Tuberkulosis Anak

Tuberkulosis pada anak seringkali menjadi tantangan diagnostik karena manifestasi klinisnya yang tidak spesifik. Namun, sebagai dokter, pemahaman mendalam tentang TB Anak sangat krusial, terutama mengingat prevalensinya di Indonesia dan dampaknya terhadap tumbuh kembang. Yuk, kuasai seluk-beluk diagnosis, tatalaksana, hingga pencegahannya agar Anda siap menghadapi soal UKMPPD dan menyelamatkan generasi penerus!

Definisi

Tuberkulosis (TB) Anak adalah penyakit infeksi kronis yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis yang menyerang anak-anak, dengan manifestasi klinis yang seringkali berbeda dari dewasa.

Infeksi umumnya terjadi melalui transmisi droplet dari pasien TB dewasa aktif.

Epidemiologi

TB pada anak merupakan masalah kesehatan masyarakat yang signifikan di Indonesia, seringkali menjadi indikator kegagalan program pengendalian TB di populasi dewasa.

Anak-anak memiliki risiko tinggi untuk berkembang menjadi penyakit aktif setelah terinfeksi, terutama balita dan anak dengan imunitas rendah.

Etiologi

Penyebab utama TB Anak adalah bakteri Mycobacterium tuberculosis, sebuah basil tahan asam (BTA) yang bersifat aerob obligat.

Patogenesis

Setelah inhalasi droplet yang mengandung M. tuberculosis, bakteri mencapai alveoli dan difagositosis oleh makrofag.

Pembentukan kompleks primer Ghon (fokus primer di paru + limfadenopati regional).

Pada anak, imunitas seluler belum sempurna, sehingga risiko diseminasi hematogen lebih tinggi, menyebabkan TB milier atau TB ekstrapulmoner.

Faktor Risiko

Beberapa faktor meningkatkan risiko anak terinfeksi dan berkembang menjadi TB aktif:

  • Kontak erat dengan pasien TB dewasa BTA positif (terutama serumah).
  • Usia muda (terutama balita <5 tahun).
  • Status gizi buruk.
  • Imunosupresi (misalnya HIV, terapi kortikosteroid jangka panjang).
  • Belum imunisasi BCG atau imunisasi BCG gagal.

Manifestasi Klinis

Gejala TB pada anak seringkali tidak spesifik, membuatnya sulit didiagnosis. Gejala umum meliputi:

  • Batuk kronis > 2 minggu, tidak membaik dengan terapi standar, bukan karena asma/pertusis.
  • Demam persisten atau berulang > 2 minggu, tanpa penyebab jelas.
  • Penurunan berat badan atau gagal tumbuh (berat badan tidak naik dalam 1-2 bulan).
  • Pembesaran kelenjar getah bening (limfadenopati) superfisial (leher, aksila, inguinal) yang tidak nyeri, multipel, dan/atau bilateral.
  • Malaise, lesu, nafsu makan berkurang.
  • Pada TB ekstrapulmoner, gejala sesuai lokasi (misal: nyeri sendi pada TB tulang, kaku kuduk pada meningitis TB).

Penegakan Diagnosis

Diagnosis TB Anak seringkali merupakan diagnosis klinis, dengan bantuan sistem skoring TB Anak (berdasarkan Kemenkes RI) dan pemeriksaan penunjang.

Kriteria diagnosis TB Anak (Sistem Skoring TB Anak):

ParameterSkor
Kontak TB (+)3
Uji Tuberkulin (Mantoux) (+)3
Berat badan/Tinggi badan (BB/TB) < -2 SD atau BB tidak naik dengan adekuat2
Demam tanpa sebab jelas > 2 minggu1
Batuk kronis > 2 minggu1
Pembesaran KGB kolli/aksila/inguinal > 1 cm, > 1 KGB, tidak nyeri1
Pembesaran KGB hilus/massa intratoraks (foto toraks)1

Interpretasi Skor:

  • Skor ≥ 6: Sangat mungkin TB Anak.
  • Skor 5: TB Anak mungkin, perlu evaluasi lebih lanjut.
  • Skor < 5: TB Anak tidak mungkin, cari diagnosis lain.

Diagnosis definitif dengan ditemukannya M. tuberculosis dari spesimen (sputum, bilas lambung, cairan BAL, biopsi) sangat sulit pada anak.

Pemeriksaan Penunjang

  • Uji Tuberkulin (Mantoux Test/TST): Mengukur reaksi hipersensitivitas tipe lambat terhadap tuberkuloprotein. Hasil positif (indurasi ≥10 mm atau ≥5 mm pada imunokompromais/kontak erat) menunjukkan adanya infeksi, bukan penyakit aktif.
  • Foto Toraks: Dapat menunjukkan gambaran adenopati hilus/mediastinum, konsolidasi, efusi pleura, atau gambaran milier.
  • Pemeriksaan Mikrobiologi:
    • BTA Sputum (jika anak mampu batuk produktif), Bilas Lambung (gastric lavage), atau induksi sputum: Untuk menemukan basil tahan asam (BTA). Sensitivitas rendah pada anak.
    • Kultur: Standar emas, tetapi membutuhkan waktu lama.
    • Tes Cepat Molekuler (TCM): Misalnya GeneXpert MTB/RIF, dapat mendeteksi M. tuberculosis dan resistensi Rifampisin lebih cepat dari kultur, dari berbagai spesimen.
  • IGRA (Interferon Gamma Release Assays): Alternatif TST, kurang dipengaruhi vaksinasi BCG, tetapi mahal dan tidak membedakan infeksi laten dan penyakit aktif.

Tatalaksana

Prinsip tatalaksana TB Anak sama dengan dewasa: kombinasi obat anti-tuberkulosis (OAT) untuk mencegah resistensi dan memastikan eradikasi bakteri.

Dosis OAT (berdasarkan BB):

ObatDosis Harian (mg/kgBB)Dosis Maksimal (mg/hari)
Isoniazid (H)10 (rentang 10-15)300
Rifampisin (R)15 (rentang 10-20)600
Pirazinamid (Z)35 (rentang 30-40)2000
Etambutol (E)20 (rentang 15-25)1000

Regimen Standar (Kategori 1):

  • Fase Intensif (2 bulan): Isoniazid (H), Rifampisin (R), Pirazinamid (Z).
  • Fase Lanjutan (4 bulan): Isoniazid (H), Rifampisin (R).
  • Total durasi 6 bulan untuk TB paru tanpa komplikasi dan TB ekstrapulmoner ringan.

Regimen Khusus:

  • Meningitis TB, TB Tulang/Sendi, TB Milier: Fase intensif 3 bulan (HRZE), fase lanjutan 9 bulan (HR). Total 12 bulan. Kortikosteroid sering ditambahkan pada meningitis TB.
  • TB dengan HIV: Durasi bisa lebih panjang.
  • TB Resisten Obat (TB RO): Menggunakan regimen khusus sesuai hasil uji kepekaan obat.

Pemberian OAT harus dalam pengawasan langsung (DOTS - Directly Observed Treatment, Short-course) oleh PMO (Pengawas Minum Obat).

Edukasi efek samping OAT (hepatotoksisitas, neuropati perifer, dll) sangat penting.

Komplikasi

  • TB Milier: Diseminasi luas ke organ, prognosis buruk.
  • Meningitis TB: Komplikasi neurologis serius, dapat menyebabkan hidrosefalus, defisit neurologis permanen.
  • Pleuritis TB, Perikarditis TB.
  • TB Tulang dan Sendi (misal: Spondilitis TB/Pott's disease).
  • Gagal tumbuh dan malnutrisi.
  • Resistensi obat jika pengobatan tidak adekuat.

Pencegahan

  • Vaksinasi BCG: Diberikan pada bayi baru lahir atau sesegera mungkin. Melindungi dari TB berat (milier, meningitis TB), tetapi kurang efektif mencegah TB paru.
  • Pencegahan dengan Isoniazid (INH Preventive Therapy/IPT): Diberikan pada anak yang kontak erat dengan pasien TB BTA positif, terutama balita, setelah menyingkirkan TB aktif. Durasi 6-9 bulan.
  • Skrining kontak: Identifikasi dan tatalaksana kasus indeks TB dewasa, serta skrining semua kontak serumah.
  • Perbaikan gizi dan lingkungan hidup.

Referensi

Ada Hadiah Buatmu! Diskon 10% Buat Semua Produk - Kode NEWUSER10

Belajar Jadi Dokter Hebat Cukup dalam Genggaman

Akses materi pembelajaran, video kuliah, dan latihan soal kapan saja di satu aplikasi

4.8
Rating
15K+
Downloads
500+
Doctors
Customer Support umeds