Strabismus (Mata Juling)

Pernah dengar mata juling? Itu adalah strabismus! Kondisi ini bukan cuma masalah kosmetik, tapi bisa berdampak serius pada penglihatan, terutama pada anak-anak. Memahami klasifikasi, diagnosis, dan tatalaksana strabismus sangat esensial untuk UKMPPD dan praktik klinis sehari-hari. Jangan sampai salah bedakan esotropia dan exotropia, ya! Yuk, kuasai materi penting ini agar kamu siap hadapi soal-soal sulit!

Definisi

Strabismus, atau mata juling, adalah kondisi di mana kedua mata tidak sejajar dan tidak dapat memfokuskan objek yang sama secara bersamaan. Satu mata mungkin melihat lurus ke depan, sementara mata lainnya menyimpang ke dalam, ke luar, ke atas, atau ke bawah.

Kondisi ini dapat bersifat konstan (selalu terlihat) atau intermiten (kadang-kadang muncul), dan bisa mengenai satu mata (monokular) atau bergantian (alternating).

Klasifikasi

Strabismus dapat diklasifikasikan berdasarkan beberapa kriteria:

  • Berdasarkan Arah Deviasi:
    • Esotropia: Mata menyimpang ke dalam (ke arah hidung).
    • Exotropia: Mata menyimpang ke luar (ke arah telinga).
    • Hypertropia: Mata menyimpang ke atas.
    • Hypotropia: Mata menyimpang ke bawah.
  • Berdasarkan Keterlibatan Otot Ekstraokular:
    • Strabismus Konkomitan (Non-paralitik): Sudut deviasi sama pada semua arah pandang. Umumnya terjadi pada anak-anak.
    • Strabismus Inkonkomitan (Paralitik): Sudut deviasi bervariasi tergantung arah pandang, sering karena kelumpuhan otot ekstraokular atau kelainan neurologis. Umumnya terjadi pada dewasa.
  • Berdasarkan Waktu Muncul:
    • Kongenital: Muncul sejak lahir atau dalam 6 bulan pertama kehidupan.
    • Akuisita: Muncul setelah usia 6 bulan.

Etiologi & Faktor Risiko

Penyebab strabismus bervariasi, meliputi:

  • Gangguan Kontrol Otot: Ketidakseimbangan pada otot-otot ekstraokular yang menggerakkan mata.
  • Kelainan Refraksi: Terutama hipermetropia yang tinggi, dapat menyebabkan esotropia akomodatif.
  • Gangguan Neurologis: Kelumpuhan saraf kranial (N. III, IV, VI) yang menginervasi otot mata, cerebral palsy, hidrosefalus, tumor otak, stroke.
  • Genetik: Riwayat keluarga strabismus.
  • Penyakit Sistemik: Misalnya, penyakit Graves (oftalmopati tiroid).
  • Trauma: Cedera pada mata atau otak.

Manifestasi Klinis

Gejala strabismus dapat bervariasi tergantung usia pasien:

  • Pada Anak-anak:
    • Mata terlihat tidak sejajar (juling).
    • Sering memiringkan kepala atau memutar wajah (head tilt/turn) untuk mendapatkan penglihatan binokular.
    • Menyipitkan mata atau menutup satu mata saat melihat.
    • Penurunan tajam penglihatan pada satu mata (amblyopia) jika tidak ditangani.
    • Tidak ada keluhan diplopia (penglihatan ganda) karena otak anak dapat menekan gambar dari mata yang menyimpang (supresi).
  • Pada Dewasa:
    • Mata terlihat tidak sejajar.
    • Keluhan diplopia (penglihatan ganda) karena otak dewasa sulit melakukan supresi.
    • Penurunan penglihatan binokular dan persepsi kedalaman (stereopsis).
    • Sakit kepala atau ketegangan mata.

Penegakan Diagnosis

Diagnosis strabismus ditegakkan melalui pemeriksaan mata komprehensif oleh dokter spesialis mata. Pemeriksaan kunci meliputi:

  • Anamnesis: Riwayat onset, keluhan diplopia, riwayat medis dan keluarga.
  • Pemeriksaan Tajam Penglihatan: Penting untuk mendeteksi amblyopia.
  • Pemeriksaan Refraksi: Untuk mendeteksi kelainan refraksi.
  • Uji Hirschberg: Menilai posisi refleks cahaya kornea. Normalnya, refleks cahaya simetris di tengah pupil kedua mata. Pada strabismus, refleks cahaya mata yang juling akan bergeser.
  • Uji Tutup-Buka (Cover-Uncover Test):
    • Mendeteksi tropia (strabismus manifes). Mata yang juling akan bergerak untuk fiksasi saat mata yang sehat ditutup.
  • Uji Tutup-Buka Bergantian (Alternate Cover Test):
    • Mendeteksi foria (strabismus laten) dan tropia. Saat mata ditutup bergantian, mata yang juling (atau cenderung juling) akan bergerak untuk fiksasi saat penutup dipindahkan.
  • Pemeriksaan Motilitas Okular: Menilai gerakan bola mata ke 9 arah pandang (9 cardinal positions of gaze) untuk mengidentifikasi otot yang lemah atau overaktif.

Tatalaksana

Tujuan tatalaksana adalah mengembalikan kesejajaran mata, mengoptimalkan tajam penglihatan, dan memulihkan penglihatan binokular.

  • Non-Farmakologis & Non-Bedah:
    • Koreksi Kelainan Refraksi: Pemberian kacamata atau lensa kontak jika ada kelainan refraksi (terutama hipermetropia pada esotropia akomodatif).
    • Terapi Oklusi (Penutupan Mata): Menutup mata yang sehat (lebih baik) untuk memaksa mata yang ambliop bekerja, mencegah atau mengobati amblyopia.
    • Terapi Ortoptik: Latihan mata untuk meningkatkan koordinasi dan fusi.
    • Prisma: Dapat digunakan pada kasus diplopia ringan hingga sedang untuk menyatukan gambar.
  • Bedah:
    • Dilakukan jika terapi konservatif tidak berhasil atau pada kasus strabismus yang parah.
    • Tujuannya adalah menguatkan atau melemahkan otot-otot ekstraokular untuk mengubah posisi mata.
    • Contoh prosedur: reseksi (memperpendek otot untuk menguatkan) atau resesi (memindahkan insersi otot ke belakang untuk melemahkan).

Komplikasi

  • Amblyopia (Mata Malas): Penurunan tajam penglihatan pada satu mata karena otak mengabaikan input visual dari mata yang menyimpang, terutama jika terjadi pada masa kritis perkembangan visual anak.
  • Diplopia (Penglihatan Ganda): Terutama pada strabismus yang muncul pada usia dewasa.
  • Hilangnya Penglihatan Stereoskopik: Gangguan persepsi kedalaman.
  • Dampak Psikososial: Penurunan kepercayaan diri dan masalah interaksi sosial.

Prognosis

Prognosis strabismus sangat baik jika didiagnosis dan ditangani sedini mungkin, terutama pada anak-anak, untuk mencegah amblyopia permanen dan memulihkan penglihatan binokular. Penanganan pada dewasa bertujuan mengurangi diplopia dan memperbaiki kosmetik.

Edukasi & Pencegahan

Edukasi pasien dan orang tua sangat penting:

  • Pentingnya pemeriksaan mata rutin pada anak, terutama jika ada riwayat keluarga strabismus atau keluhan mata juling.
  • Kepatuhan terhadap terapi kacamata dan oklusi.
  • Menjelaskan tujuan dan risiko prosedur bedah jika diperlukan.
  • Pencegahan primer sulit karena banyak kasus kongenital/idiopatik. Pencegahan komplikasi (amblyopia) adalah kunci melalui deteksi dan intervensi dini.

Referensi

Ada Hadiah Buatmu! Diskon 10% Buat Semua Produk - Kode NEWUSER10

Belajar Jadi Dokter Hebat Cukup dalam Genggaman

Akses materi pembelajaran, video kuliah, dan latihan soal kapan saja di satu aplikasi

4.8
Rating
15K+
Downloads
500+
Doctors
Customer Support umeds