinsip dasar bioetik yang dilanggar adalah "Justice" (keadilan), yang menuntut perlakuan adil dan merata bagi semua pasien tanpa memandang latar belakang ekonomi mereka. Ini berbeda dengan autonomy, yang lebih terkait dengan pemberian informasi dan persetujuan pasien terhadap tindakan medis.
- e.
Justice
Pembahasan Opsi e:Kasus ini menggambarkan pelanggaran terhadap prinsip bioetik keadilan (justice), di mana Dokter gigi Umma menolak memberikan perawatan kepada Mindy berdasarkan penilaian terhadap kemampuan finansialnya, bukan kebutuhan medis. Ciri khas dari pelanggaran ini adalah diskriminasi dalam penerimaan pasien berdasarkan status sosial ekonomi, yang bertentangan dengan prinsip bahwa setiap individu berhak mendapatkan akses yang setara terhadap pelayanan kesehatan. Dalam praktik kedokteran, penting untuk memberikan perawatan berdasarkan kebutuhan medis tanpa mempertimbangkan latar belakang ekonomi pasien. Oleh karena itu, Dokter gigi Umma seharusnya memberikan perawatan yang diperlukan dan mempertimbangkan cara untuk mendukung pasien dalam hal biaya, sebagai bagian dari etika yang baik dalam profesionalisme medis.
Soal 7
Mindy, pasien perempuan berusia 25 tahun datang ke RSGM Ummacademy dengan keluhan terdapat benjolan besar di bawah lidah bagian kirinya. Saat pemeriksaan terlihat benjolan berdiameter 2 cm berwarna kebiruan, lunak dan berfluktuasi. Perawatan yang tepat untuk kasus tersebut adalah?
- a.
Bedah insisi
Pembahasan Opsi a:Jawaban "Bedah insisi" kurang tepat karena prosedur ini lebih cocok untuk mengatasi abses atau jaringan nekrotik, sedangkan dalam kasus Mindy, benjolan kebiruan di bawah lidah yang lunak dan berfluktuasi menunjukkan kemungkinan adanya kista atau mucocele. Bedah insisi bisa berisiko memperburuk kondisi atau tidak mengatasi penyebab yang mendasari. Sebaliknya, jika kasus ini adalah mucocele, penanganan yang tepat adalah eksisi atau marsupialisasi untuk mengeluarkan cairan yang terakumulasi. Pemahaman mengenai sifat lesi sangat penting dalam menentukan jenis intervensi yang benar.
- b.
Bedah eksisi
Pembahasan Opsi b:Jawaban "Bedah eksisi" kurang tepat karena prosedur ini lebih ditujukan untuk mengangkat jaringan yang mencurigakan atau tumor pada area tersebut, sementara benjolan yang dijelaskan kemungkinan besar adalah mucocele, yang merupakan akumulasi cairan di kelenjar ludah kecil akibat sumbatan atau trauma. Mucocele biasanya lunak, berfluktuasi, dan dapat berwarna kebiruan, sehingga pengobatannya yang lebih tepat adalah marsupilasi atau aspirasi untuk mengurangi ukuran benjolan dan menghindari pengangkatan jaringan berlebih. Selain itu, perbedaan utama terletak pada Indikasi masing-masing: bedah eksisi bersifat lebih radikal, sedangkan penanganan mucocele lebih konservatif.
- c.
Biopsi
Pembahasan Opsi c:Jawaban "Biopsi" kurang tepat karena prosedur ini biasanya dilakukan untuk mendiagnosis jaringan dengan mengambil sampel untuk analisis histopatologi. Pada kasus Mindy, benjolan yang berdiameter 2 cm, berwarna kebiruan, lunak, dan berfluktuasi menunjukkan kemungkinan adanya kista atau abses, yang seharusnya diobati terlebih dahulu dengan pendekatan konservatif atau drainase jika diperlukan. Biopsi tidak seharusnya menjadi langkah pertama tanpa mengevaluasi dan mengatasi kondisi klinis yang manifest pada pasien. Dalam situasi ini, perawatan yang tepat lebih cenderung kepada intervensi invasif yang sesuai untuk mengatasi benjolan tersebut daripada pemeriksaan yang lebih invasif seperti biopsi.
- d.
Marsupialisasi
Pembahasan Opsi d:Mindy, seorang pasien perempuan berusia 25 tahun, mengalami benjolan lunak berdiameter 2 cm di bawah lidah bagian kiri dengan karakteristik berwarna kebiruan dan fluktuasi, yang mengindikasikan kemungkinan kista atau abses salivarius. Diagnosis yang tepat adalah kista ranula, yang merupakan kista mukosa akibat obstruksi pada kelenjar sublingual. Perawatan yang tepat untuk kasus ini adalah marsupialisasi, yaitu prosedur bedah yang membuka kista dan menjahit tepi kista ke jaringan di sekitarnya untuk mencegah terjadinya pembentukan kembali kista. Hal ini bertujuan untuk mengatasi masalah sekresi saliva yang terperangkap dan mencegah pembentukan akumulasi lagi di area tersebut.
- e.
Hemimandibulectomy
Pembahasan Opsi e:Hemimandibulectomy adalah prosedur bedah yang melibatkan pengangkatan sebagian besar dari rahang bawah (mandibula) dan biasanya dilakukan dalam kasus tumor ganas atau infeksi yang melibatkan jaringan osseus yang luas. Dalam konteks kasus Mindy, dengan benjolan lunak dan berfluktuasi yang mengarah pada kemungkinan kista atau seroma, hemimandibulectomy tidak sesuai karena tindakan ini terlalu agresif dan tidak memfokuskan pada pengobatan penyebab benjolan tersebut. Penanganan yang lebih tepat adalah dengan aspirasi atau eksisi, tergantung pada diagnosis yang lebih spesifik setelah pemeriksaan lebih lanjut. Oleh karena itu, penggunaan hemimandibulectomy dalam konteks ini adalah tidak tepat.
Soal 8
Mindy, pasien perempuan berusia 59 tahun datang ke RSGM Ummacademy dengan keluhan pipi kanan bagian dalam sakit. Kondisi sudah berlangsung selama 4 bulan dan belum diobati. Mindy mempunyai riwayat hipertensi dan meminum captropil selama 6 bulan. Pemeriksaan intra oral mukosa bukal dekstra dijumpai papula putih berbentuk striae dikelilingi makula eritema. Apakah diagnosis klinis pada kasus tersebut?
- a.
Oral lichen planus
Pembahasan Opsi a:Jawaban "Oral lichen planus" kurang tepat karena meskipun oral lichen planus memang dapat menampilkan striae putih yang dikenal sebagai Wickham's striae, sifat kronis dan non-nyeri dari penyakit ini kurang sesuai dengan gejala klinis yaitu nyeri pada mukosa bukal yang Mindy alami. Ciri khas dari oral lichen planus adalah sifatnya yang asimptomatik atau menyebabkan rasa terbakar, bukan rasa sakit yang signifikan. Selain itu, oral lichen planus lebih sering ditemukan pada mukosa mulut bilateral. Perbedaan utama dengan diagnosis yang benar, misalnya, eritroplakia, adalah keberadaan makula eritema yang lebih dominan dan papula putih yang menunjukkan potensi displasia atau perubahan pra-kanker. Diagnosis yang benar harus mempertimbangkan riwayat gejala nyeri dan tampilan klinis yang lebih ekstensif dibandingkan dengan yang biasa ditemukan pada lichen planus.
- b.
White sponge nevus
Pembahasan Opsi b:Jawaban white sponge nevus kurang tepat karena kondisi ini biasanya ditandai dengan manifestasi klinis berupa lesi berwarna putih yang menyerupai spons, dan sering kali bersifat asimtomatik serta memiliki riwayat keluarga karena bersifat genetik. Berbeda dengan kasus Mindy, yang menunjukkan gejala striae dan eritema serta berlangsung lama tanpa pengobatan, yang lebih sesuai dengan Lesi Oral Liken Planus. Liken Planus ditandai dengan striae putih disebut Wickham's striae, disertai jaringan eritema di sekitarnya. Penyakit ini sering kali berhubungan dengan kondisi autoimun dan dapat menyebabkan rasa sakit atau ketidaknyamanan, berbeda dengan white sponge nevus yang cenderung tidak menimbulkan gejala nyeri. Oleh karena itu, diagnosis yang lebih akurat untuk kasus ini adalah Liken Planus Oral, bukan white sponge nevus.
- c.
Oral lichenoid reaction
Pembahasan Opsi c:Mindy, seorang pasien perempuan berusia 59 tahun, mengalami nyeri pada pipi kanan bagian dalam selama 4 bulan dengan pemeriksaan menemukan papula putih berbentuk striae dikelilingi makula eritema, yang mengarah pada diagnosis Oral Lichenoid Reaction, suatu reaksi peradangan di mukosa mulut yang sering dipicu oleh berbagai faktor, termasuk obat-obatan seperti captropil yang mungkin memicu respons imun. Ciri khas dari kondisi ini adalah lesion yang menyerupai lichen planus tetapi disebabkan oleh iritasi atau alergi, dan perawatannya biasanya meliputi penghentian agen penyebab dan penggunaan kortikosteroid topikal untuk mengurangi peradangan. Penting untuk mempertimbangkan riwayat pengobatan dan mencari faktor pencetus lain, serta melakukan pemeriksaan lebih lanjut jika lesi tidak membaik.
- d.
Linea alba buccalis
Pembahasan Opsi d:Jawaban linea alba buccalis kurang tepat karena kondisi tersebut biasanya muncul sebagai garis putih horizontal yang terletak di sepanjang garis gigitan pada mukosa bukal, tanpa disertai makula eritema atau striae. Hal ini umumnya tidak menimbulkan gejala dan terkait dengan kebiasaan menggesek atau mengunyah pipi. Dalam kasus ini, papula putih berbentuk striae yang dikelilingi oleh makula eritema lebih mengarah ke diagnosa oral lichen planus, yang sering muncul dengan gejala nyeri dan lesi berciri khas seperti striae Wickham. Berbeda dengan linea alba yang cenderung asimtomatik, oral lichen planus memerlukan evaluasi dan manajemen lebih lanjut karena dapat menyebabkan ketidaknyamanan berkepanjangan pada pasien.
- e.
Discoid lupus erythematosus
Pembahasan Opsi e:Pilihan jawaban "Discoid lupus erythematosus" kurang tepat karena ini adalah kondisi autoimun yang umumnya mempengaruhi kulit wajah serta bagian tubuh lainnya dengan manifestasi berupa plak yang bersisik, eritema, dan atrofi namun jarang ditemukan hanya sebagai lesi intraoral saja. Pada kasus Mindy, ditemukan papula putih berbentuk striae dengan makula eritema yang lebih khas untuk kondisi oral lichen planus, yang dikenal sebagai lesi autoimun kronis dengan manifestasi striae Wickham pada mukosa mulut. Perbedaannya dengan discoid lupus erythematosus yang lebih menunjukkan lesi eritema dengan sisik keratin pada kulit, sedangkan oral lichen planus lebih banyak memperlihatkan manifestasi jaringan lunak intraoral tanpa sisik. Oleh karena itu, gejala klinis Mindy lebih konsisten dengan oral lichen planus.
Tingkatkan Persiapan UKOMNAS PPDG Anda Bersama Umeds
Di tengah-tengah perjalanan Anda menguji pemahaman, mari sejenak mengenal lebih jauh bagaimana Umeds dapat menjadi sahabat terbaik dalam persiapan UKOMNAS PPDG. Kami memahami betul tantangan yang Anda hadapi. Oleh karena itu, Umeds menawarkan fitur-fitur unggulan seperti tryout online yang mensimulasikan kondisi ujian sesungguhnya, dilengkapi dengan video pembahasan soal yang detail dan mudah dipahami. Bank soal kami sangat lengkap, mencakup berbagai topik termasuk Ilmu Penyakit Mulut, serta tersedia kelas interaktif bersama pengajar ahli.
Dengan Umeds, Anda tidak hanya menghafal, tetapi juga memahami konsep secara mendalam, khususnya untuk kasus-kasus kompleks dalam Ilmu Penyakit Mulut. Jangan biarkan keraguan menghambat potensi Anda. Rasakan pengalaman belajar yang berbeda dan tingkatkan peluang kelulusan Anda. Kunjungi Umeds sekarang dan buktikan sendiri manfaatnya!
Soal 9
Mindy, seorang anak perempuan berusia 12 tahun datang bersama ibunya ke RSGM Ummacademy mengeluhkan nyeri mulut akibat sariawan sehingga sulit makan. Setelah dilakukan pemeriksaan lebih lanjut, dokter mendiagnosis Mindy dengan primary herpetic gingivostomatitis. Untuk mengontrol infeksi virus pada kasus tersebut, dokter memberikan resep obat acyclovir. Cara kerja obat tersebut adalah?
- a.
Menghambat replikasi RNA dalam sel virus
Pembahasan Opsi a:Acyclovir adalah obat antivirus yang secara khusus digunakan untuk mengobati infeksi yang disebabkan oleh virus herpes simplex. Cara kerja acyclovir adalah dengan menghambat replikasi DNA virus, bukan RNA. Acyclovir secara selektif aktif terhadap enzim DNA polimerase virus, yang mengganggu sintesis DNA virus sehingga menghambat proliferasi virus lebih lanjut. Kesalahan pada jawaban ini terletak pada pengertian bahwa RNA yang dihambat, padahal untuk kasus herpes simplex, target dari acyclovir adalah DNA virus. Hal ini penting untuk diketahui karena virus herpes simpleks adalah virus DNA, dan penanggulangan infeksinya berbeda dengan virus RNA seperti virus influenza. Dengan demikian, memahami mekanisme kerja acyclovir yang benar sangat penting untuk pendekatan yang efektif dalam terapi infeksi virus.
- b.
Menghambat replikasi DNA dalam sel virus
Pembahasan Opsi b:Mindy, seorang anak berusia 12 tahun, mengalami nyeri mulut akibat sariawan dan didiagnosis dengan primary herpetic gingivostomatitis. Diagnosis ini ditandai dengan munculnya vesikel dan ulkus pada gingiva serta mukosa mulut, yang disebabkan oleh infeksi virus herpes simpleks tipe 1 (HSV-1). Dalam perawatan, acyclovir diresepkan untuk mengontrol infeksi, dan cara kerjanya adalah dengan menghambat replikasi DNA dalam sel virus, sehingga mengurangi durasi dan keparahan infeksi. Hal ini penting untuk diingat karena pengobatan yang tepat dapat membantu mengurangi nyeri dan mempercepat penyembuhan pada kondisi ini.
- c.
Merusak dinding sel virus
Pembahasan Opsi c:Jawaban "merusak dinding sel virus" kurang tepat untuk kasus kontrol infeksi virus seperti primary herpetic gingivostomatitis yang terjadi pada Mindy. Hal ini karena virus tidak memiliki dinding sel seperti bakteri, melainkan memiliki selubung lipid yang menyelimuti kapsid. Fungsi acyclovir, obat yang diberikan kepada Mindy, adalah menghentikan replikasi DNA virus. Acyclovir secara spesifik diaktivasi oleh enzim virus yang disebut thymidine kinase, dan setelah aktif, ia menghambat sintesis DNA dengan menjadi analog guanosine, yang pada akhirnya menghentikan perpanjangan rantai DNA virus. Perbedaan utamanya adalah mekanisme kerja acyclovir yang menarget sintesis DNA virus, bukan dinding sel yang bukan bagian dari virus.
- d.
Melarutkan kapsid protein virus
Pembahasan Opsi d:Jawaban "melarutkan kapsid protein virus" kurang tepat dalam konteks cara kerja acyclovir. Acyclovir adalah obat antivirus yang secara khusus dirancang untuk menghambat replikasi DNA virus, terutama virus herpes, dengan merusak pembentukan DNA virus baru. Acyclovir bekerja sebagai analog nukleosida yang kompetitif menghalangi enzim DNA polimerase virus, sehingga mencegah perpanjangan rantai DNA virus. Melarutkan kapsid protein virus bukan mekanisme dari acyclovir melainkan tindakan destruktif langsung terhadap struktur protein virus yang menyebabkan hilangnya kapsid. Penghambatan replikasi DNA merupakan mekanisme spesifik dan penting dari acyclovir sebagai antivirus yang efektif, berbeda dengan prinsip merusak kapsid yang sering tidak spesifik dan umum terlihat pada beberapa mekanisme obat lain atau respons imun alami.
- e.
Menghambat replikasi dinding sel
Pembahasan Opsi e:Jawaban "Menghambat replikasi dinding sel" kurang tepat karena acyclovir bekerja dengan menghambat replikasi DNA virus, bukan dinding sel. Acyclovir adalah agen antivirus yang secara khusus targetnya adalah enzim DNA polimerase virus herpes, yang diperlukan untuk replikasi viral. Berbeda dengan antibiotik yang mengganggu sintesis dinding sel bakteri, acyclovir berfungsi dengan cara menyerupai salah satu komponen dari DNA, sehingga mencegah virus melakukan duplikasi genetiknya. Oleh karena itu, pemahaman mengenai mekanisme aksi acyclovir sangat penting dalam meresepkannya untuk infeksi herpes, bukan interferensi pada bakteri.
Soal 10
Mindy, seorang laki-laki usia 18 tahun datang ke klinik UMEDS dengan keluhan banyak sariawan pada seluruh mulut sejak 3 hari yang lalu, didahului dengan demam dan keluhan seperti ini baru pertama kali dirasakan. Pemeriksaan ekstra oral ditemukan limfadenopati servikal. Intra oral ditemukan ulser multipel berukuran 1-2 mm, bentuk oval, dikelilingi halo kemerahan pada seluruh mukosa mulut dan gingiva. Apa diagnosis kasus tersebut?
- a.
Herpes zoster
Pembahasan Opsi a:Jawaban "Herpes zoster" kurang tepat karena penyakit ini umumnya berkaitan dengan reaktivasi virus Varicella-Zoster dan biasanya mempengaruhi area kulit yang mengikuti distribusi dermatom, bukan menyebabkan ulserasi multipel di rongga mulut seperti kasus Mindy. Herpes zoster sering kali diawali rasa nyeri atau gatal sebelum munculnya ruam pada kulit, dan lebih umum terjadi pada individu yang lebih tua. Kondisi Mindy lebih sesuai dengan "Gingivitis Herpetik Primer" (Primary Herpetic Gingivostomatitis) yang disebabkan oleh infeksi awal virus Herpes Simpleks tipe 1 (HSV-1). Ini biasanya mengakibatkan demam mendahului ulserasi pada mukosa oralis yang disertai limfadenopati servikal, seperti yang terlihat pada gejala pasien ini.
- b.
Intra oral herpes simpleks
Pembahasan Opsi b:Jawaban "Intra oral herpes simpleks" kurang tepat untuk kasus Mindy. Meski gejala seperti ulser multipel serta demam dapat mengarah pada infeksi virus herpes simpleks, ciri khas dari infeksi herpes simpleks adalah adanya vesikel-vesikel (lepuhan kecil) yang pecah membentuk ulser yang biasanya terbatas pada area tertentu, tidak menyeluruh seperti pada kasus ini. Sebaliknya, Mindy mengalami ulser multipel menyeluruh di seluruh mukosa mulut dan gingiva, yang lebih sesuai dengan diagnosis primary herpetic gingivostomatitis, kondisi awal dari infeksi herpes simpleks primer pada mulut yang lebih umum dijumpai pada anak-anak dan remaja. Perbedaan lainnya adalah adanya limfadenopati servikal yang signifikan pada kasus infeksi primer dibandingkan infeksi berulang.
- c.
Stomatitis aftosa herpetiform
Pembahasan Opsi c:Jawaban "Stomatitis aftosa herpetiform" kurang tepat karena kondisi ini umumnya ditandai dengan ulser yang mirip herpes tetapi lebih banyak dan lebih kecil, serta tidak disertai gejala sistemik seperti demam dan limfadenopati. Sementara itu, kasus yang dibahas menunjukkan adanya ulser multipel, demam, serta limfadenopati servikal, yang lebih sesuai dengan diagnosis "Gingivostomatitis Herpetik Primer." Gingivostomatitis Herpetik Primer umumnya disebabkan oleh infeksi awal Virus Herpes Simplex tipe 1 (HSV-1) dan ditandai dengan gejala sistemik seperti demam, limfadenopati, serta ulser yang serupa dengan deskripsi kasus. Oleh karena itu, perbedaan utama antara kedua kondisi adalah gejala sistemik dan penyebab infeksinya. Stomatitis Aftosa Herpetiform tidak disertai demam dan seringkali bersifat idiopatik, sedangkan Gingivostomatitis Herpetik Primer disebabkan oleh HSV dan memiliki gejala sistemik.
- d.
Primary herpetic gingivostomatitis
Pembahasan Opsi d:Kondisi yang dialami oleh Mindy, yaitu ulser multipel dengan ukuran 1-2 mm berbentuk oval dan dikelilingi halo kemerahan, disertai demam dan limfadenopati servikal, menunjukkan ciri khas dari primary herpetic gingivostomatitis. Penyakit ini biasanya terjadi pada anak-anak dan dewasa muda yang terinfeksi virus herpes simpleks tipe 1 (HSV-1) untuk pertama kalinya. Demam dan limfadenopati adalah gejala sistemik yang sering menyertai, dan ulser multipel yang nyeri adalah manifestasi khasnya di rongga mulut. Diagnosis dibedakan dari stomatitis aftosa yang umumnya tidak disertai gejala sistemik seperti demam dan limfadenopati. Perawatan biasanya bersifat suportif, termasuk analgesik untuk mengurangi nyeri dan hidrasi yang adekuat. Pada beberapa kasus, antiviral dapat dipertimbangkan untuk mempercepat penyembuhan.
- e.
Acute necrotizing gingivostomatitis
Pembahasan Opsi e:Jawaban "Acute necrotizing gingivostomatitis" kurang tepat karena kondisi ini biasanya disebabkan oleh infeksi bakteri yang menghasilkan ulser di daerah gingiva, sering disertai dengan bau mulut yang parah dan lebih umum terjadi pada individu dengan kebersihan mulut yang buruk atau mengalami kekurangan gizi. Sebaliknya, kasus sariawan multipel seperti yang dialami Mindy, dengan ulser yang berdampingan dengan gejala sistemik seperti demam dan limfadenopati, lebih konsisten dengan "primary herpetic gingivostomatitis" yang disebabkan oleh infeksi pertama kali dari virus herpes simpleks tipe 1 (HSV-1). Kondisi ini sering ditemui pada anak-anak atau remaja dan dapat menyebabkan ulser yang menyebar di mulut dengan gejala sistemik. Perbedaannya terletak pada etiologi (penyebab) infeksi; "acute necrotizing gingivostomatitis" lebih terkait dengan infeksi bakteri, sedangkan kondisi Mindy lebih terkait dengan infeksi viral.
Soal 11
Mindy, seorang pasien laki-laki berusia 53 tahun datang ke RSGM Ummacademy dengan kondisi rongga mulutnya yang perih. Mindy memakai gigi tiruan. Riwayat Mindy tidak pernah melepas gigi tiruan. Pemeriksaan klinis terdapat bercak kemerahan pada palatumnya, tidak dapat dikerok. Apakah pemeriksaan penunjang yang sesuai untuk mendapatkan diagnosis definitif pada kasus tersebut?
- a.
Pemeriksaan darah
Pembahasan Opsi a:Pemeriksaan darah dianggap kurang tepat dalam kasus ini karena bercak kemerahan yang tidak dapat dikerok pada palatum terkait lebih erat dengan perubahan lokal di rongga mulut dibandingkan dengan masalah sistemik yang umumnya memerlukan pemeriksaan darah. Dalam kasus ini, bercak kemerahan tersebut kemungkinan besar disebabkan oleh stomatitis akibat penggunaannya yang berkelanjutan tanpa pelepasan. Definisi dari stomatitis adalah peradangan pada mukosa mulut, yang sering kali berhubungan dengan pemakaian gigi tiruan dan kebiasaan buruk tidak melepasnya pada malam hari. Pemeriksaan yang lebih tepat mungkin termasuk pengambilan sampel jaringan (biopsi) atau tes swab mikrobiologi untuk menentukan adanya kandidiasis rongga mulut, dibandingkan dengan pemeriksaan darah yang lebih umum digunakan untuk mendeteksi kondisi sistemik. Perbedaan dengan jawaban yang benar adalah fokus pada analisis lokal pada area bermasalah di rongga mulut untuk mendeteksi infeksi jamur atau perubahan seluler yang mungkin terjadi.
- b.
Cytological smear
Pembahasan Opsi b:Pemeriksaan cytological smear tidak tepat untuk mendapatkan diagnosis definitif pada kasus ini karena metode ini hanya memungkinkan evaluasi sel-sel permukaan dan biasanya digunakan untuk deteksi infeksi Candida atau kanker mulut awal. Pada kasus ini, bercak kemerahan pada palatum yang tidak dapat dikerok lebih cenderung menunjukkan kondisi erythematous candidiasis atau denture stomatitis akibat pemakaian gigi tiruan yang terus menerus. Pemeriksaan yang lebih tepat adalah biopsi jaringan untuk analisis histopatologi, karena ini akan memberikan gambaran jaringan yang lebih mendalam, membantu dalam menentukan kondisi inflamasi atau perubahan patologis lainnya. Biopsi jaringan juga lebih mampu memberikan diagnosis definitif dibanding cytological smear yang bersifat lebih permukaan.
- c.
Patch test
Pembahasan Opsi c:Pemilihan patch test untuk kasus ini kurang tepat karena patch test biasanya digunakan untuk mendiagnosis dermatitis kontak alergi dengan menempelkan alergan pada kulit dan melihat reaksi setelah beberapa waktu. Kondisi bercak kemerahan yang tidak dapat dikerok pada palatum pasien yang memakai gigi tiruan terus menerus kemungkinan besar adalah denture stomatitis. Pemeriksaan penunjang yang lebih sesuai adalah biopsi atau kultur mikrobiologis untuk mengetahui adanya infeksi jamur seperti Candida albicans yang seringkali menjadi penyebab utama kondisi ini. Berbeda dengan patch test, biopsi atau kultur mikrobiologis dapat memberikan informasi lebih langsung tentang keadaan jaringan dan keberadaan patogen di area tersebut.
- d.
Biopsi
Pembahasan Opsi d:Pemilihan biopsi sebagai pemeriksaan penunjang untuk menentukan diagnosis definitif dalam kasus ini kurang tepat. Biopsi biasanya dilakukan untuk mengambil sampel jaringan ketika terdapat kecurigaan lesi pra-maligna atau maligna, bukan untuk kasus dengan gejala bercak kemerahan yang tidak dapat dikerok akibat penggunaan gigi tiruan. Bercak kemerahan pada palatum kemungkinan besar merupakan manifestasi dari stomatitis denture. Stomatitis denture adalah peradangan pada mukosa yang menutupi area di bawah gigi tiruan, seringkali akibat kebersihan mulut yang buruk atau pemakaian gigi tiruan secara terus-menerus. Pemeriksaan penunjang yang lebih sesuai mungkin adalah evaluasi mikrobiologi untuk menyingkirkan infeksi kandida yang sering berasosiasi dengan kondisi ini. Dengan demikian, pemilihan pemeriksaan yang berfokus pada identifikasi agen infeksi seperti kandida lebih tepat dibandingkan biopsi untuk menegakkan diagnosis stomatitis denture.
- e.
Mycological smear
Pembahasan Opsi e:Pasien berusia 53 tahun dengan keluhan nyeri di rongga mulut dan bercak kemerahan pada palatum yang tidak dapat dikerok, menunjukkan gejala yang konsisten dengan kandidiasis oral, terutama pada individu yang menggunakan gigi tiruan dan jarang melepasnya. Diagnosis diferensial yang perlu dipertimbangkan adalah atrofi atau dermatitis kontak akibat gigi tiruan. Pemeriksaan penunjang yang paling tepat untuk memastikan diagnosis definitif kandidiasis adalah pemeriksaan mycological smear, di mana spesimen diambil dari area yang terkena dan dianalisis di laboratorium untuk mengidentifikasi keberadaan jamur Candida. Penanganan biasanya mencakup penggunaan antifungal topikal serta edukasi pasien untuk menjaga kebersihan oral dan melepaskan gigi tiruan secara rutin.
Soal 12
Mindy, seorang laki-laki berusia 28 tahun datang ke RSGM Ummacademy mengeluhkan terdapat benjolan di bawah jakun sejak kecil. Benjolan lama-lama membesar, sakit saat menjulurkan lidah tetapi tidak sakit saat menelan. Benjolan tidak bergerak saat menelan. Apa diagnosis yang tepat untuk kasus tersebut?
- a.
Thyroglossal duct cyst
Pembahasan Opsi a:Kasus Mindy menunjukkan adanya benjolan di bawah jakun berukuran semakin besar sejak kecil yang sakit saat menjulurkan lidah namun tidak sakit saat menelan, serta tidak bergerak saat menelan, mengindikasikan kemungkinan adanya kista ductus tiroidus atau thyroglossal duct cyst. Kista ini adalah kelainan perkembangan yang terjadi karena sisa-sisa saluran tiroid yang tidak hilang sepenuhnya, seringkali terletak midline pada leher, dan bisa terasa nyeri ketika teriritasi atau terinfeksi. Penanganan terbaik untuk kondisi ini adalah melalui pembedahan eksisi total untuk mencegah kekambuhan dan komplikasi lebih lanjut. Klasifikasi dari kista ini biasanya berdasarkan lokasi dan mobilitas kista saat melakukan gerakan menelan.
- b.
Plunging ranula
Pembahasan Opsi b:Plunging ranula adalah suatu jenis kista mukosa yang biasanya berasal dari kelenjar sublingual dan meluas ke jaringan leher melalui mylohyoid muscle. Meskipun benjolan ini dapat menyebabkan pembesaran di leher, karakteristik utama dari ranula adalah bahwa benjolan akan tampak lebih jelas pada dasar mulut dan terletak di garis tengah mulut atau sedikit menyamping. Ranula lebih umum ditemukan sebagai massa di mulut dan tidak terkait dengan pergerakan menelan, tidak seperti dalam kasus ini. Benjolan yang disebutkan tidak bergerak saat menelan, yang lebih bersesuaian dengan kista tiroglossal duct cyst; kista ini adalah sisa embriologis yang umumnya menyebabkan pembengkakan di area garis tengah leher dan dapat bergerak ketika lidah dijulurkan, sesuai dengan gejala yang dialami Mindy. Oleh karena itu, diagnosis plunging ranula kurang tepat dalam konteks gejala dan lokasi benjolan pada kasus ini.
- c.
Kista dermoid
Pembahasan Opsi c:Jawaban "Kista dermoid" kurang tepat karena kista dermoid biasanya ditemukan di area garis tengah tubuh seperti leher bagian tengah, namun kista ini biasanya tidak membesar seiring waktu serta umumnya tidak menimbulkan rasa sakit, kecuali terinfeksi. Kista dermoid adalah sejenis kista yang mengandung jaringan seperti rambut, kulit atau gigi. Berbeda dengan kasus yang ditanyakan, di mana benjolan membesar dan sakit saat menjulurkan lidah, hal ini lebih mengarah pada kista duktus tiroglossal. Kista duktus tiroglossal adalah massa yang terjadi akibat tidak menutupnya duktus tiroglossal sempurna selama perkembangan embrio dan biasanya benjolannya akan bergerak saat menelan atau menjulurkan lidah, tetapi dalam soal hanya dijelaskan sifat gerakan saat menelan. Oleh karena itu, diagnosis yang lebih tepat adalah 'kista duktus tiroglossal'.
- d.
Kista epidermoid
Pembahasan Opsi d:Jawaban "kista epidermoid" kurang tepat karena kista epidermoid biasanya terbentuk di lapisan epidermis kulit dan sering muncul di area seperti wajah, leher, atau punggung, bukan di bawah jakun. Kista ini juga tidak berkaitan dengan pergerakan lidah atau nyeri saat menjulurkan lidah. Ciri khas kista epidermoid adalah benjolan yang bergerak saat ditekan dan berisi bahan yang seperti keju. Dalam kasus yang dijelaskan, benjolan tidak bergerak saat menelan dan nyeri saat menjulurkan lidah lebih sesuai dengan kista duktus tiroglossus. Duktus tiroglossus terletak di sepanjang jalur embriologis yang melibatkan lidah dan kelenjar tiroid, yang dapat menjelaskan sifat nyeri saat menjulurkan lidah dan ketidakmampuan benjolan untuk bergerak saat menelan.
- e.
Ranula
Pembahasan Opsi e:Diagnosis "Ranula" kurang tepat untuk kasus ini. Ranula adalah kista retensi mukosa yang terjadi pada kelenjar ludah di daerah mulut, umumnya di bawah lidah, dan biasanya bergerak saat menelan. Dalam kasus Mindy, benjolan tidak bergerak saat menelan, menunjukkan bahwa benjolan tidak terletak di jalur saluran makanan atau nafas yang dapat menyebabkan pergerakan selama menelan. Sebuah ranula juga tidak biasanya menggambarkan keluhan nyeri saat menjulurkan lidah. Perbedaan utama antara diagnosis ranula dan kasus Mindy adalah lokasi dan karakteristik pergerakan benjolan. Kemungkinan besar, benjolan yang dijelaskan adalah kista duktus tiroglossus, yang secara karakteristik tidak bergerak saat menelan tetapi bisa sakit saat menjulurkan lidah karena kista ini terhubung dengan pangkal lidah.
Soal 13
Mindy, pasien wanita berusia 56 tahun datang ke klinik Dentigram mengeluhkan sariawan yang kambuhan dan berpindah pindah selama 2 tahun terakhir. Mindy juga mengeluhkan mulut kering dan nyeri serta panas pada tenggorokan. Mindy memiliki riwayat sering terasa nyeri dan mual pada perut. Pemeriksaan intraoral pada dorsal lidah dan mukosa bukal terdapat ulkus bulat dengan halo eritomatous, mukosa kering, saliva berbuih dan pemeriksaan curah saliva di bawah normal. Dokter gigi Umma merawat keluhan rongga mulut dan merujuk Mindy untuk dilakukan tatalaksana terkait kemungkinan etiologi keluhan di rongga mulutnya. Manakah tujuan rujukan yang tepat untuk Mindy?
- a.
Penyakit dalam
Pembahasan Opsi a:Kasus ini melibatkan Mindy, wanita berusia 56 tahun, yang mengalami sariawan kambuhan, mulut kering, dan nyeri tenggorokan, disertai dengan ulkus pada rongga mulut, yang mengindikasikan kemungkinan adanya gangguan sistemik. Diagnosis yang mungkin adalah sindrom Sjögren atau penyakit autoimun lainnya yang dapat menyebabkan xerostomia (mulut kering) dan lesi oral. Ciri khas dari kondisi ini adalah adanya ulkus dengan halo eritomatous dan curah saliva yang rendah. Oleh karena itu, tujuan rujukan yang tepat adalah ke dokter penyakit dalam untuk menilai kemungkinan adanya gangguan sistemik yang mendasari dan merencanakan pengobatan yang tepat. Penanganan interdisipliner penting untuk pasien dengan gejala yang mencerminkan kondisi multi-sistem berkaitan dengan keluhan rongga mulut.
- b.
Penyakit mulut
Pembahasan Opsi b:Jawaban "Penyakit mulut" kurang tepat karena istilah ini terlalu umum dan tidak merujuk pada spesifik jenis tatalaksana yang dibutuhkan Mindy. Dengan keluhan sariawan kambuhan, mulut kering, dan nyeri tenggorokan, kondisi tersebut mungkin terkait dengan gangguan sistemik yang lebih kompleks, seperti Sjögren's syndrome atau infeksi sistemik lainnya. Penyakit mulut mencakup berbagai kondisi dengan gejala yang dapat bervariasi, sedangkan rujukan yang lebih tepat harus mempertimbangkan kemungkinan penyebab utama gejala, yaitu merujuk ke spesialis yang dapat menangani gangguan sistemik atau penyakit autoimun. Dalam konteks ini, fokus tatalaksana perlu diarahkan untuk mendiagnosis dan mengelola penyebab mendasar dari keluhan-keluhan tersebut, bukan hanya gejalanya.
- c.
Bedah digesti
Pembahasan Opsi c:Jawaban "Bedah digesti" kurang tepat karena meskipun Mindy menunjukkan gejala yang berhubungan dengan saluran pencernaan, seperti nyeri perut dan mual, keluhan utama yang diajukan adalah gejala oral seperti sariawan, mulut kering, dan ulkus. Bedah digesti lebih berfokus pada intervensi pembedahan pada organ pencernaan dan tidak menjawab etiologi keluhan oral yang dialami pasien. Oleh karena itu, tujuan rujukan yang lebih tepat seharusnya adalah ke spesialis yang menangani masalah alami di rongga mulut atau sistem imun, seperti spesialis bedah mulut atau dokter spesialis penyakit dalam, yang mampu menangani faktor sistemik yang mungkin berkontribusi pada kondisi rongga mulutnya.
- d.
Psikiatri
Pembahasan Opsi d:Jawaban "Psikiatri" kurang tepat karena sariawan yang kambuhan dan gejala yang dialami Mindy, seperti mulut kering dan nyeri tenggorokan, lebih menunjuk pada kemungkinan gangguan sistemik atau infeksi, bukan kondisi psikiatri. Psikiatri fokus pada gangguan mental dan emosional, yang tidak secara langsung berkaitan dengan keluhan fisik di rongga mulut. Dalam kasus Mindy, merujuk ke spesialis seperti dokter gigi spesialis penyakit mulut atau dokter spesialis penyakit dalam lebih relevan, karena mereka dapat menilai dan mengelola kondisi kesehatan fisik yang mungkin mendasari keluhan tersebut, seperti xerostomia, infeksi jamur, atau kondisi sistemik lain.
- e.
THT
Pembahasan Opsi e:Jawaban THT kurang tepat karena, meskipun dokter THT dapat menangani masalah tenggorokan dan mulut, gejala yang dialami Mindy lebih berkaitan dengan kondisi sistemik, seperti sindrom Sjögren atau imunodefisiensi, yang mempengaruhi produksi saliva dan dapat menyebabkan sariawan berulang. THT berfokus pada masalah di telinga, hidung, dan tenggorokan, sedangkan dokter gigi atau spesialis penyakit mulut lebih sesuai untuk menilai keluhan rongga mulut dan meninjau masalah yang berhubungan dengan jaringan lunak mulut serta saliva. Oleh karena itu, rujukan yang lebih tepat akan ke spesialis penyakit mulut atau internis untuk evaluasi lebih lanjut mengenai potensi penyakit sistemik yang mendasarinya.
Soal 14
Mindy, seorang laki-laki berusia 27 tahun datang ke RSGM Ummacademy dengan keluhan nyeri mulut akibat sariawan sejak 3 hari yang lalu. Sariawan muncul hampir setiap bulan tanpa disertai demam. Anamnesis didapatkan sariawan yang sama juga terdapat pada alat kelaminnya. Pemeriksaan ekstraoral menunjukkan mata tampak kemerahan tidak berair. Pemeriksaan intraoral tampak ulkus dangkal, multiple pada mukosa bibir, pipi, dan lidah. Apakah diagnosa dari kasus tersebut?
- a.
Oral sifilis
Pembahasan Opsi a:Jawaban "Oral sifilis" kurang tepat karena oral sifilis biasanya ditandai dengan adanya lesi chancres yang keras dan tanpa rasa sakit pada tahap primer, serta mendapatkan infeksi melalui kontak langsung dengan lesi sifilis menular. Dalam kasus ini, sariawan muncul berulang kali hampir setiap bulan dan disertai dengan ulkus dangkal, yang tidak khas untuk sifilis. Gejala tersebut lebih sesuai dengan Behçet's disease, yang merupakan penyakit autoimun yang ditandai dengan ulkus mulut berulang, ulkus genital, dan gangguan mata seperti mata merah. Perbedaan utama adalah dalam manifestasi lesi dan gejala lain yang menyertai; sifilis biasanya memiliki riwayat kontak seksual dengan partner yang terinfeksi dan lesinya yang lebih keras dan tidak nyeri, sedangkan Behçet's disease memiliki triad ulkus mulut, ulkus genital, dan gangguan mata serta bersifat rekuren.
- b.
Herpes simpeks
Pembahasan Opsi b:Jawaban "Herpes simpeks" kurang tepat untuk kasus ini karena herpes simpleks umumnya menimbulkan lesi berisi cairan yang dapat pecah dan membentuk ulkus yang nyeri. Herpes simpleks sering kali juga disertai dengan gejala sistemik seperti demam. Dalam kasus ini, pasien mengalami ulkus berulang pada mulut dan alat kelamin, serta manifestasi ocular, yang lebih cocok dengan gejala Behçet's Disease. Behçet's Disease adalah penyakit autoimun yang ditandai dengan ulkus oral dan genital berulang serta keterlibatan mata. Perbedaannya, pada herpes simpleks, ulkus biasanya tidak muncul secara serentak pada mulut dan alat kelamin yang mengikuti pola penyebaran virus herpes.
- c.
Herpes genital
Pembahasan Opsi c:Herpes genital ditandai dengan lesi vesikular yang sering disertai dengan gejala sistemik seperti demam dan nyeri yang lebih parah dibandingkan kasus Mindy. Herpes genital juga biasanya dihubungkan dengan penularan melalui kontak seksual dan tidak sering memiliki keterlibatan dengan ulkus di rongga mulut serta inflamasi mata. Pada kasus ini, gejala klinis yang terlihat seperti sariawan rekuren di mulut dan alat kelamin, serta inflamasi mata lebih sesuai dengan sindrom Behçet. Sindrom Behçet adalah penyakit autoimun yang ditandai dengan triad ulkus mukosa rekuren, kelainan kulit, dan uveitis, berbeda dengan infeksi herpes simplex yang terutama ditandai dengan lesi vesikular genital. Oleh karena itu, diagnosis lebih mungkin adalah sindrom Behçet dibandingkan herpes genital.
- d.
Sindrom behcet
Pembahasan Opsi d:Mindy, seorang pria berusia 27 tahun, menunjukkan gejala sariawan berulang, ulkus dangkal pada mukosa mulut dan kelamin, serta mata kemerahan, yang mengarah pada diagnosis Sindrom Behçet. Penyakit ini ditandai dengan gejala triad, yaitu ulserasi oral, ulserasi genital, dan uveitis, serta merupakan penyakit autoimun yang dapat mempengaruhi berbagai sistem tubuh. Perawatan biasanya melibatkan penggunaan obat antiinflamasi nonsteroid (NSAID), kortikosteroid, dan imunosupresan untuk mengelola gejala dan mencegah kekambuhan. Sebagai tambahan, penting untuk mempertimbangkan hal-hal seperti riwayat keluarga dan gejala lain yang mungkin muncul, mengingat kompleksitas dan risiko progresivitas dari sindrom ini.
- e.
Stomatitis aphtous recurrent
Pembahasan Opsi e:Jawaban "Stomatitis aphtous recurrent" kurang tepat untuk kasus ini karena meskipun ditandai oleh ulkus mulut berulang, diagnosis ini tidak menjelaskan gejala ulkus genital dan mata kemerahan yang ditemukan pada pasien. Stomatitis aphtous recurrent biasanya hanya mencakup ulkus mulut yang berulang dan tidak ada kaitannya dengan manifestasi sistemik lain, seperti ulkus genital atau uveitis, yang terlihat pada kasus ini. Gejala pada kasus ini lebih konsisten dengan Sindrom Behçet, yang ditandai oleh triad ulkus oral, ulkus genital, dan uveitis, yang menjelaskan semua keluhan dan temuan klinis yang ada. Oleh karena itu, Sindrom Behçet lebih tepat sebagai diagnosis dibandingkan dengan Stomatitis aphtous recurrent.
Soal 15
Mindy, pasien wanita berusia 30 tahun datang ke praktik dokter gigi Umma dengan keluhan gusinya terlihat menghitam. Mindy ingin memperbaiki penampilannya sehingga gusinya menjadi berwarna merah muda. Pemeriksaan intra oral terlihat regio gingiva anterior atas dan bawah mengalami pigmentasi, sedangkan gigi-gigi tidak ada kelainan. Bagian lapisan epitelium manakah yang menyebabkan warna hitam pada kasus di atas?
- a.
Stratum corneum
Pembahasan Opsi a:Jawaban "Stratum corneum" kurang tepat karena lapisan ini merupakan lapisan paling luar dari epitel yang terdiri dari sel-sel mati yang tidak memberikan warna pada jaringan. Warna hitam pada gusi Mindy kemungkinan disebabkan oleh peningkatan melanin yang diproduksi oleh melanosit di lapisan basal atau stratum germinativum, yang berfungsi dalam memberikan pigmentasi pada kulit dan jaringan mucosa. Perbedaan utama dengan jawaban yang benar terletak pada fungsi dan lokasi sel-sel yang memproduksi melanin, yang tidak terletak di stratum corneum melainkan di lapisan bawah epitel. Jadi, penyebab warna hitam lebih tepatnya adalah pada lapisan yang lebih dalam daripada stratum corneum.
- b.
Stratum spinosum
Pembahasan Opsi b:Jawaban "Stratum spinosum" kurang tepat karena lapisan ini tidak berperan langsung dalam pigmentasi, melainkan berfungsi sebagai lapisan penghubung dan perlindungan antara stratum basale dan stratum granulosum pada epitelium gingiva. Pigmentasi gusi umumnya disebabkan oleh melanin, yang diproduksi oleh melanosit yang terletak di stratum basale. Di sini, stratum spinosum berfungsi menjaga integritas epitel tanpa berkontribusi pada warna gusi. Perbedaan dengan jawaban yang benar, yaitu stratum basale, adalah bahwa lapisan tersebut merupakan lokasi di mana melanosit berada dan memproduksi melanin, yang langsung menyebabkan warna hitam pada gusi Mindy.
- c.
Stratum granulosum
Pembahasan Opsi c:Kemungkinan jawaban "Stratum granulosum" kurang tepat karena stratum granulosum adalah lapisan epitel yang terletak di atas stratum spinosum dan berfungsi sebagai lapisan pelindung yang turut berperan dalam proses keratinisasi. Pigmentasi pada gusi yang menghitam umumnya disebabkan oleh akumulasi melanin yang dihasilkan oleh melanosit yang terletak di stratum basale, bukan oleh stratum granulosum. Stratum granulosum tidak memiliki fungsi dalam pembentukan pigmen melanin; oleh karena itu, lapisan yang lebih tepat diperiksa dalam konteks ini adalah stratum basale atau stratum spinosum yang berhubungan langsung dengan sel-sel melanotik. Dengan demikian, jawaban benar tidak mungkin merujuk pada stratum granulosum.
- d.
Stratum basale
Pembahasan Opsi d:Mindy, seorang wanita berusia 30 tahun, mengeluhkan pigmentation pada gusinya yang tampak menghitam tanpa kelainan pada gigi, yang menunjukkan kemungkinan adanya melanin yang mempengaruhi warna gusi. Diagnosis yang mungkin adalah hiperpigmentasi gingiva, yang sering disebabkan oleh faktor genetik atau iritasi lokal, dan ciri khasnya adalah pigmen gelap pada jaringan lunak gingiva. Dalam hal ini, warna hitam pada gusi diindikasikan berasal dari peningkatan produksi melanin oleh sel melanosit di dalam stratum basale epitelium gingiva. Penanganan estetika dapat meliputi prosedur pemutihan atau reseksi jaringan untuk mengembalikan penampilan gusi menjadi sewarna merah muda. Hal ini menjadi penting untuk mempertimbangkan kebutuhan kosmetik pasien serta pemahaman terkait perilaku melanosit dalam lapisan epitelium dalam merespons iritasi atau faktor genetik.
- e.
Stratum squamosum
Pembahasan Opsi e:Jawaban "Stratum squamosum" kurang tepat karena lapisan ini merupakan bagian dari epidermis kulit yang terdiri dari sel-sel mati. Stratum squamosum tidak secara langsung berkontribusi pada pigmentasi gusi. Pigmentasi gelap pada gusi biasanya disebabkan oleh melanin, yang diproduksi oleh sel-sel melanosit yang terdapat dalam lapisan stratum basale dan stratum spinosum dari epitel gusi. Perbedaan mendasar antara stratum squamosum dan lapisan yang benar adalah bahwa stratum squamosum tidak terlibat dalam proses produksi melanin, sementara lapisan yang benar berfungsi dalam pengaturan warna dan fungsi protektif jaringan gingiva.
Semangat Belajar dan Terus Berlatih!
Selamat! Anda telah menyelesaikan sesi latihan soal Ilmu Penyakit Mulut ini. Setiap soal yang Anda kerjakan adalah investasi berharga untuk masa depan profesional Anda. Ingat, proses belajar adalah maraton, bukan sprint. Jangan berkecil hati jika ada jawaban yang salah; justru dari kesalahan itulah Anda belajar dan tumbuh menjadi lebih baik.
Teruslah berlatih, tinjau kembali materi yang sulit, dan jangan ragu memanfaatkan semua fitur di Umeds untuk memperdalam pemahaman Anda. Konsistensi adalah kunci utama. Dengan persiapan yang matang dan semangat yang tak padam, kami yakin Anda akan berhasil menaklukkan UKOMNAS PPDG 2026. Semangat dan terus berjuang!
Persiapkan UKOMNAS PPDG Kamu Bersama Umeds!
Belajar Jadi Dokter Hebat Cukup dalam Genggaman. Akses materi pembelajaran, video kuliah, dan latihan soal kapan saja di satu aplikasi.


