Ulkus Genital: Membedakan Ulkus Mole dan Herpes Genital

Ulkus di area genital bisa jadi momok, bukan cuma nyeri, tapi juga penanda infeksi menular seksual (IMS) yang butuh penanganan serius. Dua penyebab paling sering dan sering tertukar adalah ulkus mole dan herpes genital. Jangan sampai salah diagnosis, karena tatalaksananya beda jauh! Yuk, kita kupas tuntas perbedaannya agar kamu makin jago membedakan dan memberikan terapi yang tepat. Siap hadapi soal UKMPPD dengan percaya diri? Loh, yuk pelajari selengkapnya!

Pendahuluan: Ulkus Genital sebagai IMS

Ulkus genital adalah luka terbuka pada area kelamin yang seringkali merupakan manifestasi dari Infeksi Menular Seksual (IMS). Penting bagi mahasiswa kedokteran untuk dapat membedakan berbagai penyebab ulkus genital karena tatalaksana, prognosis, dan implikasi kesehatan masyarakatnya sangat bervariasi.

Dua penyebab ulkus genital yang paling sering ditemukan dan kerap menjadi diagnosis banding adalah Ulkus Mole dan Herpes Genital. Pemahaman mendalam tentang karakteristik klinis dan diagnostik keduanya akan sangat membantu dalam praktik klinis dan persiapan UKMPPD.

Ulkus Mole (Chancroid)

Definisi & Etiologi

Ulkus Mole, atau dikenal juga sebagai Chancroid, adalah infeksi menular seksual (IMS) akut yang disebabkan oleh bakteri Haemophilus ducreyi. Penyakit ini ditandai dengan ulkus genital yang nyeri dan sering disertai pembengkakan kelenjar getah bening inguinal.

Patofisiologi

Bakteri H. ducreyi masuk melalui lesi mikroskopik pada kulit atau mukosa saat kontak seksual. Bakteri ini menghasilkan toksin yang menyebabkan nekrosis seluler dan respons inflamasi, membentuk ulkus yang khas. Invasi ke kelenjar getah bening inguinal menyebabkan limfadenitis supuratif.

Manifestasi Klinis

  • Ulkus: Biasanya multipel (bisa juga tunggal), lunak saat diraba (soft chancre), berbatas tegas, tepi tidak teratur, dasar ulkus kotor dan mudah berdarah, serta sangat nyeri. Lokasi tersering pada pria adalah preputium, frenulum, sulkus koronarius; pada wanita di labia, klitoris, fourchette, atau serviks.
  • Limfadenopati Inguinal: Terjadi pada sekitar 50% kasus, biasanya unilateral, nyeri, dan bisa berkembang menjadi abses (bubo) yang dapat pecah dan mengeluarkan pus.
  • Gejala sistemik jarang terjadi.

Penegakan Diagnosis

Diagnosis ditegakkan berdasarkan gambaran klinis yang khas dan didukung oleh pemeriksaan laboratorium:

  • Pewarnaan Gram: Ditemukan bakteri H. ducreyi berbentuk kokobasil gram negatif, sering berkelompok seperti 'rantai mutiara' atau 'jejeran ikan' (school of fish).
  • Kultur: Merupakan baku emas, namun sulit dan tidak selalu tersedia.
  • PCR: Metode diagnostik yang lebih sensitif dan spesifik jika tersedia.
  • Uji serologi sifilis dan HIV: Wajib dilakukan untuk menyingkirkan diagnosis banding dan skrining IMS lainnya.

Tatalaksana

Tujuan tatalaksana adalah menyembuhkan infeksi, meredakan gejala, dan mencegah penularan.

  • Farmakologis:
    • Azitromisin 1 gram per oral dosis tunggal.
    • Seftriakson 250 mg intramuskular dosis tunggal.
    • Siprofloksasin 500 mg per oral dua kali sehari selama 3 hari.
    • Eritromisin 500 mg per oral tiga kali sehari selama 7 hari.
  • Non-Farmakologis:
    • Aspirasi bubo yang fluktuatif untuk meredakan nyeri dan mencegah ruptur spontan.
    • Edukasi pasien tentang pentingnya penelusuran pasangan seksual.

Komplikasi

Fimosis, parafimosis, destruksi jaringan lokal yang luas, dan pembentukan fistula uretro-kutaneus. Peningkatan risiko penularan HIV.

Herpes Genital

Definisi & Etiologi

Herpes Genital adalah infeksi menular seksual (IMS) yang disebabkan oleh Herpes Simplex Virus (HSV), terutama HSV-2 (sekitar 70-90% kasus) dan sisanya oleh HSV-1. Infeksi ini bersifat kronis dan rekuren.

Patofisiologi

Virus masuk melalui lesi mikroskopik pada kulit atau mukosa. Setelah infeksi primer, virus bermigrasi ke ganglion sensorik (ganglion sakralis) dan menetap dalam bentuk laten. Reaktivasi virus dapat terjadi akibat stres, demam, trauma, atau imunosupresi, menyebabkan episode rekuren.

Manifestasi Klinis

  • Infeksi Primer: Seringkali lebih berat. Ditandai dengan munculnya vesikel multipel yang berkelompok di atas dasar eritematosa, yang kemudian pecah membentuk ulkus superfisial yang sangat nyeri. Ulkus bisa tunggal atau multipel. Disertai gejala sistemik seperti demam, malaise, mialgia, dan limfadenopati inguinal bilateral yang nyeri.
  • Infeksi Rekuren: Biasanya lebih ringan dan lebih singkat. Lesi lebih sedikit, nyeri tidak seberat primer, dan gejala sistemik jarang. Sering didahului gejala prodromal seperti gatal, kesemutan, atau nyeri lokal.
  • Lokasi tersering pada pria adalah batang penis, glans, preputium; pada wanita di labia mayor/minor, klitoris, perineum, vagina, atau serviks.

Penegakan Diagnosis

Diagnosis ditegakkan berdasarkan gambaran klinis dan dikonfirmasi dengan pemeriksaan laboratorium:

  • Uji Tzanck: Ditemukan sel datia berinti banyak (multinucleated giant cells) dan badan inklusi intranuklear (Cowdry type A inclusions). Cukup sensitif, namun tidak spesifik untuk HSV.
  • Kultur Virus: Baku emas untuk diagnosis infeksi aktif, terutama dari lesi vesikular.
  • PCR: Sangat sensitif dan spesifik, terutama untuk cairan serebrospinal pada kasus herpes ensefalitis.
  • Serologi: Untuk mendeteksi antibodi HSV (IgG/IgM), berguna untuk membedakan infeksi primer dari rekuren atau mendeteksi infeksi asimtomatik.

Tatalaksana

Tujuan tatalaksana adalah mengurangi durasi dan keparahan episode, mencegah rekurensi, dan mengurangi penularan.

  • Farmakologis: Obat antivirus hanya mengurangi replikasi virus, tidak menyembuhkan.
    • Asiklovir: Dosis untuk episode primer 400 mg per oral tiga kali sehari selama 7-10 hari, atau 200 mg per oral lima kali sehari selama 7-10 hari. Untuk episode rekuren 400 mg tiga kali sehari selama 5 hari atau 800 mg dua kali sehari selama 5 hari.
    • Valasiklovir: Dosis untuk episode primer 1 gram per oral dua kali sehari selama 7-10 hari. Untuk episode rekuren 500 mg dua kali sehari selama 3 hari atau 1 gram sekali sehari selama 5 hari.
    • Famiklovir: Dosis untuk episode primer 250 mg per oral tiga kali sehari selama 7-10 hari. Untuk episode rekuren 125 mg dua kali sehari selama 5 hari.
    • Terapi supresif (jangka panjang) dapat diberikan pada pasien dengan rekurensi sering (>6 episode/tahun).
  • Non-Farmakologis:
    • Menjaga kebersihan lesi, kompres dingin untuk meredakan nyeri.
    • Edukasi pasien tentang sifat kronis penyakit dan risiko penularan.

Komplikasi

Neuralgia pasca-herpetik, meningitis aseptik, radikulopati sakral, infeksi okular (keratitis herpetik), infeksi neonatal (herpes neonatorum), dan peningkatan risiko penularan HIV.

Diagnosis Banding Kunci Ulkus Genital

Mampu membedakan ulkus genital yang berbeda adalah kunci. Berikut adalah perbandingan karakteristik klinis dari tiga penyebab ulkus genital yang paling sering menjadi diagnosis banding.

KarakteristikUlkus Mole (Chancroid)Herpes GenitalSifilis Primer (Chancre)
EtiologiHaemophilus ducreyi (Bakteri)Herpes Simplex Virus (HSV-1, HSV-2) (Virus)Treponema pallidum (Bakteri)
Jumlah UlkusMultipel (sering), bisa tunggalMultipel (vesikel berkelompok), bisa tunggalTunggal (khas), bisa multipel
Nyeri UlkusSangat nyeriSangat nyeri (terutama primer)Tidak nyeri (khas)
Tepi UlkusTidak teratur, bergaungEroded, vesikel/erosi superfisialTeratur, indurasi (keras)
Dasar UlkusKotor, mudah berdarah, purulenEritematosa, vesikel/erosi superfisialBersih, kemerahan
Konsistensi UlkusLunak (soft chancre)Lunuk, vesikelKeras (hard chancre)
LimfadenopatiUnilateral, nyeri, bisa supuratif (bubo)Bilateral, nyeri, tidak supuratifBilateral, tidak nyeri, keras (rubber-like)
Gejala SistemikJarangSering pada primer (demam, malaise)Jarang
Pemeriksaan Lab KunciPewarnaan Gram (school of fish), PCR, KulturUji Tzanck (multinucleated giant cells), Kultur virus, PCR, Serologi HSVMikroskop lapangan gelap (spiroketa), VDRL/RPR (non-treponemal), TPPA/TPHA (treponemal)

Edukasi & Pencegahan Umum

Pencegahan IMS, termasuk ulkus mole dan herpes genital, sangat krusial. Edukasi pasien dan pasangannya adalah bagian integral dari tatalaksana.

  • Abstinensia: Tidak melakukan hubungan seksual adalah cara paling efektif.
  • Setia pada satu pasangan: Berhubungan seksual hanya dengan satu pasangan yang juga setia dan tidak terinfeksi.
  • Penggunaan Kondom: Penggunaan kondom secara konsisten dan benar dapat mengurangi risiko penularan, meskipun tidak 100% efektif karena lesi bisa berada di area yang tidak terlindungi kondom.
  • Skrining Rutin: Penting bagi individu yang berisiko tinggi untuk menjalani skrining IMS secara teratur.
  • Vaksinasi: Saat ini belum ada vaksin untuk ulkus mole. Vaksin HSV masih dalam pengembangan.
  • Penelusuran Kontak: Identifikasi dan tatalaksana pasangan seksual pasien untuk mencegah reinfeksi dan penyebaran lebih lanjut.

Referensi

Ada Hadiah Buatmu! Diskon 10% Buat Semua Produk - Kode NEWUSER10

Belajar Jadi Dokter Hebat Cukup dalam Genggaman

Akses materi pembelajaran, video kuliah, dan latihan soal kapan saja di satu aplikasi

4.8
Rating
15K+
Downloads
500+
Doctors
Customer Support umeds