Spondilitis TB

Spondilitis TB, atau TBC tulang belakang, adalah manifestasi TB ekstraparu yang paling merusak sistem muskuloskeletal. Kondisi ini seringkali terlewatkan diagnosis awalnya, padahal dapat menyebabkan komplikasi neurologis serius seperti kelumpuhan. Menguasai Spondilitis TB sangat krusial untuk UKMPPD, mulai dari patofisiologi, manifestasi klinis yang khas, hingga tatalaksana komprehensif. Yuk, pelajari selengkapnya agar kamu siap menghadapi kasusnya!

Definisi

Spondilitis TB (juga dikenal sebagai Pott's Disease atau TBC Vertebra) adalah infeksi tulang belakang yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis. Ini merupakan bentuk TB ekstraparu yang paling umum melibatkan sistem muskuloskeletal, seringkali menyerang korpus vertebra torakal dan lumbal.

Etiologi

Penyebab utama Spondilitis TB adalah infeksi oleh Mycobacterium tuberculosis. Infeksi ini biasanya menyebar secara hematogen (melalui aliran darah) dari fokus primer di paru-paru atau organ lain ke tulang belakang.

Patogenesis

Bakteri Mycobacterium tuberculosis mencapai tulang belakang melalui sirkulasi darah, biasanya dari lesi primer di paru-paru. Mereka cenderung bersarang di daerah yang kaya vaskularisasi, seperti bagian anterior korpus vertebra.

  • Infeksi menyebabkan pembentukan granuloma kaseosa dan destruksi tulang.
  • Dua vertebra yang berdekatan dan diskus intervertebralis sering terlibat karena suplai darah yang sama.
  • Destruksi tulang dapat menyebabkan kolaps vertebra, pembentukan abses dingin (kumpulan nanah tanpa tanda inflamasi akut), dan deformitas tulang belakang seperti kifosis (gibbus).
  • Abses dingin dapat menyebar ke jaringan lunak sekitar, bahkan hingga ke psoas (abses psoas) atau menekan medula spinalis, menyebabkan defisit neurologis.

Manifestasi Klinis

Gejala Spondilitis TB bersifat non-spesifik pada tahap awal dan berkembang secara perlahan. Penting untuk mencari tanda dan gejala berikut:

  • Nyeri punggung kronis: Seringkali terlokalisir, persisten, dan memburuk pada malam hari atau dengan aktivitas.
  • Kekakuan punggung: Terutama di pagi hari.
  • Gejala konstitusional: Demam subfebris, keringat malam, penurunan berat badan, malaise, anoreksia (seringkali tidak sejelas pada TB paru).
  • Deformitas tulang belakang: Kifosis progresif atau gibbus (penonjolan tajam tulang belakang) akibat kolaps vertebra.
  • Nyeri tekan lokal: Pada area tulang belakang yang terlibat.
  • Spasme otot paravertebra.
  • Defisit neurologis: Terjadi pada sekitar 10-40% kasus, akibat kompresi medula spinalis atau radiks saraf. Manifestasinya bisa berupa radikulopati, kelemahan anggota gerak, parestesia, hingga paraplegia.
  • Abses dingin: Terkadang teraba massa lunak di daerah paravertebra atau psoas.

Penegakan Diagnosis

Diagnosis Spondilitis TB memerlukan kombinasi anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang.

Anamnesis dan Pemeriksaan Fisik

  • Riwayat kontak TB atau riwayat TB sebelumnya.
  • Gejala nyeri punggung kronis, gejala konstitusional.
  • Pemeriksaan fisik meliputi inspeksi (gibbus), palpasi (nyeri tekan), dan evaluasi neurologis lengkap.

Pemeriksaan Penunjang

  • Laboratorium:
    • Laju Endap Darah (LED) dan C-Reactive Protein (CRP): Sering meningkat, menunjukkan adanya inflamasi.
    • Hitung leukosit: Biasanya normal atau sedikit meningkat.
    • Uji Mantoux (PPD) atau Interferon-Gamma Release Assay (IGRA): Dapat positif, menunjukkan paparan TB, namun tidak spesifik untuk TB aktif.
  • Radiologi:
    • Rontgen Vertebra (AP/Lateral): Menunjukkan penyempitan ruang diskus, destruksi korpus vertebra (lesi litik), sklerosis, kolaps vertebra, dan deformitas kifosis.
    • CT-Scan: Memberikan gambaran detail destruksi tulang, abses, dan fragmentasi tulang.
    • MRI: Merupakan modalitas pilihan untuk mengevaluasi jaringan lunak, abses paravertebra, kompresi medula spinalis, dan lesi awal yang belum terlihat di rontgen.
  • Biopsi dan Pemeriksaan Mikrobiologi/Histopatologi:
    • Biopsi jarum terpandu CT-Scan atau biopsi terbuka: Merupakan standar emas diagnosis definitif.
    • Pemeriksaan histopatologi: Menemukan granuloma kaseosa dengan sel Langhans.
    • Pemeriksaan mikrobiologi: Kultur kuman Mycobacterium tuberculosis dan identifikasi Basil Tahan Asam (BTA) dengan pewarnaan Ziehl-Neelsen.
    • Tes cepat molekuler (misalnya GeneXpert MTB/RIF): Untuk deteksi MTB dan resistensi rifampisin.

Diagnosis Banding

Beberapa kondisi dapat menyerupai Spondilitis TB, sehingga penting untuk mempertimbangkan diagnosis banding:

KondisiCiri Khas
Spondilitis Pirogenik (Bakterial)Onset lebih akut, demam tinggi, leukositosis signifikan, nyeri lebih berat, kultur darah/jaringan sering positif bakteri piogenik, destruksi diskus lebih menonjol di awal.
Tumor Metastatik Tulang BelakangRiwayat keganasan primer, nyeri lebih terlokalisir, destruksi tulang biasanya litik atau blastik, jarang melibatkan diskus secara primer, gejala konstitusional mungkin ada.
Multiple MyelomaNyeri tulang difus, lesi punched-out di rontgen, anemia, gagal ginjal, protein M di serum/urin.
Hernia Nukleus Pulposus (HNP)Nyeri radikular dominan, tidak ada gejala konstitusional, gambaran MRI khas HNP, tidak ada destruksi tulang.
Spondiloartropati SeronegatifMelibatkan sendi sakroiliaka, uveitis, entesitis, HLA-B27 positif, tidak ada destruksi tulang vertebra yang masif seperti TB.

Tatalaksana

Tatalaksana Spondilitis TB melibatkan kombinasi terapi medikamentosa dan, pada kasus tertentu, tindakan bedah.

Tatalaksana Farmakologis (Obat Anti-Tuberkulosis/OAT)

Terapi OAT merupakan pilar utama penanganan Spondilitis TB. Regimen standar yang digunakan adalah:

  • Fase Intensif: 2 bulan dengan 4 jenis obat (Isoniazid, Rifampisin, Pirazinamid, Etambutol atau HRZE).
  • Fase Lanjutan: 7-10 bulan dengan 2 jenis obat (Isoniazid, Rifampisin atau HR).
  • Durasi total: Umumnya 9-12 bulan, bisa lebih lama tergantung respons klinis dan radiologis.
  • Penting untuk memastikan kepatuhan pasien terhadap regimen OAT untuk mencegah resistensi obat.

Tatalaksana Non-Farmakologis dan Suportif

  • Imobilisasi: Penggunaan korset atau brace untuk menstabilkan tulang belakang dan mengurangi nyeri, terutama pada kasus tanpa instabilitas berat atau defisit neurologis.
  • Manajemen nyeri: Analgesik sesuai kebutuhan.
  • Nutrisi adekuat: Untuk mendukung penyembuhan.

Tatalaksana Bedah

Indikasi tindakan bedah pada Spondilitis TB meliputi:

  • Defisit neurologis progresif: Untuk dekompresi medula spinalis atau radiks saraf.
  • Instabilitas tulang belakang: Untuk stabilisasi dan mencegah kolaps lebih lanjut.
  • Deformitas berat: Kifosis progresif yang mengganggu fungsi atau estetika.
  • Abses besar: Yang tidak responsif terhadap OAT atau menyebabkan kompresi.
  • Kegagalan terapi OAT: Jika tidak ada perbaikan klinis atau radiologis setelah pengobatan yang adekuat.
  • Prosedur bedah dapat berupa debridement lesi, dekompresi saraf, dan fusi tulang belakang.

Komplikasi

Spondilitis TB dapat menyebabkan berbagai komplikasi serius jika tidak ditangani dengan tepat:

  • Kifosis/Gibbus: Deformitas tulang belakang yang permanen.
  • Kompresi Medula Spinalis: Dapat menyebabkan mielopati, paraplegia, atau quadriplegia, tergantung level lesi.
  • Abses Dingin: Dapat pecah dan membentuk fistula atau sinus ke kulit.
  • Nyeri Kronis: Akibat kerusakan tulang dan sendi.
  • Instabilitas Tulang Belakang: Meningkatkan risiko cedera lebih lanjut.
  • Keterbatasan Gerak: Pada tulang belakang yang terkena.

Prognosis

Prognosis Spondilitis TB umumnya baik jika diagnosis ditegakkan dini dan terapi OAT diberikan secara adekuat dan tuntas. Komplikasi neurologis dapat membaik dengan dekompresi dan OAT. Namun, deformitas tulang belakang (kifosis) mungkin menetap.

Edukasi & Pencegahan

Edukasi pasien sangat penting untuk keberhasilan terapi dan pencegahan komplikasi:

  • Kepatuhan minum OAT: Menjelaskan pentingnya menyelesaikan seluruh durasi pengobatan untuk mencegah resistensi dan kekambuhan.
  • Tanda bahaya: Mengedukasi pasien tentang gejala defisit neurologis yang memerlukan penanganan segera.
  • Pencegahan: Vaksinasi BCG, perbaikan sanitasi dan gizi, serta penemuan dan pengobatan dini kasus TB paru untuk mencegah penyebaran.

Referensi

Ada Hadiah Buatmu! Diskon 10% Buat Semua Produk - Kode NEWUSER10

Belajar Jadi Dokter Hebat Cukup dalam Genggaman

Akses materi pembelajaran, video kuliah, dan latihan soal kapan saja di satu aplikasi

4.8
Rating
15K+
Downloads
500+
Doctors
Customer Support umeds