Surakarta — Zahirah Mentari Supriyono dan Rahma Cloudita Puspita Dewi, dua mahasiswa semester 4 Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (FK UMS), berhasil meraih Juara II pada Lomba Esai Ilmiah MAJESTYNAS yang diselenggarakan Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Jakarta. Karya mereka mengangkat judul “Proposed Mechanism: Potensi IL-1 Saliva sebagai Kandidat Biomarker Noninvasif untuk Diagnosis Osteoporosis Pascamenopause”, sebuah gagasan yang menempatkan cairan mulut sebagai pintu masuk baru diagnosis osteoporosis.
Apa yang mereka gagas?
Dalam esai tersebut, Zahirah dan Rahma menawarkan Interleukin-1 (IL-1) yang terdeteksi pada saliva sebagai biomarker noninvasif untuk mendukung deteksi dini osteoporosis, khususnya pada perempuan pascamenopause. Ide ini berangkat dari keprihatinan bahwa pemeriksaan baku emas saat ini, yaitu DEXA scan, masih memiliki keterbatasan dari sisi akses, biaya, dan kenyamanan pasien.
“Saya tertarik mengangkat osteoporosis karena prevalensinya cukup tinggi dan proses diagnosis saat ini masih didominasi pemeriksaan DEXA yang memiliki sejumlah keterbatasan,” ujar Zahirah, Senin (29/6/2026). Setelah menelaah berbagai literatur, keduanya menilai saliva—yang jauh lebih mudah diambil dibanding darah—menyimpan peluang diagnostik yang belum banyak digarap untuk penyakit tulang.
Mengapa relevan untuk mahasiswa kedokteran gigi?
Bagi pembaca Umeds yang sedang menempuh pendidikan kedokteran gigi, topik ini menyentuh tiga ranah yang dekat dengan kurikulum:
- Oral diagnostic sciences — analisis saliva bukan sekadar bahan skrining karies, tetapi juga jendela inflamasi sistemik. Mahasiswa FKG akan menemukan bahwa biomarker saliva kini dipelajari untuk diabetes, penyakit kardiovaskular, hingga osteoporosis. Penguasaan teknik sampling, penyimpanan, dan penanganan saliva menjadi bekal klinis yang semakin dicari.
- Interleukin-1 (IL-1) — sitokin pro-inflamasi ini sudah lama dikenal di periodontik karena perannya pada resorpsi tulang alveolar. Gagasan FK UMS memperluas konsep yang sama ke tulang trabekular postmenopausal, menunjukkan bagaimana biologi mulut dan tulang saling terhubung. Bagi mahasiswa periodontik dan biomedis, IL-1 adalah pengingat bahwa satu mediator bisa muncul di berbagai keganasan klinis.
- Skrining berbasis mulut — tren “saliva sebagai cairan diagnostik” (salivaomics) membuka peluang skripsi dan penelitian bersama antar-program studi kedokteran dan kedokteran gigi. Topik seperti ini mudah diajukan sebagai judul penelitian karena sampel relatif mudah didapat, metode ELISA cukup umum di laboratorium perguruan tinggi, dan belum banyak dieksplorasi di Indonesia.
Perjalanan menuju Juara II
Di balik trofi dan piagam yang mereka bawa pulang, ada proses yang tidak singkat. Penyusunan naskah dilakukan di sela-sela padatnya perkuliahan blok di FK UMS. Bahkan, proposal baru berhasil dikirim satu menit sebelum batas akhir pengumpulan.
Setelah dinyatakan lolos ke babak final, keduanya mempersiapkan presentasi secara intensif. Mereka menyusun materi, membuat properti pendukung, lalu berlatih daring sebelum akhirnya bertemu dan melakukan simulasi langsung sehari sebelum perlombaan di Jakarta.
Implikasi bagi dunia pendidikan kedokteran
Keberhasilan Zahirah dan Rahma menunjukkan tiga hal penting bagi mahasiswa kedokteran dan kedokteran gigi Indonesia:
- Ide dari skenario klinis sederhana bisa naik kelas. Masalah “dokter perlu alat skrining osteoporosis yang murah” berangkat dari pengamatan dasar di poli, lalu dikaitkan dengan bukti ilmiah melalui penelusuran pustaka. Pola pikir “problem-based” seperti ini sangat cocok untuk pendidikan kedokteran berbasis kompetensi.
- Lomba esai ilmiah masih menjadi pintu masuk riset yang ramah untuk mahasiswa tahap awal. Kompetisi seperti MAJESTYNAS memberi ruang menuangkan hipotesis tanpa harus menunggu penelitian penuh berbiaya besar. Bagi mahasiswa semester 4–6, ini cara efektif melatih critical appraisal, scientific writing, dan kepercayaan diri presentasi.
- Kolaborasi lintas disiplin. Gagasan osteoporosis pada perempuan pascamenopause sebenarnya bisa dilanjutkan menjadi proyek bersama antara mahasiswa kebidanan, kedokteran dalam, dan kedokteran gigi—karena semuanya berurusan dengan biomarker saliva dan metabolisme tulang.
Langkah selanjutnya
Baik Zahirah maupun Rahma bertekad terus mengikuti kompetisi esai ilmiah dan memperluas jejaring dengan mahasiswa fakultas kedokteran dari berbagai daerah. “Kami ingin terus menghasilkan ide-ide ilmiah yang bermanfaat, memperbanyak publikasi, dan membawa nama baik FK UMS melalui kompetisi ilmiah,” ujar Zahirah mewakili tim.
Bagi mahasiswa kedokteran gigi yang ingin mengikuti jejak serupa, kisah ini menjadi pengingat bahwa potensi riset tidak selalu membutuhkan laboratorium besar—seringkali cukup dimulai dari membaca, berdiskusi, dan berani mengirim naskah satu menit sebelum batas akhir sekalipun.
Pelajar yang ingin menggali lebih jauh tentang biomarker saliva dapat mulai dari literatur klasik tentang Interleukin-1 pada penyakit periodontal, lalu membaca tinjauan terbaru mengenai “saliva as a diagnostic fluid” untuk menghubungkan ilmu yang sudah dipelajari di bangku kuliah dengan aplikasi klinis masa depan.
Sumber: ANTARA News Jateng, 29 Juni 2026, dengan pelaporan tambahan dari redaksi Umeds.
Akses materi lengkap, tryout, dan video belajar di satu aplikasi


