Sarkoidosis

Sarkoidosis adalah penyakit granulomatosa multisistem yang etiologinya belum diketahui pasti, namun seringkali melibatkan paru-paru dan kelenjar getah bening. Manifestasinya sangat bervariasi, membuatnya menjadi tantangan diagnostik yang menarik. Sering muncul di UKMPPD dan penting dikuasai. Penasaran bagaimana cara mengenalinya dan apa tatalaksananya? Yuk, pelajari selengkapnya di sini!

Definisi

Sarkoidosis adalah penyakit inflamasi kronis multisistem yang ditandai dengan pembentukan granuloma non-kaseosa (tidak mengalami nekrosis sentral) pada satu atau lebih organ. Meskipun etiologinya belum sepenuhnya dipahami, penyakit ini diperkirakan melibatkan respons imun abnormal terhadap agen lingkungan pada individu yang rentan secara genetik.

Etiologi & Patogenesis

Etiologi sarkoidosis masih idiopatik (tidak diketahui). Namun, beberapa faktor diduga berperan:

  • Faktor Genetik: Adanya predisposisi genetik, terlihat dari kecenderungan familial dan perbedaan prevalensi antar etnis.
  • Faktor Lingkungan: Paparan terhadap agen infeksius (misalnya, Mycobacterium atipik, Propionibacterium acnes) atau non-infeksius (misalnya, berilium, silika) diduga dapat memicu respons imun.
  • Disfungsi Imun: Ditandai dengan aktivasi sel T helper 1 (Th1) yang berlebihan, pelepasan sitokin pro-inflamasi (TNF-α, IL-2, IFN-γ), dan pembentukan granuloma non-kaseosa.

Epidemiologi & Faktor Risiko

Sarkoidosis dapat menyerang semua usia, namun paling sering pada dewasa muda (20-40 tahun). Prevalensi bervariasi antar populasi:

  • Lebih tinggi pada ras Afrika-Amerika dan penduduk Eropa Utara.
  • Wanita sedikit lebih sering terkena dibandingkan pria.
  • Riwayat keluarga dengan sarkoidosis meningkatkan risiko.

Manifestasi Klinis

Manifestasi klinis sarkoidosis sangat bervariasi tergantung organ yang terlibat. Sekitar 90% kasus melibatkan paru-paru.

  • Gejala Umum: Kelelahan (fatigue), demam, penurunan berat badan, malaise.
  • Paru (paling sering): Batuk kering kronis, sesak napas (dispnea), nyeri dada. Pada pemeriksaan fisik dapat ditemukan rales atau ronki, namun seringkali normal.
  • Kulit:
    • Eritema nodosum: Nyeri, nodul merah pada pretibia, seringkali merupakan manifestasi awal dan prognosis baik.
    • Lupus pernio: Lesi plak keunguan kronis pada hidung, pipi, bibir, telinga.
    • Plak, nodul, makulopapular rash, atau lesi sikatrisial.
  • Mata:
    • Uveitis: Paling sering, dapat menyebabkan kebutaan jika tidak diobati.
    • Konjungtivitis, keratitis, sindrom mata kering.
  • Kelenjar Getah Bening: Limfadenopati hilus bilateral (sering asimtomatik), servikal, aksila, atau inguinal.
  • Jantung: Aritmia (blok jantung), kardiomiopati, gagal jantung.
  • Saraf (Neurosarkoidosis): Neuropati kranial (terutama nervus fasialis), meningitis aseptik, kejang, massa intrakranial.
  • Tulang & Sendi: Artralgia, artritis, lesi kistik pada tulang.
  • Hati & Limpa: Hepatomegali, splenomegali (sering asimtomatik).
  • Ginjal: Nefrokalsinosis atau batu ginjal akibat hiperkalsemia.
  • Endokrin: Hipopituitarisme, diabetes insipidus.

Penegakan Diagnosis

Diagnosis sarkoidosis ditegakkan berdasarkan kombinasi gambaran klinis, radiologis, dan histopatologis.

  • Anamnesis & Pemeriksaan Fisik: Mencari gejala dan tanda yang mengarah ke sarkoidosis.
  • Pencitraan Toraks:
    • Rontgen Toraks: Gambaran khas adalah limfadenopati hilus bilateral simetris. Juga dapat menunjukkan infiltrat paru, nodul, atau fibrosis.
    • CT Scan Toraks Resolusi Tinggi (HRCT): Lebih sensitif untuk mendeteksi limfadenopati, nodul, penebalan septa interlobular, atau gambaran ground glass.
  • Pemeriksaan Laboratorium:
    • Peningkatan Angiotensin-Converting Enzyme (ACE) serum (tidak spesifik, tapi mendukung).
    • Hiperkalsemia dan hiperkalsiuria (akibat produksi kalsitriol oleh makrofag granuloma).
    • Peningkatan Laju Endap Darah (LED) dan C-Reactive Protein (CRP).
    • Leukopenia, limfopenia, atau eosinofilia.
    • Tes fungsi paru (PFT): Pola restriktif, penurunan kapasitas difusi (DLCO).
  • Histopatologi: Biopsi dari organ yang terlibat (misalnya, kelenjar getah bening, paru, kulit) menunjukkan granuloma non-kaseosa. Penting untuk menyingkirkan infeksi (TB, jamur) dengan pewarnaan khusus (Ziehl-Neelsen, PAS, GMS).

Klasifikasi Radiologi Sarkoidosis (Scadding Staging)

Klasifikasi ini digunakan untuk menilai tingkat keparahan penyakit paru berdasarkan gambaran rontgen toraks.

StadiumGambaran RadiologiPrognosis
Stadium 0Rontgen toraks normalBaik
Stadium ILimfadenopati hilus bilateral tanpa infiltrat paruRemisi spontan tinggi (60-90%)
Stadium IILimfadenopati hilus bilateral disertai infiltrat paruRemisi spontan sedang (40-70%)
Stadium IIIInfiltrat paru tanpa limfadenopati hilusRemisi spontan rendah (10-20%)
Stadium IVFibrosis paru (dengan atau tanpa limfadenopati hilus)Prognosis buruk, sering progresif

Diagnosis Banding

Penting untuk membedakan sarkoidosis dari kondisi lain yang juga menyebabkan granuloma atau manifestasi serupa:

  • Tuberkulosis (TB): Granuloma kaseosa, pewarnaan BTA positif.
  • Limfoma: Limfadenopati, namun dengan gambaran histopatologi yang berbeda.
  • Berylliosis: Penyakit paru akibat paparan berilium.
  • Pneumokoniosis: Penyakit paru akibat inhalasi debu anorganik.
  • Infeksi Jamur: Histoplasmosis, koksidioidomikosis.
  • Reaksi Obat: Granuloma akibat obat tertentu.

Tatalaksana

Tatalaksana sarkoidosis bersifat individual, tergantung organ yang terlibat, derajat keparahan, dan progresivitas penyakit.

  • Observasi: Pasien asimtomatik dengan stadium I (limfadenopati hilus bilateral saja) seringkali tidak memerlukan terapi karena angka remisi spontan yang tinggi.
  • Kortikosteroid:
    • Merupakan terapi lini pertama untuk sarkoidosis simtomatik atau progresif.
    • Indikasi: Penyakit paru progresif (stadium II/III), lesi kulit disfigurasi (lupus pernio), uveitis, neurosarkoidosis, sarkoidosis jantung, hiperkalsemia persisten.
    • Dosis dan durasi disesuaikan dengan respons klinis. Prednison oral adalah yang paling umum.
  • Agen Imunosupresan:
    • Digunakan jika kortikosteroid tidak efektif, tidak dapat ditoleransi, atau untuk mengurangi dosis kortikosteroid.
    • Contoh: Metotreksat, azathioprine, mycophenolate mofetil.
  • Terapi Biologis (Anti-TNF-α):
    • Untuk kasus refrakter atau yang tidak responsif terhadap kortikosteroid dan imunosupresan.
    • Contoh: Infliximab, adalimumab.
  • Tatalaksana Simtomatik:
    • NSAID untuk artralgia atau eritema nodosum.
    • Suplemen vitamin D dan kalsium harus dihindari pada pasien dengan hiperkalsemia.

Komplikasi

Komplikasi sarkoidosis dapat serius dan bervariasi tergantung organ yang terkena:

  • Paru: Fibrosis paru progresif, hipertensi pulmonal, gagal napas.
  • Jantung: Aritmia, kardiomiopati, gagal jantung kongestif.
  • Mata: Kebutaan (akibat uveitis kronis).
  • Ginjal: Nefrokalsinosis, batu ginjal, gagal ginjal.
  • Saraf: Neuropati permanen, hidrosefalus.

Prognosis

Prognosis sarkoidosis sangat bervariasi. Banyak pasien mengalami remisi spontan dalam 2-5 tahun, terutama pada stadium awal (Stadium I dan II). Namun, sekitar 10-30% kasus dapat menjadi kronis dan progresif, menyebabkan kerusakan organ ireversibel dan mortalitas.

  • Faktor prognosis baik: Eritema nodosum, limfadenopati hilus bilateral saja (Stadium I).
  • Faktor prognosis buruk: Lupus pernio, sarkoidosis jantung, neurosarkoidosis, sarkoidosis ginjal, sarkoidosis paru stadium IV (fibrosis).

Referensi

Ada Hadiah Buatmu! Diskon 10% Buat Semua Produk - Kode NEWUSER10

Belajar Jadi Dokter Hebat Cukup dalam Genggaman

Akses materi pembelajaran, video kuliah, dan latihan soal kapan saja di satu aplikasi

4.8
Rating
15K+
Downloads
500+
Doctors
Customer Support umeds