Trigeminal Neuralgia (TN), atau tic douloureux, adalah sindrom nyeri wajah kronis yang ditandai dengan episode nyeri paroksismal unilateral, hebat, dan berulang pada distribusi satu atau lebih cabang saraf trigeminus (N. V).
Nyeri ini seringkali dipicu oleh stimulus ringan pada "trigger zones" tertentu di wajah.
Trigeminal Neuralgia dapat dibagi menjadi dua kategori utama:
Nyeri pada TN memiliki karakteristik yang khas:
Diagnosis Trigeminal Neuralgia sebagian besar adalah klinis, berdasarkan anamnesis karakteristik nyeri.
Kriteria diagnosis (International Headache Society - ICHD-3):
Tujuan utama pemeriksaan penunjang adalah untuk menyingkirkan penyebab sekunder (TN simptomatik).
Magnetic Resonance Imaging (MRI) kepala dengan kontras adalah pemeriksaan pilihan.
Pemeriksaan lain seperti evoked potentials (misalnya, refleks kedip) mungkin menunjukkan abnormalitas pada TN, tetapi tidak rutin digunakan untuk diagnosis.
Penting untuk membedakan TN dari kondisi lain yang menyebabkan nyeri wajah. Berikut adalah beberapa diagnosis banding utama:
| Kondisi | Karakteristik Pembeda dari TN |
| Dental Pain (Nyeri Gigi) | Nyeri biasanya persisten, tumpul, atau berdenyut. Dipicu oleh suhu atau mengunyah makanan tertentu, bukan sentuhan ringan. Sering disertai tanda inflamasi gigi/gusi. |
| Atypical Facial Pain (Nyeri Wajah Atipikal) / Persistent Idiopathic Facial Pain | Nyeri terus-menerus, tumpul, membakar, atau pegal. Tidak paroksismal dan tidak memiliki trigger zones yang jelas. Sering bilateral atau menyebar. |
| Temporomandibular Joint (TMJ) Dysfunction | Nyeri terlokalisasi di sendi rahang, diperburuk oleh gerakan rahang (mengunyah, membuka mulut). Sering disertai klik/krepitasi sendi, trismus. |
| Postherpetic Neuralgia (PHN) | Riwayat erupsi herpes zoster pada distribusi nervus trigeminus. Nyeri bersifat membakar, terus-menerus, dan sering disertai alodinia (nyeri akibat stimulus non-nyeri). |
| Migrain/Cluster Headache | Nyeri kepala primer, bukan nyeri wajah khas trigeminal. Cluster headache memiliki nyeri hebat periorbital/temporal, disertai gejala autonomik (lakrimasi, rinore, ptosis). |
| Sinusitis | Nyeri tumpul, tekanan pada wajah, diperburuk oleh perubahan posisi kepala. Disertai kongesti hidung, sekret. |
Tatalaksana bertujuan untuk mengurangi frekuensi dan intensitas serangan nyeri.
Terapi Lini Pertama:
Terapi Lini Kedua/Adjuvan (jika lini pertama tidak efektif atau tidak ditoleransi):
Penting untuk memantau efek samping obat antikonvulsan, terutama supresi sumsum tulang (carbamazepine), hiponatremia (carbamazepine, oxcarbazepine), dan gangguan fungsi hepar.
Dipertimbangkan jika terapi farmakologis gagal, tidak ditoleransi, atau jika ada kontraindikasi.
Prosedur Bedah (Destruktif & Non-Destruktif):
Pilihan terapi intervensi disesuaikan dengan kondisi pasien, usia, komorbiditas, dan preferensi.
Komplikasi dapat timbul dari penyakit itu sendiri atau dari tatalaksana.
Trigeminal Neuralgia adalah kondisi kronis yang cenderung kambuh.
Dengan tatalaksana yang tepat, sebagian besar pasien dapat mencapai kontrol nyeri yang baik.
MVD menawarkan tingkat remisi nyeri jangka panjang tertinggi, namun prosedur destruktif seringkali memerlukan pengulangan.
Kualitas hidup pasien sangat bergantung pada efektivitas terapi dalam mengelola nyeri.

Akses materi pembelajaran, video kuliah, dan latihan soal kapan saja di satu aplikasi