Pada sialadenitis bakterial, patofisiologi utama melibatkan obstruksi duktus kelenjar ludah (misalnya oleh batu atau striktur) yang menyebabkan stasis saliva. Saliva yang stagnan menjadi media ideal bagi bakteri dari rongga mulut untuk naik ke duktus dan berkembang biak, menyebabkan infeksi dan inflamasi.
Pada parotitis viral (mumps), virus secara langsung menginfeksi sel-sel kelenjar parotis, memicu respons inflamasi dan pembengkakan.
Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang.
| Kondisi | Karakteristik Khas |
|---|---|
| Limfadenitis | Pembengkakan nodus limfe, bukan kelenjar ludah, seringkali multiple dan mobil. |
| Selulitis | Inflamasi difus jaringan lunak, batas tidak jelas, nyeri hebat, tanpa keterlibatan kelenjar ludah primer. |
| Tumor Kelenjar Ludah | Massa padat, seringkali tidak nyeri, progresif, umumnya unilateral. |
| Kista Brankial | Massa kistik di leher, kongenital, lokasi khas di lateral leher. |
| Infeksi Gigi/Abses Odontogenik | Nyeri gigi, karies, pembengkakan terlokalisir di rahang atau dasar mulut. |
| Sindrom Sjögren | Kondisi autoimun dengan xerostomia (mulut kering) dan xerophthalmia (mata kering), pembengkakan kelenjar ludah rekuren. |

Akses materi pembelajaran, video kuliah, dan latihan soal kapan saja di satu aplikasi