Endometritis Postpartum & Retensio Sisa Plasenta

Halo, calon dokter! Setelah melahirkan, tubuh ibu rentan mengalami berbagai komplikasi. Dua kondisi yang seringkali menjadi momok dan penting banget untuk dikuasai adalah Endometritis Postpartum dan Retensio Sisa Plasenta. Keduanya bisa menyebabkan morbiditas serius jika tidak ditangani dengan cepat dan tepat. Jangan sampai keliru diagnosis atau tatalaksana, yuk kita bedah tuntas konsep penting ini untuk persiapan UKMPPD dan praktik klinis Anda!

Definisi

Endometritis Postpartum adalah infeksi pada desidua uterus (lapisan endometrium) setelah melahirkan. Ini merupakan penyebab tersering demam postpartum.

Retensio Sisa Plasenta adalah kondisi di mana sebagian atau seluruh jaringan plasenta masih tertinggal di dalam kavum uteri setelah 30 menit pasca persalinan kala III. Sisa plasenta yang tertinggal seringkali menjadi medium pertumbuhan bakteri dan faktor risiko utama terjadinya endometritis.

Etiologi & Faktor Risiko

  • Etiologi Endometritis: Umumnya bersifat polimikrobial, melibatkan bakteri dari flora vagina dan usus, seperti Group B Streptococcus, Escherichia coli, Klebsiella pneumoniae, Proteus mirabilis, Bacteroides spp., dan Peptostreptococcus spp.
  • Faktor Risiko Endometritis:
    • Seksio sesarea (risiko tertinggi)
    • Ketuban pecah dini (KPD)
    • Persalinan lama atau macet
    • Pemeriksaan dalam berulang
    • Korionamnionitis
    • Retensio sisa plasenta
    • Perdarahan postpartum
    • Anemia maternal
    • Status sosioekonomi rendah
  • Etiologi Retensio Sisa Plasenta:
    • Atonia uteri (penyebab paling umum, menyebabkan gangguan pelepasan plasenta)
    • Plasenta akreta, inkreta, atau perkreta (invasi abnormal ke miometrium)
    • Plasenta suksenturiata (lobus plasenta tambahan)
    • Plasenta bipartita/multiparta
    • Kontraksi uterus inkoordinasi
    • Penanganan aktif kala III yang tidak tepat (misalnya tarikan tali pusat terlalu dini atau terlalu kuat)

Patofisiologi

  • Endometritis Postpartum: Setelah melahirkan, desidua uterus menjadi area yang rentan karena adanya luka bekas implantasi plasenta dan gumpalan darah. Bakteri dari vagina atau saluran cerna dapat naik ke uterus dan menginvasi jaringan desidua yang nekrotik, menyebabkan respons inflamasi dan infeksi.
  • Retensio Sisa Plasenta: Kegagalan seluruh atau sebagian plasenta untuk terlepas dari dinding uterus. Ini bisa disebabkan oleh kegagalan mekanisme fisiologis pelepasan plasenta (kontraksi uterus yang tidak adekuat) atau karena adanya anomali pada plasenta itu sendiri (misalnya, invasi trofoblas yang terlalu dalam pada plasenta akreta). Sisa plasenta ini dapat menghambat kontraksi uterus, menyebabkan perdarahan, dan menjadi fokus infeksi.

Manifestasi Klinis

KondisiGejala & Tanda Kunci
Endometritis Postpartum
  • Demam (seringkali >38°C) dalam 24-48 jam postpartum
  • Nyeri perut bawah atau nyeri tekan uterus
  • Lokia berbau busuk, purulen, atau berlebihan
  • Takikardia
  • Subinvolusi uteri (fundus uteri lebih tinggi dari seharusnya)
  • Menggigil (pada kasus berat)
Retensio Sisa Plasenta
  • Perdarahan postpartum sekunder (paling sering, terjadi 24 jam hingga 12 minggu postpartum)
  • Perdarahan persisten atau berulang
  • Subinvolusi uteri
  • Nyeri perut atau kram
  • Kadang disertai demam dan lokia berbau (jika sudah terinfeksi menjadi endometritis)
  • Anemia akibat perdarahan

Penegakan Diagnosis

  • Anamnesis: Riwayat persalinan (SC, lama persalinan, KPD), keluhan demam, nyeri, perdarahan, lokia berbau.
  • Pemeriksaan Fisik:
    • Pemeriksaan tanda vital: Demam, takikardia.
    • Pemeriksaan abdomen: Nyeri tekan uterus, tinggi fundus uteri tidak sesuai.
    • Pemeriksaan genitalia: Karakteristik lokia (jumlah, warna, bau).
  • Pemeriksaan Penunjang:
    • Darah Lengkap: Leukositosis dengan shift to the left (pada endometritis).
    • USG Transabdominal/Transvaginal: Paling penting untuk retensio sisa plasenta. Akan menunjukkan adanya massa ekogenik atau hiperekoik di kavum uteri, atau gambaran uterus yang tidak bersih.
    • Kultur Lokia: Jarang dilakukan rutin karena sering terkontaminasi flora normal, namun bisa dipertimbangkan pada kasus yang tidak responsif terhadap antibiotik empiris.
    • Pemeriksaan histopatologi: Untuk konfirmasi sisa plasenta setelah kuretase.

Diagnosis Banding

KondisiEndometritis PostpartumRetensio Sisa Plasenta
Infeksi Saluran Kemih (ISK)Disuria, frekuensi, nyeri suprapubik.-
MastitisNyeri, kemerahan, bengkak pada payudara.-
Tromboflebitis Septik PelvisDemam berulang, nyeri perut bawah, tidak responsif antibiotik standar.-
Hematoma Pelvis/VulvaMassa nyeri, bengkak, perubahan warna.-
Atonia UteriPerdarahan postpartum primer (dalam 24 jam), uterus lembek.Bisa juga perdarahan primer, tapi uterus bisa teraba berkontraksi namun ada sisa.
Robekan Jalan LahirPerdarahan aktif segera setelah melahirkan, uterus berkontraksi baik.-
KoagulopatiPerdarahan umum, riwayat kelainan pembekuan darah.-

Tatalaksana

  • Tatalaksana Endometritis Postpartum:
    • Antibiotik spektrum luas intravena (IV) adalah terapi lini pertama. Kombinasi yang umum digunakan:
      • Klindamisin 900 mg IV tiap 8 jam + Gentamisin 1.5 mg/kg IV tiap 8 jam (atau 5 mg/kg IV sekali sehari).
      • Alternatif lain: Ampisilin/Sulbaktam, Cefoxitin, Metronidazole + Cefazolin.
    • Terapi IV dilanjutkan hingga pasien afebris (suhu normal) selama 24-48 jam. Setelah itu, bisa dilanjutkan dengan antibiotik oral (misal: Amoksisilin/Klavulanat atau Klindamisin) untuk total 7-10 hari.
    • Jika ada sisa plasenta yang terinfeksi, perlu dilakukan evakuasi sisa plasenta setelah pemberian antibiotik.
  • Tatalaksana Retensio Sisa Plasenta:
    • Stabilisasi pasien: Atasi syok hipovolemik (pasang IV line besar, berikan cairan kristaloid, transfusi darah jika perlu).
    • Evakuasi sisa plasenta:
      • Jika plasenta masih di serviks atau vagina: Lakukan pengeluaran manual.
      • Jika di dalam uterus:
        • Manual removal of placenta (MRP): Jika masih dalam 24 jam postpartum dan sisa plasenta masih bisa dijangkau. Lakukan dalam kondisi steril, analgesia/anestesi yang adekuat.
        • Kuretase: Jika sisa plasenta sudah lama (
    • Oksitosin: Berikan oksitosin IV setelah evakuasi untuk membantu kontraksi uterus dan mengurangi perdarahan.
    • Antibiotik profilaksis: Diberikan sebelum prosedur evakuasi sisa plasenta untuk mencegah infeksi.

Komplikasi

  • Komplikasi Endometritis Postpartum:
    • Sepsis dan syok septik
    • Abses pelvis atau abses tubo-ovarium
    • Tromboflebitis septik pelvis
    • Peritonitis
    • Infertilitas sekunder
    • Kematian maternal
  • Komplikasi Retensio Sisa Plasenta:
    • Perdarahan postpartum masif dan syok hipovolemik
    • Anemia berat
    • Infeksi (Endometritis)
    • Perforasi uterus (akibat kuretase)
    • Sindrom Asherman (adhesi intrauterin)
    • Infertilitas sekunder
    • Kematian maternal

Edukasi & Pencegahan

  • Pencegahan Endometritis:
    • Teknik aseptik yang ketat selama persalinan dan prosedur obstetri.
    • Pemberian antibiotik profilaksis pada seksio sesarea.
    • Penanganan aktif kala III yang tepat untuk mencegah retensio sisa plasenta.
  • Pencegahan Retensio Sisa Plasenta:
    • Manajemen aktif kala III yang benar (pemberian oksitosin, peregangan tali pusat terkendali, masase fundus uteri).
    • Pemeriksaan kelengkapan plasenta setelah lahir.
  • Edukasi Pasien: Ajarkan ibu postpartum untuk mengenali tanda dan gejala bahaya seperti demam, perdarahan berlebihan, lokia berbau busuk, atau nyeri perut hebat, dan segera mencari pertolongan medis.

Referensi

Ada Hadiah Buatmu! Diskon 10% Buat Semua Produk - Kode NEWUSER10

Belajar Jadi Dokter Hebat Cukup dalam Genggaman

Akses materi pembelajaran, video kuliah, dan latihan soal kapan saja di satu aplikasi

4.8
Rating
15K+
Downloads
500+
Doctors
Customer Support umeds