Pterigium adalah salah satu penyakit konjungtiva paling umum di daerah tropis dan memiliki masalah klinis yang signifikan karena potensi kehilangan penglihatan dan tingkat rekurensi yang tinggi setelah operasi. Memahami kondisi ini sangat penting untuk diagnosis yang akurat dan manajemen yang efektif.
Pterigium adalah pertumbuhan jaringan fibrovaskular yang bersifat degeneratif dengan bentuk segitiga. Jaringan ini tumbuh dari konjungtiva ke arah kornea pada daerah interpalpebra (area mata yang terbuka ketika kelopak mata dibuka). Ciri khasnya adalah apex (ujung jaringan) mengarah ke arah pupil, sementara basis (dasar jaringan) berada di daerah konjungtiva.
Meskipun penyebab pasti pterigium belum sepenuhnya diketahui, bukti ilmiah menunjukkan bahwa kondisi ini merupakan hasil dari kombinasi beberapa faktor. Faktor-faktor utama yang diduga berperan adalah:
Pterigium lebih sering terjadi pada kelompok orang tertentu:
Pterigium diklasifikasikan menjadi empat stadium berdasarkan seberapa jauh pertumbuhan jaringan memasuki kornea. Klasifikasi ini penting karena menentukan gejala pasien dan keputusan penatalaksanaan.
Stadium I: Pertumbuhan belum melewati limbus (batas antara konjungtiva dan kornea). Pada tahap ini, pterigium masih terbatas pada konjungtiva dan belum menyentuh kornea yang jernih.
Stadium II: Jaringan telah melewati limbus dan masuk ke kornea, tetapi belum mencapai tepi pupil. Tahap ini menandai awal keterlibatan kornea, dan pasien mungkin mulai mengalami gangguan visual minor.
Stadium III: Pertumbuhan sudah mencapai dan menutupi pinggiran pupil. Pada stadium ini, pasien biasanya mengalami gangguan visual yang lebih jelas karena obstruksi penglihatan.
Stadium IV: Jaringan pterigium telah melewati pupil dan menutupi sebagian besar kornea central. Ini adalah kondisi paling parah dengan potensi kehilangan penglihatan yang signifikan.
Diagnosis pterigium didasarkan pada dua pilar: riwayat pasien (anamnesis) dan pemeriksaan fisik langsung.
Gejala yang dilaporkan pasien biasanya mencakup:
Temuan pemeriksaan fisik yang karakteristik:
Diagnosis pterigium adalah diagnosis klinis murni, artinya dokter dapat mendiagnosis hanya berdasarkan pengamatan langsung dengan slitlamp atau bahkan dengan pemeriksaan mata biasa.
Penatalaksanaan pterigium bergantung pada stadium penyakit:
Stadium I: Pada tahap awal di mana pertumbuhan masih kecil dan belum melampaui limbus, pengelolaan bersifat konservatif dengan pemberian tetes air mata buatan. Tujuannya adalah mengurangi iritasi dan memperlambat pertumbuhan. Pada stadium ini, operasi umumnya tidak diperlukan.
Stadium II ke atas: Ketika pterigium telah melewati limbus dan menunjukkan gejala progresif atau mengganggu penglihatan, pertimbangan operasi menjadi lebih serius.
Prognosis untuk penglihatan dan kosmetika umumnya baik jika ditangani dengan tepat. Namun, ada tantangan signifikan yang perlu dipahami:
Tingkat Rekurensi: Pterigium memiliki kecenderungan tinggi untuk kambuh setelah operasi, dengan tingkat rekurensi berkisar antara 30-50%. Ini berarti hampir separuh pasien yang menjalani operasi akan mengalami pertumbuhan kembali dalam waktu tertentu.
Strategi Pencegahan Rekurensi:
Kombinasi strategi ini telah terbukti secara signifikan menurunkan tingkat rekurensi pterigium.
Concept Pages
Berlangganan premium umeds untuk akses penuh concept pages, video belajar, dan quiz untuk pendidikan kedokteran anda.
Belum punya akun? Daftar Gratis

Akses materi pembelajaran, video kuliah, dan latihan soal kapan saja di satu aplikasi