Rhinitis

Materi pembelajaran komprehensif tentang Rhinitis untuk mahasiswa kedokteran umum

Definisi

Anatomi Hidung dan Rhinitis

Rhinitis adalah inflamasi atau peradangan pada mukosa hidung yang ditandai dengan gejala hidung tersumbat, rinore (sekret hidung), bersin-bersin, dan gatal pada hidung.

Rhinitis dapat bersifat akut maupun kronis, dengan berbagai etiologi termasuk infeksi, alergi, dan non-alergi.

Rhinitis disebut kronis apabila radang tersebut berlangsung lebih dari 1 bulan.

Epidemiologi

  • Rhinitis alergi: Prevalensi global 10-40%, meningkat di negara berkembang
  • Usia onset sering pada anak-anak dan dewasa muda
  • Faktor risiko: riwayat atopi keluarga, paparan alergen, polusi udara
  • Rhinitis non-alergi: 20-30% dari semua kasus rhinitis
  • Rhinitis akut (common cold): Rata-rata 2-3 episode per tahun pada dewasa

Etiologi dan Klasifikasi

Rhinitis Alergi

  • Alergen inhalan: Debu rumah (Dermatophagoides), serbuk sari, bulu hewan, jamur
  • Alergen makanan (jarang): Susu, telur, kacang

Rhinitis Non-Alergi

  • Rhinitis vasomotor: Perubahan suhu, kelembapan, bau menyengat
  • Rhinitis hormonal: Kehamilan, hipotiroid, kontrasepsi oral
  • Rhinitis medicamentosa: Penggunaan dekongestan topikal berlebihan (>5 hari)
  • Rhinitis atrofi: Infeksi kronis, defisiensi vitamin A/D
  • Rhinitis gustatory: Makanan pedas atau panas

Rhinitis Infeksi

  • Virus: Rhinovirus, Coronavirus, Adenovirus, Influenza
  • Bakteri: Streptococcus pneumoniae, Haemophilus influenzae, Moraxella catarrhalis

Patofisiologi

Rhinitis Alergi

  1. Sensitisasi: Paparan alergen pertama kali → produksi IgE spesifik
  2. Fase cepat (menit): Alergen berikatan IgE di sel mast → degranulasi → histamin, leukotrien, prostaglandin → vasodilatasi, sekresi mukus, gatal
  3. Fase lambat (4-12 jam): Rekrutmen eosinofil, neutrofil, basofil → inflamasi persisten → hiperreaktivitas nasal

Rhinitis Non-Alergi

  • Disfungsi saraf otonom (parasimpatis dominan)
  • Hiperreaktivitas pembuluh darah nasal
  • Tidak melibatkan mekanisme IgE

Gejala Klinis

Pemeriksaan Klinis Rhinitis

Gejala Utama

  • Hidung tersumbat (kongesti nasal)
  • Rinore: Sekret encer (alergi/vasomotor) atau kental/purulen (infeksi)
  • Bersin-bersin: Terutama pagi hari (alergi)
  • Gital hidung, mata, tenggorok (alergi)

Gejala Penyerta

  • Post-nasal drip (rasa lendir di tenggorok)
  • Batuk (iritasi faring dari post-nasal drip)
  • Hiposmia/anosmia (penurunan penghidu)
  • Nyeri wajah/tekanan sinus
  • Mata berair, merah, gatal (konjungtivitis alergi)
  • Kelelahan, gangguan tidur

Tanda Fisik

  • Allergic shiners: Lingkaran hitam di bawah mata
  • Allergic crease: Garis horizontal di dorsum nasi (dari menggosok hidung ke atas)
  • Allergic gape: Mulut terbuka kronis (kongesti nasal berat)
  • Mukosa hidung: pucat, edema, basah (alergi); merah, bengkak (infeksi)
  • Konka: hipertrofi, edema

Diagnosis

Pendekatan Diagnosis Rhinitis

Anamnesis

  • Pola gejala (musiman, sepanjang tahun, terkait paparan)
  • Riwayat atopi pribadi/keluarga (asma, dermatitis atopik)
  • Paparan alergen (hewan peliharaan, debu, pekerjaan)
  • Penggunaan obat (dekongestan, antihistamin)
  • Dampak pada kualitas hidup

Pemeriksaan Fisik

  • Rinoskopi anterior: evaluasi mukosa, konka, septum, sekret
  • Pemeriksaan orofaring: post-nasal drip, tonsil
  • Pemeriksaan mata: konjungtivitis alergi

Pemeriksaan Penunjang

  1. Tes kulit alergi (skin prick test): Positif jika diameter wheal ≥3 mm lebih dari kontrol negatif
  2. IgE spesifik serum (RAST/ImmunoCAP): Untuk kasus di mana tes kulit tidak dapat dilakukan
  3. IgE total serum: Peningkatan pada penyakit atopik (tidak spesifik)
  4. Hitung eosinofil darah tepi: Peningkatan pada rhinitis alergi
  5. Sitologi sekret hidung: Eosinofil dominan (alergi/NARES), neutrofil dominan (infeksi)
  6. Nasal provocation test: Jarang dilakukan rutin

Diagnosis Banding

  • Sinusitis akut/kronis
  • Polip nasi
  • Deviasi septum
  • Tumor hidung/sinus paranasal
  • Benda asing (pada anak)
  • Granulomatosis dengan poliangiitis (Wegener)
  • Rhinitis atrofi (ozena)

Penatalaksanaan

1. Hindari Alergen/Iritan

  • Debu rumah: Kasur/bantal anti-alergen, cuci sprei mingguan (air panas >60°C), hindari karpet
  • Bulu hewan: Hindari kontak, mandikan hewan peliharaan mingguan
  • Serbuk sari: Tutup jendela, hindari aktivitas outdoor saat musim serbuk sari

2. Farmakoterapi

Antihistamin:

  • Generasi 1 (sedatif): CTM 4 mg 3-4×/hari, Diphenhydramine
  • Generasi 2 (non-sedatif): Loratadine 10 mg 1×/hari, Cetirizine 10 mg 1×/hari

Dekongestan:

  • Topikal: Oxymetazoline, Xylometazoline (jangan >5 hari!)
  • Sistemik: Pseudoephedrine 60 mg 3-4×/hari (kontraindikasi: hipertensi, penyakit jantung)

Kortikosteroid Intranasal (Obat Pilihan untuk Rhinitis Sedang-Berat):

  • Mometasone furoate, Fluticasone propionate, Budesonide
  • Dosis: 1-2 semprot/lubang hidung 1×/hari
  • Efek maksimal: 1-2 minggu

Kromolin Natrium Intranasal:

  • Stabilizer sel mast, 1 semprot/lubang hidung 3-4×/hari
  • Aman untuk anak dan kehamilan

Antikolinergik Intranasal:

  • Ipratropium bromide 2 semprot/lubang hidung 2-3×/hari
  • Indikasi: rinore berlebihan

Antagonis Reseptor Leukotrien:

  • Montelukast 10 mg 1×/hari
  • Indikasi: rhinitis alergi dengan asma

Imunoterapi Alergen (AIT):

  • Indikasi: Rhinitis sedang-berat tidak responsif terhadap farmakoterapi
  • Metode: Subkutan (SCIT) atau sublingual (SLIT)
  • Durasi: 3-5 tahun
  • Efek: Modifikasi penyakit jangka panjang

3. Irigasi Hidung (Nasal Lavage)

  • Larutan saline isotonis/hipertonis, 1-2×/hari
  • Manfaat: membersihkan alergen, sekret, mengurangi kongesti

4. Terapi Bedah (Indikasi Terbatas)

  • Konkotomi: hipertrofi konka refrakter
  • Septoplasti: deviasi septum
  • Bedah sinus endoskopik (FESS): sinusitis/polip

Komplikasi

  • Sinusitis: Obstruksi ostium sinus → infeksi sekunder
  • Otitis media: Disfungsi tuba Eustachius
  • Asma: Rhinitis alergi adalah faktor risiko dan komorbiditas asma (united airway disease)
  • Polip nasi: Inflamasi kronis
  • Gangguan tidur: Kongesti nasal → sleep apnea, kualitas tidur buruk
  • Gangguan kualitas hidup: Kelelahan, penurunan produktivitas, gangguan belajar (anak)
  • Malocclusion/allergic facies: Pada anak dengan kongesti kronis (mulut terbuka, wajah memanjang)

Prognosis

Prognosis umumnya baik dengan penatalaksanaan yang tepat dan kepatuhan pasien.

  • Rhinitis akut: Umumnya sembuh sendiri dalam 7-10 hari
  • Rhinitis alergi: Sering bersifat kronis dan rekuren, namun dapat dikontrol dengan terapi yang tepat
  • Imunoterapi: Potensi modifikasi penyakit jangka panjang, efek bertahan setelah terapi dihentikan
  • Kepatuhan terapi: Faktor kunci keberhasilan penanganan jangka panjang
  • Deteksi dini dan penanganan adekuat: Mencegah komplikasi (sinusitis, asma)

Concept Pages

Berlangganan untuk Melanjutkan Membaca

Berlangganan premium umeds untuk akses penuh concept pages, video belajar, dan quiz untuk pendidikan kedokteran anda.

Ada Hadiah Buatmu! Diskon 10% Buat Semua Produk - Kode NEWUSER10

Belajar Jadi Dokter Hebat Cukup dalam Genggaman

Akses materi pembelajaran, video kuliah, dan latihan soal kapan saja di satu aplikasi

4.8
Rating
15K+
Downloads
500+
Doctors
Customer Support umeds