Tonsilitis adalah peradangan atau inflamasi pada tonsil palatina (amandel), yang merupakan jaringan limfoid di fossa tonsilaris pada orofaring.
Tonsilitis dapat bersifat akut maupun kronis dan merupakan salah satu penyakit infeksi saluran napas atas yang paling sering dijumpai.
Tonsil palatina berfungsi sebagai bagian dari sistem imun lokal (cincin Waldeyer), terutama pada anak-anak, dalam melawan infeksi yang masuk melalui mulut dan hidung.
| Aspek | Keterangan |
|---|---|
| Lokasi | Fossa tonsilaris, antara arkus palatoglossus (anterior) dan arkus palatopharyngeus (posterior) |
| Struktur | Jaringan limfoid yang dilapisi epitel skuamosa berlapis, memiliki kripte (lekukan) yang memperluas permukaan |
| Vaskularisasi | Cabang a. karotis eksterna: a. tonsilaris, a. palatina ascendens, a. faringeal ascendens |
| Inervasi | N. glossopharyngeal (N. IX) dan N. vagus (N. X) |
| Fungsi | Pertahanan imun lokal; memproduksi sel limfosit dan antibodi (IgA, IgG, IgM) |
Cincin Waldeyer: Tonsil palatina + tonsil faringeal (adenoid) + tonsil lingual + tonsil tuba Eustachius membentuk pertahanan imun di pintu masuk saluran napas dan cerna.
| Penyebab | Patogen | Frekuensi |
|---|---|---|
| Virus (70-80%) | Adenovirus, Rhinovirus, Influenza, Parainfluenza, Epstein-Barr Virus (EBV), Coxsackievirus | Paling sering |
| Bakteri (20-30%) | Streptococcus pyogenes (Grup A / GAS), Staphylococcus aureus, Haemophilus influenzae, Streptococcus pneumoniae | Lebih sering pada anak |
| Gejala | Keterangan |
|---|---|
| Odinofagia | Nyeri tenggorok hebat, terutama saat menelan |
| Demam | 38-40°C, lebih tinggi pada infeksi bakteri |
| Disfagia | Sulit menelan, menolak makan (pada anak) |
| Halitosis | Bau mulut akibat eksudat purulen |
| Limfadenopati | KGB submandibular dan jugulodigastrik membesar, nyeri tekan |
| Vox clausa | Suara bindeng ("hot potato voice") |
| Trismus | Pada kasus berat atau komplikasi abses |
Pemeriksaan: Tonsil hiperemis (merah), edema (membesar), eksudat (putih-kuning) pada permukaan/kripte, uvula edema dan deviasi.
| Gejala | Keterangan |
|---|---|
| Sakit tenggorok berulang | Episode berulang (≥5-7 kali/tahun) |
| Tonsil hipertrofi | Pembesaran tonsil persisten, dapat menyebabkan obstruksi jalan napas |
| Detritus/kaseum | Material putih-kuning pada kripte (tonsil stone) |
| Halitosis kronis | Bau mulut menetap akibat debris bakteri |
| Kripte melebar | Kripte tonsil membesar dan dalam |
| Perlekatan | Tonsil melekat pada arkus palatoglossus |
| Kriteria | Poin |
|---|---|
| Demam >38°C | +1 |
| Tidak ada batuk | +1 |
| Limfadenopati servikal anterior nyeri tekan | +1 |
| Eksudat/edema tonsil | +1 |
| Usia 3-14 tahun | +1 |
| Usia 15-44 tahun | 0 |
| Usia ≥45 tahun | -1 |
Interpretasi: Skor ≥4: kemungkinan S. pyogenes 50-60%, pertimbangkan kultur/rapid test → antibiotik. Skor ≤1: kemungkinan strep <10%, terapi simtomatik.
| Antibiotik | Dosis Dewasa | Dosis Anak | Durasi |
|---|---|---|---|
| Amoksisilin (pilihan pertama) | 500 mg 3×/hari | 40 mg/kg/hari dibagi 3 | 10 hari |
| Penisilin V | 500 mg 2-3×/hari | 25-50 mg/kg/hari dibagi 2-3 | 10 hari |
| Sefalosporin (jika alergi ringan penisilin) | Sefadroksil 500 mg 2×/hari | 30 mg/kg/hari dibagi 2 | 10 hari |
| Azitromisin (alergi penisilin berat) | 500 mg hari ke-1, lalu 250 mg/hari | 12 mg/kg hari ke-1, lalu 6 mg/kg/hari | 5 hari |
Indikasi absolut:
Indikasi relatif (Kriteria Paradise):
Indikasi lain:
| Komplikasi | Mekanisme | Onset |
|---|---|---|
| Demam rematik | Reaksi autoimun (molecular mimicry) terhadap M protein streptokokus | 2-4 minggu pasca infeksi |
| Glomerulonefritis | Deposisi kompleks imun di glomerulus | 1-3 minggu pasca infeksi |
| Scarlet fever | Toksin eritrogenik streptokokus | Bersamaan dengan faringitis |
Concept Pages
Berlangganan premium umeds untuk akses penuh concept pages, video belajar, dan quiz untuk pendidikan kedokteran anda.
Belum punya akun? Daftar Gratis

Akses materi pembelajaran, video kuliah, dan latihan soal kapan saja di satu aplikasi