Surabaya, 30 Juni 2026 — Mahasiswa kedokteran gigi Indonesia menunjukkan sikap yang lebih positif dan empatik terhadap pasien demensia dibandingkan rekan-rekan mereka di Jepang, meski pengetahuan klinis tentang demensia masih sedikit lebih rendah. Temuan ini dipublikasikan dalam Journal of International Society of Preventive and Community Dentistry tahun 2026 oleh drg. Aulia Ramadhani dari Divisi Ilmu Kesehatan Gigi Masyarakat, Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Airlangga (UNAIR), bekerja sama dengan Niigata University, Jepang.
Studi ini membandingkan pengetahuan dan sikap 189 mahasiswa kedokteran gigi dari Indonesia dan Jepang melalui survei daring menggunakan dua instrumen terstandar, yaitu Dementia Knowledge Assessment Scale (DKAS) dan Dementia Attitude Scale (DAS). Hasilnya memberikan gambaran menarik tentang bagaimana perbedaan kurikulum, kebijakan nasional, dan latar belakang budaya membentuk kesiapan calon dokter gigi dalam menangani pasien lansia dengan gangguan kognitif.
Temuan Utama Penelitian
Kedua kelompok mahasiswa sama-sama menunjukkan tingkat pengetahuan yang cukup baik terhadap demensia. Namun, kategori pengetahuan dengan skor tertinggi lebih banyak dijumpai pada mahasiswa Jepang. Peneliti menduga hal ini terkait erat dengan integrasi materi demensia dalam kurikulum pendidikan kedokteran gigi di Jepang, sekaligus paparan tinggi terhadap isu demensia melalui berbagai kampanye kesehatan masyarakat.
Sebaliknya, pada aspek sikap, mahasiswa Indonesia tercatat lebih positif. Peneliti menekankan bahwa pembentukan sikap tidak hanya dipengaruhi oleh pendidikan formal, melainkan juga faktor sosial, budaya, dan pengalaman personal. Di Indonesia, budaya hidup bersama dalam keluarga multigenerasi masih kuat, sehingga interaksi sehari-hari dengan anggota keluarga lanjut usia diyakini turut meningkatkan empati dan penerimaan terhadap kondisi penuaan maupun demensia.
Mengapa Ini Penting untuk Mahasiswa FKG
Peningkatan angka harapan hidup global membawa konsekuensi langsung bagi praktik kedokteran gigi. Populasi lansia dengan demensia semakin sering datang ke klinik gigi, namun penurunan fungsi kognitif, gangguan komunikasi, dan perubahan perilaku membuat pemeriksaan serta perawatan menjadi lebih kompleks. Mahasiswa FKG perlu membekali diri tidak hanya dengan keterampilan klinis, tetapi juga kemampuan komunikasi empatik.
Bagi mahasiswa kedokteran gigi, studi ini menyoroti tiga area yang patut diperkuat sejak masa akademik:
- Penguatan materi kurikulum mengenai demensia, khususnya modul tentang perilaku pasien, manajemen komunikasi, dan etika perawatan pasien dengan gangguan kognitif.
- Pelatihan sikap profesional yang memadukan empati, kesabaran, dan kemampuan membangun rapport dengan pasien serta keluarganya.
- Pengalaman klinis terstruktur bersama pasien lansia, termasuk kunjungan ke fasilitas perawatan jangka panjang atau panti werdha, untuk melatih sensitivitas sejak dini.
Implikasi untuk Pendidikan Kedokteran Gigi di Indonesia
Studi ini merekomendasikan institusi pendidikan tenaga kesehatan gigi di Indonesia untuk memperkuat integrasi topik demensia dalam kurikulum, baik pada tahap akademik maupun profesi. Kolaborasi dengan bidang geriatric dentistry, neurologi, dan psikologi klinis dapat membantu mahasiswa memahami pendekatan holistik terhadap pasien demensia.
Pada akhirnya, pelayanan gigi yang inklusif untuk pasien demensia hanya dapat tercapai ketika pengetahuan klinis dan sikap positif berjalan beriringan. Penelitian UNAIR dan Niigata ini menjadi pengingat bahwa calon dokter gigi tidak cukup hanya terampil secara teknis, tetapi juga perlu hadir dengan empati yang tulus di ruang perawatan.
Akses materi lengkap, tryout, dan video belajar di satu aplikasi


