Syok: Klasifikasi dan Penatalaksanaan Awal

Syok adalah kondisi gawat darurat yang sering jadi momok di UKMPPD! Memahami jenis-jenis syok—kardiogenik, hipovolemik, septik, dan anafilaktik—serta tatalaksana awalnya sangat esensial untuk menyelamatkan nyawa pasien. Jangan sampai keliru membedakannya, yuk kita pelajari inti-intinya agar siap menghadapi soal dan praktik klinis!

Definisi Syok

Syok adalah sindrom klinis akibat gangguan sirkulasi yang menyebabkan perfusi jaringan dan oksigenasi seluler tidak adekuat untuk memenuhi kebutuhan metabolisme tubuh. Kondisi ini berujung pada disfungsi seluler, organ, dan jika tidak ditangani, dapat menyebabkan kematian.

Patofisiologi Umum Syok

Meskipun etiologinya berbeda, semua jenis syok memiliki jalur patofisiologi umum yang melibatkan:

  • Penurunan curah jantung (cardiac output) atau penurunan resistensi vaskular sistemik (systemic vascular resistance/SVR).
  • Akibatnya, terjadi penurunan tekanan darah arteri rata-rata (mean arterial pressure/MAP).
  • Perfusi organ vital (otak, jantung, ginjal) terganggu, memicu iskemia seluler.
  • Sel beralih ke metabolisme anaerob, menghasilkan asam laktat, menyebabkan asidosis metabolik.
  • Mekanisme kompensasi tubuh (aktivasi sistem saraf simpatis, sistem renin-angiotensin-aldosteron) berusaha mempertahankan perfusi, namun jika etiologi tidak teratasi, kompensasi akan gagal.

Klasifikasi dan Ciri Khas Syok

Tipe SyokMasalah PrimerEtiologi ContohCiri Khas Klinis & Hemodinamik
HipovolemikPenurunan volume intravaskular absolut/relatifPerdarahan (trauma, GI bleed), dehidrasi berat (muntah, diare), luka bakar luas, diuresis berlebihanKulit dingin, pucat, takikardia, hipotensi, oliguria, CVP rendah, SVR ↑
KardiogenikKegagalan pompa jantungInfark Miokard Akut (IMA), gagal jantung berat, aritmia berat, miokarditis, tamponade jantung (obstruktif)Kulit dingin, pucat, takikardia, hipotensi, distensi vena jugular (JVP ↑), ronkhi basah (edema paru), SVR ↑, CVP ↑
Septik (Distributif)Infeksi berat memicu respons inflamasi sistemik (SIRS) menyebabkan vasodilatasi dan kebocoran kapilerSepsis dari pneumonia, pielonefritis, peritonitis, dll.Awal: kulit hangat, kemerahan (vasodilatasi). Lanjut: dingin, pucat. Takikardia, hipotensi, tanda infeksi, SVR ↓, CVP bisa normal/rendah/tinggi
Anafilaktik (Distributif)Reaksi hipersensitivitas tipe I berat (IgE mediated) menyebabkan degranulasi sel mast/basofil, pelepasan mediator vasoaktifAlergi obat, makanan, sengatan seranggaUrtikaria, angioedema, bronkospasme (wheezing), stridor, takikardia, hipotensi, SVR ↓, CVP rendah

Penegakan Diagnosis Syok

Diagnosis syok ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang. Kriteria umum meliputi:

  • Hipotensi: Sistolik <90 mmHg atau MAP <65 mmHg atau penurunan sistolik >40 mmHg dari baseline.
  • Tanda hipoperfusi organ:
    • SSP: Penurunan kesadaran, agitasi.
    • Ginjal: Oliguria (<0.5 mL/kg/jam).
    • Kulit: Dingin, lembap, pucat, mottled (kecuali syok distributif awal).
    • Metabolik: Asidosis metabolik (peningkatan laktat >2 mmol/L).

Penting untuk mengidentifikasi etiologi dasar syok untuk tatalaksana yang tepat.

Pemeriksaan Penunjang Penting

Pemeriksaan penunjang membantu mengonfirmasi diagnosis, menilai tingkat keparahan, dan mencari etiologi:

  • Laboratorium Darah Rutin: Hb, Ht (perdarahan), leukosit (infeksi).
  • Elektrolit dan Fungsi Ginjal: Ureum, kreatinin (penilaian perfusi ginjal).
  • Analisis Gas Darah (AGD): Menilai asidosis metabolik, laktat serum (penanda hipoperfusi).
  • Kultur: Darah, urin, sputum (pada syok septik).
  • EKG: Menilai iskemia miokard, aritmia (pada syok kardiogenik).
  • Rontgen Toraks: Menilai kongesti paru (kardiogenik), sumber infeksi (septik).
  • Ekokardiografi: Menilai fungsi jantung, fraksi ejeksi, tamponade (kardiogenik, obstruktif).
  • USG FAST (Focused Assessment with Sonography for Trauma): Mencari perdarahan intraabdomen/perikard (hipovolemik, obstruktif).

Prinsip Tatalaksana Syok

Tatalaksana syok bersifat emergensi dan harus dilakukan secara cepat dan terkoordinasi. Prinsip utamanya adalah:

  1. Stabilisasi ABC (Airway, Breathing, Circulation): Pastikan jalan napas paten, oksigenasi adekuat, dan dukungan sirkulasi.
  2. Identifikasi dan Atasi Etiologi Dasar: Ini adalah kunci keberhasilan tatalaksana.
  3. Resusitasi Cairan: Pemberian cairan intravena (kristaloid) secara agresif, kecuali pada syok kardiogenik murni (hati-hati).
  4. Dukungan Vasoaktif/Inotropik: Jika resusitasi cairan tidak efektif dalam mempertahankan MAP.
  5. Optimalkan Oksigenasi Jaringan: Pertahankan saturasi O2 >90%, pertimbangkan transfusi darah jika Hb rendah.
  6. Monitor Ketat: Tanda vital, produksi urin, kesadaran, laktat serum.

Tatalaksana Spesifik Tiap Tipe Syok

Setelah prinsip umum, tatalaksana disesuaikan dengan etiologi:

  • Syok Hipovolemik:
    • Resusitasi cairan agresif dengan kristaloid (NaCl 0.9% atau Ringer Laktat).
    • Identifikasi dan hentikan sumber kehilangan cairan/darah (misal: kontrol perdarahan, operasi).
    • Transfusi darah jika ada perdarahan signifikan.
  • Syok Kardiogenik:
    • Hati-hati dengan resusitasi cairan; dapat memperburuk kongesti paru.
    • Dukungan inotropik (misal: dobutamin) atau vasopressor (misal: norepinefrin) untuk mempertahankan MAP.
    • Atasi penyebab dasar: Reperfusi pada IMA (PCI/fibrinolitik), koreksi aritmia, perbaikan katup.
    • Diuretik jika ada tanda kongesti paru berat.
  • Syok Septik:
    • Resusitasi cairan cepat dengan kristaloid (30 mL/kg dalam 3 jam pertama).
    • Pemberian antibiotik spektrum luas sesegera mungkin setelah kultur diambil.
    • Vasopressor (pilihan pertama: norepinefrin) jika hipotensi menetap setelah resusitasi cairan adekuat.
    • Identifikasi dan kontrol sumber infeksi (misal: drainase abses, debridemen).
    • Kortikosteroid (hidrokortison) dapat dipertimbangkan pada pasien tertentu yang refrakter terhadap vasopressor.
  • Syok Anafilaktik:
    • Epinefrin (adrenalin) intramuskular adalah tatalaksana lini pertama dan paling penting (dewasa: 0.3-0.5 mg IM, diulang tiap 5-15 menit).
    • Resusitasi cairan agresif dengan kristaloid karena vasodilatasi dan kebocoran kapiler.
    • Antihistamin (H1 blocker seperti difenhidramin, H2 blocker seperti ranitidin) dan kortikosteroid (misal: metilprednisolon) sebagai terapi adjuvan untuk mencegah rekurensi.
    • Suplementasi oksigen, bronkodilator (jika ada bronkospasme).

Referensi

Ada Hadiah Buatmu! Diskon 10% Buat Semua Produk - Kode NEWUSER10

Belajar Jadi Dokter Hebat Cukup dalam Genggaman

Akses materi pembelajaran, video kuliah, dan latihan soal kapan saja di satu aplikasi

4.8
Rating
15K+
Downloads
500+
Doctors
Customer Support umeds