Vaginosis Bakterial dan Trikomoniasis: Dua Penyebab Umum Vaginitis

Keputihan abnormal seringkali menjadi keluhan utama yang membawa pasien ke dokter. Di balik keluhan ini, dua kondisi yang paling sering ditemukan adalah Vaginosis Bakterial dan Trikomoniasis. Keduanya memiliki etiologi, manifestasi, dan tatalaksana yang berbeda, namun sering membingungkan. Menguasai seluk-beluknya krusial untuk diagnosis dan tatalaksana yang tepat, sekaligus agar kamu siap menghadapi soal UKMPPD! Yuk, pelajari selengkapnya!

Definisi Umum Vaginosis dan Trikomoniasis

Vaginitis adalah peradangan pada vagina yang seringkali ditandai dengan perubahan keputihan, gatal, iritasi, dan nyeri. Dua penyebab paling umum dari vaginitis adalah Vaginosis Bakterial (VB) dan Trikomoniasis. Meskipun keduanya menimbulkan gejala serupa, etiologi, patofisiologi, dan penanganannya sangat berbeda. Memahami perbedaannya krusial untuk diagnosis dan tatalaksana yang tepat.

Vaginosis Bakterial (VB)

Definisi: Vaginosis Bakterial adalah kondisi ketidakseimbangan flora normal vagina, bukan infeksi menular seksual (IMS) murni, yang ditandai dengan penurunan jumlah laktobasilus pelindung dan peningkatan pertumbuhan bakteri anaerob, terutama Gardnerella vaginalis.

Etiologi & Patofisiologi:

  • Penyebab utama adalah perubahan ekosistem vagina dari dominasi Lactobacillus menjadi pertumbuhan berlebih bakteri anaerob seperti Gardnerella vaginalis, Mobiluncus, dan Mycoplasma hominis.
  • Penurunan laktobasilus mengakibatkan peningkatan pH vagina (>4.5), yang mendukung pertumbuhan bakteri anaerob.
  • Bakteri anaerob ini menghasilkan amina volatil yang menyebabkan bau amis khas.

Faktor Risiko:

  • Aktivitas seksual (bukan IMS, tapi terkait pertukaran cairan tubuh).
  • Douching (mencuci vagina).
  • Penggunaan IUD.
  • Merokok.
  • Defisiensi estrogen.

Manifestasi Klinis:

  • Keputihan homogen, encer, berwarna putih keabuan.
  • Bau amis (fishy odor), terutama setelah berhubungan seksual atau menstruasi.
  • Gatal atau iritasi ringan (tidak selalu ada).
  • Dispereunia (nyeri saat berhubungan seksual) atau disuria (nyeri saat berkemih) jarang.

Penegakan Diagnosis: Ditegakkan berdasarkan Kriteria Amsel (minimal 3 dari 4):

  1. Keputihan homogen, encer, putih keabuan yang menempel pada dinding vagina.
  2. pH vagina > 4.5.
  3. Uji Whiff positif (bau amis setelah penambahan KOH 10%).
  4. Ditemukannya clue cells pada sediaan basah (sel epitel vagina yang tertutup bakteri).

Selain itu, skor Nugent (berdasarkan pewarnaan Gram) dapat digunakan di laboratorium.

Tatalaksana:

  • Farmakologis:
    • Metronidazole: 500 mg per oral 2x sehari selama 7 hari, ATAU gel 0.75% intravagina 1x sehari selama 5 hari.
    • Clindamycin: Krim 2% intravagina 1x sehari selama 7 hari, ATAU ovula 100 mg intravagina 1x sehari selama 3 hari.
  • Tidak perlu mengobati pasangan seksual karena VB bukan IMS murni.

Trikomoniasis

Definisi: Trikomoniasis adalah infeksi menular seksual (IMS) yang disebabkan oleh parasit protozoa Trichomonas vaginalis, menyerang saluran genitourinaria wanita dan pria.

Etiologi & Patofisiologi:

  • Disebabkan oleh Trichomonas vaginalis, protozoa flagelata yang menular melalui kontak seksual.
  • Parasit ini melekat pada sel epitel vagina dan uretra, menyebabkan peradangan.
  • Mampu bertahan hidup di lingkungan vagina dengan pH yang bervariasi.

Faktor Risiko:

  • Berganti-ganti pasangan seksual.
  • Riwayat IMS sebelumnya.
  • Tidak menggunakan kondom.

Manifestasi Klinis:

  • Keputihan kuning kehijauan, berbusa, berbau busuk.
  • Gatal, iritasi, kemerahan, dan nyeri pada vulva dan vagina.
  • Disuria dan dispareunia.
  • Pada pemeriksaan spekulum dapat ditemukan gambaran "strawberry cervix" (serviks eritematosa dengan bintik-bintik perdarahan).
  • Sebagian besar wanita (hingga 50%) asimtomatik.

Penegakan Diagnosis:

  • Pemeriksaan mikroskopik sediaan basah: Melihat trofozoit Trichomonas vaginalis yang bergerak aktif (sensitivitas 60-70%).
  • pH vagina: Biasanya > 4.5.
  • Uji Whiff: Dapat positif.
  • Kultur: Standar emas, tetapi membutuhkan waktu.
  • NAAT (Nucleic Acid Amplification Test): Sangat sensitif dan spesifik, semakin banyak digunakan.

Tatalaksana:

  • Farmakologis:
    • Metronidazole: 2 gram dosis tunggal per oral, ATAU 500 mg per oral 2x sehari selama 7 hari.
    • Tinidazole: 2 gram dosis tunggal per oral.
  • Penting: Pasangan seksual harus diobati secara bersamaan untuk mencegah reinfeksi.
  • Hindari hubungan seksual hingga pasien dan pasangan selesai pengobatan dan bebas gejala.

Diagnosis Banding

Penting untuk membedakan Vaginosis Bakterial dan Trikomoniasis dari penyebab keputihan lain seperti Kandidiasis Vulvovaginal. Berikut tabel perbandingan singkat:

KarakteristikVaginosis BakterialTrikomoniasisKandidiasis Vulvovaginal
KeputihanPutih keabuan, homogen, encer, menempelKuning kehijauan, berbusa, bau busukPutih kental, bergumpal (cottage cheese)
BauAmis (fishy odor), terutama setelah seksBusuk, menyengatTidak khas
Gatal/IritasiRingan/tidak adaSering, beratSering, berat
pH Vagina> 4.5> 4.5≤ 4.5
Uji WhiffPositifDapat positifNegatif
MikroskopikClue cellsTrofozoit T. vaginalis bergerakHifa/spora Candida
EtiologiKetidakseimbangan flora, GardnerellaTrichomonas vaginalis (protozoa)Candida albicans (jamur)

Komplikasi

Jika tidak diobati, kedua kondisi ini dapat menyebabkan komplikasi:

  • Vaginosis Bakterial:
    • Peningkatan risiko penularan IMS (termasuk HIV).
    • Peningkatan risiko infeksi pasca-operasi ginekologi.
    • Pada kehamilan: peningkatan risiko persalinan prematur, ketuban pecah dini, dan korioamnionitis.
  • Trikomoniasis:
    • Peningkatan risiko penularan IMS (termasuk HIV).
    • Peningkatan risiko kanker serviks.
    • Pada kehamilan: peningkatan risiko persalinan prematur dan bayi berat lahir rendah.
    • Pada pria: uretritis, prostatitis, epididimitis.

Edukasi & Pencegahan

Edukasi pasien sangat penting untuk mencegah kekambuhan dan penularan:

  • Hindari douching vagina karena dapat mengganggu flora normal.
  • Gunakan kondom secara konsisten dan benar untuk mencegah IMS, termasuk trikomoniasis.
  • Batasi jumlah pasangan seksual.
  • Hindari penggunaan sabun atau produk kewanitaan yang mengandung parfum di area genital.
  • Kenakan pakaian dalam yang terbuat dari katun dan tidak terlalu ketat.
  • Selesaikan seluruh regimen pengobatan sesuai anjuran dokter, meskipun gejala sudah membaik.
  • Untuk trikomoniasis, pastikan pasangan seksual juga diobati.

Referensi

Ada Hadiah Buatmu! Diskon 10% Buat Semua Produk - Kode NEWUSER10

Belajar Jadi Dokter Hebat Cukup dalam Genggaman

Akses materi pembelajaran, video kuliah, dan latihan soal kapan saja di satu aplikasi

4.8
Rating
15K+
Downloads
500+
Doctors
Customer Support umeds