Tiga Kondisi Ortopedi Pediatrik Penting: DDH, Clubfoot, & Skoliosis

Dari kelainan panggul yang sering luput, kaki bengkok yang butuh penanganan dini, hingga tulang belakang melengkung yang progresif—tiga kondisi muskuloskeletal ini adalah kunci dalam praktik pediatri dan ortopedi. Pahami manifestasi, diagnosis, dan tatalaksananya untuk UKMPPD dan praktik sehari-hari. Yuk, kuasai materi penting ini!

1. Developmental Dysplasia of the Hip (DDH)

Developmental Dysplasia of the Hip (DDH) adalah spektrum kelainan perkembangan sendi panggul, mulai dari displasia asetabulum ringan hingga dislokasi lengkap kaput femoris. Kondisi ini bersifat multifaktorial.

  • Etiologi & Faktor Risiko:
    • Genetik: Riwayat keluarga DDH.
    • Mekanis: Presentasi sungsang, oligohidramnion, anak pertama, berat lahir besar.
    • Hormonal: Relaksin maternal.
    • Jenis Kelamin: Lebih sering pada bayi perempuan.

DDH: Manifestasi Klinis & Penegakan Diagnosis

DDH seringkali asimtomatik pada bayi baru lahir, sehingga skrining sangat penting. Manifestasi klinis bervariasi tergantung usia.

  • Manifestasi Klinis:
    • Asimetri lipatan paha atau gluteal.
    • Keterbatasan abduksi panggul (paling sensitif pada bayi).
    • Pemendekan ekstremitas pada sisi yang terkena.
    • Gait pincang (Trendelenburg) pada anak yang sudah bisa berjalan.
  • Tes Skrining Fisik (pada bayi):
    • Tes Ortolani: Mengidentifikasi panggul yang terdislokasi dan dapat direduksi (suara 'klik' saat reduksi).
    • Tes Barlow: Mengidentifikasi panggul yang stabil namun dapat didislokasi.
  • Pemeriksaan Penunjang:
    • USG Panggul: Pilihan pertama untuk bayi < 4-6 bulan karena tulang rawan belum mengeras.
    • X-ray Panggul: Digunakan untuk bayi > 4-6 bulan saat osifikasi mulai terjadi.

DDH: Tatalaksana

Tatalaksana DDH bertujuan untuk mengembalikan dan mempertahankan kaput femoris di asetabulum secara konsentris, serta mendorong perkembangan panggul yang normal.

  • Tatalaksana Non-Farmakologis:
    • Pavlik Harness: Metode pilihan untuk bayi < 6 bulan. Mempertahankan panggul dalam posisi fleksi dan abduksi.
    • Reduksi Tertutup & Spica Cast: Jika Pavlik harness gagal atau pada bayi yang lebih tua (6-18 bulan).
  • Tatalaksana Bedah:
    • Reduksi Terbuka: Diperlukan jika reduksi tertutup gagal atau pada anak yang lebih besar (>18 bulan).
    • Osteotomi: Untuk koreksi deformitas asetabulum atau femur.

2. Congenital Talipes Equinovarus (CTEV) / Clubfoot

Congenital Talipes Equinovarus (CTEV), atau lebih dikenal sebagai Clubfoot, adalah deformitas kongenital kaki yang kompleks. Kaki tampak bengkok ke dalam dan ke bawah.

  • Etiologi:
    • Idiopatik: Paling umum, penyebab tidak diketahui.
    • Sekunder: Terkait dengan kondisi lain seperti spina bifida, artrogriposis, sindrom genetik.

Clubfoot: Manifestasi Klinis & Penegakan Diagnosis

Clubfoot mudah dikenali saat lahir karena deformitas yang khas pada kaki.

  • Manifestasi Klinis (deformitas khas):
    • Equinus: Kaki dalam posisi plantar fleksi (ujung kaki menunjuk ke bawah).
    • Varus: Tumit berputar ke dalam.
    • Adduksi: Forefoot (bagian depan kaki) berputar ke medial.
    • Kavus: Lengkung kaki yang sangat tinggi.
  • Kaki tampak kaku dan sulit dikoreksi secara pasif.
  • Betis seringkali lebih kecil pada kaki yang terkena.

Diagnosis: Penegakan diagnosis sebagian besar bersifat klinis saat lahir. USG prenatal kadang dapat mendeteksi, namun tidak selalu akurat.

Clubfoot: Tatalaksana

Tujuan tatalaksana clubfoot adalah untuk mencapai kaki yang fungsional, fleksibel, dan tanpa nyeri.

  • Tatalaksana Non-Farmakologis (Metode Ponseti):
    • Serial Casting: Teknik koreksi bertahap menggunakan gips. Gips diganti setiap minggu selama 5-7 minggu, secara progresif mengoreksi deformitas.
    • Tenotomi Achilles: Prosedur sederhana untuk memanjangkan tendon Achilles, sering dilakukan setelah serial casting untuk mengoreksi equinus residual.
    • Bracing (Foot Abduction Brace/Dennis Brown Splint): Digunakan setelah casting dan tenotomi untuk mempertahankan koreksi dan mencegah rekurensi, biasanya selama beberapa tahun.
  • Tatalaksana Bedah:
    • Dilakukan jika metode Ponseti gagal atau terjadi rekurensi yang signifikan.
    • Prosedur meliputi rilis jaringan lunak dan osteotomi.

3. Skoliosis

Skoliosis adalah kelainan bentuk tulang belakang berupa kurvatura lateral (membengkok ke samping) lebih dari 10 derajat, disertai dengan rotasi vertebra. Ini bukan hanya masalah kosmetik, tetapi juga dapat menyebabkan gangguan fungsi.

  • Klasifikasi Utama:
    • Skoliosis Idiopatik: Paling umum (80-85%), penyebab tidak diketahui. Dibagi berdasarkan usia onset:
      • Infantile: < 3 tahun.
      • Juvenile: 3-9 tahun.
      • Adolescent: ≥ 10 tahun (paling sering).
    • Skoliosis Kongenital: Akibat anomali perkembangan vertebra saat lahir (misalnya hemivertebra).
    • Skoliosis Neuromuskular: Terkait dengan kondisi neurologis atau otot (misalnya Cerebral Palsy, Distrofi Otot).

Skoliosis: Manifestasi Klinis & Penegakan Diagnosis

Skoliosis seringkali terdeteksi pada masa remaja saat pertumbuhan pesat.

  • Manifestasi Klinis:
    • Asimetri bahu (satu bahu lebih tinggi).
    • Asimetri pinggul (satu pinggul lebih menonjol).
    • Tulang belikat menonjol (scapular prominence).
    • Perbedaan panjang kaki (fungsional).
    • Nyeri punggung (jarang pada skoliosis idiopatik ringan).
  • Tes Skrining Fisik:
    • Adam's Forward Bend Test: Pasien membungkuk ke depan dengan lutut lurus. Perhatikan adanya 'rib hump' atau asimetri pada punggung, yang menunjukkan rotasi vertebra.
  • Pemeriksaan Penunjang:
    • X-ray Tulang Belakang (AP dan Lateral, posisi berdiri): Standar emas untuk diagnosis dan pemantauan.
    • Pengukuran Sudut Cobb: Digunakan untuk mengukur derajat kurvatura pada X-ray. Skoliosis ditegakkan jika sudut Cobb > 10 derajat.

Skoliosis: Tatalaksana

Tatalaksana skoliosis disesuaikan dengan derajat kurva, usia pasien, dan potensi progresivitas.

  • Tatalaksana Non-Farmakologis:
    • Observasi: Untuk kurva kecil (< 20-25 derajat) pada pasien yang belum matur skeletal. Pemantauan berkala dengan X-ray.
    • Bracing (Korset): Direkomendasikan untuk kurva 20-45 derajat pada pasien yang masih dalam masa pertumbuhan (belum matur skeletal). Tujuannya adalah mencegah progresivitas kurva.
  • Tatalaksana Bedah:
    • Fusi Spinal: Dipertimbangkan untuk kurva yang progresif dan besar (> 45-50 derajat), atau jika ada komplikasi seperti nyeri hebat atau gangguan kardiopulmonal.

Referensi

Customer Support umeds