Stroke hemoragik adalah keadaan darurat medis yang memerlukan diagnosis cepat dan akurat. Berbeda dengan stroke iskemik yang disebabkan oleh penggumpalan darah yang memblokir aliran darah, stroke hemoragik terjadi ketika pembuluh darah di otak pecah dan menyebabkan perdarahan. Imaging (pencitraan) memiliki peran krusial dalam diagnosis awal dan pengelolaan pasien stroke hemoragik. Pada bagian ini, kita akan membahas bagaimana CT scan dan MRI digunakan untuk mengidentifikasi dan mengevaluasi stroke hemoragik.
Stroke didefinisikan sebagai gangguan fungsi serebral (otak) yang berkembang dengan cepat, berlangsung lebih dari 24 jam, atau berakhir dengan kematian. Gangguan ini terjadi akibat masalah vaskular (berkaitan dengan pembuluh darah).
Mengapa imaging sangat penting? Pertama, imaging membantu membedakan stroke iskemik dari stroke hemoragikâini adalah langkah diagnosis paling fundamental karena penanganannya berbeda. Kedua, imaging menentukan lokasi, ukuran, dan apakah perdarahan sedang berkembang. Ketiga, informasi ini menentukan apakah pasien layak menerima terapi trombolitik (terapi untuk melarutkan bekuan darah). Semua keputusan klinis ini bergantung pada hasil imaging yang akurat.
Mengapa CT dipilih pertama kali? CT non-kontras adalah pemeriksaan pertama pilihan untuk mengevaluasi pasien yang dicurigai mengalami stroke karena tiga alasan: (1) tersedia 24/7 di sebagian besar fasilitas kesehatan, (2) pemeriksaan cepat (hanya beberapa menit), dan (3) sangat sensitif untuk mendeteksi darah akut di dalam otak. Dalam situasi darurat stroke, kecepatan diagnosis sangat penting karena terapi harus dimulai dalam jendela waktu tertentu.
Pada CT non-kontras, darah yang baru terjadi (akut) muncul sebagai daerah hiperdens (lebih cerah dari jaringan otak normal). Ini berarti darah memiliki atenuasi tinggi dan menyerap lebih banyak sinar-X dibanding jaringan sekitarnya.
Selain itu, Anda akan melihat daerah hipodens (lebih gelap) yang mengelilingi perdarahanâini adalah edema serebral (pembengkakan otak) yang terjadi sebagai respons terhadap perdarahan. Edema ini dapat menyebabkan tekanan intrakranial meningkat dan berdampak pada prognosis pasien.
Salah satu informasi penting yang diekstrak dari CT adalah volume hematom (volume darah yang terkumpul). Volume ini adalah faktor prediktor kuat untuk luaran pasienâpasien dengan perdarahan lebih besar cenderung memiliki luaran lebih buruk.
Volume perdarahan dihitung menggunakan rumus sederhana:
\text{Volume} = \frac{A \times B \times C}{2}
Di sini, A, B, dan C adalah tiga dimensi terbesar perdarahan yang diukur pada CT (dalam sentimeter). Faktor pembagi 2 memperhitungkan bentuk perdarahan yang tidak sempurna persegi. Misalnya, jika perdarahan memiliki dimensi 3 cm à 2 cm à 2 cm, volume perdarahannya adalah (3 \times 2 \times 2) / 2 = 6 cm³.
Penelitian klinis telah mengidentifikasi beberapa temuan pada CT yang berhubungan dengan prognosis buruk:
CT non-kontras sangat sensitif untuk perdarahan subaraknoid, tetapi sensitivitas ini menurun seiring waktu:
Implikasi klinis yang penting: Jika dicurigai SAH berdasarkan gejala klinis (misalnya, sakit kepala mendadak, berat seperti dipukul), CT harus dilakukan segera. Jika CT awal negatif tetapi kecurigaan klinis tinggi, pemeriksaan tambahan seperti LP (lumbar puncture) atau MRI mungkin diperlukan, terutama jika pasien datang lebih dari 12 jam setelah onset.
Perdarahan subaraknoid diklasifikasikan menggunakan Skala Fisher, yang mendeskripsikan jumlah dan distribusi darah dalam 4 derajat:
Skala Fisher penting karena berkorelasi dengan risiko vasospasme (penyempitan pembuluh darah yang berbahaya) dalam fase lanjut.
Meskipun CT adalah pemeriksaan lini pertama, MRI memiliki keunggulan tertentu untuk evaluasi lebih detail perdarahan serebral. MRI menggunakan medan magnet kuat dan gelombang radio untuk menghasilkan gambaran detail anatomis. Untuk stroke hemoragik, sekuen T2-weighted imaging (T2WI) dan gradient echo sequences paling berguna, tetapi pemahaman tentang sekuen T1 juga penting.
Ini adalah bagian yang sering membingungkan banyak mahasiswa. Kunci untuk memahami penampilan perdarahan pada MRI adalah mengetahui bahwa hemoglobin berubah bentuknya seiring waktu, dan setiap bentuk memiliki properti magnetik berbeda yang menghasilkan sinyal MRI berbeda.
Hemoglobin melalui beberapa tahap seiring waktu:
Fase Hiperakut (0-6 jam):
Fase Akut (6 jam 3 hari):
Fase Subakut Awal (3-7 hari):
Fase Subakut Lanjut (7-14 hari):
Fase Kronis (>2 minggu):
Meskipun CT lebih cepat untuk evaluasi awal, MRI memiliki beberapa keuntungan:
Penting untuk memahami kapan menggunakan CT versus MRI:
Dalam praktik klinis, pasien stroke akut biasanya mendapatkan CT pertama-tama, dan MRI dilakukan beberapa hari kemudian jika diperlukan informasi tambahan.
Imaging dengan CT dan MRI memiliki peran esensial dalam penanganan stroke hemoragik:
Dengan pemahaman mendalam tentang penampilan radiologis perdarahan pada CT dan MRI, serta bagaimana penampilan ini berubah seiring waktu, Anda akan dapat interpretasi gambar dengan percaya diri dan berkontribusi pada pengambilan keputusan klinis yang lebih baik untuk pasien.

Akses materi pembelajaran, video kuliah, dan latihan soal kapan saja di satu aplikasi