Status Epileptikus

Status Epileptikus adalah kegawatdaruratan neurologi yang membutuhkan penanganan cepat dan tepat! Keterlambatan bisa fatal, loh. Yuk, pahami definisi, klasifikasi, hingga tatalaksana terkini agar kamu siap menghadapi kasus ini di UGD dan sukses di UKMPPD!

Definisi

Status Epileptikus (SE) adalah kondisi kegawatdaruratan neurologi yang ditandai dengan aktivitas kejang yang berkepanjangan atau kejang berulang tanpa pemulihan kesadaran di antara episode kejang.

Secara operasional, SE didefinisikan sebagai:

  • Kejang tonik-klonik umum yang berlangsung lebih dari 5 menit.
  • Kejang fokal atau non-konvulsif yang berlangsung lebih dari 10 menit.
  • Dua atau lebih kejang tanpa pemulihan kesadaran penuh di antara kejang.

Klasifikasi

SE dapat diklasifikasikan berdasarkan manifestasi klinis dan etiologi:

  • Berdasarkan Manifestasi Klinis:
    • Konvulsif (CSE): Melibatkan aktivitas motorik yang jelas (misalnya, tonik-klonik umum, mioklonik, klonik, tonik). Ini adalah bentuk yang paling mudah dikenali dan paling mendesak.
    • Non-konvulsif (NCSE): Tidak melibatkan aktivitas motorik yang jelas, seringkali bermanifestasi sebagai perubahan status mental, kebingungan, atau perilaku abnormal. Diagnosisnya lebih sulit dan sering memerlukan EEG.
  • Berdasarkan Etiologi:
    • Akut Simtomatik: Disebabkan oleh cedera otak akut (misalnya, stroke, trauma kepala, infeksi, ensefalitis).
    • Remote Simtomatik: Disebabkan oleh lesi otak sebelumnya (misalnya, bekas stroke, trauma lama, tumor otak).
    • Progresif Simtomatik: Disebabkan oleh penyakit otak progresif (misalnya, demensia, penyakit neurodegeneratif).
    • Kriptogenik/Idiomatik: Penyebab tidak diketahui atau dianggap genetik.

Etiologi

Penyebab Status Epileptikus sangat bervariasi dan harus diidentifikasi untuk tatalaksana yang tepat:

  • Penyakit Serebrovaskular: Stroke iskemik atau hemoragik.
  • Trauma Kepala: Cedera otak traumatik akut atau kronis.
  • Infeksi Sistem Saraf Pusat: Meningitis, ensefalitis, abses otak.
  • Gangguan Metabolik: Hipoglikemia, hiponatremia, hipokalsemia, uremia, ensefalopati hepatik.
  • Toksik: Overdosis obat (misalnya, antidepresan, kokain), keracunan alkohol, withdrawal alkohol/benzodiazepine.
  • Tumor Otak: Primer atau metastasis.
  • Hipoksia/Anoksia: Kerusakan otak akibat kekurangan oksigen.
  • Autoimun: Ensefalitis autoimun.
  • Penghentian Obat Anti-Epilepsi (OAE) Mendadak: Sering terjadi pada pasien epilepsi yang tidak patuh.

Patofisiologi

Status Epileptikus terjadi ketika mekanisme normal yang menghentikan kejang gagal bekerja secara efektif, atau ketika mekanisme yang memulai kejang menjadi terlalu aktif dan persisten.

Secara umum, ini melibatkan:

  • Kegagalan Mekanisme Inhibisi: Terutama pada sistem GABAergik, di mana reseptor GABA menjadi kurang responsif atau jumlahnya berkurang.
  • Aktivasi Berlebihan Mekanisme Eksitasi: Terutama pada sistem glutamatergik (reseptor NMDA dan AMPA), yang menyebabkan pelepasan neurotransmitter eksitatorik secara terus-menerus.
  • Perubahan ini menyebabkan sirkuit neuronal menjadi hipereksitabel dan mampu mempertahankan aktivitas kejang tanpa henti, mengakibatkan kerusakan neuron dan disfungsi organ jika berkepanjangan.

Manifestasi Klinis

Manifestasi klinis sangat bergantung pada jenis SE:

  • Status Epileptikus Konvulsif (CSE):
    • Kejang tonik-klonik umum yang berkelanjutan (gerakan ritmis pada keempat ekstremitas, diikuti fase tonik dan klonik).
    • Tidak ada pemulihan kesadaran di antara kejang.
    • Tanda-tanda otonom: takikardia, hipertensi, hipertermia, diaforesis, midriasis.
    • Dapat disertai cedera fisik (misalnya, lidah tergigit, trauma).
  • Status Epileptikus Non-Konvulsif (NCSE):
    • Perubahan status mental yang persisten atau berfluktuasi (kebingungan, letargi, stupor, koma).
    • Perilaku abnormal (automatism, tatapan kosong).
    • Gangguan bicara atau bahasa (afasia).
    • Kadang disertai mioklonus halus atau tremor kelopak mata.
    • Seringkali sulit didiagnosis tanpa EEG.

Penegakan Diagnosis

Diagnosis Status Epileptikus adalah klinis, namun konfirmasi dan pencarian etiologi sangat penting:

  • Anamnesis dan Pemeriksaan Fisik:
    • Waktu onset kejang, durasi, jenis kejang, riwayat epilepsi atau penyakit penyerta.
    • Tanda-tanda vital, tanda neurologis fokal atau difus.
    • Evaluasi jalan napas, pernapasan, sirkulasi (ABC).
  • Pemeriksaan Laboratorium:
    • Gula darah (penting untuk menyingkirkan hipoglikemia).
    • Elektrolit (Na, K, Ca, Mg), fungsi ginjal (ureum, kreatinin), fungsi hati.
    • Gas darah arteri (untuk menilai asidosis).
    • Kadar obat anti-epilepsi (jika pasien sudah mengonsumsi).
    • Toksikologi skrining (jika dicurigai intoksikasi).
    • Penanda inflamasi (CRP, procalcitonin) jika dicurigai infeksi.
  • Elektroensefalografi (EEG):
    • Wajib untuk diagnosis NCSE.
    • Membantu mengidentifikasi pola aktivitas epileptiform.
    • Memantau respons terhadap terapi.
  • Neuroimaging (CT Scan Kepala / MRI):
    • Dilakukan segera setelah stabilisasi.
    • Mencari lesi struktural akut (perdarahan, stroke, tumor, abses, edema serebri).
    • MRI lebih sensitif untuk lesi tertentu, tetapi CT scan lebih cepat di gawat darurat.

Tatalaksana

Tatalaksana Status Epileptikus adalah time-sensitive dan harus mengikuti protokol yang terstruktur. Tujuannya adalah menghentikan kejang secepat mungkin dan mencegah kerusakan otak.

  1. Fase Stabilisasi Awal (0-5 menit):
    • Pastikan ABC (Airway, Breathing, Circulation). Posisikan pasien, berikan oksigen, pasang IV line (minimal 2 jalur).
    • Periksa gula darah. Jika hipoglikemia, berikan 50 mL Dextrose 50% IV.
    • Monitor tanda vital (tekanan darah, nadi, saturasi O2, suhu).
    • Ambil sampel darah untuk pemeriksaan laboratorium.
  2. Terapi Lini Pertama (5-20 menit):
    • Berikan Benzodiazepine. Pilihan utama:
      • Lorazepam IV: 0,1 mg/kgBB (maks. 4 mg), dapat diulang 1 kali setelah 5-10 menit.
      • Alternatif jika IV tidak tersedia: Midazolam IM (0,2 mg/kgBB, maks. 10 mg) atau Diazepam IV (0,15-0,2 mg/kgBB, maks. 10 mg, dapat diulang 1 kali) atau Diazepam rektal (0,5 mg/kgBB, maks. 20 mg).
  3. Terapi Lini Kedua (20-40 menit):
    • Jika kejang berlanjut setelah Benzodiazepine, berikan salah satu dari:
      • Fosphenytoin IV: 15-20 mg PE/kgBB (Phenytoin Equivalent) dengan kecepatan 100-150 mg PE/menit.
      • Levetiracetam IV: 20-60 mg/kgBB (maks. 4500 mg) dengan kecepatan 2-5 mg/kgBB/menit.
      • Asam Valproat IV: 20-40 mg/kgBB dengan kecepatan 6 mg/kgBB/menit.
  4. Terapi Lini Ketiga / Refrakter Status Epileptikus (>40 menit):
    • Jika kejang berlanjut setelah lini kedua, pasien dianggap mengalami Refrakter Status Epileptikus (RSE).
    • Pasien harus diintubasi dan dipindahkan ke ICU untuk anestesi umum.
    • Obat yang digunakan:
      • Midazolam IV infus: bolus 0,2 mg/kgBB, lalu infus 0,05-0,4 mg/kgBB/jam.
      • Propofol IV infus: bolus 1-2 mg/kgBB, lalu infus 1-10 mg/kgBB/jam.
      • Pentobarbital IV infus: bolus 5-15 mg/kgBB, lalu infus 0,5-5 mg/kgBB/jam.
    • Terapi ini harus disertai dengan continuous EEG monitoring untuk mencapai burst suppression atau pola isoelektrik.

Komplikasi

Status Epileptikus dapat menyebabkan berbagai komplikasi serius, terutama jika tidak ditangani dengan cepat:

  • Kerusakan Otak Permanen: Akibat eksitotoksisitas dan hipoksia neuron.
  • Edema Serebri: Pembengkakan otak.
  • Asidosis Metabolik: Akibat aktivitas otot yang berlebihan.
  • Rhabdomyolysis: Kerusakan otot yang dapat menyebabkan gagal ginjal akut.
  • Hipertermia: Peningkatan suhu tubuh yang signifikan.
  • Gagal Napas: Depresi pernapasan akibat obat atau kelelahan otot pernapasan.
  • Aspirasi Pneumonia: Akibat gangguan refleks menelan saat kejang.
  • Disritmia Jantung: Gangguan irama jantung.
  • Kematian.

Prognosis

Prognosis Status Epileptikus bervariasi tergantung pada beberapa faktor:

  • Etiologi: SE yang disebabkan oleh stroke atau anoksia memiliki prognosis yang lebih buruk dibandingkan dengan SE yang disebabkan oleh penghentian OAE.
  • Durasi SE: Semakin lama durasi SE, semakin tinggi risiko kerusakan otak permanen dan mortalitas.
  • Usia Pasien: Pasien yang sangat muda atau sangat tua umumnya memiliki prognosis yang lebih buruk.
  • Respons terhadap Terapi: Respons cepat terhadap terapi lini pertama dikaitkan dengan hasil yang lebih baik.
  • Adanya Komplikasi: Komplikasi seperti gagal napas, rhabdomyolysis, atau disritmia jantung memperburuk prognosis.

Mortalitas SE berkisar antara 10-30%, dengan angka morbiditas yang signifikan pada pasien yang selamat.

Referensi

Ada Hadiah Buatmu! Diskon 10% Buat Semua Produk - Kode NEWUSER10

Belajar Jadi Dokter Hebat Cukup dalam Genggaman

Akses materi pembelajaran, video kuliah, dan latihan soal kapan saja di satu aplikasi

4.8
Rating
15K+
Downloads
500+
Doctors
Customer Support umeds