Stenosis Pilorus Hipertrofi Infantil

Muntah proyektil hebat pada bayi? Hati-hati, bisa jadi tanda dari Stenosis Pilorus Hipertrofi Infantil, kondisi bedah pediatri yang sering muncul di UKMPPD! Yuk, pahami lebih dalam mengenai sumbatan pilorus akibat hipertrofi otot ini, mulai dari gejala khas hingga penanganannya yang efektif. Jangan sampai terlewat!

Definisi

Stenosis Pilorus Hipertrofi Infantil (SPHI) adalah kondisi di mana terjadi penebalan (hipertrofi) dan pembesaran (hiperplasia) otot pilorus, yaitu sfingter di ujung lambung yang menghubungkan lambung dengan duodenum.

Penebalan ini menyebabkan penyempitan lumen pilorus, menghambat aliran makanan dari lambung ke usus halus, dan berujung pada obstruksi saluran keluar lambung.

Epidemiologi & Etiologi

Epidemiologi: SPHI adalah penyebab paling umum obstruksi saluran keluar lambung pada bayi, dengan insidensi sekitar 2-3 per 1000 kelahiran hidup. Lebih sering terjadi pada bayi laki-laki (4:1) dan anak pertama.

Etiologi: Penyebab pasti belum diketahui (idiopatik), namun diduga multifaktorial, melibatkan faktor genetik dan lingkungan.

  • Jenis kelamin laki-laki.
  • Riwayat keluarga SPHI.
  • Penggunaan antibiotik makrolida (eritromisin, azitromisin) pada bayi atau ibu menyusui di awal kehidupan bayi.
  • Pemberian susu formula dini.
  • Prematuritas.

Patofisiologi

Meskipun etiologinya tidak jelas, patofisiologi utamanya adalah hipertrofi otot sirkular dan longitudinal pilorus.

Penebalan ini menyebabkan lumen pilorus menyempit secara progresif, membentuk saluran yang panjang dan sempit.

Akibatnya, terjadi obstruksi saluran keluar lambung parsial hingga komplit.

Lambung berusaha mengosongkan isinya dengan kontraksi yang lebih kuat, menyebabkan hiperperistaltik dan kemudian dilatasi lambung.

Makanan dan cairan tertahan di lambung, memicu muntah proyektil non-bilious.

Muntah berulang menyebabkan kehilangan cairan, elektrolit (terutama HCl), dan kalori, mengakibatkan dehidrasi, alkalosis metabolik hipokloremik, dan hipokalemia.

Manifestasi Klinis

Gejala biasanya muncul pada usia 2-8 minggu, jarang sebelum 1 minggu atau setelah 5 bulan.

  • Muntah proyektil non-bilious: Ini adalah gejala khas. Muntah terjadi setelah makan, kuat, dan menyembur jauh. Isi muntahan adalah susu atau makanan yang baru dicerna, tidak mengandung empedu.
  • Bayi tetap lapar setelah muntah: Bayi akan segera ingin menyusu lagi setelah muntah.
  • Dehidrasi: Tanda-tanda dehidrasi seperti mata cekung, turgor kulit menurun, ubun-ubun cekung, dan produksi urine berkurang.
  • Penurunan berat badan atau gagal tumbuh: Akibat asupan kalori yang tidak adekuat.
  • Konstipasi: Karena sedikit makanan yang mencapai usus.

Pada pemeriksaan fisik abdomen:

  • Mungkin terlihat gelombang peristaltik lambung dari kiri atas ke kanan bawah (terutama setelah makan).
  • Teraba massa berbentuk oval atau "olive-shaped mass" di kuadran kanan atas abdomen (epigastrium kanan), yang merupakan pilorus yang menebal. Ini paling mudah dipalpasi saat bayi tenang atau sedang menyusu.

Penegakan Diagnosis

Diagnosis sangat didasarkan pada anamnesis khas (muntah proyektil non-bilious pada bayi usia 2-8 minggu) dan pemeriksaan fisik (palpasi massa olive).

Pemeriksaan penunjang digunakan untuk konfirmasi dan menilai status hidrasi/elektrolit.

Pemeriksaan Penunjang

Ultrasonografi (USG) Abdomen: Merupakan modalitas pencitraan pilihan utama.

  • Menunjukkan penebalan otot pilorus (>3-4 mm) dan pemanjangan kanal pilorus (>14-17 mm).
  • Dapat juga menunjukkan gambaran "target sign" atau "doughnut sign" pada potongan melintang pilorus.

Pemeriksaan Laboratorium Darah:

  • Elektrolit serum: Menunjukkan alkalosis metabolik hipokloremik dan hipokalemia. Ini adalah temuan klasik akibat kehilangan HCl dan kalium dari muntah.
  • BUN/Kreatinin: Untuk menilai status hidrasi dan fungsi ginjal.
  • Gula darah: Untuk menyingkirkan hipoglikemia.

Barium meal (Upper GI Series): Jarang digunakan jika USG diagnostik, namun dapat menunjukkan:

  • "String sign" atau "railroad track sign" (kontras melewati kanal pilorus yang sempit dan memanjang).
  • "Shoulder sign" (indentasi pada antrum lambung oleh pilorus yang menebal).
  • "Double-track sign" (dua jalur kontras paralel di kanal pilorus).

Diagnosis Banding

KondisiKarakteristik Kunci
Gastroesophageal Reflux Disease (GERD)Muntah biasanya tidak proyektil, lebih sering gumoh. Bayi tidak selalu tampak lapar setelah muntah. Tidak ada massa pilorus.
Intoleransi Makanan/Alergi Susu SapiMuntah, diare, ruam kulit, atau gejala pernapasan. Muntah biasanya tidak proyektil.
Obstruksi Duodenum (mis. Atresia Duodenum, Annular Pancreas)Muntah bilious (mengandung empedu), biasanya onset lebih awal (hari pertama kehidupan). Gambaran "double bubble sign" pada rontgen abdomen.
Atresia Esofagus dengan Fistula TrakeoesofagealRegurgitasi segera setelah minum, batuk, tersedak, sianosis.
Penyakit MetabolikGejala sistemik lain, letargi, kejang, hipoglikemia, asidosis metabolik.

Tatalaksana

Prinsip: Stabilisasi elektrolit dan hidrasi sebelum tindakan bedah.

1. Resusitasi dan Stabilisasi (Penting!):

  • Koreksi dehidrasi dan ketidakseimbangan elektrolit (terutama alkalosis metabolik, hipokloremia, hipokalemia) dengan cairan intravena (misalnya NaCl 0.9% dengan tambahan KCl).
  • Koreksi ini WAJIB dilakukan sebelum operasi untuk mencegah komplikasi anestesi dan pasca-operasi.
  • Pemantauan ketat elektrolit, gula darah, dan status hidrasi.

2. Pembedahan (Pyloromyotomy):

  • Setelah stabilisasi elektrolit, tindakan definitif adalah piloromiotomi Ramstedt.
  • Prosedur ini melibatkan insisi longitudinal pada serosa dan otot pilorus yang hipertrofi, tanpa melukai mukosa, untuk melepaskan konstriksi dan memperlebar lumen pilorus.
  • Dapat dilakukan secara terbuka atau laparoskopi.

3. Pasca-operasi:

  • Pemberian minum oral biasanya dimulai beberapa jam setelah operasi dengan porsi kecil dan bertahap.
  • Muntah ringan masih bisa terjadi dalam 24-48 jam pasca-operasi.

Komplikasi

  • Sebelum operasi: Dehidrasi berat, alkalosis metabolik, hipokalemia, aspirasi.
  • Selama operasi: Perforasi mukosa duodenum (komplikasi paling serius), perdarahan.
  • Setelah operasi: Muntah persisten (jika piloromiotomi tidak adekuat), infeksi luka, obstruksi intestinal (jarang).

Prognosis

Dengan diagnosis dini dan tatalaksana yang tepat (koreksi elektrolit dan piloromiotomi), prognosisnya sangat baik.

Angka mortalitas sangat rendah.

Sebagian besar bayi pulih sepenuhnya tanpa sekuel jangka panjang.

Referensi

Ada Hadiah Buatmu! Diskon 10% Buat Semua Produk - Kode NEWUSER10

Belajar Jadi Dokter Hebat Cukup dalam Genggaman

Akses materi pembelajaran, video kuliah, dan latihan soal kapan saja di satu aplikasi

4.8
Rating
15K+
Downloads
500+
Doctors
Customer Support umeds