Regurgitasi Mitral

Hai calon dokter! Pernah dengar suara 'murmur' yang bikin penasaran? Regurgitasi Mitral (MR) adalah salah satu penyakit katup jantung yang sering ditemui dan penting banget untuk dipahami, baik itu akut maupun kronis. Kondisi ini bisa menyebabkan jantung bekerja ekstra dan menimbulkan berbagai gejala serius jika tidak ditangani dengan tepat. Yuk, kuasai seluk-beluk MR, mulai dari penyebab, diagnosis, hingga tatalaksananya, agar kamu siap menghadapi soal UKMPPD dan praktik klinis!

Definisi

Regurgitasi Mitral (MR) adalah kondisi kebocoran katup mitral yang menyebabkan aliran darah kembali dari ventrikel kiri (LV) ke atrium kiri (LA) selama sistol. Ini mengakibatkan beban volume berlebih pada LA dan LV.

MR dapat bersifat akut atau kronis, serta primer (organik) atau sekunder (fungsional).

Etiologi

Penyebab MR dapat dibagi menjadi dua kategori utama:

  • MR Primer (Organik): Disebabkan oleh kelainan struktural pada katup mitral itu sendiri.
    • Degenerasi miksomatosa (prolaps katup mitral) – paling sering.
    • Penyakit jantung rematik (PJR).
    • Endokarditis infektif (kerusakan leaflet/korda).
    • Ruptur korda tendinea atau otot papilaris (akut).
    • Kalsifikasi anulus mitral.
    • Kelainan kongenital.
  • MR Sekunder (Fungsional): Katup mitral secara struktural normal, tetapi kebocoran terjadi akibat dilatasi ventrikel kiri yang menyebabkan anulus mitral melebar atau disfungsi otot papilaris.
    • Kardiomiopati dilatasi (iskemik atau non-iskemik).
    • Penyakit jantung koroner (iskemia atau infark miokard yang mempengaruhi otot papilaris).
    • Hipertensi kronis.

Patofisiologi

Pada MR, volume darah yang seharusnya dipompa sepenuhnya ke aorta, sebagian kembali ke atrium kiri selama sistol.

Ini menyebabkan beban volume berlebih pada atrium kiri (LA) dan ventrikel kiri (LV).

  • Atrium Kiri: Mengalami dilatasi dan peningkatan tekanan, yang dapat menyebabkan fibrilasi atrium dan hipertensi pulmonal.
  • Ventrikel Kiri: Untuk mempertahankan curah jantung ke depan, LV harus memompa volume darah yang lebih besar (volume regurgitasi + volume forward). Ini menyebabkan dilatasi dan hipertrofi eksentrik LV.
  • Seiring waktu, kompensasi ini bisa gagal, menyebabkan disfungsi sistolik LV dan akhirnya gagal jantung.

Pada MR Akut, LA tidak sempat beradaptasi, sehingga terjadi peningkatan tekanan LA yang sangat cepat, menyebabkan edema paru akut.

Manifestasi Klinis

Gejala bervariasi tergantung keparahan dan onset (akut vs. kronis).

  • MR Akut Berat:
    • Dispnea akut, ortopnea, takipnea.
    • Edema paru akut.
    • Hipoperfusi perifer (syok kardiogenik).
    • Seringkali akibat infark miokard akut dengan ruptur otot papilaris atau endokarditis infektif.
  • MR Kronis:
    • Asimptomatik selama bertahun-tahun.
    • Saat bergejala:
      • Dispnea on exertion (sesak napas saat aktivitas).
      • Kelelahan, palpitasi (terutama jika ada fibrilasi atrium).
      • Edema perifer, ortopnea, paroxysmal nocturnal dyspnea (PND) – tanda gagal jantung kongestif.

Pemeriksaan Fisik (Kunci!):

  • Inspeksi/Palpasi: Mungkin ditemukan impuls apikal yang bergeser ke lateral dan ke bawah (dilatasi LV).
  • Auskultasi:
    • Murmur holosistolik (pan-sistolik) yang paling baik didengar di apeks jantung (mid-klavikula ICS V sinistra).
    • Murmur ini menjalar ke aksila kiri.
    • Intensitas murmur tidak selalu berkorelasi dengan keparahan MR.
    • S1 mungkin melemah atau tidak terdengar.
    • S2 mungkin terpisah lebar (wide splitting) jika ada hipertensi pulmonal.
    • S3 sering terdengar pada MR berat (indikasi volume overload LV).

Penegakan Diagnosis

Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang.

  • Elektrokardiografi (EKG):
    • Pada MR kronis, dapat menunjukkan tanda-tanda dilatasi atrium kiri (P-mitrale), hipertrofi ventrikel kiri (LVH), atau fibrilasi atrium.
    • Pada MR akut, mungkin ada tanda iskemia/infark.
  • Rontgen Toraks (CXR):
    • Kardiomegali (dilatasi LA dan LV) pada MR kronis.
    • Pembesaran atrium kiri (double contour sign).
    • Tanda kongesti vaskular pulmonal atau edema paru pada MR berat atau akut.
  • Ekohkardiografi (ECHO) – Gold Standard:
    • Mengkonfirmasi diagnosis, menilai etiologi, keparahan (derajat regurgitasi), ukuran dan fungsi ventrikel kiri, tekanan arteri pulmonal, dan morfologi katup.
    • Dapat mengidentifikasi prolaps katup, ruptur korda, vegetasi, dll.
    • Transesophageal Echocardiography (TEE) mungkin diperlukan untuk detail lebih lanjut, terutama sebelum intervensi.

Klasifikasi Derajat Keparahan MR (Ekokardiografi)

Derajat keparahan MR dinilai berdasarkan kriteria ekokardiografi:

DerajatKriteria Kuantitatif (ECHO)Kriteria Kualitatif (ECHO)
RinganEROA < 0.20 cm², Regurgitant Volume < 30 mL/beat, Regurgitant Fraction < 30%Jet regurgitasi kecil, densitas rendah, sentral.
SedangEROA 0.20-0.39 cm², Regurgitant Volume 30-44 mL/beat, Regurgitant Fraction 30-49%Jet regurgitasi sedang, bervariasi.
BeratEROA ≥ 0.40 cm², Regurgitant Volume ≥ 45 mL/beat, Regurgitant Fraction ≥ 50%Jet regurgitasi besar, densitas tinggi, sering eksentrik, tanda volume overload LV/LA.

EROA: Effective Regurgitant Orifice Area

Tatalaksana

Tatalaksana bergantung pada etiologi, keparahan MR, dan ada tidaknya gejala serta disfungsi ventrikel kiri.

  • Tatalaksana Non-Farmakologis:
    • Modifikasi gaya hidup: diet rendah garam, pembatasan cairan pada gagal jantung.
    • Rehabilitasi jantung.
    • Manajemen faktor risiko kardiovaskular (hipertensi, diabetes, dislipidemia).
  • Tatalaksana Farmakologis:
    • Pada MR Akut Berat: Stabilisasi hemodinamik.
      • Diuretik (untuk kongesti paru).
      • Vasodilator (nitroprusside) untuk mengurangi afterload dan volume regurgitasi (jika TD memungkinkan).
      • Inotropik (dobutamin) jika ada syok kardiogenik.
      • Persiapan untuk intervensi bedah darurat.
    • Pada MR Kronis Asimptomatik:
      • Tidak ada terapi farmakologis yang terbukti menghentikan progresivitas MR.
      • Observasi ketat dengan ekokardiografi serial.
      • Pengobatan kondisi penyerta (misalnya, antiaritmia untuk fibrilasi atrium).
    • Pada MR Kronis Simptomatik atau dengan Disfungsi LV:
      • Diuretik: Untuk mengurangi gejala kongesti.
      • ACE inhibitor/ARB: Terutama pada MR fungsional atau jika ada hipertensi/disfungsi LV.
      • Beta-blocker: Pada MR fungsional, terutama jika ada takikardi atau disfungsi LV.
      • Antikoagulan: Jika ada fibrilasi atrium atau riwayat tromboemboli.
  • Tatalaksana Intervensi/Bedah:
    • Indikasi Utama (ESC/AHA Guidelines):
      • MR berat simptomatik (NYHA kelas II-IV) dengan fungsi LV normal (LVEF > 60%) dan LVESD < 40 mm.
      • MR berat asimptomatik dengan disfungsi LV (LVEF ≤ 60% atau LVESD ≥ 40 mm).
      • MR berat asimptomatik dengan fibrilasi atrium baru atau hipertensi pulmonal (sPAP > 50 mmHg saat istirahat).
      • MR berat yang terjadi bersamaan dengan CABG atau operasi katup lain.
    • Jenis Prosedur:
      • Perbaikan Katup Mitral (Mitral Valve Repair): Pilihan utama jika memungkinkan, karena prognosis lebih baik dan tidak memerlukan antikoagulan seumur hidup.
      • Penggantian Katup Mitral (Mitral Valve Replacement): Jika perbaikan tidak memungkinkan atau tidak adekuat. Memerlukan antikoagulan seumur hidup jika menggunakan katup mekanik.
      • Intervensi Transkateter (MitraClip): Pilihan untuk pasien MR primer berat yang berisiko tinggi untuk operasi, atau MR sekunder berat yang tetap simptomatik meskipun terapi medis optimal.

Komplikasi

  • Gagal jantung kongestif.
  • Fibrilasi atrium (dengan risiko tromboemboli/stroke).
  • Hipertensi pulmonal.
  • Endokarditis infektif.
  • Kematian mendadak (jarang, terutama pada prolaps katup mitral).

Prognosis

Prognosis MR bervariasi tergantung etiologi, derajat keparahan, onset, dan ada tidaknya disfungsi ventrikel kiri atau gejala.

MR ringan-sedang yang asimptomatik umumnya memiliki prognosis baik.

MR berat, terutama yang menyebabkan disfungsi LV atau gejala, memiliki prognosis yang lebih buruk jika tidak ditangani.

Intervensi bedah atau transkateter dapat memperbaiki prognosis secara signifikan pada pasien yang memenuhi indikasi.

Edukasi & Pencegahan

  • Pencegahan PJR: Penting untuk mencegah MR rematik dengan tatalaksana infeksi streptokokus grup A yang adekuat.
  • Kontrol Faktor Risiko: Mengelola hipertensi, diabetes, dan penyakit jantung koroner untuk mencegah MR fungsional.
  • Edukasi Pasien: Pentingnya kepatuhan minum obat, diet, dan kontrol rutin ke dokter jantung.
  • Waspada Gejala: Mengedukasi pasien untuk segera mencari pertolongan medis jika mengalami gejala baru atau perburukan.

Referensi

Ada Hadiah Buatmu! Diskon 10% Buat Semua Produk - Kode NEWUSER10

Belajar Jadi Dokter Hebat Cukup dalam Genggaman

Akses materi pembelajaran, video kuliah, dan latihan soal kapan saja di satu aplikasi

4.8
Rating
15K+
Downloads
500+
Doctors
Customer Support umeds