Sinusitis Akut dan Kronis

Sering sakit kepala, hidung tersumbat, atau ingus kental kehijauan yang tak kunjung sembuh? Hati-hati, itu bisa jadi sinusitis! Kondisi peradangan pada sinus paranasal ini sangat umum ditemui dan sering jadi jebakan di UKMPPD. Yuk, kuasai seluk-beluknya mulai dari definisi, gejala, hingga tatalaksana yang tepat agar kamu siap menghadapi soal-soal sulit dan menjadi dokter yang kompeten!

Definisi

Sinusitis adalah kondisi peradangan pada mukosa sinus paranasal, yaitu rongga-rongga berisi udara di dalam tulang wajah yang terhubung dengan rongga hidung. Peradangan ini dapat disebabkan oleh infeksi (virus, bakteri, jamur) atau faktor non-infeksi (alergi, iritasi).

Kondisi ini seringkali diawali oleh rinitis, sehingga istilah rinosinusitis lebih akurat karena peradangan biasanya melibatkan mukosa hidung dan sinus secara bersamaan.

Etiologi & Faktor Risiko

Etiologi sinusitis sangat bervariasi, namun umumnya melibatkan kombinasi faktor yang menyebabkan obstruksi ostium sinus dan gangguan klirens mukosiliar.

  • Infeksi:
    • Virus: Penyebab tersering sinusitis akut (misalnya Rhinovirus, Adenovirus, Influenza virus).
    • Bakteri: Sering merupakan komplikasi infeksi virus. Bakteri tersering adalah Streptococcus pneumoniae, Haemophilus influenzae, Moraxella catarrhalis. Pada sinusitis kronis, bisa juga Staphylococcus aureus, Pseudomonas aeruginosa.
    • Jamur: Lebih jarang, sering pada pasien imunokompromais (misalnya Aspergillus, Mucor).
  • Alergi: Rinitis alergi dapat menyebabkan edema mukosa dan obstruksi ostium sinus.
  • Faktor Anatomis: Deviasi septum, hipertrofi konka, polip hidung, tumor.
  • Faktor Lingkungan/Gaya Hidup: Merokok, polusi udara, paparan iritan, perubahan tekanan udara (misalnya saat menyelam atau terbang).
  • Kondisi Medis Lain: Imunodefisiensi, fibrosis kistik, sindrom Kartagener, refluks gastroesofageal.
  • Dental: Infeksi gigi rahang atas (sinusitis odontogenik).

Klasifikasi

Sinusitis dapat diklasifikasikan berdasarkan durasi dan lokasi.

  • Berdasarkan Durasi:
    • Sinusitis Akut: Gejala berlangsung < 4 minggu.
    • Sinusitis Subakut: Gejala berlangsung 4-12 minggu.
    • Sinusitis Kronis: Gejala berlangsung > 12 minggu.
    • Sinusitis Rekuren Akut: ≥ 4 episode per tahun, dengan resolusi total di antara episode.
  • Berdasarkan Lokasi:
    • Sinusitis Maksilaris: Paling sering.
    • Sinusitis Etmoidalis: Kedua tersering.
    • Sinusitis Frontalis:
    • Sinusitis Sfenoidalis: Paling jarang, paling berbahaya karena dekat struktur vital.
    • Pansinusitis: Melibatkan semua sinus pada satu sisi atau kedua sisi.

Patofisiologi

Patofisiologi sinusitis melibatkan tiga faktor utama yang saling berkaitan:

  1. Obstruksi Ostium Sinus: Edema mukosa akibat infeksi virus, alergi, polip, atau deviasi septum menghambat drainase sinus.
  2. Gangguan Klirens Mukosiliar: Silia yang melapisi mukosa sinus berfungsi mendorong mukus keluar. Peradangan, infeksi, atau iritan dapat merusak fungsi silia.
  3. Perubahan Komposisi Sekresi Mukus: Mukus menjadi lebih kental dan sulit dikeluarkan, menciptakan lingkungan yang ideal untuk pertumbuhan bakteri.

Ketiga faktor ini menyebabkan penumpukan sekret di dalam sinus, menciptakan lingkungan anaerobik, dan memfasilitasi pertumbuhan mikroorganisme, terutama bakteri, yang kemudian memperparah peradangan.

Manifestasi Klinis

Gejala sinusitis bervariasi tergantung jenis dan lokasi, namun ada beberapa gejala umum yang perlu diwaspadai.

  • Gejala Mayor:
    • Nyeri/rasa tertekan pada wajah
    • Hidung tersumbat/kongesti
    • Sekret hidung purulen (ingus kental kuning/hijau)
    • Post-nasal drip (ingus menetes ke tenggorokan)
    • Anosmia/Hiposmia (penurunan/hilangnya penciuman)
    • Demam (lebih sering pada sinusitis akut)
  • Gejala Minor:
    • Sakit kepala
    • Nyeri telinga
    • Halitosis (bau mulut)
    • Nyeri gigi
    • Batuk
    • Lelah/malaise

Perbedaan penting antara sinusitis akut dan kronis:

  • Sinusitis Akut: Gejala muncul mendadak, sering didahului infeksi saluran napas atas, demam lebih sering, nyeri wajah lebih intens.
  • Sinusitis Kronis: Gejala persisten > 12 minggu, seringkali lebih ringan namun mengganggu kualitas hidup, demam jarang, mungkin ada polip hidung.

Penegakan Diagnosis

Diagnosis sinusitis ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang.

Anamnesis

  • Tanyakan durasi dan karakteristik gejala (mayor dan minor).
  • Riwayat alergi, infeksi saluran napas atas, trauma wajah, atau masalah gigi.
  • Faktor risiko seperti merokok atau paparan iritan.

Pemeriksaan Fisik

  • Rinoskopi Anterior: Lihat mukosa hidung (edema, hiperemi), sekret purulen, polip, deviasi septum.
  • Rinoskopi Posterior/Endoskopi Hidung: Memungkinkan visualisasi ostium sinus dan sekret di meatus media.
  • Palpasi Wajah: Nyeri tekan pada area sinus maksilaris (pipi), frontalis (dahi), atau etmoidalis (antara mata).
  • Transiluminasi: Sinus yang meradang mungkin tampak lebih gelap.

Pemeriksaan Penunjang

  • Pencitraan:
    • Rontgen Sinus Paranasal (Waters, Caldwell, Lateral): Dapat menunjukkan perselubungan, air-fluid level, atau penebalan mukosa. Kurang sensitif dan spesifik dibandingkan CT-Scan.
    • CT-Scan Sinus Paranasal: Gold standar untuk diagnosis sinusitis kronis dan evaluasi pre-operasi. Memberikan gambaran detail anatomi dan patologi sinus.
    • MRI: Digunakan jika dicurigai komplikasi intrakranial atau tumor.
  • Kultur dan Tes Sensitivitas: Dilakukan jika sinusitis tidak responsif terhadap terapi empiris, terutama pada sinusitis kronis atau komplikasi.
  • Endoskopi Hidung Diagnostik: Memungkinkan visualisasi langsung, pengambilan sampel, dan identifikasi anomali.

Diagnosis Banding

Beberapa kondisi memiliki gejala yang mirip dengan sinusitis. Penting untuk membedakannya.

KondisiPerbedaan Kunci dengan Sinusitis
Rinitis AlergiGejala musiman, gatal hidung dan mata dominan, bersin berulang, sekret hidung jernih, tidak ada nyeri wajah yang signifikan.
Rinitis VasomotorGejala dipicu perubahan suhu/kelembaban, bau menyengat; tidak ada gatal, sekret jernih, tidak ada tanda infeksi.
Migrain/Tension HeadacheNyeri kepala dominan, tidak disertai sekret purulen atau hidung tersumbat, tidak ada demam.
Neuralgia TrigeminalNyeri wajah unilateral, tajam, seperti tersetrum, episodik, dipicu sentuhan/gerakan; tidak ada gejala hidung.
Polip HidungObstruksi hidung kronis, hiposmia, namun tanpa tanda infeksi akut kecuali terinfeksi sekunder. Terlihat massa pada pemeriksaan.

Tatalaksana

Tatalaksana sinusitis bertujuan untuk meredakan gejala, mengeliminasi infeksi, dan mencegah komplikasi.

Tatalaksana Non-Farmakologis

  • Irigasi Nasal Saline: Membantu membersihkan mukus dan iritan, mengurangi edema mukosa.
  • Kompres Hangat: Pada wajah untuk meredakan nyeri.
  • Istirahat Cukup dan Hidrasi Adekuat: Mendukung pemulihan tubuh.
  • Menghindari Pemicu: Asap rokok, alergen.

Tatalaksana Farmakologis

  • Antibiotik:
    • Indikasi: Sinusitis bakteri akut (gejala berat, persisten > 10 hari, atau memburuk setelah perbaikan awal).
    • Pilihan: Amoksisilin, Amoksisilin-klavulanat (lini pertama). Jika alergi penisilin: Doksisiklin, Levofloksasin, Moksifloksasin.
    • Durasi: Umumnya 10-14 hari untuk akut, lebih lama untuk kronis (3-4 minggu).
  • Kortikosteroid Intranasal: Mengurangi peradangan mukosa dan edema, efektif untuk sinusitis akut dan kronis.
  • Dekongestan Oral/Topikal: Mengurangi kongesti hidung. Penggunaan topikal tidak boleh > 3-5 hari untuk menghindari rinitis medikamentosa.
  • Analgetik/Antipiretik: Parasetamol atau NSAID untuk nyeri dan demam.
  • Mukolitik: Membantu mengencerkan sekret.

Tindakan Invasif/Bedah

  • Pungsi Sinus: Untuk drainase dan pengambilan sampel kultur, terutama pada sinusitis akut berat yang tidak responsif.
  • Fungsional Endoscopic Sinus Surgery (FESS): Indikasi pada sinusitis kronis yang tidak responsif terhadap terapi medis, komplikasi, atau anomali anatomis. Bertujuan membuka ostium sinus dan mengembalikan drainase alami.

Komplikasi

Meskipun jarang, sinusitis dapat menyebabkan komplikasi serius, terutama jika tidak ditangani dengan baik.

  • Orbital: Selulitis periorbita/orbita, abses subperiosteal, abses orbita, trombosis sinus kavernosus.
  • Intrakranial: Meningitis, abses epidural, abses subdural, abses otak.
  • Tulang: Osteomielitis (misalnya Pott's puffy tumor pada sinus frontalis).
  • Lain-lain: Asma yang memburuk, bronkitis kronis.

Edukasi & Pencegahan

Edukasi pasien sangat penting untuk pencegahan dan manajemen sinusitis.

  • Menghindari Pemicu: Jauhi asap rokok, alergen, dan iritan lingkungan.
  • Menjaga Kebersihan Hidung: Irigasi nasal salin secara teratur.
  • Mengobati Rinitis Alergi: Kontrol alergi dengan antihistamin atau kortikosteroid intranasal.
  • Vaksinasi: Vaksinasi influenza dan pneumokokus dapat mengurangi risiko infeksi saluran napas atas yang memicu sinusitis.
  • Hidrasi Cukup: Menjaga mukosa tetap lembap.
  • Mencuci Tangan: Untuk mencegah penyebaran infeksi virus.

Referensi

Ada Hadiah Buatmu! Diskon 10% Buat Semua Produk - Kode NEWUSER10

Belajar Jadi Dokter Hebat Cukup dalam Genggaman

Akses materi pembelajaran, video kuliah, dan latihan soal kapan saja di satu aplikasi

4.8
Rating
15K+
Downloads
500+
Doctors
Customer Support umeds