Steven-Johnson Syndrome (SJS) dan Toxic Epidermal Necrolysis (TEN) adalah dua kondisi kulit yang parah dan merupakan spektrum dari reaksi obat yang sama. Keduanya ditandai oleh nekrosis epidermis yang luas dan epidermolisis (pemisahan kulit dari lapisan di bawahnya), serta keterlibatan mukosa yang signifikan. Penting untuk memahami bahwa SJS dan TEN bukanlah dua penyakit terpisah, melainkan manifestasi yang berbeda dari proses patologis yang samaâperbedaan utama terletak pada luas permukaan tubuh yang terkena.
SJS didefinisikan sebagai keterlibatan kulit kurang dari 10% dari body surface area (BSA), sementara TEN ditandai dengan keterlibatan lebih dari 30% BSA. Kondisi yang berada di antara 10-30% BSA disebut overlap SJS/TEN. Kedua kondisi ini merupakan emergensi medis yang memerlukan penanganan segera karena tingkat mortalitas yang tinggi dan risiko komplikasi serius.
Insiden SJS berkisar 1-6 kasus per satu juta orang per tahun, sementara TEN jauh lebih jarang dengan insiden 0,4-1,2 kasus per satu juta orang per tahun. Meskipun keduanya jarang, konsekuensinya sangat serius: mortalitas SJS mencapai 5-12%, sedangkan mortalitas TEN jauh lebih tinggi, mencapai 30%. Penyakit ini lebih sering terjadi pada wanita dan kelompok usia 30-40 tahun.
Untuk menentukan prognosis, dokter menggunakan sistem skoring yang disebut SCORTEN. Sistem ini menghitung skor berdasarkan tujuh faktor prognostik yang dinilai pada hari pertama masuk rumah sakit. Masing-masing faktor memberikan 1 poin:
Skor SCORTEN membantu memprediksi mortalitas: semakin tinggi skor, semakin tinggi risiko kematian. Alat ini sangat penting untuk komunikasi antara dokter dan keluarga pasien tentang prognosis yang realistis.
Meskipun berbagai faktor dapat berkontribusi pada SJS/TEN, obat adalah penyebab utama dalam lebih dari 80% kasus. Telah diidentifikasi lebih dari 100 obat yang dapat memicu kondisi ini. Beberapa obat memiliki risiko yang jauh lebih tinggi dibandingkan yang lain.
Obat dengan risiko tinggi meliputi:
Obat dengan risiko rendah-sedang meliputi:
Penting untuk dicatat bahwa faktor genetik juga memainkan peran penting. Genotipe Human Leukocyte Antigen (HLA) tertentu, khususnya HLA-B *1502 dan HLA-B* 5801, meningkatkan risiko secara dramatis untuk obat-obatan tertentu. Misalnya, individu dengan HLA-B *5801 memiliki risiko jauh lebih tinggi untuk mengembangkan SJS/TEN saat terpapar alopurinol. Screening genetik untuk HLA-B* 5801 kini direkomendasikan sebelum memulai terapi alopurinol pada populasi yang berisiko tinggi.
SJS/TEN dimulai dengan fase prodromal yang berlangsung 1-3 hari sebelum lesi kulit muncul. Fase ini ditandai dengan gejala sistemik nonspesifik yang dapat menyerupai infeksi virus:
Fase prodromal ini sering diabaikan atau dianggap sebagai penyakit infeksi ringan. Oleh karena itu, penting untuk mengambil riwayat obat-obatan yang cermat ketika melihat pasien dengan gejala ini ditambah obat baru.
Setelah fase prodromal, lesi kulit mulai berkembang. Lesi awal muncul sebagai:
Tanda Nikolsky yang positif adalah temuan klinis kunci dalam SJS/TEN. Tanda ini diamati dengan menggosok kulit yang terlihat normal dengan lembut, dan jika epidermis terlepas dengan mudah, tanda Nikolsky dianggap positif. Ini menunjukkan bahwa ada pemisahan intra-epidermal yang luas, meskipun baru terlihat pada beberapa lokasi.
Lesi berkembang dengan cepat, sering bergabung, dan berubah menjadi bula (lepuh besar). Bula ini mudah pecah, meninggalkan luka yang menyakitkan dan rentan terhadap infeksi sekunder.
Salah satu fitur yang membedakan SJS/TEN dari reaksi kulit obat lainnya adalah keterlibatan mukosa yang hampir universal (±90% kasus). Area yang terkena meliputi:
Keterlibatan mukosa ini sangat menyakitkan dan sering membuat pasien tidak dapat makan, minum, atau membuka mata, yang berkontribusi pada malnutrisi dan dehidrasi.
Seperti yang disebutkan sebelumnya, klasifikasi SJS/TEN didasarkan pada persentase BSA yang terlibat:
Klasifikasi ini penting karena memiliki implikasi prognostik dan terapeutik. TEN dengan keterlibatan >30% BSA memiliki risiko mortalitas yang jauh lebih tinggi dan memerlukan manajemen yang lebih agresif.
Penting untuk memahami bahwa tidak ada tes laboratorium spesifik yang dapat mengonfirmasi SJS/TEN. Diagnosis dibuat berdasarkan gambaran klinis dan temuan histopatologi. Namun, pemeriksaan laboratorium tetap sangat penting untuk dua alasan: (1) mengidentifikasi pemicu obat potensial melalui riwayat, dan (2) menilai keparahan dan komplikasi.
Pemeriksaan laboratorium yang berguna meliputi:
Ketika diagnosis klinis meragukan, biopsi kulit dengan histopatologi dapat membantu mengkonfirmasi SJS/TEN. Temuan histopatologi yang khas meliputi:
Gambaran histopatologi ini cukup khas untuk membedakan SJS/TEN dari kondisi lain yang mungkin terlihat serupa secara klinis.
Langkah paling penting adalah segera menghentikan obat yang dicurigai menjadi penyebab. Dalam banyak kasus, setelah menghentikan obat, kondisi akan stabil, meskipun dapat memakan waktu beberapa hari hingga minggu untuk perbaikan klinis penuh. Dokter harus meninjau semua obat (resep, over-the-counter, dan herbal) yang dimulai dalam 8 minggu sebelum onset lesi kulit, karena ini adalah jendela waktu tipikal untuk reaksi obat.
Terapi suportif adalah tulang punggung manajemen dan sering kali lebih penting daripada terapi farmakologis:
Manajemen Cairan dan Elektrolit
Nutrisi Adekuat
Perawatan Luka Kulit dan Mukosa
Antibiotik hanya diberikan jika ada bukti infeksi sekunder, bukan sebagai profilaksis rutin. Ini sangat penting karena:
Ketika antibiotik diperlukan, pilih agen yang memiliki risiko rendah untuk memicu SJS/TEN (hindari sulfonamida, NSAID oxicam, dan neuroleptik).
Penatalaksanaan farmakologis SJS/TEN tetap kontroversial karena bukti klinis terbatas dan percobaan yang sulit dilakukan (kondisi jarang, respons pasien bervariasi). Beberapa opsi termasuk:
Kortikosteroid Sistemik Penggunaan kortikosteroid dalam SJS/TEN sangat debat. Beberapa studi retrospektif menunjukkan manfaat ketika diberikan lebih awal, sementara yang lain menunjukkan peningkatan risiko infeksi. Dosis dan waktu pemberian juga tidak jelas. Jika digunakan, dosis tinggi (1-2 mg/kg/hari prednison) diberikan lebih awal dalam perjalanan penyakit.
Intravenous Immunoglobulin (IVIG) IVIG, yang mengandung antibodi poliklonal, telah ditunjukkan dalam beberapa studi kecil untuk menghentikan perkembangan lesi dan mempercepat penyembuhan. Mekanismenya mungkin melibatkan pemblokiran FasL yang diekspresikan pada sel T yang menyerang keratinosit, atau netralitas sitokin proinflamasi. Dosis tipikal adalah 2 g/kg dibagi selama 3-5 hari. Namun, bukti masih terbatas, dan ini tidak direkomendasikan secara universal.
Siklosporin Siklosporin, inhibitor kalsineurin yang menekan aktivasi T sel, telah menunjukkan hasil yang menjanjikan dalam beberapa seri kasus kecil. Dosis berkisar 3-5 mg/kg/hari. Keuntungan adalah onset aksi yang cepat, tetapi risiko infeksi dan nefrotoksisitas harus dipantau dengan hati-hati.
Plasmapheresis Plasmapheresis, yang menghilangkan faktor proinflamasi dari plasma, telah dilaporkan bermanfaat dalam beberapa kasus TEN yang parah dengan hasil yang beragam. Mekanisme yang tepat tidak jelas, dan bukti terbatas pada laporan kasus kecil.
Anti-TNF-α Inhibitor faktor nekrosis tumor-alfa (TNF-α), seperti infliksimab, telah digunakan dalam beberapa kasus berat, tetapi bukti sangat terbatas dan tidak direkomendasikan sebagai terapi first-line.
Karena ketidakpastian ini, penatalaksanaan farmakologis harus dipandu oleh pengalaman individu dan pertimbangan klinis yang cermat. Terapi suportif yang optimal sering kali menghasilkan hasil yang sama baiknya dengan terapi farmakologis yang lebih agresif.
Karena presentasi awal SJS/TEN dapat mirip dengan berbagai kondisi kulit lainnya, diagnosis banding sangat penting:
Gambaran klinis SJS/TEN (onset cepat setelah obat baru, lesi eritematosa/purpura yang cepat berkembang menjadi bula, keterlibatan mukosa universal, tanda Nikolsky positif) biasanya cukup berbeda untuk membedakannya dari kondisi lain.
Komplikasi SJS/TEN dapat terjadi selama fase akut atau berkembang sebagai akibat jangka panjang:
Komplikasi Akut:
Komplikasi Jangka Panjang:
Pencegahan komplikasi melalui manajemen suportif yang optimal sangat penting untuk meningkatkan hasil pasien.
Concept Pages
Berlangganan premium umeds untuk akses penuh concept pages, video belajar, dan quiz untuk pendidikan kedokteran anda.
Belum punya akun? Daftar Gratis

Akses materi pembelajaran, video kuliah, dan latihan soal kapan saja di satu aplikasi