Stenosis Mitral

Stenosis Mitral adalah penyempitan katup mitral yang menghambat aliran darah dari atrium kiri ke ventrikel kiri. Kondisi ini seringkali merupakan komplikasi jangka panjang demam reumatik, lho! Akibatnya, tekanan di atrium kiri dan sirkulasi paru meningkat, memicu berbagai gejala yang perlu kamu kenali. Yuk, kuasai patofisiologi, diagnosis, dan tatalaksananya untuk UKMPPD!

Definisi

Stenosis Mitral (SM) adalah kondisi penyempitan (obstruksi) pada area katup mitral, yang terletak di antara atrium kiri dan ventrikel kiri jantung.

Penyempitan ini menghambat aliran darah normal dari atrium kiri (LA) ke ventrikel kiri (LV) selama fase diastol, menyebabkan peningkatan tekanan di LA dan sistem vaskular paru.

Etiologi

Penyebab utama stenosis mitral adalah demam reumatik akut, yang menyebabkan kerusakan katup secara progresif dan fibrosis.

  • Demam reumatik akut menyebabkan peradangan pada katup, diikuti oleh fibrosis, kalsifikasi, dan fusi komisura katup.
  • Meskipun jarang, penyebab lain meliputi stenosis mitral kongenital, kalsifikasi anulus mitral degeneratif, sindrom karsinoid, atau lupus eritematosus sistemik.

Patofisiologi

Penyempitan katup mitral menyebabkan peningkatan gradien tekanan antara atrium kiri dan ventrikel kiri.

  • Untuk mempertahankan cardiac output, tekanan di atrium kiri (LA) meningkat, menyebabkan dilatasi LA dan hipertrofi.
  • Peningkatan tekanan LA diteruskan ke vena pulmonalis dan kapiler paru, menyebabkan kongesti paru.
  • Kongesti paru kronis dapat menyebabkan hipertensi pulmonal, yang pada akhirnya membebani ventrikel kanan dan dapat menyebabkan gagal jantung kanan.
  • Peningkatan tekanan dan dilatasi LA juga meningkatkan risiko fibrilasi atrium (AF) dan pembentukan trombus di LA.

Manifestasi Klinis

Gejala stenosis mitral seringkali berkembang secara perlahan dan progresif.

  • Dispnea: Gejala paling umum, awalnya saat aktivitas, kemudian saat istirahat (ortopnea, dispnea nokturnal paroksismal).
  • Batuk: Akibat kongesti paru, kadang disertai hemoptisis (batuk darah).
  • Palpitasi: Sering disebabkan oleh fibrilasi atrium.
  • Kelelahan: Akibat penurunan cardiac output.
  • Emboli sistemik: Terutama stroke, jika ada fibrilasi atrium dan trombus di LA.
  • Facies Mitralis: Warna merah keunguan pada pipi akibat vasodilatasi kapiler kronis dan sianosis ringan (jarang).

Pada auskultasi jantung dapat ditemukan:

  • S1 mengeras (loud S1).
  • Opening snap (OS): Suara klik setelah S2, akibat pembukaan paksa katup mitral yang kaku.
  • Murmur diastolik mid-diastolic: Nada rendah, paling jelas di apeks jantung, terdengar paling baik dengan posisi dekubitus lateral kiri dan ekspirasi.
  • Kadang disertai pre-systolic accentuation (pengerasan murmur sebelum S1) jika irama sinus.

Penegakan Diagnosis

Diagnosis stenosis mitral didasarkan pada anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang.

  • Elektrokardiografi (EKG): Dapat menunjukkan tanda-tanda dilatasi atrium kiri (misalnya, gelombang P bifasik di sadapan V1 atau P-mitrale di sadapan II), deviasi aksis kanan, atau tanda hipertrofi ventrikel kanan jika sudah ada hipertensi pulmonal. Fibrilasi atrium sering ditemukan.
  • Rontgen Toraks (Foto Toraks): Dapat menunjukkan pembesaran atrium kiri (misalnya, double contour pada batas kanan jantung, elevasi bronkus utama kiri), pelebaran arteri pulmonalis, dan tanda-tanda kongesti paru (garis Kerley B).
  • Ekokardiografi (Eko): Merupakan standar emas untuk diagnosis.
    • Menilai morfologi katup mitral (penebalan, kalsifikasi, fusi komisura).
    • Mengukur area katup mitral (MVA) secara langsung atau dengan pressure half-time (PHT).
    • Menilai gradien tekanan trans-mitral.
    • Menilai ukuran dan fungsi atrium dan ventrikel, serta tekanan arteri pulmonalis.
  • Kateterisasi Jantung: Jarang diperlukan untuk diagnosis, namun dapat dilakukan sebelum intervensi untuk menilai tekanan intrakardiak dan gradien tekanan secara akurat, serta menilai penyakit arteri koroner.

Klasifikasi (Berdasarkan Area Katup Mitral)

Tingkat keparahan stenosis mitral diklasifikasikan berdasarkan area katup mitral (MVA) yang diukur dengan ekokardiografi.

Tingkat KeparahanArea Katup Mitral (MVA)
Ringan> 1.5 cm2
Sedang1.0 - 1.5 cm2
Berat< 1.0 cm2

Tatalaksana

Tujuan tatalaksana adalah mengurangi gejala, mencegah komplikasi, dan memperbaiki prognosis.

Tatalaksana Non-Farmakologis:

  • Pembatasan asupan natrium.
  • Edukasi pasien tentang gejala dan tanda komplikasi.

Tatalaksana Farmakologis:

  • Diuretik: Untuk mengurangi kongesti paru dan gejala dispnea.
  • Beta-blocker atau Calcium Channel Blocker (non-dihydropyridine): Untuk mengontrol laju ventrikel pada fibrilasi atrium.
  • Antikoagulan (Warfarin atau DOAC): Wajib diberikan pada pasien dengan fibrilasi atrium atau riwayat emboli sistemik, atau jika ada trombus di atrium kiri.
  • Antibiotik profilaksis: Untuk mencegah demam reumatik berulang pada pasien dengan riwayat demam reumatik.

Tatalaksana Intervensional/Bedah:

  • Percutaneous Mitral Commissurotomy (PMC): Pilihan pertama untuk stenosis mitral berat simtomatik dengan anatomi katup yang cocok (tidak ada kalsifikasi berat, tidak ada regurgitasi mitral signifikan).
  • Bedah Rekonstruksi Katup (Mitral Valve Repair): Jika PMC tidak memungkinkan atau tidak berhasil.
  • Penggantian Katup Mitral (Mitral Valve Replacement/MVR): Dilakukan jika katup sangat rusak, kalsifikasi berat, atau jika ada regurgitasi mitral signifikan yang menyertai, atau jika perbaikan katup tidak memungkinkan.

Komplikasi

Beberapa komplikasi yang dapat terjadi pada stenosis mitral meliputi:

  • Fibrilasi Atrium (AF): Sangat umum akibat dilatasi atrium kiri.
  • Emboli Sistemik: Terutama stroke, akibat trombus yang terbentuk di atrium kiri, terutama jika ada AF.
  • Gagal Jantung Kanan: Akibat hipertensi pulmonal kronis.
  • Edema Paru Akut: Dapat dipicu oleh aktivitas berat, demam, atau takiaritmia.
  • Infeksi Endokarditis: Meskipun risiko lebih rendah dibandingkan regurgitasi.

Prognosis

Prognosis stenosis mitral sangat bervariasi tergantung pada tingkat keparahan, ada tidaknya komplikasi (terutama AF dan hipertensi pulmonal), dan respons terhadap tatalaksana.

  • Tanpa intervensi, stenosis mitral berat simtomatik memiliki prognosis yang buruk.
  • Dengan tatalaksana yang tepat, termasuk intervensi, prognosis umumnya membaik secara signifikan.

Referensi

Ada Hadiah Buatmu! Diskon 10% Buat Semua Produk - Kode NEWUSER10

Belajar Jadi Dokter Hebat Cukup dalam Genggaman

Akses materi pembelajaran, video kuliah, dan latihan soal kapan saja di satu aplikasi

4.8
Rating
15K+
Downloads
500+
Doctors
Customer Support umeds