TB Paru: Panduan Lengkap untuk UKMPPD

Tuberkulosis Paru atau TB Paru masih menjadi momok kesehatan global, dan sebagai calon dokter, Anda WAJIB menguasainya! Mulai dari etiologi, patofisiologi yang kompleks, hingga regimen OAT yang sering bikin pusing, semua akan kita kupas tuntas di sini. Jangan sampai salah diagnosis atau tatalaksana pasien TB di UKMPPD nanti, loh. Yuk, selami rangkuman padat ini agar Anda makin pede menghadapi soal TB Paru!

Definisi

Tuberkulosis Paru (TB Paru) adalah penyakit infeksi menular kronis yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis, terutama menyerang parenkim paru. Penyakit ini merupakan masalah kesehatan masyarakat global yang serius, dengan Indonesia termasuk salah satu negara dengan beban TB tertinggi di dunia.

Etiologi

Penyebab utama TB Paru adalah infeksi bakteri Mycobacterium tuberculosis. Bakteri ini merupakan basil tahan asam (BTA), aerob obligat, dan tidak membentuk spora. Penularan terjadi melalui udara (airborne droplet nuclei) ketika orang yang terinfeksi TB aktif batuk, bersin, atau berbicara.

Patofisiologi

Patofisiologi TB Paru melibatkan respons imun host terhadap M. tuberculosis. Prosesnya dapat dibagi menjadi:

  • TB Primer: Terjadi setelah infeksi awal. Bakteri masuk ke paru, difagositosis oleh makrofag alveolar, dan membentuk kompleks primer (fokus Ghon di paru dan limfadenopati hilus) yang disebut Kompleks Ranke jika terkalsifikasi. Mayoritas infeksi primer asimtomatik dan sembuh spontan, namun bakteri dapat dorman (TB Laten).
  • TB Sekunder (Post-primer/Reaktivasi): Terjadi ketika bakteri TB laten bereaktivasi, seringkali akibat penurunan imunitas. Lesi biasanya di apeks paru (segmen apikal posterior lobus atas atau segmen superior lobus bawah) karena tingginya tekanan parsial oksigen. Dapat menyebabkan kavitasi, kerusakan parenkim, dan penyebaran ekstrapulmoner.

Faktor Risiko

Beberapa faktor risiko yang meningkatkan kemungkinan seseorang terinfeksi atau mengembangkan TB aktif antara lain:

  • Kontak erat dengan pasien TB BTA positif.
  • Status gizi buruk/malnutrisi.
  • Imunodefisiensi (misalnya, infeksi HIV/AIDS, penggunaan imunosupresan, diabetes melitus, keganasan).
  • Perokok dan pengguna narkoba.
  • Lingkungan padat penduduk dan sanitasi buruk.
  • Usia ekstrem (bayi dan lansia).

Manifestasi Klinis

Gejala TB Paru seringkali tidak spesifik dan berkembang perlahan. Gejala utama yang perlu diwaspadai adalah:

  • Batuk berdahak kronis (lebih dari 2-3 minggu), kadang disertai darah (hemoptisis).
  • Demam subfebris, terutama sore hari.
  • Keringat malam tanpa aktivitas.
  • Penurunan berat badan drastis.
  • Nafsu makan menurun.
  • Lemah dan lesu.
  • Nyeri dada (jika pleura terlibat).
  • Sesak napas (pada kasus lanjut).

Penegakan Diagnosis

Diagnosis TB Paru ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang:

  • Anamnesis: Gejala klinis yang mendukung (batuk >2 minggu, demam, BB turun, dll.), riwayat kontak, riwayat pengobatan TB sebelumnya.
  • Pemeriksaan Fisik: Dapat ditemukan ronki basah, suara napas bronkial, perkusi redup, atau tanda-tanda efusi pleura. Pada kasus lanjut dapat ditemukan tanda wasting.
  • Pemeriksaan Penunjang:
    • Pemeriksaan Mikroskopis Sputum: Pemeriksaan BTA (Basil Tahan Asam) dengan pewarnaan Ziehl-Neelsen dari 2 sampel dahak (sewaktu-pagi atau pagi-sewaktu). Hasil positif ≥1 BTA menunjukkan TB aktif.
    • Tes Cepat Molekuler (TCM) GeneXpert: Mendeteksi DNA M. tuberculosis dan resistensi Rifampisin dalam waktu singkat. Direkomendasikan sebagai uji diagnostik lini pertama, terutama untuk kasus sulit atau risiko resistensi obat.
    • Kultur Bakteri: Standar emas untuk diagnosis, namun membutuhkan waktu lama. Digunakan untuk konfirmasi dan uji sensitivitas obat.
    • Foto Toraks (X-ray): Gambaran khas meliputi infiltrat, kavitas, nodul, fibrosis, atau efusi pleura, terutama di lobus atas.
    • Tes Mantoux (Tuberkulin Skin Test/TST) atau IGRA (Interferon-Gamma Release Assay): Lebih untuk diagnosis TB Laten atau pada anak-anak.

Klasifikasi TB Paru (berdasarkan Kemenkes RI)

Klasifikasi TB penting untuk menentukan regimen pengobatan. Berikut adalah klasifikasi berdasarkan lokasi anatomis, riwayat pengobatan, dan hasil pemeriksaan bakteriologis:

KriteriaKategoriDeskripsi
Lokasi AnatomisTB ParuMelibatkan parenkim paru.
TB Ekstra ParuMelibatkan organ selain paru (mis. pleura, kelenjar getah bening, tulang, ginjal, otak).
Hasil BakteriologisTB Bakteriologis PositifMinimal 1 dari 2 spesimen sputum BTA positif, atau TCM positif, atau kultur positif.
TB Bakteriologis NegatifSputum BTA negatif, TCM negatif, dan kultur negatif, namun gambaran klinis dan radiologis mendukung TB.
Riwayat PengobatanKasus BaruPasien yang belum pernah diobati OAT atau sudah diobati <1 bulan.
Kasus Kambuh (Relaps)Pasien yang pernah dinyatakan sembuh atau pengobatan lengkap, kemudian BTA kembali positif.
Kasus Gagal PengobatanPasien yang BTA tetap positif pada akhir bulan ke-5 pengobatan atau BTA menjadi positif kembali setelah sebelumnya negatif.
Kasus Pengobatan Setelah Putus Obat (Lost to Follow-up)Pasien yang putus obat ≥2 bulan dan kembali berobat dengan BTA positif.
Kasus LainKasus yang tidak masuk kategori di atas.

Tatalaksana

Tatalaksana TB Paru melibatkan pemberian Obat Anti Tuberkulosis (OAT) secara teratur dan lengkap sesuai regimen yang direkomendasikan. Regimen standar menggunakan kombinasi beberapa obat untuk mencegah resistensi.

  • Prinsip Pengobatan:
    • Kombinasi minimal 4 jenis OAT pada fase intensif.
    • Dosis tepat dan teratur.
    • Jangka waktu pengobatan yang cukup.
    • Pengawasan langsung (DOTS - Directly Observed Treatment, Short-course) oleh Pengawas Menelan Obat (PMO).
  • Obat Lini Pertama (OAT Primer):
    • Isoniazid (H): Bakterisidal, efek samping neuritis perifer, hepatotoksisitas.
    • Rifampisin (R): Bakterisidal, efek samping urin merah, hepatotoksisitas, interaksi obat.
    • Pirazinamid (Z): Bakterisidal, efek samping hepatotoksisitas, artralgia, hiperurisemia.
    • Etambutol (E): Bakteriostatik, efek samping neuritis optik (gangguan penglihatan warna merah-hijau).
    • Streptomisin (S): Bakterisidal, efek samping ototoksisitas, nefrotoksisitas (jarang digunakan sebagai lini pertama oral).
  • Regimen Pengobatan (Kategori 1 untuk Kasus Baru):
    • Fase Intensif (2 bulan): 2HRZE (Isoniazid, Rifampisin, Pirazinamid, Etambutol) setiap hari.
    • Fase Lanjutan (4 bulan): 4HR (Isoniazid, Rifampisin) setiap hari.
  • Pemantauan: Evaluasi klinis dan pemeriksaan sputum BTA pada akhir fase intensif, bulan ke-5, dan akhir pengobatan.

Komplikasi

Komplikasi TB Paru dapat terjadi jika tidak diobati atau pengobatan tidak tuntas:

  • Pneumotoraks spontan.
  • Efusi pleura.
  • Hemoptisis masif.
  • TB milier (penyebaran hematogen ke seluruh tubuh).
  • TB ekstrapulmoner (misalnya, TB tulang, TB meningitis, TB ginjal).
  • Bronkiektasis.
  • Cor pulmonale kronis.
  • Resistensi obat (MDR-TB, XDR-TB).

Edukasi & Pencegahan

Edukasi pasien dan pencegahan sangat penting untuk mengendalikan penyebaran TB:

  • Edukasi Pasien:
    • Pentingnya kepatuhan minum obat secara teratur dan tuntas.
    • Menjelaskan efek samping OAT dan cara mengatasinya.
    • Etika batuk dan penggunaan masker untuk mencegah penularan.
    • Pentingnya nutrisi yang baik.
  • Pencegahan:
    • Vaksinasi BCG pada bayi baru lahir.
    • Pemberian Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT) pada kontak erat dan kelompok berisiko tinggi (misalnya, pasien HIV).
    • Perbaikan ventilasi dan sanitasi lingkungan.
    • Skrining aktif pada kelompok berisiko.

Referensi

Ada Hadiah Buatmu! Diskon 10% Buat Semua Produk - Kode NEWUSER10

Belajar Jadi Dokter Hebat Cukup dalam Genggaman

Akses materi pembelajaran, video kuliah, dan latihan soal kapan saja di satu aplikasi

4.8
Rating
15K+
Downloads
500+
Doctors
Customer Support umeds