Sialadenitis (Termasuk Parotitis)

Hai calon dokter! Sialadenitis, infeksi kelenjar ludah, seringkali disalahartikan sebagai gondongan biasa. Padahal, penyebab dan penanganannya bisa sangat bervariasi, lho. Jangan sampai keliru saat UKMPPD! Yuk, kita bedah tuntas mulai dari definisi, etiologi, hingga tatalaksana yang tepat agar kamu siap menghadapi kasusnya!

Definisi

Sialadenitis adalah kondisi inflamasi atau infeksi pada salah satu atau lebih kelenjar ludah mayor (parotis, submandibular, sublingual) atau minor.

Parotitis secara spesifik merujuk pada sialadenitis yang terjadi pada kelenjar parotis, kelenjar ludah terbesar.

Etiologi

  • Bakterial: Paling sering disebabkan oleh Staphylococcus aureus, diikuti oleh Streptococcus viridans, Haemophilus influenzae. Biasanya terjadi akibat obstruksi duktus dan stasis saliva.
  • Viral: Paling sering oleh Virus Mumps (gondongan), juga bisa disebabkan oleh Cytomegalovirus (CMV), Epstein-Barr Virus (EBV), atau HIV.
  • Obstruktif: Adanya Sialolithiasis (batu duktus kelenjar ludah) yang menyebabkan stasis saliva dan predisposisi infeksi sekunder.
  • Autoimun: Seperti pada Sindrom Sjögren, yang dapat menyebabkan pembengkakan kelenjar ludah rekuren.
  • Lain-lain: Dehidrasi, malnutrisi, imunosupresi, obat-obatan (misalnya antikolinergik).

Faktor Risiko

  • Dehidrasi dan malnutrisi, yang mengurangi aliran saliva.
  • Usia lanjut, terutama pada pasien pascaoperasi atau yang dirawat di rumah sakit.
  • Imunosupresi (misalnya pada pasien HIV, kemoterapi).
  • Penggunaan obat-obatan yang mengurangi produksi saliva (misalnya antikolinergik, diuretik).
  • Riwayat radiasi pada area kepala dan leher.
  • Adanya obstruksi duktus, seperti sialolithiasis atau striktur.
  • Kebersihan mulut yang buruk.

Patofisiologi

Pada sialadenitis bakterial, patofisiologi utama melibatkan obstruksi duktus kelenjar ludah (misalnya oleh batu atau striktur) yang menyebabkan stasis saliva. Saliva yang stagnan menjadi media ideal bagi bakteri dari rongga mulut untuk naik ke duktus dan berkembang biak, menyebabkan infeksi dan inflamasi.

Pada parotitis viral (mumps), virus secara langsung menginfeksi sel-sel kelenjar parotis, memicu respons inflamasi dan pembengkakan.

Manifestasi Klinis

  • Nyeri dan pembengkakan pada kelenjar ludah yang terkena (unilateral atau bilateral, tergantung etiologi).
  • Eritema (kemerahan) dan nyeri tekan pada kulit di atas kelenjar yang meradang.
  • Demam, malaise, dan nyeri kepala (lebih sering pada infeksi bakterial atau viral).
  • Pada sialadenitis bakterial: Dapat ditemukan pus yang keluar dari orifisium duktus kelenjar saat dipalpasi atau diperas.
  • Trismus (kesulitan membuka mulut) dapat terjadi pada parotitis berat.
  • Pada Mumps: Pembengkakan kelenjar parotis bilateral, nyeri saat mengunyah, dan nyeri telinga sering ditemukan.

Penegakan Diagnosis

Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang.

  • Anamnesis: Tanyakan onset, lokasi, durasi nyeri dan bengkak, riwayat demam, mual/muntah, riwayat gondongan/vaksinasi, riwayat batu kelenjar ludah, dan penggunaan obat-obatan.
  • Pemeriksaan Fisik:
    • Inspeksi: Perhatikan pembengkakan, eritema, dan asimetri pada area kelenjar ludah.
    • Palpasi: Rasakan nyeri tekan, konsistensi (lunak, keras, fluktuasi), dan apakah teraba massa.
    • Inspeksi orifisium duktus: Perhatikan kemerahan, pembengkakan, dan apakah keluar pus saat kelenjar dipalpasi ('milking' kelenjar).

Pemeriksaan Penunjang

  • Laboratorium:
    • Darah lengkap: Leukositosis dengan shift to the left menunjukkan infeksi bakterial.
    • Kultur pus: Jika ada eksudat purulen, untuk identifikasi bakteri dan sensitivitas antibiotik.
    • Amilase/Lipase: Dapat meningkat pada parotitis (kelenjar parotis menghasilkan amilase), perlu dibedakan dengan pankreatitis.
  • Pencitraan:
    • USG (Ultrasonografi): Pilihan pertama, non-invasif, dapat mendeteksi abses, dilatasi duktus, atau sialolith (batu).
    • CT-scan (Computed Tomography): Jika ada kecurigaan komplikasi (abses dalam, osteomielitis) atau untuk menyingkirkan diagnosis banding tumor.
    • Sialografi: Jarang dilakukan, untuk visualisasi sistem duktus dan mendeteksi obstruksi atau striktur.

Diagnosis Banding

KondisiKarakteristik Khas
LimfadenitisPembengkakan nodus limfe, bukan kelenjar ludah, seringkali multiple dan mobil.
SelulitisInflamasi difus jaringan lunak, batas tidak jelas, nyeri hebat, tanpa keterlibatan kelenjar ludah primer.
Tumor Kelenjar LudahMassa padat, seringkali tidak nyeri, progresif, umumnya unilateral.
Kista BrankialMassa kistik di leher, kongenital, lokasi khas di lateral leher.
Infeksi Gigi/Abses OdontogenikNyeri gigi, karies, pembengkakan terlokalisir di rahang atau dasar mulut.
Sindrom SjögrenKondisi autoimun dengan xerostomia (mulut kering) dan xerophthalmia (mata kering), pembengkakan kelenjar ludah rekuren.

Tatalaksana

  • Non-Farmakologis:
    • Hidrasi adekuat: Sangat penting untuk melarutkan saliva dan mencegah stasis.
    • Kompres hangat pada area yang bengkak untuk mengurangi nyeri dan inflamasi.
    • Pijat kelenjar yang terkena secara lembut untuk membantu mengeluarkan saliva dan pus.
    • Sialogogue: Makanan atau permen asam (misalnya lemon drops) untuk merangsang produksi dan aliran saliva.
    • Menjaga kebersihan mulut yang baik.
  • Farmakologis:
    • Antibiotik: Untuk sialadenitis bakterial.
      • Empiris: Klindamisin atau kombinasi Amoksisilin-Klavulanat, mencakup bakteri gram positif dan anaerob.
      • Disesuaikan berdasarkan hasil kultur dan sensitivitas jika tersedia.
    • Analgesik dan Antipiretik: Parasetamol atau NSAID untuk meredakan nyeri dan demam.
    • Antiviral: Tidak ada terapi spesifik untuk parotitis mumps, tatalaksana bersifat suportif.
  • Tindakan Medis/Bedah:
    • Drainase abses: Jika terbentuk abses (teraba fluktuasi), diperlukan insisi dan drainase.
    • Sialoendoskopi atau litotripsi: Untuk mengeluarkan sialolith (batu) dari duktus.
    • Sialoadenektomi: Pengangkatan kelenjar ludah (jarang, dipertimbangkan untuk kasus rekuren, obstruksi ireversibel, atau komplikasi berat).

Komplikasi

  • Pembentukan abses pada kelenjar ludah.
  • Selulitis fasial atau leher yang meluas.
  • Fistula kutaneus (jarang).
  • Osteomielitis pada tulang rahang (jarang).
  • Sepsis (jarang, namun serius).
  • Paralisis nervus fasialis (pada parotitis berat atau sebagai komplikasi bedah).

Prognosis

Prognosis sialadenitis umumnya baik dengan diagnosis dini dan tatalaksana yang adekuat. Kasus yang tidak ditangani dengan baik dapat menyebabkan komplikasi serius.

Edukasi & Pencegahan

  • Vaksinasi MMR: Sangat efektif untuk mencegah parotitis mumps.
  • Menjaga hidrasi adekuat: Minum air yang cukup untuk menjaga aliran saliva.
  • Menjaga kebersihan mulut yang baik.
  • Menghindari obat-obatan yang dapat menyebabkan mulut kering jika memungkinkan, atau mengelola efek sampingnya.

Referensi

Ada Hadiah Buatmu! Diskon 10% Buat Semua Produk - Kode NEWUSER10

Belajar Jadi Dokter Hebat Cukup dalam Genggaman

Akses materi pembelajaran, video kuliah, dan latihan soal kapan saja di satu aplikasi

4.8
Rating
15K+
Downloads
500+
Doctors
Customer Support umeds