Stridor Anak

Stridor pada anak seringkali menjadi tanda bahaya yang memerlukan perhatian segera. Suara napas tambahan ini bisa mengindikasikan obstruksi jalan napas yang mengancam jiwa! Jangan sampai salah diagnosis atau terlambat tatalaksana. Yuk, pahami karakteristik, penyebab, hingga penanganan stridor pada anak agar kamu siap menghadapi kasus ini di praktik nanti!

Definisi

Stridor adalah suara napas bernada tinggi dan kasar yang dihasilkan dari aliran udara turbulen melalui jalan napas atas yang menyempit. Suara ini biasanya paling jelas terdengar saat inspirasi, namun dapat juga terjadi saat ekspirasi atau bifasik.

Stridor merupakan manifestasi klinis dari obstruksi parsial pada laring, trakea, atau bronkus utama. Penting untuk membedakannya dengan wheezing yang umumnya berasal dari jalan napas bawah.

Klasifikasi (Berdasarkan Lokasi & Fase Napas)

Klasifikasi stridor sangat membantu dalam memperkirakan lokasi obstruksi dan penyebabnya:

  • Berdasarkan Fase Napas:
    • Stridor Inspirasi: Menunjukkan obstruksi di atas pita suara (supraglottic atau glottic). Contoh: Laringomalasia, Epiglotitis.
    • Stridor Ekspirasi: Menunjukkan obstruksi di bawah pita suara (trakea atau bronkus utama). Lebih jarang terjadi murni ekspirasi. Contoh: Trakeomalasia, benda asing di bronkus.
    • Stridor Bifasik: Menunjukkan obstruksi setinggi pita suara atau subglottic. Contoh: Croup, Stenosis subglottik, benda asing di laring/trakea.
  • Berdasarkan Lokasi Anatomis:
    • Supraglottic: Laringomalasia, Epiglotitis, Abses retrofaringeal/peritonsiler.
    • Glottic: Paralisis pita suara, Web laring.
    • Subglottic: Laringotrakeobronkitis (Croup), Stenosis subglottik, Hemangioma subglottik.
    • Tracheal: Trakeomalasia, Stenosis trakea, Benda asing trakea.

Etiologi & Faktor Risiko

Penyebab stridor pada anak sangat bervariasi tergantung usia:

  • Penyebab Kongenital (sering pada neonatus dan bayi):
    • Laringomalasia: Penyebab stridor kongenital paling sering, akibat kolapsnya struktur supraglottic saat inspirasi.
    • Trakeomalasia/Bronkomalasia: Kelemahan dinding trakea/bronkus.
    • Stenosis Subglottik Kongenital: Penyempitan di bawah pita suara.
    • Vascular Ring: Cincin pembuluh darah yang menekan trakea.
    • Kista/Web Laring: Lesi struktural bawaan.
  • Penyebab Didapat (Acquired):
    • Infeksi:
      • Laringotrakeobronkitis (Croup): Infeksi virus, paling sering pada anak 6 bulan-3 tahun.
      • Epiglotitis Akut: Infeksi bakteri serius pada epiglotis, lebih jarang setelah imunisasi Hib.
      • Abses Retofaringeal/Peritonsiler: Infeksi bakteri di ruang leher dalam.
    • Aspirasi Benda Asing: Sangat umum pada balita (6 bulan-3 tahun).
    • Trauma: Akibat intubasi, trauma tumpul leher, atau luka bakar.
    • Neurologis: Paralisis pita suara (uni- atau bilateral).
    • Massa/Tumor: Hemangioma subglottik, Papilomatosis laring rekuren.
    • Alergi/Inflamasi: Anafilaksis, Angioedema.

Manifestasi Klinis

Selain stridor itu sendiri, gejala penyerta sangat membantu dalam menentukan etiologi dan derajat keparahan:

  • Derajat Keparahan Stridor:
    • Ringan: Stridor hanya saat aktivitas, menangis, atau agitasi.
    • Sedang: Stridor terdengar saat istirahat, disertai retraksi ringan.
    • Berat: Stridor jelas saat istirahat, retraksi berat (supraklavikula, interkostal, substernal), sianosis, letargi, gelisah, penurunan kesadaran.
  • Gejala Penyerta Lain:
    • Demam: Sering pada infeksi (Croup, Epiglotitis, Abses).
    • Batuk: 'Barking cough' khas pada Croup.
    • Disfagia/Drooling: Kesulitan menelan dan air liur menetes, khas pada Epiglotitis.
    • Suara Serak/Afonia: Gangguan pada pita suara.
    • Riwayat Tersedak: Khas pada aspirasi benda asing.
    • Posisi Tripod: Anak condong ke depan, leher hiperekstensi, khas pada Epiglotitis.

Penegakan Diagnosis

Diagnosis stridor memerlukan evaluasi cepat dan sistematis:

  • Anamnesis:
    • Onset: Akut (infeksi, benda asing) atau kronis (kongenital).
    • Durasi dan Progresi: Memburuk atau menetap.
    • Fase Stridor: Inspirasi, ekspirasi, atau bifasik.
    • Gejala Penyerta: Demam, batuk, nyeri menelan, drooling, riwayat tersedak.
    • Riwayat Medis: Riwayat intubasi, trauma, alergi.
    • Usia Pasien: Sangat penting untuk diagnosis banding.
  • Pemeriksaan Fisik:
    • Penilaian ABC (Airway, Breathing, Circulation): Prioritas utama untuk menilai kegawatdaruratan.
    • Derajat Distress Pernapasan: Laju napas, retraksi, penggunaan otot bantu napas, sianosis, tingkat kesadaran.
    • Auskultasi: Dengarkan stridor, suara napas paru.
    • Inspeksi Orofaring: Hati-hati pada kecurigaan epiglotitis, jangan provokasi dengan spatel lidah karena dapat memicu spasme laring.
    • Palpasi Leher: Nyeri tekan, massa.

Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan penunjang dipilih berdasarkan kecurigaan klinis:

  • Laboratorium:
    • Darah Lengkap: Leukositosis dapat mendukung infeksi bakteri (misal: Epiglotitis).
  • Radiologi:
    • X-ray Leher AP/Lateral:
      • 'Steeple sign' (pencil-tip sign): Penyempitan subglottic pada Croup.
      • 'Thumb sign': Pembengkakan epiglotis pada Epiglotitis.
      • Dapat menunjukkan benda asing radioopak.
    • X-ray Thorax: Untuk menyingkirkan patologi paru atau melihat benda asing di bronkus.
  • Endoskopi (Laringoskopi/Bronkoskopi):
    • Gold standard untuk visualisasi langsung jalan napas, identifikasi lesi, dan pengambilan benda asing.
    • Dilakukan dalam kondisi terkontrol dengan tim ahli (anestesi, THT).

Diagnosis Banding

Membedakan penyebab stridor sangat krusial. Berikut adalah perbandingan beberapa penyebab umum:

KondisiUsia KhasOnsetGejala KhasLokasi StridorGambaran X-ray LeherTatalaksana Awal
Croup (Laringotrakeobronkitis)6 bln - 3 thnAkut, viralBatuk menggonggong ('barking cough'), demam ringan, suara serakSubglottic (bifasik)'Steeple sign'Kortikosteroid, Epinefrin nebulisasi (sedang-berat)
Epiglotitis Akut2 - 6 thnAkut, bakteriDemam tinggi, nyeri tenggorok berat, drooling, disfagia, posisi tripod, suara muffledSupraglottic (inspirasi)'Thumb sign'Intubasi segera, Antibiotik IV
Aspirasi Benda Asing6 bln - 3 thnAkut, mendadakRiwayat tersedak, batuk paroksismal, stridor/wheezing, sianosisTergantung lokasi (bifasik/inspirasi/ekspirasi)Bisa normal, benda asing radioopak, air trappingBronkoskopi rigid
LaringomalasiaNeonatus - 6 blnKronis, intermitenStridor inspirasi memburuk saat menangis/terlentang, membaik saat tengkurap/tenangSupraglottic (inspirasi)NormalUmumnya observasi, posisi tengkurap

Tatalaksana

Tatalaksana stridor berfokus pada stabilisasi jalan napas dan penanganan penyebab spesifik:

  • Prinsip Umum:
    • Prioritaskan stabilisasi jalan napas (ABC): Pastikan jalan napas paten, berikan oksigenasi adekuat.
    • Monitor ketat: Pantau status pernapasan, saturasi oksigen, denyut jantung.
    • Minimalisasi agitasi: Usahakan anak tetap tenang karena menangis atau agitasi dapat memperburuk obstruksi.
    • Posisi nyaman: Biarkan anak dalam posisi yang paling nyaman baginya.
  • Tatalaksana Spesifik:
    • Croup:
      • Kortikosteroid: Deksametason oral/IM dosis tunggal (0,15-0,6 mg/kgBB).
      • Epinefrin Rasemik Nebulisasi: Untuk stridor sedang hingga berat, efek vasokonstriksi mengurangi edema mukosa.
    • Epiglotitis Akut:
      • Intubasi Endotrakeal: Segera, oleh tim ahli di ruang operasi, untuk mengamankan jalan napas sebelum edema memburuk.
      • Antibiotik IV: Ceftriaxone atau cefotaxime.
    • Aspirasi Benda Asing:
      • Manuver Heimlich (anak >1 tahun) atau back blows/chest thrusts (bayi): Jika sadar dan batuk tidak efektif.
      • Bronkoskopi Rigid: Segera, untuk visualisasi dan ekstraksi benda asing.
    • Laringomalasia:
      • Mayoritas kasus bersifat self-limiting dan membaik seiring waktu.
      • Edukasi orang tua tentang posisi tidur (tengkurap), porsi makan kecil.
      • Pada kasus berat dengan gagal tumbuh atau apneu, dapat dipertimbangkan supraglottoplasty.

Komplikasi

Stridor yang tidak ditangani dengan baik dapat menyebabkan komplikasi serius:

  • Gagal napas akut.
  • Henti napas dan henti jantung.
  • Hipoksia yang dapat menyebabkan kerusakan otak permanen.
  • Kematian.

Edukasi & Pencegahan

Penting untuk memberikan edukasi kepada orang tua:

  • Mengenali Tanda Bahaya: Ajarkan orang tua untuk mengenali stridor dan tanda-tanda distress pernapasan yang memerlukan penanganan medis segera.
  • Pencegahan Aspirasi Benda Asing: Jauhkan benda-benda kecil dari jangkauan anak, potong makanan menjadi ukuran yang sesuai, awasi anak saat makan.
  • Imunisasi: Pastikan anak mendapatkan imunisasi lengkap, terutama vaksin Hib yang efektif mencegah Epiglotitis.

Referensi

Ada Hadiah Buatmu! Diskon 10% Buat Semua Produk - Kode NEWUSER10

Belajar Jadi Dokter Hebat Cukup dalam Genggaman

Akses materi pembelajaran, video kuliah, dan latihan soal kapan saja di satu aplikasi

4.8
Rating
15K+
Downloads
500+
Doctors
Customer Support umeds