Uveitis Posterior dan Panuveitis

Uveitis posterior dan panuveitis adalah kondisi peradangan mata yang serius, berpotensi mengancam penglihatan, dan seringkali menjadi tantangan diagnostik. Memahami etiologi, manifestasi klinis, serta penatalaksanaannya sangat krusial, apalagi sering keluar di UKMPPD, loh! Yuk, selami lebih dalam untuk menguasai topik penting ini!

Definisi

Uveitis adalah peradangan pada traktus uvea, yang terdiri dari iris, korpus siliaris, dan koroid. Berdasarkan lokasinya, uveitis dapat diklasifikasikan menjadi anterior, intermediat, posterior, atau panuveitis.

Uveitis Posterior adalah peradangan yang utamanya mengenai koroid dan/atau retina, serta mungkin melibatkan vitreus. Gejala umumnya lebih insidious dan sering menyebabkan penurunan visus signifikan.

Panuveitis adalah peradangan yang melibatkan seluruh traktus uvea, yaitu iris, korpus siliaris, dan koroid, seringkali disertai keterlibatan retina dan vitreus. Kondisi ini merupakan bentuk uveitis yang paling parah dan seringkali terkait dengan penyakit sistemik.

Etiologi

Etiologi uveitis posterior dan panuveitis sangat bervariasi, meliputi penyebab infeksius, non-infeksius (autoimun), dan idiopatik. Penting untuk mengidentifikasi penyebabnya karena memengaruhi strategi tatalaksana.

KategoriContoh PenyebabKarakteristik Kunci (UKMPPD-relevant)
InfeksiusToxoplasmosisPaling umum. Lesi retinochoroiditis fokal dengan vitreitis, sering ada lesi satelit pigmen lama.
Cytomegalovirus (CMV)Umum pada pasien imunokompromais (mis. HIV). Retinitis nekrotik granular, sering disebut 'pizza pie' appearance.
Herpes Simplex/Zoster (HSV/VZV)Retinitis nekrotik akut (ARN), nekrosis retina perifer yang cepat.
Tuberkulosis (TB)Bervariasi: koroiditis multifokal, tuberkuloma, vaskulitis retina, serpiginous-like choroiditis.
Sifilis'The great masquerader'. Panuveitis, koroiditis, retinitis, vaskulitis retina.
Non-Infeksius (Autoimun)SarkoidosisVitreitis ('string of pearls'), vaskulitis retina ('candle-wax drippings'), nodul koroid.
Vogt-Koyanagi-Harada (VKH) DiseasePanuveitis bilateral, efusi koroid/retina, depigmentasi kulit/rambut (poliosis, vitiligo), gangguan neurologis/pendengaran.
Behçet's DiseaseVaskulitis retina oklusif, ulkus oral/genital, lesi kulit. Prognosis buruk untuk visus.
Multiple Sclerosis (MS)Sering terkait dengan uveitis intermediat, tetapi dapat juga panuveitis.
Oftalmia SimpatetikPanuveitis granulomatosa bilateral setelah trauma/operasi pada mata kontralateral.
IdiopatikSekitar 25-50% kasus tidak ditemukan penyebabnya.

Manifestasi Klinis

Gejala uveitis posterior dan panuveitis dapat bervariasi, namun umumnya melibatkan penurunan fungsi penglihatan. Penting untuk membedakannya dari uveitis anterior yang lebih sering menyebabkan mata merah dan nyeri.

  • Penurunan Visus: Seringkali progresif dan tanpa nyeri, bisa mendadak pada kasus berat.
  • Floater (Muscae Volitantes): Akibat sel-sel inflamasi atau debris di vitreus (vitreitis).
  • Fotopsia: Kilatan cahaya, terutama pada keterlibatan retina.
  • Metamorfopsia: Distorsi penglihatan, sering akibat edema makula.
  • Nyeri dan Kemerahan Mata: Lebih jarang pada uveitis posterior murni, namun dapat terjadi pada panuveitis atau jika ada komponen anterior yang signifikan.

Pada pemeriksaan funduskopi, dapat ditemukan:

  • Vitreitis: Sel-sel inflamasi di vitreus, kekeruhan vitreus.
  • Retinitis/Koroiditis: Lesi putih kekuningan pada retina atau koroid.
  • Vaskulitis Retina: Perivascular sheathing ('candle-wax drippings' pada sarkoidosis).
  • Papilitis/Edema Papil: Pembengkakan diskus optikus.
  • Edema Makula Kistoid (EMK): Pembengkakan makula dengan kista-kista kecil, penyebab utama penurunan visus.

Penegakan Diagnosis dan Pemeriksaan Penunjang

Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik mata (terutama funduskopi), dan pemeriksaan penunjang untuk mencari etiologi.

  • Anamnesis: Riwayat penyakit sistemik, riwayat trauma/operasi, riwayat bepergian, paparan hewan, penggunaan obat-obatan.
  • Pemeriksaan Oftalmologi Lengkap:
    • Slit-lamp examination: Untuk menilai sel dan flare di bilik mata depan, presipitat keratik, dan sel di vitreus anterior.
    • Funduskopi dengan pupil dilebarkan: Pemeriksaan kunci untuk melihat lesi pada retina, koroid, vitreus, dan diskus optikus.
  • Pemeriksaan Penunjang Spesifik:
    • Laboratorium Darah:
      • Serologi Toxoplasma (IgG, IgM)
      • VDRL/TPHA (Sifilis)
      • PCR untuk virus (CMV, HSV, VZV)
      • ANA, RF, ACE (Sarkoidosis), HLA-B51 (Behçet's)
      • PPD test/IGRA (TB)
    • Pencitraan:
      • Optical Coherence Tomography (OCT): Mendeteksi edema makula kistoid, epiretinal membrane, atau detasemen retina serosa.
      • Fluorescein Angiography (FA): Menilai vaskulitis retina, kebocoran kapiler, atau neovaskularisasi.
      • Indocyanine Green Angiography (ICGA): Lebih baik untuk melihat lesi koroid (mis. pada VKH).
      • USG B-scan: Jika media refrakta keruh (mis. vitreus hemoragik atau kekeruhan vitreus berat).
      • Foto Toraks/CT Scan: Untuk menyingkirkan sarkoidosis atau TB.
    • Biopsi Vitreus/Aqueous Humor: Untuk diagnosis etiologi infeksius atau keganasan jika diagnosis sulit ditegakkan.

Tatalaksana

Tatalaksana bertujuan untuk menekan peradangan, mencegah kerusakan struktural, mempertahankan atau memperbaiki visus, dan mengatasi penyebab yang mendasari.

Farmakologis

  • Kortikosteroid: Merupakan terapi lini pertama.
    • Topikal/Periokular: Untuk kasus ringan atau sebagai tambahan.
    • Sistemik (oral/intravena): Prednison oral dosis tinggi (1 mg/kgBB/hari) untuk kasus berat, panuveitis, atau keterlibatan makula.
    • Intravitreal: Injeksi triamcinolone atau implan dexamethasone (Ozurdex) untuk efek lokal yang kuat, terutama pada EMK refrakter.
  • Imunosupresan/Agen Biologis: Digunakan untuk kasus kronis, refrakter terhadap steroid, atau untuk steroid-sparing. Contoh: Metotreksat, Azatioprin, Siklosporin, Mycophenolate Mofetil, Adalimumab, Infliximab.
  • Terapi Antimikroba: Sesuai etiologi.
    • Toxoplasmosis: Pirimetamin + Sulfadiazin + Asam Folat, atau Klindamisin + Sulfadiazin.
    • CMV: Ganciclovir, Foscarnet.
    • Sifilis: Penisilin G.
    • TB: Obat Anti Tuberkulosis (OAT).

Non-Farmakologis

  • Pembedahan:
    • Vitrectomy: Untuk membersihkan kekeruhan vitreus yang persisten, membran epiretinal, atau komplikasi lain.
    • Fakoemulsifikasi: Untuk katarak yang disebabkan oleh uveitis atau penggunaan steroid.
  • Manajemen Komplikasi: Terapi untuk glaukoma sekunder atau detasemen retina.

Komplikasi

Uveitis posterior dan panuveitis yang tidak tertangani dengan baik dapat menyebabkan komplikasi serius dan kehilangan penglihatan permanen.

  • Edema Makula Kistoid (EMK): Komplikasi paling umum dan penyebab utama penurunan visus.
  • Katarak: Akibat peradangan kronis atau penggunaan kortikosteroid.
  • Glaukoma Sekunder: Peningkatan tekanan intraokular akibat peradangan atau penggunaan steroid.
  • Detasemen Retina: Bisa eksudatif atau traksional.
  • Membran Epiretinal: Pembentukan jaringan parut di permukaan retina.
  • Neovaskularisasi Koroid (CNV): Pertumbuhan pembuluh darah abnormal di bawah retina.
  • Atrofi Optikus: Kerusakan saraf optik.
  • Kehilangan Penglihatan Permanen: Akibat kerusakan struktural yang ireversibel.

Referensi

Ada Hadiah Buatmu! Diskon 10% Buat Semua Produk - Kode NEWUSER10

Belajar Jadi Dokter Hebat Cukup dalam Genggaman

Akses materi pembelajaran, video kuliah, dan latihan soal kapan saja di satu aplikasi

4.8
Rating
15K+
Downloads
500+
Doctors
Customer Support umeds