Sel Leydig adalah sel penghasil androgen utama di testis yang bertanggung jawab menghasilkan testosteron sebagai respons terhadap hormon LH (Luteinizing Hormone). Proses pembentukan testosteron, yang disebut steroidogenesis, dimulai dari kolesterol dan melibatkan serangkaian reaksi kimia yang terkontrol di berbagai kompartemen seluler. Memahami jalur ini sangat penting karena gangguan pada tahap mana pun dapat mengurangi produksi hormon seks.
Sel Leydig memperoleh kolesterol dari dua sumber utama:
Pengambilan dari sirkulasi: Sebagian besar kolesterol berasal dari lipoprotein densitas rendah (LDL) dalam darah. Sel Leydig mengambil kolesterol melalui endositosis yang dimediasi oleh reseptor LDL. LDL menempel pada reseptor spesifik di permukaan sel, lalu dibawa ke dalam melalui vesikula endositik. Kolesterol dari LDL kemudian dilepaskan dan tersedia untuk digunakan.
Sintesis de novo: Sel Leydig juga dapat mensintesis kolesterol sendiri dari asetil-koenzim A (asetil-CoA) melalui jalur metabolik standar. Meskipun dua sumber ini tersedia, pengambilan dari LDL biasanya merupakan kontribusi utama terhadap kebutuhan kolesterol sel.
Tidak semua kolesterol yang masuk sel langsung digunakan untuk membuat hormon. Kolesterol yang "berlebih" disimpan dalam bentuk kolesterol ester untuk digunakan kemudian.
Proses penyimpanan: Kolesterol yang masuk disimpan sebagai kolesterol ester dalam droplet lipid sitoplasma kecil. Konversi ini dikatalisis oleh enzim acyl-CoA cholesterol transferase (ACAT), yang menambahkan asam lemak ke kolesterol membentuk ester yang lebih stabil.
Indikator ketersediaan substrat: Jumlah droplet lipid di dalam sel memberikan informasi tentang aktivitas steroidogenesis. Ketika sintesis androgen berjalan lambat, droplet lipid menumpuk di sitoplasma. Sebaliknya, ketika sel aktif membuat hormon, droplet lipid akan berkurang karena kolesterol ester digunakan dengan cepat.
Mobilisasi saat dibutuhkan: Ketika LH tiba dan merangsang sel Leydig, kolesterol ester ini harus dibebaskan kembali. Enzim kolesterol ester hidrolase (CEH) memotong ikatan ester, melepaskan kolesterol bebas yang siap masuk jalur steroidogenesis.
Tahap kritis dalam steroidogenesis adalah memindahkan kolesterol dari sitoplasma ke dalam mitokondria, tempat reaksi pertama menghasilkan hormon terjadi. Perjalanan ini bukan proses pasifâkolesterol tidak dapat melewati membran mitokondria dengan mudahâsehingga diperlukan protein pembawa khusus.
Peran protein StAR: Protein Steroidogenic Acute Regulatory (StAR) adalah "kurir" molekuler yang mengangkut kolesterol melintasi ruang antara membran mitokondria luar dan dalam. Protein ini tersimpan di membran mitokondria dalam dan bergerak ke posisi yang tepat saat sinyal aktivasi tiba.
Mekanisme kerja StAR: Ketika kolesterol mendekat, StAR mengalami perubahan bentuk (konformasi) yang membuka kantong pengikat kolesterol di dalam proteinnya. Kolesterol masuk ke kantong ini dan terlindungi saat berpindah dari membran luar ke membran dalam mitokondria. StAR yang aktif di dalam sel juga mengalami fosforilasi (penambahan gugus fosfat) oleh kinase tertentu, dan bentuk terfosforilasi ini berinteraksi dengan channel protein VDAC1 (Voltage-Dependent Anion Channel 1) di membran luar mitokondria untuk memfasilitasi transport yang lebih efisien.
Setelah kolesterol berhasil masuk ke dalam mitokondria, reaksi pertama dimulai. Enzim P450 side-chain cleavage (sering disingkat P450scc) yang tertanam di membran dalam mitokondria mengkatalisis langkah pertama yang mengubah struktur kolesterol.
Proses konversi: P450scc memotong rantai karbon samping pada kolesterol, menghasilkan molekul yang lebih kecil bernama pregnenolon (atau 5-pregnenolone). Reaksi ini menghilangkan bagian kolesterol yang tidak lagi diperlukan untuk pembentukan hormon steroid.
Lanjutan ke tahap berikutnya: Setelah terbentuk, pregnenolon tidak tetap berada di mitokondria. Molekul ini berdifusi keluar dan pindah ke retikulum endoplasma (RE), organel yang bertanggung jawab atas langkah-langkah transformasi berikutnya menuju testosteron.
Setelah pregnenolon terbentuk, terdapat dua jalur berbeda yang dapat membawanya menuju testosteron. Kedua jalur ini seringkali berjalan secara bersamaan di sel Leydig, dan keseimbangan antara keduanya penting untuk produksi testosteron yang optimal.
Jalur Î4 dimulai dengan mengubah pregnenolon menjadi progesteron:
Jalur Î5 mengambil rute berbeda, melibatkan serangkaian enzim yang berbeda:
Mengapa dua jalur? Kedua jalur ini mengarah ke produk akhir yang sama (testosteron), tetapi menggunakan enzim yang berbeda dan dapat diatur secara independen. Dalam sel Leydig manusia, jalur Î4 biasanya menjadi kontribusi utama, tetapi jalur Î5 tetap aktif dan penting.
Setelah testosteron dihasilkan, hormon ini harus meninggalkan sel Leydig dan memasuki aliran darah untuk mencapai sel-sel target di seluruh tubuh.
Mekanisme transportasi: Testosteron adalah molekul lipofil (menyukai lemak), sehingga dapat menyebar dengan mudah melewati membran sel melalui difusi pasif. Testosteron berdifusi dari sitoplasma sel Leydig ke cairan interstitial (ruang di antara sel) dan kemudian langsung masuk ke kapiler darah mikrovaskular testis.
Perlu dicatat bahwa konsentrasi testosteron serupa pada darah vena testis dan cairan limfatik, tetapi aliran utama testosteron dari testis ke sirkulasi terjadi melalui vena spermatika (vena testis), bukan melalui jalur limfatik.
Setelah memasuki sirkulasi darah, testosteron terikat pada protein pembawa (seperti sex hormone-binding globulin/SHBG) untuk diangkut ke seluruh tubuh dan mencapai sel-sel target di jaringan reproduktif dan non-reproduktif.

Akses materi pembelajaran, video kuliah, dan latihan soal kapan saja di satu aplikasi