Meskipun nilai eGFR penting, keputusan untuk memulai dialisis harus didasarkan juga pada manifestasi klinis pasien. Dialisis dapat dimulai ketika muncul satu atau lebih kondisi berikut:
Gejala dan tanda gagal ginjal: pasien mengalami mual, muntah, kelelahan, atau gejala lain yang menunjukkan akumulasi toksin uremik
Ketidakmampuan mengontrol volume atau tekanan darah: meskipun dengan terapi farmakologis optimal, pasien terus mengalami hipertensi atau edema yang tidak terkontrol
Penurunan status gizi yang refrakter: pasien mengalami malnutrisi yang tidak dapat diperbaiki dengan intervensi medis konservatif
Gangguan kognitif: penurunan fungsi mental akibat akumulasi uremia
Hemodialisis adalah proses pengalihan darah pasien ke mesin dialisis yang mengandung filter khusus untuk menghilangkan limbah dan cairan berlebih. Hemodialisis dapat dilakukan dengan dua cara:
Hemodialisis di pusat (in-center hemodialysis): pasien mengunjungi pusat dialisis 2-3 kali per minggu untuk sesi 4-5 jam. Ini adalah modalitas paling umum dan memastikan pengawasan ketat oleh tim medis.
Hemodialisis di rumah (home hemodialysis): pasien melakukan hemodialisis sendiri di rumah mereka, sering kali dengan frekuensi lebih tinggi (5-6 kali per minggu) atau durasi yang lebih pendek. Ini memberikan fleksibilitas lebih besar tetapi membutuhkan pelatihan khusus dan kepatuhan tinggi.
Dialisis peritoneal menggunakan membran peritoneum (lapisan dalam perut) sebagai filter alami. Cairan dialisis diinfuskan ke rongga perut, dan limbah berdifusi ke dalam cairan ini sebelum dikeluarkan. Dialisis peritoneal tersedia dalam dua bentuk:
Dialisis peritoneal berkelanjutan (DPKA): cairan dialisis tetap berada di rongga perut sepanjang hari, dengan penggantian cairan dilakukan beberapa kali sehari. Pasien dapat melakukan ini sendiri di rumah.
Dialisis peritoneal intermiten: cairan dialisis diinfuskan dan dikeluarkan pada waktu-waktu tertentu, biasanya membutuhkan mesin otomatis di malam hari.
Transplantasi ginjal adalah penempatan ginjal dari donor ke tubuh pasien penerima. Ini adalah pilihan utama bagi pasien dengan penyakit ginjal terminal yang mampu menjalani operasi dan menerima imunosupresi seumur hidup. Ginjal dapat berasal dari:
Donor hidup: biasanya keluarga atau teman, yang memungkinkan perencanaan sebelumnya dan hasil yang lebih baik
Donor meninggal: ginjal dari individu yang telah meninggal dunia
Edukasi komprehensif harus mencakup:
Penjelasan perjalanan penyakit: pasien harus memahami bagaimana penyakit ginjal mereka berkembang, mengapa ginjal gagal, dan bagaimana terapi pengganti ginjal bekerja
Manajemen farmakologis dan non-farmakologis: pasien perlu memahami obat-obatan yang mereka gunakan, pembatasan diet (terutama kalium, fosfor, natrium), dan pentingnya kepatuhan
Pilihan modalitas: diskusi mendalam tentang keuntungan dan kerugian hemodialisis di pusat, hemodialisis di rumah, dialisis peritoneal, dan transplantasi
Evaluasi fungsi ginjal sisa: pemahaman tentang seberapa banyak fungsi ginjal yang masih bertahan dan bagaimana hal ini akan mempengaruhi respon terhadap dialisis
Persiapan Vaskular dan Sosial-Ekonomi
Pemasangan akses vaskular permanen: untuk hemodialisis di pusat, fistula arteriovenosa atau graft harus direncanakan dan dibuat sebelumnya untuk memberikan waktu pematangan (4-8 minggu). Ini penting untuk memastikan akses yang baik saat dialisis dimulai.
Pertimbangan sosial-ekonomi: evaluasi kapasitas pasien untuk melakukan terapi (dukungan keluarga, pekerjaan, kemampuan finansial, dan transportasi)
Konseling harus melibatkan pasien dan anggota keluarga untuk membahas:
Keuntungan dan kerugian setiap modalitas
Harapan realistis tentang hidup dengan terapi dialisis
Dampak pada kualitas hidup dan aktivitas sehari-hari
Rencana jangka panjang dan perencanaan keturunan
Berbagai organisasi internasional telah menerbitkan panduan:
KDIGO 2012 menyarankan memulai dialisis bila terdapat satu atau lebih kondisi klinis yang menunjukkan perlunya penggantian fungsi ginjal, daripada hanya berdasarkan nilai eGFR semata.
KDOQI 2006, 2015, dan 2019 menekankan pentingnya evaluasi klinis individual dan edukasi yang dimulai pada tahap G4 (eGFR 15-29), memungkinkan pasien untuk membuat keputusan yang terinformasi.