
Rhinitis akut merupakan peradangan yang terjadi secara mendadak pada mukosa hidung dan rongga nasofaring. Kondisi ini umumnya melibatkan seluruh lapisan epitel respiratori serta kelenjar mukosa di bawahnya. Sebagai salah satu kelainan paling sering ditemui dalam praktik klinik THT, penyakit ini menjadi fokus penting bagi mahasiswa kedokteran umum dan gigi dalam menegakkan diagnosis dini.
Proses patologis ditandai dengan vasodilatasi pembuluh darah kapiler, peningkatan permeabilitas vaskular, serta hipersekresi lendir yang menyebabkan obstruksi saluran napas atas. Pemahaman mendasar mengenai definisi ini diperlukan untuk membedakan kondisi benigna tersebut dari infeksi sinus atau alergi kronis.
Rhinitis akut merupakan inflamasi mukosa hidung yang bersifat self-limiting dengan penyebab paling dominan adalah infeksi virus. Virus berperan sebagai agen etiologi primer yang menginduksi respons peradangan lokal disertai vasodilatasi dan hipersekresi kelenjar mukosa. Meskipun sebagian besar kasus bersifat viral, faktor predisposisi seperti penurunan imunitas tubuh, paparan suhu ekstrem, atau iritan lingkungan turut memperberat perjalanan penyakit klinis.
Rhinitis akut merupakan respons inflamasi akut pada mukosa hidung yang umumnya dipicu oleh infeksi virus, terutama rinovirus. Paparan patogen mengaktifkan sel epitel dan sel imun lokal sehingga memicu pelepasan mediator inflamasi seperti histamin, bradikinin, dan sitokin proinflamasi.
Mediator tersebut menyebabkan vasodilatasi pembuluh darah kapiler serta peningkatan permeabilitas vaskular secara signifikan. Akibatnya terjadi edema jaringan submukosa, hipersekresi kelenjar mukosa, dan gangguan fungsi silia yang berujung pada obstruksi saluran napas atas dan penumpukan sekret.

Rhinitis akut merupakan inflamasi mukosa hidung yang umumnya disebabkan oleh infeksi virus. Perjalanan penyakitnya dibagi menjadi tiga fase klinis dengan manifestasi gejala yang berkembang secara progresif.
Pada fase awal pasien mengeluhkan rasa tidak nyaman di rongga hidung sebelum munculnya sekresi yang khas. Gejala sistemik ringan dapat menyertai proses inflamasi lokal tersebut.
Diagnosis rhinitis akut terutama ditegakkan secara klinis melalui anamnesis menyeluruh dan pemeriksaan fisik kepala serta leher. Gejala khas meliputi bersin berulang, rinore yang berubah dari cair menjadi kental atau purulen, obstruksi nasal, serta penurunan fungsi penciuman. Pasien sering mengeluhkan malaise ringan atau demam rendah tanpa disertai tanda sistemik yang berat.
Pemeriksaan penunjang tidak diperlukan secara rutin karena penyakit ini bersifat self-limiting dan sebagian besar disebabkan oleh infeksi virus. Evaluasi tambahan hanya dilakukan apabila terdapat kecurigaan komplikasi, perjalanan penyakit yang atipikal, atau kebutuhan untuk menyingkirkan diagnosis banding utama.
Penatalaksanaan rinitis akut bersifat suportif dan simptomatik karena mayoritas kasus disebabkan oleh infeksi virus yang bersifat self-limiting. Fokus terapi meliputi peredaan gejala, pencegahan komplikasi, serta edukasi pasien.
Intervensi farmakologis dan nonfarmakologis disesuaikan dengan berat gejala dan komorbid. Antibiotik empiris tidak disarankan tanpa bukti infeksi bakteri sekunder yang jelas.
Rhinitis akut umumnya bersifat self-limiting namun dapat berkembang menjadi komplikasi jika inflamasi mukosa hidung tidak ditangani dengan tepat. Gangguan ventilasi dan drainase saluran napas atas memicu pertumbuhan mikroorganisme patogen serta perluasan proses infeksi ke struktur anatomi sekitarnya.
Mahasiswa kedokteran dan kedokteran gigi harus mengenali tanda-tanda peringatan dini agar intervensi medis dapat diberikan sebelum terjadi penyebaran infeksi yang lebih serius. Penatalaksanaan simptomatik yang adekuat serta edukasi higiene saluran napas berperan penting dalam pencegahan komplikasi tersebut.
Concept Pages
Berlangganan premium umeds untuk akses penuh concept pages, video belajar, dan quiz untuk pendidikan kedokteran anda.
Belum punya akun? Daftar Gratis

Akses materi pembelajaran, video kuliah, dan latihan soal kapan saja di satu aplikasi