Sindrom Nefrotik adalah suatu kondisi klinis yang ditandai oleh tetrad gejala: proteinuria masif (>3,5 g/1,73 m²/24 jam pada dewasa atau >50 mg/kgBB/24 jam pada anak), hipoalbuminemia (
Kondisi ini merupakan manifestasi dari kerusakan pada membran basal glomerulus yang menyebabkan peningkatan permeabilitas terhadap protein plasma.
Sindrom Nefrotik dapat dibagi menjadi primer (idiopatik) dan sekunder.
Patofisiologi utama Sindrom Nefrotik berpusat pada kerusakan sawar filtrasi glomerulus, yang menyebabkan peningkatan permeabilitas terhadap protein.
Gejala klasik Sindrom Nefrotik meliputi:
Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan laboratorium.
Pemeriksaan laboratorium esensial untuk mengonfirmasi diagnosis dan menilai etiologi serta komplikasi.
Penting untuk membedakan Sindrom Nefrotik dari kondisi lain yang juga menyebabkan edema.
| Kondisi | Proteinuria | Hipoalbuminemia | Edema | Ciri Khas Lain |
| Gagal Jantung Kongestif | Ringan-sedang | Normal | Pitting, dependen, dispnea, ortopnea, JVP meningkat | Kardiomegali, S3 gallop |
| Sirosis Hati | Ringan-sedang | Ada | Asites dominan, spider nevi, ikterus, hepatomegali/atrofi | Penyakit hati kronis, koagulopati |
| Malnutrisi Berat (Kwashiorkor) | Tidak ada/ringan | Ada | Generalisata | Riwayat diet buruk, atrofi otot, perubahan kulit/rambut |
| Gagal Ginjal Akut/Kronis | Bervariasi | Bervariasi | Bervariasi, uremia, peningkatan kreatinin/BUN | Penurunan GFR, anemia, asidosis metabolik |
Tujuan tatalaksana adalah meredakan gejala, mencegah komplikasi, dan mengobati penyakit dasar.
Sindrom Nefrotik dapat menyebabkan berbagai komplikasi serius.
Edukasi pasien dan keluarga sangat penting untuk manajemen jangka panjang.

Akses materi pembelajaran, video kuliah, dan latihan soal kapan saja di satu aplikasi